Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Kamis 10 Juni 2021

Renungan Hari Kamis 10 Juni 2021

Renungan Hari Kamis 10 Juni 2021

Maju ke arah Kristus

Karena merasa diri memiliki janji-janji Allah, orang Yahudi yakin bahwa mereka pasti bisa memahami Perjanjian Lama. Padahal Paulus melihat ada selubung yang menutupi mata mereka dan membekukan pikiran mereka, bagaikan selubung yang menutupi wajah Musa saat ia turun dari Gunung Sinai dengan wajah yang memancarkan sinar kemuliaan Allah. Selubung itu mengakibatkan mereka tidak bisa memahami maksud perjanjian Allah (14-15).

Paulus menjelaskan bahwa hanya jika terang kemuliaan Kristus bersinar atas diri seseorang, barulah ia memiliki pengertian akan pernyataan Tuhan. Itu bisa terjadi ketika orang berbalik pada Tuhan dan menyambut anugerah Kristus (16). Pada saat itulah Tuhan menyingkapkan selubung dari hatinya sehingga penglihatan rohaninya tidak terhalang lagi. 

Maka pada saat itu orang akan memahami bahwa anugerah Tuhan Yesus memenuhi tuntutan hukum Taurat (Rm 10:4), dan di situlah terletak makna kemerdekaan (17). Kemerdekaan yang bukan hanya meliputi selubung yang tersingkap; tetapi juga kemerdekaan dari dosa, maut dan tuntutan hukum Taurat. 

Pada saat dimerdekakan, orang akan memancarkan kemuliaan Tuhan (18). Bukan hanya di wajah, tetapi dalam hidup dan terpancar melalui karakter. Kemuliaan ini tidak akan memudar tetapi akan terus mentransformasi hidup hingga makin lama makin menyerupai Kristus.

Keserupaan dengan Kristus ini bukan hasil pencapaian manusia. Itu merupakan pertumbuhan yang dihasilkan oleh karya dan kuasa Roh Kudus. Kita memang harus mengerjakan keselamatan kita sebagai respons atas karya Allah di dalam hidup kita. Kita sadar bahwa proses transformasi menuju keserupaan dengan Kristus tidaklah selalu lancar dan mudah, karena merupakan arena peperangan melawan dosa dan si jahat. 

Dalam proses pertumbuhan meninggalkan dosa dan makin maju ke arah Kristus ini, kita perlu dua hal bersamaan: bergantung pada kuasa Roh Kudus dan menaklukkan diri pada proses pemurnian-Nya.

Kekuatan dalam pelayanan. Apa rahasia Paulus sehingga ia tidak tawar hati meski mengalami banyak rintangan dalam pelayanan? Karena ia sadar bahwa pelayanan pemberitaan Kristus begitu mulia (3:17-15). Maka menjadi pelayan Injil merupakan kehormatan yang berasal dari kemurahan Allah semata (1). Kesadaran ini membangkitkan dua hal. 

Pertama, ketegasan untuk tidak menodai pelayanan yang mulia dengan tindakan dan motivasi yang tidak murni (2a). 

Kedua, bersungguh-sungguh agar Injil dapat diberitakan dengan cara yang membuat pendengarnya dapat memahami dengan benar (2b).

Lalu jika dalam kenyataannya masih ada juga orang yang tidak menerima Injil, bagaimana kita harus menilai pelayanan tersebut? Paulus menegaskan bahwa penolakan terhadap Injil adalah fakta bahwa hati orang digelapkan oleh dosa, kuasa kejahatan dan daya tarik dunia (3-4). 

Mereka yang termasuk di dalamnya adalah orang yang memang tidak ingin percaya kepada Allah. Mereka tidak menyadari bahwa di luar Injil tidak ada keselamatan sejati, juga tidak ada makna hidup yang sejati.

Oleh karena pelayanan Injil adalah mewartakan kemuliaan Kristus, maka Paulus tidak menonjolkan dirinya (5). Tema ini menegaskan ulang perbedaan prinsip pelayanan Paulus dibandingkan dengan hamba-hamba Tuhan palsu, yang menonjolkan diri mereka untuk mencari hormat dari jemaat Korintus. 

Perhatian Paulus bukan dipusatkan pada upaya untuk membuat orang mengaguminya, tapi pada kesetiaan melayani agar Kristus dinyatakan dengan terang (6). Ia yang pernah berjumpa dengan terang kemuliaan Kristus di jalan menuju Damaskus, terus berharap bahwa melalui pelayanannya orang kembali berjumpa terang Kristus itu.

Renungkan: Untuk setiap kita, ada bagian yang Tuhan ingin kita lakukan dalam pelayanan. Baiklah kita menerimanya sebagai anugerah. Lakukan dengan hati yang murni hanya demi kemuliaan Injil Kristus makin terpancar, bukan demi alasan-alasan lain!

