Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Sabtu 06 Maret 2021

Renungan Hari Sabtu 06 Maret 2021

Renungan Hari Sabtu 06 Maret 2021

Menyambut kedatangan-Nya

Bangsa Israel sudah diambang kehancuran. Mereka berdosa di hadapan Allah, baik secara rohani karena menyembah ilah-ilah lain, demikian juga secara moral karena terjadi kehancuran akhlak. Mikha, seorang yang berasal dari desa di selatan Yehuda (ayat 1:1), tidak tinggal diam. Dia menyampaikan firman yang Tuhan sampaikan kepada dirinya. 

Firman itu memperingatkan orang Israel akan dosa yang sudah mereka lakukan. Namun nubuat Mikha tidak disertai ajakan pertobatan. Artinya kehancuran Israel merupakan suatu hal yang sudah pasti. Allah menghukum orang Israel supaya mereka sadar bahwa segala penderitaan yang mereka alami kelak adalah akibat dari ketidaksetiaan mereka kepada Allah. 

Namun nubuatan kehancuran bangsa Israel ini disertai nubuat yang penuh pengharapan akan pertobatan dan pemulihan bangsa itu serta akan kedatangan Mesias, sang Juruselamat.

Kitab Mikha ditutup dengan suatu pernyataan yang indah mengenai siapa Allah yang kita percayai (ayat 18-19), yaitu bahwa Allah kita adalah Allah yang mengampuni dosa. Dia tidak terus-menerus murka, melainkan penuh kasih setia. Ia Allah yang mau menghapuskan kesalahan dan tidak lagi mengingat dosa-dosa kita.

Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr 9:22). Namun darah domba tidak mampu menghapus dosa manusia. Nubuat Mikha mengandung janji Allah akan datangnya Mesias. Darah-Nyalah yang akan ditumpahkan sebagai penebusan bagi segala dosa kita. Dia sendiri yang akan menggembalakan umat-Nya dengan tongkat sebagai lambang perlindungan dan disiplin. 

Dia akan menuntun domba-domba-Nya ke jalan yang benar, jalan yang penuh kelimpahan (ayat 14). Melalui Mesias, bangsa-bangsa akan mendapat berkat dan akan datang kepada Allah yang benar (ayat 16-17).

Allah telah menepati janjinya dalam nubuatan Mikha ini melalui diri Yesus Kristus yang kelahirannya kita peringati pada Hari Natal. Apakah Anda sudah mempersiapkan hati untuk menyambut peringatan kelahiran-Nya?

Doa kepada Tuhan adalah ungkapan kerendahan hati. Nabi Mikha menunjukkan bahwa Allah penuh dengan kasih setia. Ia itu pengampun dan memaafkan segala dosa kita. Jangan pernah takut dan ragu untuk mohon belas kasih Tuhan.

Mazmur, Kasih Allah yang besar.

Beban kehidupan yang kita alami kadang membuat kita mudah berkecil hati dan mengeluh. Dengan memperhatikan daftar panjang mazmur Daud, seharusnya segala kesusahan dan kegelisahan diganti dengan semangat memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. 

Betapa tidak, Allah telah mengampuni dosa kita, menyembuhkan kita, menebus kita dari kebinasaan, melimpahi kita dengan kasih sayang, dengan kebenaran dan keadilan. Semua itu diberikan Allah kepada kita bukan karena kita berhak untuk memperolehnya, melainkan karena anugerah Allah.

Semakin mengenal kasih Allah. Kalau pun sekarang semua orang percaya mampu memanjatkan puji syukur kepada Allah, itu karena Allah telah menganugerahkan kasih dan pengampunan-Nya. Semua tindakan Allah ini, menjadi dasar pujian dalam sukacita kekristenan kita. 

Sebagai orang yang telah dianugerahi kasih dan pengampunan, kita harus mendisiplin diri belajar kebenaran firman Tuhan dengan penghayatan segar dalam ibadah kepada Tuhan. Itulah yang dapat kita lakukan sebagai respons umat tebusan.

Renungkan: Makin mengenal Allah, makin kita menyadari keterbatasan kita. Makin dekat Tuhan, makin kita alami kuasa dan kasih-Nya, yang memampukan kita menjadi pujian dan hormat bagi-Nya.

Injil hari ini, Di hadapan Allah, manusia sangat berharga.

Dalam memberikan penghargaan kepada sesamanya, manusia cenderung menghargai sesamanya bukan berdasarkan hakikatnya sebagai manusia yang mempunyai harkat. Tetapi penghargaan itu seringkali berdasarkan apa yang ia punyai, prestasi yang dicapai, dan kontribusi yang ia berikan. 

Oleh karena itu, manusia pun terjebak dalam kompetisi untuk berkarya setinggi-tingginya sampai menjadi seorang manusia yang mempunyai kekayaan, kedudukan, dan sekaligus menjadi dermawan.

Yesus tidak demikian. Ia tidak sekadar bercakap-cakap dengan orang berdosa, bahkan ia makan bersama-sama dengan mereka, yang dalam tradisi Yahudi makan bersama menunjukkan suatu hubungan yang akrab atau saling menghargai satu dengan yang lain. Para Farisi dan ahli Taurat mengecam-Nya sebagai Seorang yang terlalu berkompromi dalam soal moralitas, karena bagi mereka akrab atau berdekatan dengan orang berdosa adalah najis. 

Yesus menjelaskan dasar tindakan-Nya dengan tiga buah perumpamaan sekaligus yang mempunyai tema sama. Dengan menceritakan perumpamaan yang sedemikian, Yesus paling tidak mempunyai dua maksud. Pertama, Ia mengekspresikan kesungguhan dan keseriusan atas penjelasan tentang sikap-Nya terhadap orang berdosa. Kedua, Ia rindu agar orang Farisi, ahli Taurat, dan semua pengikut-Nya meneladani- Nya.

Ketiga perumpamaan itu mengungkapkan bahwa baik dirham (1 hari gaji buruh), domba, dan anak bungsu, masing-masing mempunyai nilai yang tak terhingga bagi pemiliknya. Nilai itu timbul bukan dari apa yang dapat mereka lakukan atau jumlah mereka karena hanya satu yang hilang, namun timbul dari hakekat mereka masing- masing. 

Karena itulah ketika kembali ditemukan, meluaplah sukacita pemiliknya, sampai mengajak orang-orang lain pun bersukacita. Nilai manusia terletak pada hakekatnya sebagai makhluk yang telah diciptakan serupa dan segambar dengan Sang Pencipta Yang Agung.

Seorang bapa tidak tega melihat anaknya menderita. Rasa belas kasihan mengalahkan segala kesalahan. Perbuatan durhaka si bungsu tidak mengantar kepada keselamatan, namun penyesalan dan tobatlah yang mengantarnya pada hidup penuh sukacita. Maka, hiduplah dalam semangat pertobatan di hadirat Allah.

Renungkan: Orang Kristen harus memakai perspektif Yesus ketika bersikap kepada koleganya, karyawannya, pembantu rumah tangganya, pengemis, dan anak jalanan, bahkan para eks narapidana sekalipun. Siapa pun mereka, mereka adalah makhluk yang menjadi objek Kasih Allah juga.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Post a Comment for "Renungan Hari Sabtu 06 Maret 2021"