Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Selasa 15 Juni 2021

Renungan Hari Selasa 15 Juni 2021

Renungan Hari Selasa 15 Juni 2021

Nyata dalam kepeduliaan

Pertobatan bukan hanya menyangkut perilaku moral. Pertobatan juga tampak dalam hubungan-hubungan sosial dan komunal. Dengan demikian buah pertobatan berjalan serasi dengan buah iman dan kasih yaitu dalam bentuk perhatian dan kepedulian pada orang lain.

Jemaat Kristus telah memperbarui komitmen melalui pertobatan mereka. Paulus kemudian mendorong mereka untuk selangkah lebih maju, yaitu dengan mengikuti teladan jemaat-jemaat di Makedonia (1). 

Mereka yang termasuk di dalamnya adalah jemaat Filipi, Tesalonika, Berea, dll. Mereka telah menunjukkan kemurahan hati dengan memberikan dukungan dana kepada orang-orang percaya yang miskin di Yerusalem (2-5). 

Kemurahan hati mereka benar-benar terjadi karena anugerah Allah, sebab mereka sendiri sedang menderita berbagai kesulitan (Kis. 17:1-9; 1Tes. 2:14). Meski demikian, mereka memberi melebihi kemampuan mereka dan dengan sukacita. Padahal mereka sendiri miskin. 

Teladan mereka seharusnya memotivasi jemaat Korintus untuk memberi juga dengan murah hati. Apa lagi mereka telah menikmati berbagai berkat dari Allah (7). Sebab itu Paulus berharap agar jemaat Korintus termotivasi karena melihat teladan Kristus. 

Ia ingin jemaat Korintus dapat melihat kesempatan untuk menolong jemaat di Yerusalem, sebagai sebuah anugerah dari Allah (9). Respons mereka terhadap kesempatan ini akan merupakan ujian bagi ketulusan kasih mereka pada Kristus.

Iman dan kasih kepada Kristus memang bukan hanya nyata melalui doa atau ibadah pribadi, tetapi juga tampak dalam kepedulian kita pada orang lain. Kepedulian yang terwujud melalui pertolongan. Hari ini pemahaman kita diperbarui. 

Memberi bukan hanya karena berlebihan dan supaya orang lain mendapat keringanan, namun memberi agar terjadi keseimbangan. Teladan dari jemaat-jemaat Makedonia menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk tidak menolong orang lain.

Mazmur menyatakan, Allah adalah satu-satunya yang patut disembah.

Hanya Allah yang patut dipuji dan disembah selama-lamanya. Tidak ada suatu kuasa pun yang dapat menandingi Allah. Bahkan kekuasaan para bangsawan dan penguasa mana pun bukan tandingan. 

Bagi pemazmur, setinggi apa pun kedudukan dan kuasa yang dimiliki seseorang, ia tetap manusia biasa dan tidak akan pernah menjadi Allah (ayat 2, 3), karena kekuasaan manusia tidak pernah memberi hidup. Dialah yang memberi kita hidup dengan segala kemungkinan di dalamnya.

Perbuatan penyelamatan Allah. Perbuatan penyelamatan Allah yang dikatakan pemazmur pada pasal ini adalah wujud kepedulian Allah terhadap mereka yang tertindas karena ketidakadilan, yang lemah seperti anak-anak yatim, janda-janda dan orang-orang asing (ayat 6-9). 

Pemazmur sungguh memahami bahwa Allah menolong penderitaan fisik dan mental manusia. Ia membela orang benar yang kesepian dan tertindas serta mendukung yang lemah.

Kita telah menerima pengampunan dan karya penyelamatan Allah dalam kasih Kristus. Hal ini berarti bahwa Allah telah memulihkan hubungan kita dengan Allah. Hubungan tersebut akan mewarnai hubungan kita dengan sesama dalam berbagai aspek kehidupan.

Injil hari ini, Sifat kristiani yang meneladani Bapa.

Jadikanlah kesempurnaan Bapa yang di surga sebagai model dan ukuran kesempurnaan kita!. Hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berpusa diri atas status hidup atau apapun yang kita miliki saat ini, bagaimanapun kesempurnaan itu kita yakini. Kitapun tidak boleh menjadikan kesempurnaan orang tertentu sebagai ukuran kesempurnaan hidup kita. Sebab hanya Allahlah yang dapat menjadi model kesempurnaan kita.

Kita bisa sesempurna Bapa di surga apabila kita berani berfikir dan bertindak seperti Dia: berani bertindak melampaui apa yang diyakini dan dihayati oleh manusia umumnya. Manusia menganut prinsip membalas kebaikan dengan kebaikan. Prinsip itu terlalu kecil untuk kehidupan seorang Anak Allah. Manusia yang melakukan tindakan kebaikan untuk mengimbangi kebaikan yang telah diterima bukanlah tipe manusia ideal/sempurna.

Kita dituntut untuk menghasilkan kasih yang melampaui batasan apapun, bahkan diharuskan untuk mendoakan orang yang tidak seharusnya kita doakan, sebagai ungkapan kasih yang indah. Bapa kita di surga itu sempurna karena Dia memiliki kasih, bahkan Dia sendirilah kasih itu. Kalau kita memiliki kasih, kita bisa menikmati kesempurnaan dari segala sesuatu yang kita kasihi.

Sikap saling menghakimi dan saling menghukum, semakin marak dalam keseharian kita. Keutuhan keluarga, komunitas, masyarakat dan negara, paguyuban, paroki runtuh karena sikap-sikap mau benar atau menang sendiri. Kita sering mengklaim keselamatan hanya untuk kita, untuk golongan-golongan kita, untuk gereja kita saja. Orang lain yang tidak sejalan dan tidak searah dengan kita tidak akan diselamatkan. Kiranya sikap tidak pilih-pilih yang di contohkan Allah menjadi kritik bagi kita.

Dalam Injil yang kita dengar hari ini Yesus menegaskan “Hendaklah kita sempurna, seperti Bapa kita yang di surga sempurna adanya”. Marilah kita, hari demi hari dalam hidup ini,  memilah-milah lagi perilaku hidup kita. Kalau kita mau sempurna seperti Bapa, kita harus menggandakan kasih dalam kehidupan kita, memenuhi tutur kata dan sapaan kita dengan kasih, melandasi berbagai perbuatan baik kita dengan kasih, hingga pada akhirnya, kasihlah yang menang dan merajai kehidupan kita bersama dengan sesama dan Tuhan.

DOA: Tuhan Yesus, buanglah segala kepahitan dan kejahatan dari hatiku Lunakkanlah diriku oleh buah dari salib-Mu sehingga aku lebih bertekad untuk menyenangkan-Mu lewat kata-kataku dan tindakan-tindakanku dan menjadi sebuah instrumen rahmat bagi semua saudari dan saudaraku. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Selasa 15 Juni 2021"