Mazmur, Allah telah menyelamatkan.

Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya dari pembuangan. Keselamatan itu utuh dan total. Dosa diampuni, hak atas tanah dipulihkan )ayat 2-4). Masa lampau telah lalu, namun masa untuk memperbaiki akibat-akibat dosa yang menghancurkan itu kini terbentang menantang karya umat Allah. 

Desa dan kota yang tinggal puing-puing, tanah yang gersang tak siap untuk menghasilkan, kelumpuhan ekonomi; itulah yang kini mereka gumuli dalam doa di hadapan kasih setia Tuhan. Pengampunan memang penting dan vital tetapi bukan segala-galanya. Kini mereka memerlukan keyakinan dan kekuatan bahwa Tuhan yang telah mengampuni dan memulihkan itu akan memampukan mereka membangun kehidupan baru bersama-Nya (ayat 11-14).

Arti keselamatan. “Selamat” istilah Indonesia untuk salam atau syalom mengandung arti sangat luas. Akibat hubungan mesra umat dengan Tuhan, umat menjalani kehidupan yang serasi dengan kehendak Allah dan berkat penyertaan Allah mengalir ke segala segi kehidupan. Ketenangan jiwa, keserasian sosial, kualitas hidup terhormat, kemakmuran merata, dlsb. adalah bagian yang tercakup dalam keselamatan. 

Ketika Israel balik kembali dari pembuangan, pengalaman pertama mereka adalah diampuni Tuhan. Pengalaman berikut adalah tantangan bahwa mereka harus bertindak dalam iman yang taat untuk membangun kembali kehidupan ekonomi-sosial-politik yang telah hancur sebelumnya. Banyak keluh kesah dalam hidup ini dilontarkan orang. Banyak doa permohonan ampun atas dosa-dosa yang terjadi di antara bangsa Indonesia telah kita tujukan kepada Tuhan. 

Dalam terang janji firman-Nya, kita tahu bahwa Dia mengampuni. Namun akibat-akibat buruk dosa-dosa itu tidak dapat lenyap begitu saja. Kita ditantang untuk berusaha keras menata kembali kehidupan bermasyarakat, bekerja, bersosial-politik yang berintikan takut akan Tuhan (ayat 11-12). Sebagai orang yang memahami kebenaran firman, Kristen seharusnya lebih aktif bersinar di tengah situasi sekarang ini. Saksikan Kristus dan wujudkan karya iman kita!

Injil hari ini, Pembunuhan karakter?

Salah satu ciri kristiani yang harus nyata dalam hidup anak-anak Tuhan adalah sikapnya terhadap sesama manusia. Sikap tersebut harus berpadanan dengan bagaimana Tuhan bersikap terhadap manusia, ciptaan-Nya.

Hukum Taurat memberikan larangan `jangan membunuh.’ Di balik perintah itu ada prinsip ilahi bahwa Tuhanlah yang memiliki hak atas hidup dan mati seseorang. Oleh sebab itu manusia harus menghargai hidup sesamanya. Jadi, Yesus menegaskan bahwa bukan hanya tindakan membunuh yang disebut sebagai dosa. 

Marah terhadap sesama, mengata-ngatai sesama manusia sebagai kafir atau jahil sudah dikategorikan pembunuhan (ayat 22). Istilah sekarang ialah pembunuhan karakter. Artinya, baik kemarahan maupun pembunuhan merupakan pelanggaran terhadap hukum Taurat yang keenam. 

Sikap demikian adalah sikap yang merendahkan sesama manusia yang adalah gambar Allah. Itu adalah sikap yang tidak manusiawi. Sikap sedemikian turut menghina Sang Pencipta. Maka Allah akan menghukum keras orang yang bersikap demikian.

Oleh karena Allah membenci sikap demikian maka pertobatan mutlak harus terjadi sebelum hidup kembali berkenan kepada-Nya. Jangan mengira ibadah diterima oleh Tuhan bila perilaku terhadap sesama salah (ayat 23-24). 

Allah akan membela orang yang diperlakukan tidak manusiawi. Jadi, sebelum orang tersebut mengadukannya kepada Allah dan hukuman dijatuhkan cepat-cepatlah berdamai (ayat 25-26).

Ingatlah menumpuk kemarahan dalam hati kita akan meracuni pikiran dan tindakan kita. Kemarahan dapat menyebabkan kita kehilangan kendali diri dan berbuat apa saja pada orang lain. Kita perlu belajar mengendalikan diri agar dapat meredam kemarahan dan tetap tenang. Itulah kunci kemenangan kita atas kemarahan!

DOA: Tuhan Yesus, kami mengakui desakan-Mu agar kami menerima “kasih” sebagai perintah-Mu yang besar dan agung. Kami mohon rahmat-Mu agar kami dapat sungguh menghayatinya dalam kehidupan kami. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Kamis 10 Juni 2021"