Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 25 Juni 2021

Renungan Hari Jumat 25 Juni 2021

Renungan Hari Jumat 25 Juni 2021

Kontrak menguntungkan dengan Allah

Allah membuat perjanjian antara diri-Nya dengan Abram. Persyaratannya sederhana: Abram harus menaati Allah dan menyunatkan setiap laki-laki yang ada di dalam komunitasnya (ayat 9-10). Sedangkan bagian Allah adalah memberikan Abram keturunan, harta milik, kekuasaan, dan kekayaan (ayat 4-9).

Mengapa Allah mengulang janji-Nya ini kepada Abram? Dua kali sebelumnya Allah sudah menyinggung hal ini (Kej 12, 15). Di sini, ternyata Allah lebih fokus. Allah mengungkapkan bagian spesifik dari janji-Nya: Allah akan memberikan Abram keturunan yang banyak; banyak bangsa akan lahir dari keturunannya; Allah akan mempertahankan janji-Nya dengan keturunan Abram; Allah akan memberikan tanah Kanaan kepada keturunan Abram. Allah juga merubah nama Abram menjadi Abraham (“bapa bangsa-bangsa”), sesaat sebelum anak yang dijanjikan dikandung ibunya. Mulai pada bagian ini, Kitab Suci menyebut Abram dengan Abraham.

Mengapa sunat? 

  • Pertama, sebagai tanda ketaatan kepada Allah di dalam segala aspek hidup. 
  • Kedua, sebagai tanda bahwa orang itu bagian dari umat perjanjian-Nya. Sekali disunat, tidak bisa dibatalkan kembali. Orang itu akan diidentifikasikan sebagai seorang Yahudi selamanya. 
  • Ketiga, sebagai simbol dari “memotong” hidup yang lama karena dosa, menyucikan hati, dan mendedikasikan diri kepada Allah. 

Sunat adalah praktik yang unik ketimbang praktik-praktik keagamaan yang ada pada waktu itu. Praktik ini memisahkan umat Allah dari umat tetangga mereka yang kafir. Praktik sunat itu penting dalam membangun penyembahan yang murni kepada Allah yang Esa.

Kebanyakan perjanjian yang kita kenal mengandung pertukaran yang bersifat setara. Kita memberikan sesuatu dan sebagai balasannya mendapatkan sesuatu sesuai dengan nilai yang diberikan. Namun perjanjian dengan Allah ternyata berbeda. Berkat-berkat yang diberikan Allah jauh lebih banyak daripada bagian yang harus diberikan Abram.

Keraguan Abraham. Memang tidak mudah meniti hidup beriman. Sebagai ciptaan Allah yang diciptakan dengan kemampuan bernalar, kerapkali yang lebih condong muncul dalam tindakan sehari-hari adalah keragu-raguan. 

Tidak ada yang salah dengan keragu-raguan. Kalau kita ragu itu berarti kita telah menjalankan karunia Allah yang berharga berupa kemampuan menyeleksi dan memilih. Tanpa kemampuan ini, orang menjadi seperti mesin saja: tekan ini keluar ini, tekan itu keluar itu. Allah tidak memberikan janji-Nya kepada mesin. 

Tidak ada komunikasi dan hubungan yang akrab dengan sebuah mesin, meski mesin yang sangat canggih sekalipun. Allah menjalin hubungan dan komunikasi yang akrab dengan gambar-Nya, yang bisa ragu, bisa kecewa, penuh pemikiran dan pertimbangan. 

Namun keraguan yang benar menurut ajaran Kitab Suci bukanlah keraguan yang kebablasan. Mesti ada batas pada keraguan itu agar kita tiba pada kesimpulan memilih pilihan yang terakhir dengan keyakinan penuh. Saat itu terjadi, iman menemukan kesejatiannya. Iman yang bertumbuh dewasa.

Abraham meragukan Allah. Menurut Abraham “sangat luar biasa sekali” jika ia dan Sara di usia senja mereka dapat memiliki anak. Abraham, orang yang dipertimbangkan benar karena imannya, mengalami kesulitan memercayai janji Allah kepada dia. 

Namun Abraham tidak kebablasan. Di balik segala keraguannya, Abraham akhirnya mengikuti perintah Allah (ayat 22). Abraham memutuskan untuk tiba pada satu titik, yakni memilih dengan seyakin-yakinnya, bahwa janji Allah tidak pernah mengecewakannya.

