Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 10 September 2021

Renungan Hari Jumat 10 September 2021

Renungan Hari Jumat 10 September 2021

Dasar menentukan ajaran dan tindakan.

Bagian pembuka surat Paulus ini memperlihatkan satu penekanan penting. Paulus mengingatkan kembali Timotius bahwa dirinya menjadi rasul, bukan karena kehendaknya pribadi, tetapi karena perintah Allah (ayat 1:1). Ia memberitakan Injil karena Injil itu telah dipercayakan Allah kepadanya (ayat 11). 

Penegasan ini bukanlah suatu bentuk kesombongan rohani, tetapi bertujuan untuk menunjukkan perbedaan antara dasar panggilan dari mereka yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, dan mereka yang tidak. Karena itu, Timotius, sebagai anak Paulus yang sah dalam iman (ayat 2), harus memperhatikan hal ini.

Penegasan tadi menjadi penting ketika Paulus menulis tentang para pengajar ajaran sesat. Mereka disebut Paulus sebagai “orang-orang tertentu … (yang) mengajarkan ajaran lain” (ayat 3), yang “sesat dalam omongan yang sia-sia” (ayat 6). Mereka “sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya” (ayat 4). 

Orang-orang ini mengajarkan bahwa orang Kristen bukan Yahudi tetap harus mengikuti peraturan keagamaan Yahudi. Kelihatannya, sebagian dari mereka adalah mantan rekan-rekan sepelayanan Paulus. Paulus juga menunjukkan bahwa mereka “hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan … dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan” (ayat 7).

Kontras ini juga tampak dalam tujuan dan akibat pelayanan. Pengajaran dan pemaksaan yang dilakukan para pengajar ini menghasilkan persoalan, dan bukan “tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman” (ayat 4). 

Sementara Paulus menunjukkan, bahwa tujuan pemberian nasihat oleh seorang pelayan Tuhan sejati adalah untuk menimbulkan kasih dari “hati yang suci, hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas” (ayat 5). Pengajaran seorang pengajar yang benar juga tidak bertentangan dengan ajaran sehat yang didasarkan pada Injil Allah (ayat 11).

Kasih karunia melahirkan syukur.

Salah satu kualitas yang sering dijumpai pada tokoh-tokoh besar adalah kesadarannya yang tajam akan kelemahannya sendiri, dan tidak malu untuk mengakui kelemahan tersebut. Kualitas ini jugalah yang kita jumpai pada diri Paulus. 

Sebagai salah seorang rasul yang terkemuka, Paulus, yang dulunya bernama Saulus, mau mengakui latar belakang kelabunya. Ia pernah menjadi seorang ganas dan penganiaya jemaat Allah. Namun, Paulus tidak pernah berusaha menutup-nutupi hal ini. Nas ini hanyalah salah satu dari beberapa bagian suratnya, yang secara blak-blakan menyaksikan masa lalunya yang kelam (bdk. Gal. 1).

Namun, ada hal lain yang perlu disimak dan dicermati dengan lebih mendalam. Di dalam nas ini, Paulus terus mengedepankan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatnya. Pengakuan atas masa lalu yang kelam tidak diikuti dengan membanggakan diri atas perubahan yang telah terjadi. 

Paulus mengakui bahwa Kristus Yesuslah yang menguatkannya, yang menganggapnya setia, serta memberikannya kepercayaan untuk terlibat dalam kegiatan pelayanan (ayat 12). Paulus mengakui bahwa semua yang terjadi semata-mata karena kasih karunia Tuhan itu telah dikaruniakan dengan limpah (ayat 13). 

Paulus mengakui bahwa Yesus telah mengasihani dirinya sebagai orang yang paling berdosa, dan telah menunjukkan kesabarannya.

Ada ungkapan yang mengatakan: ‘Gratia’ (anugerah) selalu melahirkan ‘Gratitude’ (syukur). Inilah yang dilakukan Paulus. Setiap kali Paulus mengenang kembali jalan hidupnya, maka selalu akan timbul dalam hatinya penuh syukur, suatu doksologi/puji-pujian kepada Allah.

Makin lama seseorang menjadi Kristen, makin besar kemungkinan datangnya godaan untuk menganggap keselamatan dan kasih karunia Tuhan sebagai upah yang pantas atas kesediaan orang itu mengikut Tuhan. 

Anggapan ini adalah penghinaan bagi kasih karunia dan anugerah Tuhan. Seharusnya, rentang waktu itu membuat orang Kristen makin hari makin takjub, makin bersyukur dan makin bertekad untuk melayani Allahnya.

Mazmur, Sukacitaku, warisanku.

Ada dua ancaman yang harus dihadapi oleh orang beriman. 

Pertama, ancaman daya tarik ilah-ilah lain (ayat 4). 

