Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Kamis 03 Juni 2021

Renungan Hari Kamis 3 Juni 2021

Renungan Hari Kamis 03 Juni 2021

Perjalanan Tobia diringkas sebagai berikut; Pada malam pertama perjalanan Tobia dan malaikat Rafel yang menyamar sebagai seorang yang bernama Azarya, beristirahat dengan memasang kemah di pinggir sungai Tigris. Kemudian mereka berjalan bersama mendekati Media. Setelah memasuki Media akhirnya mereka tiba di Ekbatana, yang rupanya menjadi tujuan perjalanan mereka. 

Ini menjadi kejutan bagi Tobia dan para pembaca semua, sebab orang pasti mengira Tobia akan langsung pergi ke kota Ragai untuk mendapatkan uang Tobit dari Gabael. Semua terjadi karena petunjuk dari malaikat Rafael kepada Tobia, sebab tujuan sesungguhnya perjalanan Tobia adalah mencari sarana untuk penyembuhan Tobit ayahnya serta menyelamatkan perkawinannya dengan Sara.

Bimbingan Allah melalui Azarya (malaikat Rafael) kepada Tobia meliputi arah perjalanan, perintah untuk menangkap ikan, dimana bagian dalam ikan yang berupa hati, ginjal, dan empedu mempunyai daya penyembuhan bagi Tobit yang buta dan pengusiran iblis Asmodeuz yang ada ditubuh Sara, sehingga akan menyelamatkan perkawinan Tobia dengan Sara nantinya.

Penangkapan ikan terjadi dalam malam pertama perjalanan, dimana ikan itu hampir mencaplok kaki Tobia tetapi dengan petunjuk Rafael, Tobia berhasil menangkap ikan tersebut dan mengeluarkan empedu, hati, dan ginjal yang akan menjadi sumber penyembuhan. Rafael memberi petunjuk untuk menyembuhkan Tobit dan Sara.

Petunjuk pertama, Rafael menjelaskan kepada Tobia bahwa, hati dan ginjal ikan berguna untuk mengusir roh jahat yang ada di tubuh baik laki-laki maupun perempuan seperti yang dialami Sara, dan empedu berguna untuk menyembuhkan kebutaan yang dialami oleh seorang pria.

Petunjuk perkawinan Tobia dengan Sara. Rafael mengingatkan Tobia bahwa ia telah diperintah ayahnya untuk menikah dengan seseorang dari kerabatnya. Sara pun hanya ingin menikah dengan kerabatnya atau sama sekali tidak menikah. Perkawinan Tobia dan Sara merupakan tindakan yang berbahaya, Tobia tahu bahwa Sara telah mempunyai tujuh suami, yang semuanya mati pada saat malam pertama karena iblis yang berada pada tubuh Sara. 

Namun Tobia juga tahu bahwa Rafael telah membakar hati dan ginjal dari ikan yang dapat mengusir iblis. Pada saat iblis diusir, Tobia harus melaksanakan pernikahannya dengan diiringi doa, doanya berujubkan keinginannya untuk mentaati ayahnya serta cintanya yang besar kepada Sara akan memeterai perkawinan yang telah ditentukan sejak semula.

Dari perikop ini ditunjukkan bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya, dan pertolongan Tuhan itu sungguh nyata dalam kehidupan setiap umat-Nya.

Mazmur, Berkat atas rumah tangga,

Dimulai dari kehidupan pribadi yang benar di hadapan Tuhan: hidup takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Sikap hidup seperti ini harus dimulai dari masing-masing pribadi anggota keluarga, sehingga keluarganya bahagia. Seorang suami sebagai kepala keluarga mengambil peran pemimpin rohani bagi keluarganya. Secara pribadi, seharusnya ia memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, sehingga dapat mengarahkan keluarganya kepada jalan-Nya.

Keluarga bahagia. Di sini digambarkan seorang suami yang hidup benar di hadapan Tuhan dan memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Ia memiliki istri dan keturunan yang membahagiakan keluarganya. Istrinya akan menjadi seorang wanita yang menyenangkan hati suami dan anak-anaknya, sehingga suasana rumah damai dan nyaman. Demikian pula dengan anak-anaknya, kelak akan menjadi pewaris keluarga yang berguna. Berkat yang benar dari Zion. Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya atas rumah tangga yang menjaga kebenaran hidupnya di hadapan Tuhan, sehingga kebahagiaan sejati menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Renungkan: Sudahkah keluarga Anda hidup takut akan Tuhan sehingga diberkati Tuhan?

Injil hari ini, Kasihilah

Para pemimpin agama Yahudi rupanya masih belum puas menguji Yesus. Kali ini ahli Taurat dan orang Saduki yang berbicara dengan Dia. Topik bahasan mereka kali ini adalah \’perintah yang terutama\’. Dengan topik itu, mereka ingin menguji Yesus untuk melihat apakah Ia menghargai hukum Musa. 

Melebihi apa yang mereka harapkan, Yesus mendefinisikan hukum itu ke dalam esensinya: kasihi Allah dengan segala yang kau miliki dan kasihi sesama seperti diri sendiri (ayat 30-31). Jawaban Yesus menarik. Walau diminta memberikan satu hukum yang dianggap terbesar, Ia menjawab dua hukum. Mengapa? 

Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah. Kedua hukum ini saling melengkapi. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain. Hukum itu meringkas hukum yang tertulis pada dua loh batu yang diterima Musa. Hukum itu menyatakan kewajiban manusia kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama.

Kasih memang penting untuk mendasari sebuah relasi. Kita bisa saja menaati firman Allah tanpa mengasihi Dia. Namun ketaatan demikian bersifat hampa. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia. Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. 

Misalnya jika orang membuat kita marah, apa kita akan balas dendam? Jika ya, berarti sikap merekalah yang mendasari tindakan kita bukan firman Allah. Lalu apa kita harus tidak peduli perlakuan orang lain? Tidak. Alkitab mengajari kita cara berurusan dengan orang lain dan menangani perasaan saat merasa terluka. 

Namun solusi Allah dirancang untuk menghasilkan rekonsiliasi dan pertumbuhan iman. Bukan untuk balas dendam atau mengendalikan orang lain. Ingatlah bahwa tiap orang berharga di mata Allah. Pemulihan hubungan berarti menghargai Allah dan itu mewujud dalam sikap kita terhadap sesama sebagai ciptaan Allah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku suatu kapasitas untuk mengasihi. Tolonglah diriku agar mau dan mampu untuk mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Tolonglah agar mereka yang tidak jauh dari Kerajaan-Mu untuk menanggapi secara lebih penuh lagi panggilan-Mu untuk mengasihi. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Kamis 03 Juni 2021"