Sakramen Perkawinan Katolik: Arti, Syarat & Makna
Sakramen Perkawinan Katolik: Arti, Syarat, Tujuan, dan Maknanya
Sakramen Perkawinan merupakan salah satu dari tujuh sakramen dalam Gereja Katolik. Melalui sakramen ini, seorang pria dan seorang wanita membentuk persekutuan hidup yang utuh, saling menyerahkan diri dalam kasih, serta berjanji untuk hidup dalam kesetiaan sepanjang hidup.
Perkawinan Katolik bukan sekadar upacara pemberkatan pernikahan di gereja. Gereja melihat perkawinan sebagai perjanjian suci antara seorang pria dan seorang wanita yang, di antara orang-orang yang telah dibaptis, diangkat oleh Kristus menjadi sakramen.
Karena itu, kehidupan perkawinan memiliki panggilan yang jauh lebih dalam daripada sekadar membangun rumah tangga. Suami dan istri dipanggil untuk saling mengasihi, saling menguduskan, menerima serta mendidik anak-anak, dan menghadirkan kasih Allah melalui kehidupan keluarga sehari-hari.
Artikel ini membahas secara lengkap pengertian Sakramen Perkawinan Katolik, dasar Kitab Suci, tujuan perkawinan, sifat-sifat perkawinan Katolik, syarat menerima Sakramen Perkawinan, tata perayaan, makna janji perkawinan, hingga cara menghayatinya dalam kehidupan keluarga.
Baca juga: 7 Sakramen dalam Gereja Katolik dan Maknanya
Apa Itu Sakramen Perkawinan?
Sakramen Perkawinan adalah sakramen yang mempersatukan seorang pria dan seorang wanita yang telah dibaptis dalam suatu perjanjian hidup bersama yang sah dan tidak terceraikan, yang diarahkan kepada kebaikan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak.
Dalam pandangan Katolik, perkawinan bukan semata-mata kontrak sosial.
Kontrak biasanya berkaitan dengan pertukaran hak dan kewajiban tertentu. Sementara perkawinan merupakan perjanjian pribadi, yaitu penyerahan diri seorang pria dan seorang wanita kepada satu sama lain.
Suami tidak hanya memberikan sebagian dari kehidupannya kepada istri. Demikian pula istri tidak hanya memberikan sebagian hidupnya kepada suami. Mereka saling menyerahkan diri dan menerima satu sama lain dalam suatu persekutuan hidup.
Karena itulah janji perkawinan mempunyai kedudukan yang sangat penting.
Melalui persetujuan perkawinan yang diberikan secara bebas, kedua mempelai menyatakan kesediaannya untuk menjalani kehidupan bersama dalam kasih dan kesetiaan.
Sakramen Perkawinan dalam Tujuh Sakramen Gereja Katolik
Gereja Katolik mengenal tujuh sakramen, yaitu:
- Sakramen Baptis
- Sakramen Krisma atau Penguatan
- Sakramen Ekaristi
- Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi
- Sakramen Pengurapan Orang Sakit
- Sakramen Imamat
- Sakramen Perkawinan
Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat sering ditempatkan dalam kelompok sakramen pelayanan persekutuan.
Keduanya mempunyai orientasi pelayanan.
Seorang imam dipanggil untuk melayani umat Allah melalui pelayanan Gereja. Sementara suami dan istri dipanggil untuk melayani satu sama lain serta membangun keluarga sebagai persekutuan iman, kasih, dan kehidupan.
Dengan demikian, perkawinan Katolik merupakan sebuah panggilan hidup.
Menikah bukan hanya keputusan untuk tinggal bersama orang yang dicintai, tetapi juga jawaban terhadap panggilan Allah untuk menjalani jalan kekudusan melalui kehidupan keluarga.
Baca juga: Sakramen Imamat: Pengertian, Makna dan Tingkatannya
Dasar Kitab Suci Sakramen Perkawinan
Pemahaman Gereja mengenai perkawinan mempunyai akar yang kuat dalam Kitab Suci.
Laki-Laki dan Perempuan Diciptakan Allah
Kitab Kejadian menggambarkan bahwa manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan.
“Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya... laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
(Kejadian 1:27)
Perbedaan sekaligus kesatuan antara laki-laki dan perempuan berada dalam rencana penciptaan Allah.
Kitab Kejadian kemudian menggambarkan persatuan keduanya:
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
(Kejadian 2:24)
Ungkapan “satu daging” menunjukkan kedalaman persatuan suami dan istri. Mereka membangun kehidupan bersama yang melibatkan seluruh pribadi.
Baca juga: Tata Cara Pengakuan Dosa Katolik Lengkap dan Urut
Ajaran Yesus tentang Perkawinan
Yesus menegaskan kembali rencana Allah mengenai persatuan perkawinan.
Dalam Injil Matius, Yesus mengutip Kitab Kejadian dan mengajarkan:
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
(Matius 19:6)
Ajaran ini menjadi salah satu dasar penting pemahaman Gereja mengenai kesatuan dan sifat tidak terceraikannya perkawinan.
Perkawinan bukan ikatan sementara yang dipertahankan hanya selama keadaan menyenangkan. Suami dan istri dipanggil untuk menjalani kesetiaan dalam suka maupun duka.
Kasih Kristus dan Gereja sebagai Teladan
Salah satu teks penting mengenai kehidupan perkawinan terdapat dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus.
Kasih suami dan istri dihubungkan dengan kasih Kristus kepada Gereja.
“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”
(Efesus 5:25)
Kasih Kristus adalah kasih yang memberikan diri.
Karena itu, kasih perkawinan Kristiani juga bukan sekadar perasaan romantis. Kasih tersebut harus berkembang menjadi keputusan untuk memberikan diri, melayani, mengampuni, dan tetap setia.
Tujuan Sakramen Perkawinan Katolik
Perkawinan Katolik mempunyai tujuan yang sangat luhur.
1. Kebaikan Suami dan Istri
Suami dan istri dipanggil untuk saling membantu bertumbuh sebagai pribadi dan sebagai murid Kristus.
Dalam perkawinan yang sehat, keduanya belajar mengenai kesabaran, pengampunan, tanggung jawab, kesetiaan, pengorbanan, dan kasih.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah.
Perbedaan karakter, kebiasaan, latar belakang keluarga, cara berkomunikasi, kondisi ekonomi, pekerjaan, maupun berbagai persoalan kehidupan dapat menjadi tantangan.
Namun justru melalui kehidupan sehari-hari itulah pasangan dapat belajar mencintai secara semakin dewasa.
2. Kelahiran dan Pendidikan Anak
Perkawinan secara kodrati juga diarahkan kepada kelahiran dan pendidikan anak.
Anak dipandang sebagai anugerah Allah, bukan sekadar proyek atau pencapaian pasangan.
Orang tua mempunyai tanggung jawab besar bukan hanya menyediakan kebutuhan material, tetapi juga mendidik anak dalam kasih, kebajikan, iman, dan kehidupan moral.
Dalam keluarga Katolik, orang tua mempunyai peranan penting sebagai pendidik iman pertama bagi anak-anak.
3. Bertumbuh Bersama dalam Kekudusan
Perkawinan dapat menjadi jalan menuju kekudusan.
Kekudusan keluarga tidak selalu terlihat melalui tindakan luar biasa.
Ia justru sering tumbuh melalui hal-hal sederhana: bekerja dengan jujur, mengurus keluarga, merawat pasangan ketika sakit, mendengarkan ketika pasangan sedang mengalami masalah, mendidik anak dengan sabar, berdoa bersama, meminta maaf, serta mengampuni.
Melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih, kehidupan keluarga dapat menjadi tempat perjumpaan dengan Allah.
Sifat-Sifat Perkawinan Katolik
Ada beberapa karakter penting yang perlu dipahami mengenai perkawinan Kristiani.
Kesatuan
Perkawinan membentuk persatuan antara seorang pria dan seorang wanita.
Kesatuan tersebut menuntut penyerahan diri yang utuh dan eksklusif.
Suami memberikan dirinya kepada istrinya dan istri memberikan dirinya kepada suaminya.
Karena itu, kesetiaan bukan sekadar aturan moral tambahan. Kesetiaan merupakan bagian dari hakikat cinta perkawinan itu sendiri.