Jika orang sekelas Abraham ternyata memiliki keraguan juga, jangan heran kalau kita kadang ragu dalam beriman. Pada saat Allah menghendaki apa yang mustahil dan kita mulai meragukan pimpinan-Nya, jadilah seperti Abraham. Pilihlah untuk mengakhiri keraguan dengan memfokuskan diri pada komitmen Allah yang telah membuktikan Diri-Nya setia, dan bahwa Dia akan menggenapi janji-Nya.

Mazmur, Berkat atas rumah tangga,

Berkat Rumah tangga dimulai dari kehidupan pribadi yang benar di hadapan Tuhan: hidup takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Sikap hidup seperti ini harus dimulai dari masing-masing pribadi anggota keluarga, sehingga keluarganya bahagia. 

Seorang suami sebagai kepala keluarga mengambil peran pemimpin rohani bagi keluarganya. Secara pribadi, seharusnya ia memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, sehingga dapat mengarahkan keluarganya kepada jalan-Nya.

Keluarga bahagia. Di sini digambarkan seorang suami yang hidup benar di hadapan Tuhan dan memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Ia memiliki istri dan keturunan yang membahagiakan keluarganya. Istrinya akan menjadi seorang wanita yang menyenangkan hati suami dan anak-anaknya, sehingga suasana rumah damai dan nyaman. Demikian pula dengan anak-anaknya, kelak akan menjadi pewaris keluarga yang berguna.

Berkat yang benar dari Zion. Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya atas rumah tangga yang menjaga kebenaran hidupnya di hadapan Tuhan, sehingga kebahagiaan sejati menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Renungkan: Sudahkah keluarga Anda hidup takut akan Tuhan sehingga diberkati Tuhan?

Injil hari ini,

Mukjizat menyatakan apa tentang Yesus?

Kebanyakan orang, termasuk orang Kristen terbagi ke dalam dua kelompok dalam kesan mereka tentang mukjizat. Ada yang memercayai dan menggandrungi mukjizat dan ada yang meragukan kemungkinan terjadinya mukjizat.

Dalam bacaan kita hari ini, Matius mencatat tiga peristiwa mukjizat yang Yesus lakukan. Maksud Matius bukan ingin memaparkan sikap orang terhadap mukjizat melainkan memaparkan siapakah Yesus melalui sikap-Nya terhadap masalah orang dan melalui tindakan-Nya membuat mukjizat. 

Masalah pertama yang Yesus selesaikan adalah penyakit kusta (ayat 1-4). Dalam hukum Musa, menderita kusta berarti terkucil dari masyarakat sebab hal tersebut diartikan kutukan Allah. Ucapan Yesus terhadap permohonan si kusta memperlihatkan sikap-Nya terhadap masalah terkutuk dan terkucil. Yesus mau orang itu bebas dari keadaan terkutuk dan terkucil. Itu sebabnya, Ia tidak saja menyembuhkan, tetapi mengirim orang itu menjumpai para imam.

Penyembuhan budak perwira di Kapernaum sekaligus menekankan dua hal. Yesus menginginkan orang memiliki iman penuh kepada Dia sebab Dia memang yang berdaulat untuk memerintah atau menuntut orang beriman mutlak kepada-Nya. Sayang orang Israel yang seharusnya memiliki iman malah dipermalukan oleh seorang kafir (ayat 10). 

Penyembuhan ibu mertua Petrus dan banyak lagi masalah lainnya kembali menekankan kedaulatan Yesus atas kekuatan-kekuatan yang merusak hidup manusia (ayat 16). Maksud dari semua perbuatan mukjizat itu adalah memperagakan bahwa Yesus sungguh adalah Dia “yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (ayat 17). Mukjizat adalah tanda yang membuat orang melihat kedudukan Yesus seharusnya dalam hidup dan atas dunia ini.

Renungkan: Mukjizat atas segala mukjizat adalah ketika Anda diberi-Nya iman untuk meninggikan Dia di atas segala masalah dan menjadikan-Nya Tuhan dalam hidup Anda.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau Mahakuasa namun senantiasa berbelas-kasih kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan-Mu. Nyatakanlah diri-Mu kepada kami semua! Seperti orang kusta yang Kautahirkan 2.000 tahun lalu, kami pun membutuhkan pertolongan-Mu. Kasihanilah kami, ya Tuhan Yesus. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 25 Juni 2021"