Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Sabtu 11 September 2021

Renungan Hari Sabtu 11 September 2021

Renungan Hari Sabtu 11 September 2021

Paulus dalam perikop singkat ini menyampaikan pentingnya kesetiaan dalam melayani Tuhan. Kesetiaan adalah pemberitaan Paulus yang patut diterima sepenuhnya.” Pemberitaan tersebut bukan hanya suatu perkataan Paulus belaka, melainkan berlandaskan pada kata-kata yang diucapkan Kristus (Luk. 19:10). dan memiliki nilai yang sama dengan kebenaran Injil. Hal itu muncul di sini dan dalam 4:9. 

Dengan kata-kata yang sederhana, perkataan ini benar, (di 3:1; II Tim. 2:11; Tit. 3:8, sebagaimana di dalam ayat 15 ini). Paulus menggarisbawahi keadaannya yang terhilang. Di antara orang berdosa, akulah yang paling berdosa. Ungkapan ini sama dengan penghujat, penganiaya, dan ganas; dan sifatnya semakin memuncak.

Namun dari tindakan Saulus pada masa lalu sebagai penganiaya dan orang ganas terhadap umat Kristen perdana, Tuhan membalas dengan mengasihani dan memberkati Saulus. Maka kembali Paulus menyajikan kontras yang dramatis di antara ketidaklayakannya dengan kemurahan Kristus, dengan tambahan karena itu yang menjelaskan kata agar: agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. 

Paulus memaksudkan kesaksiannya untuk menjadi pendorong semangat bagi Timotius, yang menghadapi dosa yang disebutkan di atas, ditambah dengan ajaran palsu di dalam gereja. Paulus sebenarnya mengatakan, “Jika Tuhan menyelamatkan aku, orang yang pernah lebih buruk daripada yang lain, maka tidak ada yang perlu putus asa; dan kamu bisa yakin bahwa Tuhanku bisa memampukan kamu juga.”

Terhadap kesaksian ganda yang baru saja dikemukakan, doksologi (Pujian) ini muncul sebagai klimaks dan luapan pemujaan dan rasa bersyukur Paulus yang amat dalam. Allah Bapa tidak disebutkan di dalam konteks ini sehingga doksologi tersebut mungkin dapat dianggap sebagai pujian kepada Kristus atau Allah Tritunggal.

Mazmur Diberkatilah nama Tuhan

Mazmur ini merupakan rangkuman dari kedua mazmur sebelumnya dan menjadi satu pujian bersama yang dinaikkan oleh jemaat. Pemazmur menyebut jemaat dengan sebutan hamba-hamba-Nya. Hamba di sini dikaitkan dengan ketaatan kepada tuannya. Hanya mereka yang taat kepada Tuhan dapat memuji-Nya dengan benar.

“Diberkatilah nama Tuhan” mungkin terdengar janggal bagi kita karena biasanya kitalah yang diberkati oleh Tuhan. Memberkati Tuhan adalah respons pujian kita yang telah lebih dulu diberkati-Nya. Pemazmur berkomitmen untuk mulai memuji Tuhan dan tak akan henti-henti memuji-Nya sampai selamanya (ayat 2-3). 

Ini berarti ibadah merupakan satu gaya hidup yang menjadi keutuhan dalam hidup kita. Kemudian, pemazmur menyatakan kemuliaan Tuhan yang jauh lebih tinggi daripada kemuliaan bangsa-bangsa. Ia lebih tinggi daripada kemuliaan terbesar yang dapat diraih oleh manusia, dan daripada langit, yang mewakili ketinggian maksimal dalam ciptaan (ayat 4).

Kekaguman pemazmur kepada Tuhan semakin bertambah dengan merenungkan kenyataan-kenyataan paradoks. Allah yang Mahatinggi sudi merendah ke bumi (ayat 5-6) untuk memperhatikan orang miskin, hina, dan tersingkir, serta mengangkat mereka sederajat dengan orang-orang yang kaya, mulia, dan terpandang (ayat 7-9). 

Inilah berkat Tuhan yang dialami orang-orang yang sadar dirinya tak berdaya dalam kerendahannya. Hal itu tidak mungkin dipahami atau dinikmati oleh orang-orang yang merasa “kaya,” “mulia,” dan “terpandang” oleh usaha sendiri.

Tak ada respons yang lebih tepat selain memuji Tuhan atas semua perbuatan tangan-Nya yang ajaib, tak terduga, dan indah. Kita tak perlu merasa hina di dunia yang mengutamakan kemegahan lahiriah, karena kesukaan kita ada di dalam Dia.

Pujian yang dipanjatkan tulus memancarkan kemuliaan Allah yang mengenyahkan kegelapan dunia ini.

Injil hari ini, Injil hari ini, Fondasi benar, buktinya buah

Rangkaian pengajaran Yesus kepada para murid-Nya ditutup dengan dorongan untuk menghasilkan buah sebagai tanda kesejatian kemuridan mereka. Tak ada cara lain untuk menunjukkan kesejatian itu kecuali hidup yang bisa dilihat, sebagai kesaksian benar akan Kristus, dan dirasakan, sebagai perwujudan nyata kasih Kristiani.

Yang baik selalu melahirkan yang baik pula (43-44), ini prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Sungguh menyedihkan dan terbukti palsu kalau mulut mengatakan hal-hal manis, tetapi hati penuh kedengkian dan kejahatan. Paling-paling hanya sesaat kesaksian palsu itu bertahan. Ketika tekanan datang, segera kelihatan belangnya.

Ilustrasi yang Yesus pakai di akhir rangkaian pengajaran-Nya ini sungguh tepat untuk membongkar kepalsuan yang ada dan meneguhkan kesejatian murid Tuhan. Hanya murid Tuhan sejati, yang fondasi kehidupannya dibangun berdasar pada firman Tuhan, yang akan bertahan menghadapi badai kehidupan (47-48). 

Sebaliknya, seseorang yang mengaku murid Tuhan, yang mulut bibirnya menyebut-nyebut Tuhan, akan terbukti kepalsuannya melalui dua hal. Pertama, ia tidak melakukan firman Tuhan. Lain mulut dengan perbuatan. Mengapa demikian? Karena firman Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. 

Fondasi hidupnya bukan firman Tuhan, melainkan pada kekosongan atau hal-hal lain yang tidak benar. Akibatnya, kedua, ketika badai kehidupan menerpa dirinya, bangunan hidupnya dan kesaksian palsunya, akan roboh dan rusak berat.

Hal pertama yang harus Anda evaluasi dalam hidup ini, adalah bukan penampilan Anda sudah Kristen atau belum. Yang utama adalah apakah Kristus dan firman-Nya menjadi dasar hidup Anda. Ingat kemuridan Anda sejati atau palsu, akan terbukti saat kesulitan menerpa hidup Anda.

Camkan: Jangan tunggu sampai hidup Anda hancur-hancuran. Segera jadikan Kristus dan firman-Nya fondasi hidup Anda!

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Sabtu 11 September 2021"