Tidak Terceraikan
Perkawinan yang sah dan telah disempurnakan mempunyai sifat tidak terceraikan.
Akar pandangan tersebut ditemukan dalam perkataan Kristus:
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Kesetiaan seumur hidup merupakan panggilan yang besar.
Pasangan tidak mengetahui secara lengkap tantangan apa yang akan dihadapi setelah menikah. Karena itu, janji perkawinan tidak didasarkan hanya pada keadaan saat upacara berlangsung.
Janji tersebut diarahkan kepada seluruh perjalanan kehidupan.
Terbuka terhadap Kehidupan
Kasih perkawinan juga mempunyai dimensi keterbukaan terhadap kehidupan.
Suami dan istri dipanggil untuk menerima kehidupan sebagai anugerah Allah dan menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua sesuai ajaran Gereja.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perkawinan tidak hanya mempunyai dimensi pribadi antara suami dan istri, tetapi juga mempunyai dimensi keluarga dan masyarakat.
Siapa Pelayan Sakramen Perkawinan?
Salah satu keunikan Sakramen Perkawinan dalam tradisi Latin Gereja Katolik adalah bahwa kedua mempelai sendiri saling menerimakan Sakramen Perkawinan melalui persetujuan perkawinan mereka.
Imam atau diakon yang hadir bertindak sebagai saksi resmi Gereja sesuai ketentuan hukum Gereja, selain adanya saksi-saksi lain.
Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya persetujuan kedua mempelai.
Tidak ada perkawinan apabila tidak ada persetujuan perkawinan yang sah.
Karena itu, seseorang tidak boleh dipaksa menikah.
Persetujuan harus diberikan secara bebas.
Syarat Sakramen Perkawinan Katolik
Persiapan perkawinan tidak hanya berkaitan dengan dekorasi gereja, pakaian, undangan, resepsi, atau dokumentasi.
Hal terpenting justru adalah kesiapan kedua pribadi yang akan membangun kehidupan bersama.
Beberapa hal pokok yang diperlukan antara lain:
Kebebasan untuk Menikah
Kedua calon mempelai harus bebas memberikan persetujuan.
Tidak boleh ada paksaan berat yang membuat seseorang menikah bertentangan dengan kehendaknya.
Tidak Ada Halangan Perkawinan
Hukum Gereja mengenal sejumlah halangan yang dapat memengaruhi sahnya perkawinan.
Karena itu, sebelum pernikahan dilangsungkan, biasanya dilakukan pemeriksaan kanonik oleh pastor atau pihak Gereja yang berwenang.
Memahami Hakikat Perkawinan
Calon suami dan istri perlu memahami bahwa perkawinan bukan hubungan sementara.
Mereka perlu menyadari unsur-unsur mendasar perkawinan, termasuk kesatuan, kesetiaan, dan keterbukaan terhadap kehidupan.
Mengikuti Persiapan Perkawinan
Dalam praktik pastoral, calon pasangan biasanya mengikuti program persiapan perkawinan sesuai kebijakan keuskupan atau paroki.
Program tersebut sering dikenal sebagai Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) atau nama lain sesuai kebijakan setempat.
Materinya dapat mencakup spiritualitas perkawinan, komunikasi pasangan, pengelolaan konflik, kehidupan seksual dalam perkawinan, ekonomi keluarga, kesehatan, pengasuhan anak, serta ajaran Gereja mengenai perkawinan.
Melengkapi Dokumen Gerejawi
Persyaratan administratif dapat berbeda menurut keuskupan atau paroki.
Karena itu, pasangan sebaiknya menghubungi sekretariat paroki jauh sebelum tanggal pernikahan untuk memperoleh informasi resmi mengenai dokumen dan jadwal persiapan yang diperlukan.
Bagaimana dengan Perkawinan Beda Agama?
Dalam kehidupan nyata, umat Katolik dapat menghadapi situasi ketika calon pasangan mempunyai agama atau status baptisan yang berbeda.
Gereja membedakan beberapa keadaan, termasuk perkawinan campur antara seorang Katolik dengan orang Kristen yang telah dibaptis tetapi bukan Katolik, serta perkawinan antara seorang Katolik dengan orang yang belum dibaptis.
