Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Minggu 06 Juni 2021

Renungan Hari Minggu 06 Juni 2021

Renungan Hari Minggu 06 Juni 2021

Perjanjian darah

Upacara perjanjian yang diadakan antara Allah dengan Israel adalah wujud formal yang memeteraikan perjanjian yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Allah sebagai pihak pertama, menawarkan penyertaan dan jaminan-Nya atas Israel (ayat 23:20-33). Israel di pihak kedua berjanji taat kepada segenap firman-Nya (ayat 24:3).

Upacara itu dimulai dengan persembahan kurban (ayat 5). Darah kurban yang separuh disiramkan ke mezbah (mewakili Allah) sebagai pernyataan kesetiaan Allah kepada Israel. Sisa darah kurban itu disiramkan kepada umat Israel (ayat 8) setelah mereka menyatakan komitmen mereka (ayat 7). Kurban darah ini merupakan kurban persekutuan karena darah yang disiramkan kepada kedua belah pihak mempersekutukan mereka. 

Sebagai wujud persekutuan itu, Allah berkenan menampakkan diri kepada umat Israel (ayat 10) dan mereka (diwakili para pemimpinnya, ayat 1,9) menikmati persekutuan dengan-Nya melalui makan dan minum bersama-sama (ayat 11). Lalu, Musa mendapatkan tugas khusus naik ke gunung Sinai untuk menerima loh batu berisikan Sepuluh Hukum Allah dan berbagai peraturan rinci mengenai pendirian kemah suci yang akan dijabarkan di pasal 25-40 (ayat 12-18).

Kurban darah itu melambangkan kurban Kristus di Salib yang memperdamaikan Allah dengan setiap orang percaya. Allah di dalam Kristus menjanjikan penyertaan dan pemeliharaan-Nya kepada kita yang percaya. Sebaliknya kita pun dipanggil untuk mengikrarkan kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya.

Secara formal sakramen Ekaristi memeragakan kembali upacara perjanjian Allah dengan umat-Nya melalui menerima dan makan Ekaristi  sebagai lambang tubuh dan darah-Nya. Kiranya setiap kali kita menerima Komuni, kita kembali menyatakan komitmen kita untuk lebih setia dan mengasihi Dia yang sudah lebih dahulu setia dan mengasihi kita.

Mazmur, Tiga dimensi waktu.

Orang Kristen hidup dalam tiga dimensi waktu yaitu masa kini, masa lalu, dan masa depan, sesuai dengan ungkapan pemazmur di pasal ini. Pada masa kini ia mengasihi Allah (1), pada masa lalu: “Ia mendengarkan suaraku” (1), dan di masa depan “seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya” (2). Pemazmur sendiri hidup dalam tiga dimensi: setelah doanya terjawab (masa lalu), dia mengasihi Allah (masa kini), dan dengan permohonan doa-doanya, ia melanjutkan hidup masa depannya.

Kasih karunia penggerak tindakan. Dalam Mazmur ini, dimensi yang ke tiga merupakan tindakan konkrit, karena kasih karunia Allah sudah dilimpahkan kepada manusia (ay. 2, 13, 17). Bahkan di ayat13, bila dilihat berdasarkan perspektif Perjanjian Baru tentang cawan Yesus, ini bermakna bagi setiap Kristen yang sudah menerima kasih karunia bahwa “mengangkat cawan keselamatan” berarti (a) bukti ia berserah dan percaya sepenuhnya kepada-Nya; (b) taat kepada-Nya dalam segala situasi; (c) memelihara persekutuan dengan-Nya; dan (d) tetap berpengharapan akan bersekutu dengan-Nya. Empat hal itu adalah ungkapan “aku mengasihi Tuhan” (ay. 1). Bila Mazmur ini ditempatkan dalam kehidupan Kristen, maka tiga dimensi waktu yang berkesinambungan itu hanya akan berakhir ketika Bapa memanggil kita pulang.

Bacaan kedua; Kurban yang sempurna

Perjanjian Sinai menggunakan domba dan lembu sebagai persembahan kurban yang mendamaikan Allah dengan umat PL. Padahal kematian domba dan lembu tidak pernah bisa menggantikan kematian manusia. Itu sebabnya, ritual kurban PL hanya merupakan gambaran akan kurban yang lebih besar dan lebih sempurna, yang akan datang.