Kedua, ancaman kematian (ayat 10). Di awal permohonannya, pemazmur meminta agar Tuhan melindungi dia dari kedua ancaman tersebut. Permohonan ini menunjukkan keyakinan dan harapan pemazmur.

Pernyataan “Engkaulah Tuhanku” (ayat 2) menunjukkan pengakuan pemazmur bahwa Allah ialah “Tuan” dan “Penguasa hidupnya”. Pemazmur sadar bahwa memiliki Allah dan bersekutu dengan Dia merupakan pengalaman yang tiada duanya. 

Oleh sebab itu, ia senang bersama-sama dengan komunitas orang kudus yang menyembah Allah (ayat 3). Sebaliknya, ia menjauhi para penyembah berhala. Ia tidak mau menyebut nama allah lain (ayat 4), beribadah, atau bersumpah di dalam namanya. Godaan untuk menyembah ilah lain kehilangan daya tarik sebab Allah menjadi kesukaan bagi pemazmur.

Daud menegaskan bahwa Tuhanlah warisannya dan Tuhan juga yang memberikan tanah warisan kepada dia (ayat 5-6). Pengalaman Israel beroleh tanah perjanjian menjadi petunjuk bagi warisan lain yang lebih berharga, yaitu persekutuan kekal dengan Allah. 

Inilah yang memberi pemazmur keyakinan penuh, yang mengatasi rasa takut karena ancaman kematian (ayat 10). Pemazmur yakin bahwa di dalam berbagai situasi hidup, Allah ada di sebelah kanannya sebagai pelindung, pemimpin, dan penjamin.

Bahkan di malam hari yang kegelapannya bisa melambangkan ketidakpastian dan maut, Allah menjadikan hati nurani pemazmur sebagai alat yang mengajari dia hal-hal penting tersebut. Tak heran bila Daud bersukacita (ayat 9). Dia tahu bahwa Allah akan memberikan hidup kekal.

Hidup dekat Allah menjadi sumber hidup dan kesukaan pemazmur. Begitu pulakah kita? Mengaku diri sebagai pengikut Tuhan membuat sebagian orang memenuhi pikirannya dengan batasan dan larangan yang menghilangkan sukacita mengiring Tuhan. Kiranya kita menikmati dinamika hidup bersama Tuhan, serta keindahan memiliki dan dimiliki Tuhan.

Injil hari ini, “Perumpamaan tentang orang buta yang menuntun orang buta” dan “perumpamaan tentang serpihan kayu di dalam mata saudara dan balok di dalam mata sendiri” yang ada dalam bacaan Injil hari ini adalah bagian dari “Khotbah di dataran” (Luk 6:17-49). 

Melihat konteksnya, kedua perumpamaan singkat itu menggambarkan dengan suatu cara yang lain perihal ajaran agung Yesus tentang kasih, terutama untuk mengasihi orang-orang yang tidak mengasihi kita, musuh-musuh kita, bersikap tidak menghakimi orang-orang lain dan membuat praktek ini menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

Kita dapat melihat ajaran ini dicerminkan dalam “perumpamaan tentang orang buta yang menuntun orang buta”. Ini adalah gambaran dari para guru yang puas dengan menawarkan jalan yang “kurang berat” (tidak banyak tuntutannya) daripada jalan yang diajarkan oleh Yesus untuk kita ikuti. 

Seorang guru yang baik tidak hanya menyampaikan informasi; dia juga melatih muridnya untuk menjadi seperti dirinya sendiri. Yesus adalah seorang guru sejati par excellence dan perumpamaan ini menunjuk kepada dirinya. 

Ia memanggil kita untuk berbela rasa, adil dan penuh pengampunan. Lewat contoh-Nya, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana kita menghayati ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ajaran tentang kasih juga dicerminkan dalam “perumpamaan tentang serpihan kayu di dalam mata saudara dan balok di dalam mata sendiri”. Perumpamaan ini berbicara kepada kita semua perihal kecenderungan manusia untuk mengoreksi orang-orang lain untuk kesalahan-kesalahan mereka yang relatif kecil, namun tidak mampu untuk melihat kesalahan-kesalahan yang relatif besar dalam kehidupan kita sendiri. 

Sebagai susulan dari “perumpamaan tentang orang buta yang menuntun orang buta”, perumpamaan ini juga mengarahkan para pembaca yang serius dari Injil ini untuk mengikuti jejak Yesus, sang Guru sempurna tentang kasih.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami hikmat-kebijaksanaan untuk mengikuti jejak-Mu di jalan kasih. Tolonglah diriku agar dapat menjadi seorang pribadi yang mengasihi dan berbela-rasa, tidak menghakimi orang-orang lain dan selalu siap mengampuni dalam segala situasi dalam kehidupanku. Amin.(Lucas Margono)

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 10 September 2021"