Ketentuan kanoniknya tidak sepenuhnya sama.
Dalam keadaan tertentu diperlukan izin atau dispensasi dari otoritas Gereja yang berwenang.
Karena persoalan ini berkaitan dengan keadaan konkret masing-masing pasangan, calon mempelai sebaiknya membicarakannya sejak awal dengan pastor paroki.
Jangan menunggu sampai menjelang hari pernikahan.
Pendampingan sejak awal membantu pasangan memahami konsekuensi iman, kehidupan keluarga, pendidikan anak, serta persyaratan kanonik yang berlaku.
Tata Perayaan Sakramen Perkawinan Katolik
Bentuk perayaan dapat berbeda sesuai keadaan pasangan dan ketentuan liturgi.
Perkawinan dua orang Katolik biasanya dapat dirayakan dalam Misa. Dalam keadaan tertentu, perkawinan dapat dirayakan tanpa Misa.
Secara umum, unsur penting dalam perayaan perkawinan meliputi Liturgi Sabda, pernyataan kesediaan kedua mempelai, persetujuan atau janji perkawinan, penerimaan persetujuan oleh Gereja, pemberkatan dan penyerahan cincin, serta doa bagi kedua mempelai.
Jika perkawinan dirayakan dalam Misa, perayaan dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi.
Perlu diperhatikan bahwa rincian tata perayaan harus mengikuti buku liturgi resmi dan ketentuan keuskupan atau paroki setempat.
Makna Janji Perkawinan Katolik
Bagian paling penting dari perayaan perkawinan bukan dekorasi, musik, foto, atau resepsi.
Pusatnya adalah persetujuan perkawinan kedua mempelai.
Mereka secara bebas menyerahkan diri dan menerima satu sama lain sebagai suami dan istri.
Janji tersebut mempunyai konsekuensi besar karena diucapkan untuk seluruh perjalanan kehidupan.
Ketika pasangan berjanji untuk setia dalam suka dan duka, mereka sebenarnya mengakui bahwa kehidupan tidak akan selalu mudah.
Akan ada kegembiraan.
Namun mungkin juga ada kesulitan ekonomi, konflik, kegagalan, kehilangan, penyakit, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, dan berbagai perubahan yang tidak pernah diperkirakan ketika menikah.
Kesetiaan berarti terus belajar mencintai di tengah seluruh perjalanan tersebut.
Makna Cincin Perkawinan Katolik
Cincin merupakan salah satu tanda yang sangat dikenal dalam perayaan perkawinan.
Bentuknya yang melingkar sering dipahami sebagai lambang kesetiaan dan kasih yang terus dipelihara.
Namun cincin bukanlah yang menjadikan perkawinan itu sah.
Yang menjadi unsur fundamental adalah persetujuan perkawinan yang sah dari kedua mempelai, bersama terpenuhinya ketentuan yang diperlukan menurut hukum Gereja.
Karena itu, cincin seharusnya mengingatkan pasangan kepada janji yang telah mereka berikan.
Ketika melihat cincin perkawinan, suami atau istri dapat mengingat kembali panggilannya untuk mengasihi dan tetap setia.
Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga
Salah satu gagasan indah dalam spiritualitas keluarga Katolik adalah keluarga sebagai Gereja rumah tangga.
Rumah menjadi salah satu tempat pertama seseorang belajar mengenai kasih, pengampunan, pengorbanan, doa, dan iman.
Anak biasanya mengenal kehidupan iman pertama-tama melalui keluarganya.
Mereka melihat bagaimana orang tuanya berdoa, memperlakukan orang lain, menghadapi konflik, meminta maaf, pergi ke gereja, serta menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Karena itu, pendidikan iman bukan hanya tugas sekolah Katolik, guru agama, katekis, atau pastor.
Orang tua mempunyai tanggung jawab yang sangat penting.
