Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Kamis 11 Maret 2021

Renungan Hari Kamis 11 Maret 2021

Renungan Hari Kamis 11 Maret 2021

Semua belum terlambat.

Kadang-kadang manusia terlambat untuk menghindari atau menanggapi peringatan akan adanya penghukuman Allah. Itulah yang dikatakan Allah kepada Yeremia tentang bangsa Yehuda. Sampai 3 kali Allah melarang Yeremia berdoa agar bangsa ini memperoleh pengampunan. Bahkan di dalam pasal-pasal berikutnya, larangan Allah ini terus-menerus diulang. Allah tidak pernah tiba-tiba menghukum, tanpa memberikan peringatan. Namun manusia terlalu bebal menanggapi peringatan-Nya.

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa suatu bangsa sudah sampai kepada keadaan yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan seperti bangsa Yehuda? Allah memerintahkan Yeremia untuk melihat ke sekelilingnya. Masyarakat Yehuda di seluruh kota Yehuda dan Yerusalem telah memberontak kepada Allah. 

Tidak hanya orang dewasa ataupun kaum laki-laki, namun juga anak-anak dan kaum perempuan melakukan dan mendukung pemberontakan kepada Allah. Seluruh angkatan sudah bengkok. Itulah yang terjadi di sekeliling Yeremia. Apa yang telah terjadi sebelum Yeremia ada? Bukan pada masa Yeremia saja bangsa Yehuda memberontak kepada Allah. 

Sejak zaman nenek moyangnya, bangsa ini memang selalu mengikuti hawa nafsu dan kedegilan hatinya sendiri (24). Mereka selalu menolak, menentang, bahkan membunuh utusan-utusan Allah yang dikirim-Nya untuk menyadarkan dan membawa mereka kembali ke jalan Allah (25-26). Karena itu tidak perlu bagi Yeremia untuk berdoa ataupun mewartakan berita ini kepada bangsa Yehuda. Mereka tidak akan bertobat (27-28).

Penolakan terus-menerus untuk mendengarkan dan mentaati firman Tuhan membawa sebuah bangsa di luar jangkauan kuasa doa. Penolakan ini telah berlangsung selama berabad-abad dari generasi ke generasi, sebelum Allah melarang Yeremia untuk berdoa bagi bangsa ini.

Renungkan: Penolakan dan pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa kita, keluarga kita, saudara kita, atau teman kita terhadap kebenaran Allah belum berlangsung selama berabad-abad atau dari generasi ke generasi. Karena itu kita harus tetap berdoa agar bangsa dan orang-orang yang kita kasihi menerima kebenaran Allah. Sebelum terlambat, marilah kita bergumul bersama bangsa kita agar tidak mengeraskan hati

Mazmur, Waktu untuk Tuhan?

Pemazmur memaparkan kepada umat Tuhan bahwa undangan beribadah Allah mungkin sekali ditujukan kepada umat yang telah undur dari pertemuan-pertemuan ibadah. Mengapa? Disadari bahwa kadang-kadang kehidupan rutin telah menyita banyak waktu kita, sehingga bila hari Minggu tiba, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya untuk menyegarkan pikiran yang jenuh, jiwa yang lusuh dan tubuh yang lesu. 

Berlibur bersama keluarga, mancing, tidur-tiduran di rumah, dan lain sebagainya. Atau mungkin juga dimanfaatkan untuk menyelesaikan kepentingan bisnis yang tertunda. Begitu banyaknya kegiatan hingga tak ada jeda waktu mendengarkan suara Tuhan. Hubungan dengan Tuhan tidak lagi menjadi prioritas, bukan lagi yang utama. Jelas sekali hari ini umat dibawa kembali kepada keadaan semula bahwa semua itu ada karena Allah. 

Tak ada alasan untuk umat tidak datang beribadah kepada Tuhan dan bersyukur kepada-Nya! Umat diingatkan oleh Pemazmur untuk melihat dan menghayati karya-karya besar Allah: penciptaan dan pemeliharaan-Nya sebagai pendorong untuk bersyukur kepada-Nya.

