Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 04 Juni 2021

Renungan Hari Jumat 04 Juni 2021

Renungan Hari Jumat 04 Juni 2021

Hidup doa harusnya menjadi semangat dan kebiasaan orang beriman. Tobit menjadi contoh dimana doa menjadi hal yang utama dan pokok dalam setiap aktifitas dan hidupnya. Setelah diberkati oleh Raguel dan Edna, Tobia memulai perjalanan kembali ke Ninive, dalam semangat doa. 

Dalam perjalanan Rafael mengingatkan Tobia, tentang ayahnya yang sakit saat ditinggalkan, bahwa kepergian Tobia adalah dalam rangka, mengambil harta, mencari isteri dan menyembuhkan Sara serta ayahnya Tobit. Tobia mentaati perintah Rafael, sehingga dalam perjalanan  ia senantiasa ingat akan misi perjalanannya.  

Hana sendiri walaupun yakin anaknya telah mati, tetapi ia dengan nalurinya sebagai seorang ibu, senantiasa mengamati jalan menantikan anaknya  pulang. Maka ketika melihat Tobia datang, meluaplah emosi kegembiraannya dan berteriak kepada Tobit suaminya “Tobit, anakmu pulang!” Tobit yang buta itu pun langsung berdiri, menabrak-nabrak apa saja yang dilewatinya untuk menemui anaknya walaupun tidak bisa dilihatnya.

Tobia kemudian mulai proses menyembuhkan mata ayahnya, hingga matanya disembuhkan.  Kata-kata pertama  Tobit ketika penglihatannya kembali, adalah doa syukur dan ungkapan kegembiraan,  anaknya kembali, yang merupakan cahaya  bagi matanya.

Tobit berdoa syukur kepada Allah yang ia pandang sebagai sumber penderitaan dan sekaligus sumber kesembuhan. Disini Tobit mengungkapkan suatu prinsip teologi besar dalam kitab ini,  “Allah adalah bebas, dan tindakan Allah adalah diluar jangkauan pengertian manusia . 

Tobit meskipun percaya bahwa Allah mengganjar orang yang taat dan menghukum orang yang jahat, menerima kebutaannya sebagai sesuatu yang datang dari Allah. Sepanjang penderitaannya, ia tidak pernah berpaling dari Allah dan tidak pernah berhenti berdoa. Doanya ketika penglihatannya pulih merupakan ungkapan jelas dari imannya yang luar biasa.

Adegan yang penuh kegembiraan ditutup dengan salam dari Sara, yang baru saja datang di pintu gerbang Niniwe. Tobit melanjutkan keyakinannya bahwa perkawinan telah menghubungkan kedua keluarga. Ia memanggil Sara sebagai “anakku” empat kali dalam ucapan selamat datangnya.

Mazmur, Allah adalah satu-satunya yang patut disembah.

Hanya Allah yang patut dipuji dan disembah selama-lamanya. Tidak ada suatu kuasa pun yang dapat menandingi Allah. Bahkan kekuasaan para bangsawan dan penguasa mana pun bukan tandingan. 

Bagi pemazmur, setinggi apa pun kedudukan dan kuasa yang dimiliki seseorang, ia tetap manusia biasa dan tidak akan pernah menjadi Allah (ayat 2, 3), karena kekuasaan manusia tidak pernah memberi hidup. Dialah yang memberi kita hidup dengan segala kemungkinan di dalamnya.

Perbuatan penyelamatan Allah. Perbuatan penyelamatan Allah yang dikatakan pemazmur pada pasal ini adalah wujud kepedulian Allah terhadap mereka yang tertindas karena ketidakadilan, yang lemah seperti anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang asing (ayat 6-9). Pemazmur sungguh memahami bahwa Allah menolong penderitaan fisik dan mental manusia. Ia membela orang benar yang kesepian dan tertindas serta mendukung yang lemah.

Renungkan: Kita telah menerima pengampunan dan karya penyelamatan Allah dalam kasih Kristus. Hal ini berarti bahwa Allah telah memulihkan hubungan kita dengan Allah. Hubungan tersebut akan mewarnai hubungan kita dengan sesama dalam berbagai aspek kehidupan.

Injil hari ini, Menyelesaikan konflik? Berhikmat!

Konflik antara Yesus dengan ahli-ahli Taurat dan para penguasa bukanlah konflik yang ringan. Konfliknya meliputi persoalan hukum dan kewibawaan penguasa pada saat itu. Berbagai cara diupayakan oleh penguasa untuk mencari-cari kesalahan Yesus. 

Namun Yesus tidak meminta dukungan orang banyak untuk bersama-sama menyerang pihak yang berkonflik dengan Dia. Ia juga tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan emosional. Meski mereka memfitnah dan menjebak Yesus, tetapi selalu dapat digagalkan. Bagaimana caranya? Dengan hikmat.

Jawaban Yesus selalu didasarkan pada kitab suci. Misalnya ketika Ia berhadapan dengan pertanyaan ahli-ahli Taurat mengenai jati diri-Nya. Simak saja bagaimana Yesus mengutip Mzm. 110:1. Ia pada akhirnya membuat para ahli Taurat tidak bisa berkata apa-apa mengenai Mesias yang dikatakan sebagai anak Daud, tetapi juga disebut sebagai Tuhan oleh Daud (ayat 35-37). 

Bukan hanya pada perikop ini saja Yesus menjawab tuduhan-tuduhan atau pertanyaan-pertanyaan yang menjebak Dia dengan mengutip nats dari kitab suci. Hal ini menunjukkan betapa dalam pemahaman dan pengenalan-Nya terhadap kitab suci, sehingga Ia dapat menyelesaikan persoalan-persoalan dengan penuh hikmat.

Dalam kehidupan kita, kita sering berhadapan dengan situasi yang penuh dengan konflik. Baik konflik dengan pihak lain maupun konflik dengan orang-orang dekat. Lalu bagaimana cara menghadapinya? Seringkali kita menunjukkan cara yang tidak bijaksana karena hasrat untuk unjuk gigi. 

Tak jarang kita mengetahui konflik internal gereja melalui media massa. Ini memperlihatkan bahwa orang-orang yang nota-bene adalah pengikut Kristus, lupa meneladani Yesus. Karena yang ditampilkan hanyalah luapan-luapan emosi, tidak menunjukkan diri sebagai orang berhikmat. Sebagai pengikut Kristus, hendaknya kita meneladani Dia dalam menyelesaikan persoalan atau pertentangan, yaitu dengan berhikmat. Lalu bagaimana cara mendapatkan hikmat? Baca Alkitab!

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku telinga-telinga yang terbuka agar dapat mendengar suara-Mu. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang menghargai kata-kata-Mu dan dengan rendah hati menerima segala sesuatu yang Engkau katakan kepadaku. Berbicaralah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan! Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 04 Juni 2021"