Cara Membangun Keluarga Katolik
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu keluarga bertumbuh dalam iman:
- mengikuti Misa hari Minggu bersama;
- membiasakan doa keluarga;
- membaca dan merenungkan Kitab Suci;
- mengajarkan anak berdoa;
- membangun kebiasaan meminta maaf dan mengampuni;
- memperhatikan orang miskin dan mereka yang membutuhkan;
- menerima Sakramen Tobat secara teratur;
- merayakan hari-hari penting iman dalam keluarga;
- membicarakan persoalan dengan kasih dan keterbukaan.
Keluarga yang kudus bukan berarti keluarga tanpa masalah.
Keluarga yang berusaha hidup kudus adalah keluarga yang terus mengundang Tuhan hadir di tengah masalah dan kegembiraannya.
Tantangan Kehidupan Perkawinan
Masa awal perkawinan sering dipenuhi kebahagiaan. Namun kehidupan rumah tangga kemudian membawa pasangan berhadapan dengan realitas sehari-hari.
Konflik dapat muncul mengenai pekerjaan, keuangan, pembagian tanggung jawab rumah, hubungan dengan keluarga besar, pengasuhan anak, komunikasi, dan berbagai persoalan lainnya.
Dalam keadaan seperti itu, cinta tidak boleh hanya bergantung kepada perasaan.
Komunikasi yang Sehat
Suami dan istri perlu belajar berbicara sekaligus mendengarkan.
Komunikasi yang sehat bukan berarti pasangan selalu mempunyai pendapat yang sama.
Perbedaan tetap dapat terjadi.
Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan tanpa merendahkan atau melukai martabat pasangan.
Belajar Mengampuni
Tidak ada pasangan yang sempurna.
Karena itu, kemampuan meminta maaf dan mengampuni sangat penting dalam perkawinan.
Kesalahan yang terus disimpan dapat berubah menjadi luka yang semakin besar.
Sebaliknya, pengampunan dapat membuka jalan menuju pemulihan hubungan.
Berdoa Bersama
Doa bersama dapat menjadi kekuatan bagi pasangan Katolik.
Suami dan istri dapat membawa kegembiraan, kecemasan, kebutuhan keluarga, pekerjaan, anak-anak, dan masa depan mereka ke hadapan Tuhan.
Doa mengingatkan pasangan bahwa perjalanan perkawinan tidak dijalani hanya dengan kemampuan manusia.
Mereka membutuhkan rahmat Allah.
Apakah Perkawinan Katolik Bisa Dibatalkan?
Pertanyaan ini sering menimbulkan kesalahpahaman.
Gereja Katolik tidak mengenal “perceraian Katolik” yang memutuskan suatu perkawinan sakramental yang sah dan telah disempurnakan.
Namun Gereja mengenal proses pernyataan nulitas perkawinan, yang dalam percakapan sehari-hari kadang disebut “anulasi”.
Pernyataan nulitas bukan berarti Gereja membatalkan sebuah perkawinan yang sebelumnya sah.
Pengadilan Gereja menyelidiki apakah pada saat perkawinan dilangsungkan sebenarnya terdapat unsur yang menyebabkan perkawinan tersebut tidak pernah terbentuk secara sah sejak awal.
Karena itu, proses nulitas bukan jalan pintas untuk memperoleh perceraian.
Setiap kasus harus diperiksa berdasarkan fakta dan norma hukum kanonik.
Sakramen Perkawinan sebagai Jalan Kekudusan
Ketika mendengar kata “kekudusan”, sebagian orang mungkin langsung membayangkan biarawan, biarawati, imam, atau orang-orang kudus.
Padahal pasangan suami istri juga mempunyai panggilan menuju kekudusan.
Dapur, ruang makan, tempat kerja, kamar anak, bahkan perjalanan mengantar anak ke sekolah dapat menjadi tempat seseorang belajar mengasihi.
Seorang suami dapat bertumbuh dalam kekudusan ketika dengan setia merawat istrinya.
Seorang istri dapat bertumbuh dalam kekudusan ketika dengan kasih mendukung suaminya.
Keduanya dapat bertumbuh ketika bersama-sama merawat anak, menghadapi persoalan, mengampuni kesalahan, dan tetap berpegang kepada Tuhan.
Dengan demikian, Sakramen Perkawinan Katolik bukan hanya peristiwa satu hari di gereja.
Sakramen tersebut menjadi panggilan yang dihidupi setiap hari.
