Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 12 Maret 2021

Renungan Hari Jumat 12 Maret 2021

Renungan Hari Jumat 12 Maret 2021

Anugerah, pada akhirnya.

Judul ini diambil dari buku yang mengupas tema teologi dari sejumlah kitab Perjanjian Lama. Judul ini mengisyaratkan bahwa di balik murka Allah yang mengharuskan dosa dibereskan dan dihukum, kasih Allah tetap tidak berubah.

Memang, penimbunan dosa menyebabkan hukuman Allah tidak bisa dihindari lagi. Israel harus dihukum berupa pembuangan ke Asyur. Namun, Allah tetap menyediakan kelepasan setelah penghukuman itu. Allah menyediakan pemulihan setelah masa pembuangan. Syaratnya: bertobat, mengakui semua kesalahan, dan mengakui bahwa tidak ada yang dapat menolong Israel, kecuali Allah sendiri (Ayat 2-4). 

Maka barulah pengampunan dan pemulihan akan dicurahkan kepada mereka. Allah kembali mengasihi mereka, memberikan damai sejahtera, dan “menyuburkan” kembali kehidupan mereka (ayat 5-9).

Apakah Anda seseorang yang setelah membaca nubuat Hosea bahkan pernah mengalami penghukuman Allah sedahsyat ini tetap menolak bertobat? Nubuat Hosea ditutup dengan suatu panggilan hikmat yaitu agar orang-orang yang berhikmat belajar dari pengalaman. Pelajaran rohani Hosea ialah agar kita tidak meneruskan langkah yang salah. 

Kiranya mata rohani kita yang membaca dan menggali kebenaran kitab Nabi Hosea ini dapat dicelikkan. Pada dasarnya Allah mengasihi dan tidak menginginkan umat-Nya binasa. Penghukuman yang paling keras pun tidak dimaksudkan-Nya untuk membinasakan, tetapi untuk tujuan pertobatan. Marilah kita bersedia untuk dipulihkan Allah. 

Biarlah rangkaian khotbah-khotbah Hosea dalam nubuatnya yang menuding dosa Israel dalam penyembahan berhala ini mengingatkan kita akan bahayanya berpaling dari Allah. Meskipun demikian, perlu kita ingat bahwa penghukuman Allah kepada umat-Nya ditujukan untuk membuat kita bertobat.

Mazmur: Menyanyikan kebaikan Tuhan.

Hati yang bersukacita dan gembira dalam kehidupan, menjadi keinginan setiap orang. Namun kesukaan, ungkapan nyanyian rohani dan puji-pujian adalah kualitas hidup umat yang ada dalam hubungan akrab dengan Allah. 

Di dalam Roh kita dimampukan berdoa, memuji Tuhan dengan benar. Kita miskin dalam puji-pujian bila hati kita beku terhadap keindahan dan mukjizat Tuhan. Bila kebaikan dan pertolongan Tuhan, tak terhitung jumlahnya atas hidup kita masing-masing, dosalah membuat kita tak mampu mensyukurinya.

Doa yang terlambat. Tujuan Asaf menyanyikan pujian tersebut adalah untuk mengingat-ingat karya penyelamatan Tuhan guna konteks penyelamatan Israel saat itu. Sayang Israel terlalu lambat menanggapi Tuhan. 

Memang Tuhan Allah panjang sabar dan kemurahan-Nya kekal. Namun keadaan Israel yang berkeras hati membuat mereka menempatkan diri di luar jangkauan kesabaran dan kemurahan Tuhan itu. Dalam tugas kita menyaksikan Injil dan menyuarakan kebenaran pun kita harus tegas memberikan peringatan. Kasih karunia Tuhan bukan untuk dipermainkan!

Renungkan: Sebagai orang Kristen, beritakan terus kebenaran tentang Injil, keadilan, kekudusan. Teguhkan hati untuk juga menyuarakan ancaman hukuman ilahi!

Injil hari ini, Yang seharusnya diutamakan: kasih!

Sebagian saudara-saudari kita di Barat sudah berani memakai suatu istilah yang sangat jujur: church industry (terjemahan bebas: industri rohani). Makna istilah ini luas, dan tidak dengan sendirinya berkonotasi buruk. 

Bait Allah dengan berbagai institusinya seperti korban bakaran dan sembelihan juga adalah salah satu contoh “industri rohani” pada zaman Yesus. Semuanya dipakai Allah untuk menjadi berkat bagi umat-Nya. 

Tetapi semuanya juga terbuka kepada penyelewengan, ketika entah institusi korban bakaran, penerbitan SH, buku/kaset rohani dll. dilakukan semata hanya demi memenuhi kebutuhan religiositas belaka, baik yang bersifat formal ataupun emosional (atau malah cari untung!), dan bukan agar umat makin mengasihi Allah dan sesamanya dalam kasih yang sejati dan hidup.

Penyelewengan seperti ini yang berkali-kali dikecam para nabi, dan terakhir oleh Yesus sendiri (lht. pasal 7). Ini juga disadari oleh sang ahli Taurat. Hal yang paling utama adalah pengajaran yang dikutip dari Ul 6:4-5, mengasihi Allah, dan mengasihi sesama, bukan pemuasan kebutuhan rohani yang emosional/formal. 

Lubang jebakan inilah yang mengintai Kristen masa kini. Kasih yang konsisten terhadap Allah dan manusia adalah yang terutama dalam hidup Kristen. Tanpanya, Kristen hanya akan menjadi pendusta rohani dan jauh dari Kerajaan Allah.

Renungkan: Tugas kita: mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (I Yoh 3:18).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku suatu kapasitas untuk mengasihi. Tolonglah diriku agar mau dan mampu untuk mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Tolonglah agar mereka yang tidak jauh dari Kerajaan-Mu untuk menanggapi secara lebih penuh lagi panggilan-Mu untuk mengasihi. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 12 Maret 2021"