Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 26 Februari 2021

Renungan Hari Jumat 26 Februari 2021

Renungan Hari Jumat 26 Februari 2021

Setia dalam kebenaran

Hakikat Tuhan adalah tidak berubah dalam karakter mulia-Nya. Ia suci dan tidak dapat didekati oleh hal-hal yang najis. Dia penuh dengan kasih dan kebajikan, yang tak berkesudahan. Kesetiaan adalah natur Allah yang bisa dijadikan pegangan bahkan jaminan bahwa orang yang hidupnya sepenuhnya bersandar kepada-Nya pasti terpelihara bahkan dilimpahi segala berkat.

Tuhan yang setia menuntut umat-Nya juga hidup setia. Setia berarti menjaga diri untuk tetap taat pada Tuhan, hidup dalam kekudusan dan keadilan, serta melakukan hal yang baik dan berkenan kepada-Nya. Setia berarti memelihara hidup yang konsisten dalam kebenaran. Percuma memulai hidup baik-baik, kalau ujungnya jahat. Itu bukan berarti tidak usah hidup baik-baik, melainkan harus menjaga diri agar jangan tergelincir ke dalam kehidupan yang berdosa.

Pada dasarnya Tuhan tidak menginginkan seorang pun binasa. Semua manusia adalah ciptaan-Nya yang Ia kasihi dengan sepenuh hati. Itu sebabnya peringatan-Nya tegas. Jangan bermain-main dengan kemurahan hati Tuhan. Setiap kehidupan yang tidak tekun dalam kebenaran akan menuai penghukuman keras. Orang yang bertobat dari perbuatan jahatnya akan mendapatkan keampunan dan pemulihan.

Tidak mudah untuk menjaga diri kudus di tengah-tengah dunia yang najis dan yang menghalalkan segala kejijikan menjadi hal yang biasa, bahkan sebagai kenikmatan. Kita yang bertekad untuk tetap hidup bersih dan berkenan kepada Tuhan tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita harus saling menopang dan menguatkan. Kita perlu teguran-teguran kasih yang dapat mengingatkan kita akan Tuhan. 

Namun sumber kemenangan dari godaan dosa hanyalah pada Tuhan Yesus. Dia sudah menang terhadap berbagai pencobaan, Dia yang dapat memahami pergumulan dan mungkin sering kali perasaan putus asa. Dekatkan diri pada-Nya secara pribadi setiap hari melalui perenungan firman Tuhan dan doa.

Mazmur, Kedahsyatan pengampunan Allah.

Dosa dan akibatnya memang menghancurkan dan mengerikan. Itu yang diungkapkan pemazmur dengan menggunakan ilustrasi orang yang terjebak di jurang dosa (1). Tanpa mampu menyelamatkan dirinya sendiri, orang yang berada dalam jurang dosa hanya bisa menunggu akibat dosa yang mengerikan, yaitu maut.

Akan tetapi, kedahsyatan akibat dosa dan kengerian maut kalah jauh jika dibandingkan dengan kedahsyatan kasih Allah. Kasih Allah dahsyat karena bukan hanya mengampuni manusia dari jurang dosa melainkan juga menyelamatkan manusia (4). 

Inilah yang diyakini oleh pemazmur sehingga dalam pergumulannya terbelenggu dosa, ia beriman saat memanjatkan seruan doa mohon pengampunan dan penyelamatan dari Allah (2-3). 

Pengampunan dan penyelamatan dari Tuhan berlanjut pada kerinduan dan hasrat cinta pemazmur pada Allah sendiri (6). Itulah tanda kesejatian dari iman seseorang. Pengalaman memperoleh pengampunan dan penyelamatan Allah itulah yang selanjutnya membawa pemazmur berani menyerukan pertobatan kepada umat Tuhan yang berulang kali menyakiti hati-Nya, dengan kebebalan dan dosa mereka. Tujuan seruan pemazmur agar mereka juga mengalami penyelamatan dan pengampunan-Nya (7-8).