Refleksi tentang Sakramen Perkawinan
Dunia sering menggambarkan cinta terutama sebagai perasaan.
Namun kehidupan perkawinan mengajarkan bahwa cinta juga merupakan keputusan.
Ada saat ketika pasangan merasakan kebahagiaan yang besar. Ada pula saat ketika hubungan membutuhkan perjuangan, kesabaran, pengorbanan, dan pengampunan.
Dalam situasi seperti itulah makna janji perkawinan menjadi nyata.
Suami dan istri dipanggil untuk berkata melalui kehidupan mereka:
“Aku tetap memilih untuk mengasihimu.”
Kasih seperti ini membantu kita memahami sedikit lebih dalam kasih Allah yang setia kepada umat-Nya.
Bagi mereka yang sedang mempersiapkan perkawinan, masa persiapan hendaknya tidak hanya dipenuhi kesibukan merancang pesta.
Persiapkanlah hati.
Belajarlah berkomunikasi.
Bicarakan iman, anak, keuangan, pekerjaan, keluarga besar, harapan, ketakutan, dan masa depan.
Dan yang terutama, bawalah rencana perkawinan dalam doa.
Bagi pasangan yang sudah menikah, jangan berhenti merawat perkawinan setelah pesta selesai.
Kasih perlu terus dipelihara.
Kesetiaan perlu diperbarui setiap hari melalui tindakan-tindakan sederhana.
Doa bagi Pasangan Suami Istri Katolik
Ya Allah, Bapa yang penuh kasih,
kami bersyukur kepada-Mu atas anugerah Sakramen Perkawinan yang mempersatukan suami dan istri dalam ikatan kasih.
Curahkanlah rahmat-Mu kepada setiap keluarga Kristiani.
Ajarlah para suami dan istri untuk saling mengasihi dengan tulus, tetap setia dalam suka maupun duka, serta saling menguatkan dalam setiap perjalanan kehidupan.
Ketika mereka mengalami perselisihan, berikanlah kerendahan hati untuk meminta maaf dan kemurahan hati untuk mengampuni.
Ketika mereka mengalami kesulitan, teguhkanlah pengharapan mereka.
Ketika mereka memperoleh kebahagiaan, ajarlah mereka untuk selalu bersyukur kepada-Mu.
Berkatilah anak-anak yang Engkau percayakan kepada keluarga-keluarga.
Bimbinglah para orang tua agar mampu menjadi teladan iman, kasih, kejujuran, dan kekudusan bagi anak-anak mereka.
Jadikanlah setiap keluarga Katolik sebagai Gereja rumah tangga yang menghadirkan kasih-Mu di tengah dunia.
Semoga melalui Sakramen Perkawinan, semakin banyak keluarga bertumbuh dalam iman dan bersama-sama berjalan menuju kekudusan.
Demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Kesimpulan
Sakramen Perkawinan merupakan perjanjian suci yang mempersatukan seorang pria dan seorang wanita dalam kehidupan bersama sebagai suami dan istri. Di antara orang-orang yang telah dibaptis, perjanjian perkawinan tersebut diangkat Kristus menjadi sakramen.
Melalui perkawinan, pasangan dipanggil untuk saling mengasihi dan membantu, terbuka terhadap kehidupan dan pendidikan anak, serta bersama-sama bertumbuh dalam kekudusan.
Perkawinan Katolik bukan hanya tentang satu hari ketika pasangan berdiri di depan altar.
Perjalanan sebenarnya justru dimulai setelah perayaan selesai.
Ketika suami dan istri tetap saling mengasihi dalam kesibukan, menghadapi persoalan bersama, merawat anak, saling mengampuni, berdoa bersama, dan tetap setia sepanjang kehidupan, mereka sedang menghidupi rahmat panggilan perkawinan.
Dengan pertolongan rahmat Allah, keluarga Kristiani dapat menjadi Gereja rumah tangga, tempat iman diwariskan, kasih dipraktikkan, kehidupan diterima sebagai anugerah, dan Kristus dihadirkan melalui kehidupan sehari-hari.
Demikianlah Sakramen Perkawinan Katolik: Arti, Syarat & Makna, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
