Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Senin 06 September 2021

Renungan Hari Senin 06 September 2021

Renungan Hari Senin 06 September 2021

Pemberita firman Allah.

Perbuatan kita sehari-hari adalah cetusan dari apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Karena itu kita perlu mengisi hati dan pikiran kita dengan firman Tuhan. Firman Tuhan yang diresapi dan tertanam dalam hati kita akan menghasilkan perbuatan baik, dan buah Roh. 

Rencana Allah bagi kita adalah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh darah Kristus supaya kita suci masuk menghadap Dia dalam hadirat-Nya.

Rasul Paulus adalah hamba atau pelayan Kristus yang membaktikan seluruh kehidupannya bagi Tuhan Juruselamatnya. Ia mengasihi Kristus dengan memberikan seluruh dirinya. 

Penderitaan dari pihak penentang yang tidak percaya Injil, ditanggungnya. Ia tidak peduli dengan penderitaan yang dialaminya asalkan orang-orang mengenal dan percaya kepada Kristus, tetap beriman teguh dan menjadi dewasa rohani. 

Bila keadaan rohani jemaat seperti itu, ia bersukacita walaupun harus menderita. Penderitaan yang dialami tubuh Rasul Paulus oleh pecut dan pukulan tidak berkaitan langsung dengan dirinya sendiri melainkan dengan jemaat Kristus. Dengan kata lain, ia menanggung penderitaan dari pihak dunia karena ia melayani jemaat Kristus (ayat 24).

Atas kehendak Tuhan, Paulus memberitakan firman-Nya kepada jemaat Kolose. Ia adalah orang yang dipercaya Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya (ayat 25). Rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dari generasi ke generasi itu ialah Kristus. 

Kepada mereka yang sudah menerima Kristus, Paulus mengajarkan firman Tuhan dengan tujuan supaya setiap pengikut Kristus menjadi dewasa secara rohani (ayat 26-28). Rasul Paulus berusaha mendewasakan kerohanian jemaat Kolose bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi mengandalkan kuasa Tuhan (ayat 29).

Kekuatan Ilahi dan manusiawi dalam pelayanan Kristen.

Pekerjaan berat yang Paulus lakukan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri saja. Paulus sendiri sungguh menyadari hal tersebut. 

Karenanya Paulus tidak menggantungkan diri pada kekuatan fisiknya tetapi bergantung pada sumber kekuatan sejati yang hanya ada dalam diri Yesus Kristus. 

Di dalam pelayanan Paulus terlihat pengharapan dan kekuatan yang besar (ayat 1) yang lahir dari imannya di dalam Yesus Kristus (ayat 2).

Keyakinan inilah yang Paulus juga tekankan kepada jemaat Kolose yaitu bahwa mereka pun memiliki kekuatan yang sama dengan dirinya karena pengenalan mereka akan rahasia Allah yaitu Kristus yang memberikan kepada mereka segala hikmat dan pengetahuan. 

Paulus menginstruksikan agar jemaat bersama-sama dengan dia gigih memperjuangkan kebenaran keyakinan mereka tentang Kristus (ayat 3-5). Berdasarkan kekuatan Ilahi dan keyakinan iman kepada Kristus Paulus berharap jemaat tidak menyimpangkan hidupnya dari Kristus (ayat 6-7).

Perikop ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan jemaat Tuhan saat ini, masih ada orang Kristen yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, tetapi hidup menurut keinginan hatinya. 

Orang-orang seperti itulah yang rentan terhadap ajaran-ajaran yang menyesatkan. Untuk dilakukan: Camkanlah nasihat Paulus yang mengimbau jemaat Tuhan berakar di dalam Dia. “Akar” yang bertumbuh, berkembang lalu berbuah. Ingat: 

Meski menderita karena Kristus, aku tetap akan menjadi pemberita firman Allah dalam seluruh hidupku dan dengan kuat kuasa-Nya. Mazmur, Kontemporer.

