Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 28 Mei 2021

Renungan Hari Jumat 28 Mei 2021

Renungan Hari Jumat 28 Mei 2021

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, kalimat pembuka dalam perikop ini merupakan  ungkapan tradisional, yang dalam bahasa Ibrani istilah “orang-orang termasyur” ada dalam bentuk tunggal dan terpusatkan pada sikap menghormati leluhur Israel.

Ayat 9 merupakan komentar umum mengenai orang jahat mereka akan lenyap dan tidak diingat lagi, bahkan seperti tidak pernah ada atau tidak pernah dilahirkan. Sebaliknya orang yang hidupnya baik, kebajikannya akan selalu dikenang, turun temurun. Anak keturunannya pun  tetap menghormati bahkan meneladan kebaikan yang pernah dilakukannya menjadi pengajaran kepada anak-cucu. Sehingga seluruh keturunannya mendapatkan keselamatan dan kemuliaannya tetap abadi.

Injil hari ini, iman yang sehat

Apa yang diharapkan dari sebuah pohon buah? Tentu buahnya. Kita tidak akan mengharapkan semaraknya bunga-bunga dari sebuah pohon buah. Kesukaan melihat bunga di pohon buah adalah karena munculnya harapan bahwa suatu saat bunga itu akan menjelma menjadi buah.

Melihat daun-daun sebuah pohon ara, Yesus berharap menemukan buahnya. Memang saat itu belum musim panen buah ara, tetapi seharusnya sudah ada bakal buah. Bila tidak ada bakal buah berarti pohon itu memang tidak akan berbuah. Lalu apa gunanya? Maka Yesus menjadikan pohon itu sebagai media untuk mengajar murid-murid-Nya. 

Pohon itu merupakan gambaran tentang ketidakpercayaan orang Israel. Tuhan memang terus mencari buah iman dalam hidup orang Israel saat itu (band. Yer. 8:13; Hos. 9:10; Mi. 7:1). Secara tampak luar, kerohanian orang Israel memang mengesankan. Namun seperti rimbunnya daun pada sebuah pohon buah, kelihatan indah tapi bukan itu yang diharapkan. Tidak ada buah iman yang tampak. Ini munafik namanya.

Tidak adanya buah iman diperlihatkan oleh para pemimpin agama Yahudi yang bertugas mengelola Bait Allah. Mereka tidak mengawasi penggunaan Bait Allah dengan benar, bahkan ikut terlibat dalam penyalahgunaannya. 

Akibatnya kekhusukan ibadah berganti dengan riuh aktivitas pasar, yang penuh kecurangan karena didorong oleh keinginan mencari keuntungan. Padahal Bait Allah adalah rumah doa dan bukan sarang penyamun. Itulah sebabnya Yesus kemudian menyucikan Bait Allah.

Iman yang hidup dan bertumbuh adalah iman yang berbuah. Buah ditunjukkan bukan melalui banyaknya keterlibatan kita dalam aktivitas kerohanian atau pelayanan. Buah yang menunjukkan pertumbuhan iman yang sehat terlihat melalui tindakan atau perilaku kita. Yaitu ketika kita mendahulukan Allah dan bukan kepentingan diri, ketika kita mendahulukan ibadah dan bukan keuntungan sendiri. Marilah kita periksa iman kita, sehatkah? Bertumbuhkah?

Memindahkan gunung.

Bagi orang Kristen, ini mungkin sudah biasa. Iman yang sanggup memindahkan gunung adalah slogan dari banyak orang Kristen. Sayang, kadang iman dimengerti secara sangat simpel, “percaya saja!” Nas ini mengajak kita untuk merenungkan, iman seperti apa yang sanggup memindahkan gunung.

Pohon ara yang mengering karena kutukan Yesus menjadi batu loncatan bagi diskusi tentang apa arti dari kepercayaan kepada Allah. Pertama tentu saja adalah kepercayaan penuh kepada kuasa Allah. Bahkan, iman ini (Yun.: pistis) dapat memindahkan gunung ke dalam laut. Tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi bagi orang yang meminta dan berdoa kepada Allah.

Tetapi ada hal penting lain yang tidak boleh dilupakan. Seseorang yang beriman kepada Allah juga harus mempunyai hubungan yang baik pula dengan sesamanya. Iman yang dapat memindahkan gunung tidak terpisahkan dari perbuatan yang dapat meruntuhkan tembok- tembok pemisah. Yesus dengan spesifik menunjuk kepada mengampuni kesalahan sesama. 

Di dunia yang penuh dengan kemajuan teknologi ini, kadang sungguh-sungguh lebih mudah memindahkan sebuah bukit ke dalam laut untuk menguruk sebuah teluk ketimbang meruntuhkan tembok maya berupa kebencian antara sesama manusia. Karena itu, pengampunan kepada sesama sebenarnya merupakan salah satu tanda iman yang penting. 

Bahkan bisa dikatakan, seseorang belum benar- benar beriman kepada Allah, dan kepada karya pengampunan-Nya, bila ia belum dapat mengampuni sesamanya. Ingin memindahkan gunung, dan melakukan hal-hal besar lain bagi Allah dalam iman dan ketaatan kepada kehendak-Nya? Saling mengampunilah karena Allah.

Renungkan: Hal terpenting bukan bahwa gunung pindah, tetapi demi rencana kasih dan kemuliaan Siapa sang gunung pindah karena iman?

DOA: Tuhan Yesus, bersihkan hatiku dan buatlah aku menjadi tempat yang layak untuk kediaman Roh-Mu. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 28 Mei 2021"