Kristus bukan hanya Imam Besar yang mendamaikan umat manusia kepada Allah, Dia juga kurban pendamaian yang sempurna. Penulis Ibrani memakai dua macam perbandingan untuk menjelaskan hal ini. 

Pertama, kalau darah binatang yang dipercikkan dalam ritual pendamaian bisa menguduskan kenajisan lahiriah manusia (ayat 13), maka darah Kristus mampu membersihkan kenajisan batin manusia agar manusia kembali berkenan kepada Allah (ayat 14).

Kedua, hanya melalui kematian si pembuat wasiat maka harta warisan bisa diturunkan kepada ahli warisnya. Darah melambangkan kematian. Darah domba dan lembu yang dikurbankan melambangkan pengampunan dosa bagi semua orang yang menerimanya dengan iman. 

Darah Kristus yang dicurahkan merupakan harta warisan, yaitu keselamatan, yang diberikan-Nya kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Kematian Kristus mengampuni dosa dan menyucikan hidup manusia.

Kristus mati supaya dosa-dosa kita dapat diampuni. Dia memberi hidup-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kini, kita hidup karena Diri-Nya. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan pengurbanan-Nya yang sangat besar itu. Apa yang harus kita lakukan? Hiduplah berkenan kepada-Nya dengan tidak melakukan segala hal yang najis dan tidak mulia. 

Layanilah Dia dengan kekudusan tubuh kita, dan saksikanlah kasih pengurbanan-Nya kepada orang lain agar mereka mengalami pengampunan dan penyucian-Nya.

Injil hari ini, Paskah yang baru

Paskah yang akan segera kita rayakan berakar dari tradisi Yudaisme. Kita meneruskan apa yang sudah dimulai oleh orang Yahudi sejak mereka keluar dari tanah Mesir. Namun berbeda dengan orang Yahudi, orang Kristen mempunyai makna tersendiri soal Paskah ini. Dan ini pertama kali dicetuskan dalam perjamuan malam terakhir.

Perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus bersama murid-murid-Nya merupakan bagian dari perayaan paskah Yahudi. Paskah Yahudi dirayakan untuk mengingat kembali perbuatan Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan. Makna ini kemudian dikembangkan oleh Yesus. 

Ia memecah-mecahkan roti dan menuangkan anggur lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya. Apa yang Yesus lakukan bagai pesan yang menyatakan bahwa tubuh dan darah Yesus akan dikorbankan, sebagaimana orang Yahudi mengorbankan domba paskah. 

Pengorbanan yang akan dilaksanakan di atas salib itu akan membawa pembebasan bagi manusia. Pembebasan ini bukan hanya soal fisik seperti yang dialami orang Yahudi zaman dulu. Lebih dari itu, pengorbanan Yesus akan membebaskan manusia dari perbudakan dosa.

Perjamuan malam terakhir juga berkaitan dengan isu Kerajaan Allah. Perjamuan ini jadi pendahuluan dari kedatangan Kerajaan Allah yang akan dinyatakan secara penuh pada akhir zaman. 

Malam itu Yesus menegaskan bahwa Ia tidak akan mengadakan perjamuan yang sama lagi bersama murid-murid. Nanti ketika kerajaan itu sudah dipenuhi, Ia akan makan lagi bersama murid-murid-Nya dan semua orang yang diselamatkan oleh pengorbanan-Nya. Perjamuan menjadi lambang persekutuan kekal antara Allah dan umat.

Masih dalam suasana Minggu Paskah ini, marilah kita merenungkan kembali arti pengorbanan Yesus. Kita mempersiapkan hati dan tak lupa bersyukur karena oleh Dia saja maka hari ini kita termasuk orang-orang merdeka. Lebih dari itu, kita perlu mempersiapkan diri selama menantikan tibanya perjamuan dalam kerajaan Allah pada akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memberi makan dan memperkuat diriku dengan tubuh dan darah-Mu. Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuat kenyang rasa laparku. Terangilah jalanku selagi aku berupaya untuk membawa kasih dan hidup-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Minggu 06 Juni 2021"