Kontemporer atau keadaan sesuai perkembangan zaman terakhir, selalu ditandai oleh perubahan. Lagu kontemporer, musik kontemporer, mode kontemporer, artinya sesuatu yang sedang menggejala atau disukai dalam tempo atau masa kini. 

Tuhan Allah kekal adanya, Ia tidak tunduk kepada arus perubahan zaman tersebut. Allah tidak kontemporer! Orang yang sungguh berpaut kepada Allah pun sering kali tidak bisa dan tidak boleh kontemporer. Etika Kristen, tidak kontemporer. Prinsip hidup Kristen pun tidak. Kristen berpegang dan menjalani kebenaran kekal yang serasi dengan Allah yang kekal.

Tenang dalam Allah. Berharap kepada manusia pasti akan kecewa. Manusia bisa berubah. Manusia jahat dapat lain di mulut, lain di hati dan tindakan. Allah tidak demikian. Kebenaran, kasih, kesucian, kekuasaan, kesetiaan Allah tetap selamanya. 

Bersandar dan berlindung pada Allah akan menghasilkan hidup yang aman tenteram. Ketika memerlukan konseling atau bimbingan, apa yang Daud lakukan? “Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya” (ayat 9). Curahkanlah melalui doa sampai habis. Curahkanlah dengan percaya sambil istirahat di dalam Dia.

Renungkan: Curahkanlah isi hatimu di hadapan Allah! Orang yang rajin melatih berdiam diri, merenungkan sabda Allah, menikmati hadirat-Nya, akan memiliki ketenangan hati.

Injil hari ini, Tuhan atas hari Sabat

Pada masa hidup Yesus, ajaran ahli Taurat tentang hukum keempat, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel. 20:8-11), difokuskan pada larangan melakukan berbagai kegiatan yang mereka artikan sebagai “bekerja”. 

Ada 39 kelompok kegiatan yang mereka tetapkan sebagai “melakukan pekerjaan,” misalnya: menabur benih, menuai, membuat roti, membuat simpul benang, melepaskan simpul, menulis dua huruf, menyalakan api, memadamkan api, atau memindahkan suatu benda dari satu tempat ke tempat lain. 

Setiap kelompok ini masih dirinci lagi sampai detail. Akhirnya, yang mereka utamakan bukan lagi memahami makna dan tujuan Sabat sebagai hari perhentian serta pemulihan jasmani dan rohani umat Allah, melainkan ketaatan kepada peraturan tersebut. 

Rasa syukur dan sukacita yang seharusnya mengiring hari Sabat sebagai anugerah Allah bagi umat-Nya, telah diganti dengan beban kewajiban menaati berbagai larangan dan ajang mencari kesalahan.

Yesus mengoreksi konsep keliru ini dengan menyatakan bahwa Dialah “Tuhan atas hari Sabat” (5). Dia, yang diurapi dan diutus Roh Allah, adalah satu-satunya yang mampu meluruskan makna Sabat sesuai dengan tujuan dan maksud Bapa-Nya. 

Yesus membuktikan kebenaran pernyataan-Nya itu dengan memperlihatkan kuasa-Nya dalam penyembuhan orang yang mati tangan kanannya (6-10).

Lukas memakai kata “pulihlah” untuk “sembuhlah” (10). Kata ini dipakai dalam Perjanjian Lama untuk pemulihan umat Israel setelah menjalani hukuman atas dosa mereka. 

Dengan menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, Yesus mewujudkan makna dan tujuan Sabat, yakni pemulihan umat Allah kepada keutuhan mereka lahir dan batin sebagai bagian dari ciptaan Allah yang indah. Menghormati Sabat diterapkan oleh Yesus dalam tindakan “berbuat baik dan menyelamatkan nyawa” mereka yang perlu ditolong (9).

Renungkan: Kiranya kita secara konkret menghayati Sabat sebagai pemulihan diri kita maupun dengan sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Post a Comment for "Renungan Hari Senin 06 September 2021"