Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Sabtu 10 Juli 2021

Renungan Hari Sabtu 10 Juli 2021

Renungan Hari Sabtu 10 Juli 2021

Sesudah Yakub mengakhiri perkataan-perkataan berkat, teguran dan kutukannya, dia berbicara dengan putra-putranya mengenai kematiannya yang sudah dekat. Di dalam berbagai nasihat terakhirnya, dia meminta putra-putranya untuk membawa jenazahnya ke Kanaan untuk dikubur di sana. 

“Kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua,” katanya, “dalam gua … yang telah dibeli Abraham dari Efron” (ay. 29). Dia mengingatkan mereka bahwa di sana telah dikuburkan Abraham, Sara, Ishak, Ribka dan Lea. Rahel telah dikubur di dekat Betlehem (bdg. 35:19, 20). 

Segera setelah Yakub selesai memberi nasihat, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan, tanpa pergumulan meninggallah ia dan berkumpul dengan orang-orang yang sudah pergi ke dunia lain (Sheol). Orang-orang kudus Perjanjian Lama jauh dari pemahaman Perjanjian Baru mengenai kehidupan sesudah kematian, namun bahkan pada saat yang sedini itu pun mereka mengetahui pemahaman-pemahaman yang luar biasa ketika mereka berdiri di hadirat anggota-anggota keluarga yang sudah meninggal. Sheol adalah wilayah kekelaman di mana jiwa-jiwa yang telah meninggalkan tubuh ini melanjutkan eksistensinya.

Yusuf dan saudara-saudaranya kemudian kembali ke Mesir untuk melanjutkan kehidupan. Ketakutan langsung mencekam putra-putra Yakub yang lebih tua. Mereka berpikir bahwa kini Yusuf akan menyerang mereka dan membalas dendam atas kesalahan mereka dahulu ketika menjual Yusuf sebagai budak. 

Mereka sujud di depannya (ay. 18) dalam kesedihan, penyesalan dan permohonan. Mereka memohon pengampunan dan kemurahan dari Yusuf. Yusuf dengan kasih mengingatkan mereka bahwa tangan Allah telah mengatur segala sesuatu yang terjadi, dan bahwa Tuhan memaksudkan semua itu untuk kebaikan. 

Dia meyakinkan mereka bahwa dia tetap mengasihi mereka dan berjanji akan memenuhi kebutuhan mereka pada hari-hari selanjutnya sepanjang masa kelaparan itu. Sesuai dengan wataknya yang baik, dia menenangkan hati mereka dengan perkataannya (ay. 21).

Kemudian matilah Yusuf … dan ditaruh di dalam peti mati di Mesir.

Ketika berusia 110 tahun Yusuf meninggal, setelah hidup sebagai wakil Yehovah pada masa sulit dalam kehidupan umat pilihan-Nya. Dia meminta sumpah resmi dari saudara-saudaranya bahwa mereka akan memelihara tubuhnya hingga mereka kembali ke Kanaan dan membawanya ke sana untuk dikubur di sana. 

Bandingkan Ibrani 11:22, “Karena iman maka Yusuf, menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.” Tubuhnya diawetkan di dalam sebuah peti (aron) untuk menanti saat perjalanan panjang selama empat puluh tahun menuju Sikhem. 

Pada saat Keluaran, peti mumi tersebut dibawa di dalam rombongan itu sebagai pengingat bahwa tangan kendali Allah melaksanakan kehendak ilahi di dalam seluruh perjuangan hidup ini (bdg. Kel. 13:19).

Kitab Kejadian ditutup dengan pembaharuan janji-janji kudus Tuhan kepada orang-orang pilihan-Nya dan tantangan untuk bergerak terus menuju penggenapan maksud ilahi bagi Israel. Yusuf sudah pergi. 

Seorang Firaun “yang tidak mengenal Yusuf” akan muncul untuk mengubah hubungan baik yang dihasilkan oleh hikmat Yusuf, tetapi seorang Musa akan tampil untuk mengangkat beban sebagai pemimpin. Tuhan yang abadi itu tidak akan melupakan atau mengecewakan umat-Nya. Maksud-maksud indah yang dinyatakan kepada para leluhur itu akan digenapi pada waktu-Nya sendiri.

Mazmur, PUjian dan ketaatan (ayat 1).