Suara Tuhan mengundang umat untuk bertobat, kembali ke dalam pelukan kasih pengampunan-Nya, ke jalan yang lebih utama yaitu jalan kebenaran-Nya, ke kuasa pengudusan-Nya. Marilah… masuklah…! Allah mengajak umat beribadah di hari perhentian-Nya. 

Beribadah dalam suasana sukacita yang dipenuhi ucapan syukur, menyembah dalam gegap gemerincing suara alat musik dan sorak sorai nyanyian umat. Undangan ini berlaku untuk semua orang yang menerima undangan dan mau datang menyembah Allah sang Pencipta yang menciptakan seluruh jagad raya ini (ayat 1-5).

Pentingnya mendengar. Peringatan keras bagi kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Ketaatan dan respons kita dalam mendengarkan dan melakukan firman Tuhan menjadi faktor penentu masa depan apakah kita akan menikmati berkat Tuhan atau tidak. Ketidaktaatan, kepongahan dan kekerasan hati bangsa Israel menjadi contoh bagi kita. 

Mazmur ini juga memberikan satu pola beribadah: nyanyian, ucapan syukur, puji-pujian, doa, menyembah dengan bersuara maupun dalam keheningan, dan tidak kurang pentingnya adalah firman Tuhan, yaitu saat bagi kita merendahkan diri dan terbuka terhadap firman-Nya, serta mempersilahkan Allah berbicara menyatakan kehendak kepada kita.

Renungkan: Selama ini bagaimanakah cara saya beribadah dan terbuka pada suara Allah?

Injil hari ini, Tidak bersama Kristus = melawan

Ketidaktulusan membuat orang mempolitisir suatu kejadian yang sebenarnya sangat jelas. Karya Kristus mengusir setan sehingga orang bisu dapat berkata-kata dituduh: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan”. Padahal pengikut-pengikut dari orang yang mendakwa Tuhan Yesus juga melakukan hal yang sama (19). Selain itu mereka juga mencobai Tuhan Yesus dengan meminta tanda dari surga (14-16).

Dalam dunia politik tak ada ikatan persekutuan yang langgeng, setiap saat koalisi dapat dibuat dan dibubarkan bahkan diingkari. Pihak-pihak yang berseberangan pun bisa bertemu karena kepentingan yang menyatukan, yaitu kepentingan untuk berkuasa. 

Tetapi kuasa Kerajaan Allah dan kuasa Beelzebul adalah dua hal yang berlawanan. Kepentingannya tak pernah dapat bertemu dan berdamai satu sama lain. Kuasa yang menyelamatkan dan memberi damai sejahtera tak mungkin dapat berjalan seiring dengan kuasa yang merusak dan membinasakan. Karya Kristus menunjukkan kuasa Allah yang mengalahkan setan dan kuasa penyakit yang diakibatkannya. 

Kehadiran kuasa Allah adalah kehadiran Kerajaan-Nya (20). Kuasa Allah jelas tak dapat berkompromi dengan setan. Sementara Iblis tidak mungkin terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri. Maka berlakulah prinsip peperangan dalam hal ini, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (23, bdk. Luk. 9:50).

Maka melawan setan harus dikerjakan dengan tuntas. Itu dimulai dengan mengakui Kristus adalah Tuhan. Pilihan kita hanya tetap dan terus bersekutu dengan Allah dan kuasa-Nya yang menyelamatkan sepanjang hidup kita. Karena jika tidak, kita akan berjuang sendiri melawan kuasa kejahatan yang membinasakan. 

Dan bukan tidak mungkin kita akan kalah saat roh jahat yang diusir pergi, kembali lagi dengan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat (26). Karena itu tetaplah bersama Kristus! DOA: Bapa surgawi, semoga kebersatuan kami dengan Yesus bertumbuh semakin kuat dan semakin mendalam dengan berjalannya waktu. 

Tolonglah kami agar dapat siap untuk merayakan misteri Paskah yang agung. Buatlah agar kasih kami bertumbuh setiap hari selagi kami semakin dekat dengan perayaan keselamatan kami ini. Kami berdoa demikian dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Post a Comment for "Renungan Hari Kamis 11 Maret 2021"