Mazmur ini disebut sebagai mazmur pertobatan karena isinya sesuai dengan pesan Injil: Allah di dalam Yesus Kristus menyelamatkan dan mengampuni. Ini juga yang diakui gereja: kedahsyatan pengampunan Allah itu terletak pada pengurbanan Kristus yang tak bersalah agar semua dosa manusia dihapuskan dan diampuni. 

Karena itu jangan mencari jalan keluar dari pergumulan dosa Anda dari siapa pun juga, selain pada Kristus yang sudah mati dan bangkit. Hanya Dia yang sanggup dan mau mengampuni dan menyelamatkan Anda!

Camkan: Pada Allah saja ada pengampunan dan penyelamatan maka takutkah aku kepada-Nya?

Injil hari ini, Kesempurnaan hidup Katolik dan amarah.

Apakah orang Kristen/Katolik yang telah mendapatkan pengajaran khusus dari Kristus dibebaskan dari tuntutan menjalankan hukum Taurat dan kitab para nabi? Tidak! Sebab otoritas Perjanjian Lama yang bersumber dari Allah akan terus berlaku hingga kesudahan zaman (ayat 18) dan menyatakan rencana penebusan Allah hingga penggenapannya. Kedatangan Kristus bukan untuk meniadakannya, namun menggenapinya, karena Ia sendirilah penggenapnya.

Orang Kristen/Katolik pun tidak boleh meniadakan salah satu bagian dari hukum Taurat dan kitab-kitab nabi, ataupun mengajarkannya demikian. Mengapa? Sebab itu merupakan wahyu Allah, sehingga manusia tidak mempunyai hak untuk menguranginya, sekalipun bagian yang terkecil. 

Karena berhubungan dengan wibawa dan otoritas wahyu Allah, maka konsekuensi peniadaan atau pengajaran yang demikian cukup serius karena berdampak bagi kehidupan di masa kekekalan (ayat 19). Jika demikian apa yang dituntut dari orang Kristen/Katolik? Tidak lain dan tidak bukan adalah kesempurnaan (ayat 20). 

Ayat ini memang tidak berbicara tentang bagaimana seseorang memperoleh kebenaran namun memaparkan tuntutan kesempurnaan. Mesias sendiri akan membangun sebuah bangsa yang akan disebut `pohon tarbantin kebenaran’ (Yes. 61:3).

Kesempurnaan apa yang dituntut dari orang Kristen/Katolik? Dalam hubungan dengan sesama manusia, hukum Taurat melarang pembunuhan. Namun yang menjadi kepedulian Allah bukan hanya pembunuhan melainkan juga kemarahan, khususnya kemarahan kepada saudara- saudara seiman (ayat 22), sebab Allah melihat apa yang di dalam hati. Kemarahan yang menyala-nyala dapat mengarah kepada tindakan kekerasan yang lebih jauh, termasuk pembunuhan.

Kemarahan yang seringkali diekspresikan dengan kata- kata umpatan atau kata-kata tuduhan, merupakan hal yang sangat serius, karena dapat menyeret seseorang kepada penghukuman abadi, membawa dampak bagi kehidupan ibadah seseorang, dan dapat menyeret seseorang ke pengadilan (ayat 23-26).

Renungkan: Karena begitu jahatnya kemarahan disertai dengan kepastian hukuman Allah dan konsekuensi kemarahan, orang Kristen/Katolik harus menggunakan segala upaya dan daya untuk segera menghentikan kemarahan.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku dan mampukanlah diriku agar dapat mengampuni orang-orang yang telah Engkau tempatkan dalam hidupku. Ampunilah aku dan curahkanlah karunia pengampunan-Mu ke dalam hatiku. Oleh rahmat-Mu, biarlah aku membuang pergi segala penolakanku. Aku memberikan hatiku kepada-Mu. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 26 Februari 2021"