Mazmur 105 ini sering dipahami sebagai mazmur sejarah yang bersifat pengajaran. Maka, penuturan tentang data nama, tempat, dan kejadian dalam sejarah Israel bukan pusat perhatian mazmur ini. Perhatian mazmur ini adalah pujian (ayat 1-6) dan ketaatan (ayat 45). 

Tujuan pemazmur mengisahkan ulang kisah lama Israel adalah untuk menciptakan rasa syukur dalam kehidupan umat dan respons setia mereka kepada pemilihan Allah (ayat 6), agar mereka setia memelihara hubungan mereka dengan-Nya dalam suatu perjanjian (ayat 8-10). 

Pujian dan kesetiaan tersebut bersumber bukan pada kekuatan rohani umat sendiri, tetapi di dalam perbuatan-perbuatan Allah yang secara nyata menunjukkan bahwa diri-Nya penuh kasih dan setia pada janji-janji-Nya (ayat 2,5).

Pujian dan ketaatan adalah tujuan mazmur ini. Maka, perhatian pemazmur tidak ditujukan hanya pada masa lalu, melainkan juga pada masa kini dan masa depan kehidupan umat. Untuk umat Israel pascapembuangan, juga ke masa kini, tegas pesannya: jangan tidak beriman, namun taatlah kepada Dia yang setia dan berbelas kasih.

Karya-karya ajaib Allah, penghukuman-Nya (ayat 7), kesetiaan-Nya pada perjanjian-Nya, yang umat Israel zaman Keluaran alami, patut menjadi pusat perenungan umat Allah seterusnya. Hal-hal tersebut adalah sebagian kecil bentuk nyata kemuliaan Allah yang tak terukur besarnya. 

Dengan merenungkan perbuatan-perbuatan besar Allah, umat Allah memasuki proses pengenalan lebih dalam akan Allah mereka. Puji-pujian terhadap kemuliaan nama Allah tidak saja akan mewujud dalam kegiatan penyembahan, tetapi juga dalam sikap beriman lebih dalam dan ketaatan lebih sungguh (ayat 1-3).

Injil hari ini, Murid Kristus: ciri dan hubungannya dengan Yesus.

Seperti orang Yahudi pada zaman Yesus, beberapa gereja masa kini mempunyai pengharapan bahwa kedatangan Yesus identik dengan kedamaian. Namun pernyataan Yesus membalikkan harapan mereka karena Ia datang justru membawa pemisahan dan ‘konflik’ (ayat 34). 

Meskipun Dia adalah Sang Raja Damai, dunia akan menolak Dia dan pemerintahan-Nya, sehingga umat manusia akan terpecah-belah (ayat 35- 36). Yesus ingin para murid-Nya tidak memiliki pengharapan yang salah tentang Yesus dan Injil Kerajaan Allah, karena itu Ia mengulangi pernyataan ‘Aku datang’, hingga 3 kali.

Namun Yesus mengingatkan bahwa pemahaman yang benar tentang misi Yesus tidak dimaksudkan untuk membuat para murid-Nya undur. Sebaliknya murid Kristus harus mutlak setia kepada-Nya, melebihi kesetiaan kepada orang-orang yang mempunyai hubungan darah paling dekat sekalipun (ayat 37). 

Tidak hanya itu murid Kristus dituntut untuk menundukkan kehendak pribadinya di bawah kehendak Allah (ayat 38). Yesus menuntut kesetiaan mutlak tanpa syarat, karena hubungan antara murid Yesus – Yesus – Allah Bapa sangat indah dan erat. Perlakuan yang diterima oleh murid karena imannya akan dirasakan juga oleh Yesus dan Allah Bapa. 

Berdasarkan perlakuan yang diterima murid Yesus, Allah Bapa dapat menghukum ataupun memberkati (ayat 40-42). Hubungan ini menunjukkan betapa istimewanya dan berharganya murid Kristus di hadapan Allah. Ia rela mengidentifikasikan diri-Nya dengan murid-Nya sehingga masalah dan penderitaan murid-Nya adalah masalah dan penderitaan Allah.

Renungkan: Sebagai orang Katolik, janganlah gentar dan mundur, nyatakan kesetiaan kita kepada-Nya. Bagi Allah yang begitu setia dan menghargai kita, tidak ada persembahan yang lebih indah selain kesetiaan dan ketaatan kita  yang mutlak kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya pada kehadiran-Mu di dalam diri kami masing-masing. Kami ingin menjadi seperti Engkau dan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Sabtu 10 Juli 2021"