Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Kamis 25 Februari 2021

Renungan Hari Kamis 25 Februari 2021

Renungan Hari Kamis 25 Februari 2021

Ester adalah wanita keturunan Yahudi sudah yatim piatu, ia diasuh oleh pamannya Mordekhai. Mereka termasuk orang-orang Yahudi di pembuangan. Ester mengikuti kontes putri-putri calon ratu yang akan mendampingi raja dan ia menang. 

Sebagai seorang ratu Persia, Ester tetap mempunyai nasionalisme yang kuat sebagai orang Yahudi. Sampai suatu saat Raja mengangkat Haman menjadi pangeran Persia yang mempunyai kuasa sangat besar, sebab raja telah memberikan cincin kerajaan kepada Haman. Maka apa yang dilakukan Haman sama dengan apa yang dilakukan raja.

Haman kemudian bersekongkol untuk memusnahkan orang-orang Yahudi dimana pun berada. Rencana ini diketahui oleh Mordekhai paman Ester. Mordekhai berusaha memberitahukan ini kepada Ester agar Ester menolong bangsanya dari bencana kematian dengan menghadap raja. 

Sebelum menghadap raja Ester berdoa kepada Allah, bahwa Allah adalah satu-satunya penolong yang bisa menyelamatkan bangsanya. Ester pun kemudian memberanikan diri untuk menghadap raja walaupun tidak dipanggil. Resiko menghadap raja tanpa dipanggil adalah hukuman mati. 

Ester rela mati jika itu harus terjadi. Imannya yang begitu kuat kepada Allah menjadi teladan semua orang. Ester mewakili umatnya memohon kepada Allah. Ester adalah gambaran wanita yang penuh iman. Sekalipun seakan-akan tak ada yang dapat diharapkan, namun Ester tetap besar pengharapannya.

Dari sabda Yesus sendiri kita mendengar betapa besar nilai doa yang sederhana. Allah mendengarkan doa kita dan menunjukkan sikap kebapaanNya. Anak yang minta roti takkan diberi batu. Doa terus menerus tanpa mengenal lelah, adalah tugas kita pada masa Prapaskah ini.

Mazmur, Kesempitan jadi kesempatan.

Kesempitan dalam pengalaman hidup umat Tuhan dapat menjadi alat di tangan Allah untuk membuat umat lebih menyelami kebesaran kasih setia Allah (1-3), lebih paham tentang arah dunia (4-6) dan lebih yakin akan keamanan dirinya (7-8).

Mazmur ucapan syukur ini mengisahkan pengalaman pemazmur ketika dalam kesempitan diselamatkan oleh Allah. Daud menaikkan doanya kepada Allah, dan ia beroleh daya juang baru (lih. 2Sam. 5:17-21). Doa ini dipanjatkan saat Israel masih dalam tahap awal kerajaan yang sangat lemah. 

Namun pemazmur menjadi yakin, sampai-sampai ia berani bersaksi dihadapan para penguasa dari bangsa yang lebih digdaya (“para allah” – ay. 1). Artinya pemazmur meninggikan kekuasaan Tuhan di hadapan “para hakim/penguasa” bangsa-bangsa yang lebih berkuasa dari Israel (band. ay. 4).

Pemazmur memuji nama Allah karena kasih setia dan kesetiaan Allah kepada janji-Nya (2, 4). Pemazmur sangat sadar bahwa pertolongan yang Allah berikan kepadanya (7-8) semata-mata hanya karena keberadaan diri Allah. 

Selain itu juga karena Allah setia kepada janji-Nya. Pemazmur yang menyadari siapa dirinya, tentu saja sangat berterima kasih karena Allah yang “tinggi” bersedia melihat dan menolong dia yang “hina” (6). Suatu hal yang sangat luar biasa bahwa kemegahan Allah diimbangi dengan anugerah yang berlimpah. 

Tidak mengherankan pemazmur begitu bersemangat memproklamirkan nama dan kesetiaan Allah dan yakin bahwa nantinya semua raja di bumi akan bersyukur kepada Allah (4-5).

Melalui mazmur ini, kita belajar bahwa orang percaya tidak perlu sempit hati pada waktu mengalami kesempitan hidup, demikian juga dengan Gereja Tuhan. Pujilah Allah, bersyukurlah atas kesetiaan-Nya, dan ingatlah bahwa segala kejadian berada di bawah sorotan kuasa dan pemerintahan-Nya; maka Tuhan akan mengubah kesempitan menjadi kesempatan menyelami kasih dan kuasa-Nya secara baru.

Injil hari ini, Awas penilaian dan penghakiman.

Kita cenderung menilai dan menghakimi orang lain, tetapi membela diri sendiri. Sebagaimana kita memperlakukan orang lain, demikian Tuhan akan memperlakukan kita. Ukuran yang kita pakai kepada orang lain, akan diukurkan juga kepada kita. Tuhan ingin persekutuan orang beriman tumbuh dalam kesucian. Sikap yang diperlukan bukanlah saling menghakimi, tetapi saling mengoreksi untuk membangun bersama.

Memberi dan meminta. Pengikut Kristus dituntut untuk memberi seperti halnya Allah yang pemurah. Pemberian terindah yang dapat kita lakukan ialah membagikan Injil. Namun ada saatnya kita harus menahan diri dari membagikan harta Injil dan kebenaran firman, yaitu bila orang kita bagikan Injil itu terus menerus menolak dan menghina Kristus. Orang yang beriman adalah orang yang dalam iman tekun berdoa, meminta, mencari, mengetuk pintu anugerah Tuhan. Dengan jalan berdoalah kita beroleh segala yang terbaik.

Renungkan: Orang Kristen adalah penatalayan harta Allah. Apakah cara hidup, doa, serta pelayanan kita mencerminkan penatalayan yang bertanggung jawab?

DOA: Bapa surgawi, semoga masa Prapaskah ini sungguh-sungguh menjadi masa restorasi bagi semua umat-Mu. Kami ingin mencicipi kepenuhan hidup yang Engkau ingin berikan kepada kami. Melalui Roh Kudus-Mu, ajarlah kami untuk berdoa secara benar dan dengan ketekunan agar dapat memperoleh jawaban-jawaban terhadap doa-doa kami. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Post a Comment for "Renungan Hari Kamis 25 Februari 2021"