Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 08 Januari 2021

Renungan Hari Jumat 08 Januari 2021

Renungan Hari Jumat 08 Januari 2021

Kesaksian tentang Yesus

Perhatian utama Yohanes, seperti juga perhatian penulis lain di Perjanjian Baru, adalah kesaksian yang mengarah pada pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan. Para penulis itu tidak pernah berusaha meyakinkan orang bahwa Yesus adalah Pembuat mukjizat atau Seorang yang sangat saleh hingga patut diteladani. 

Atau banyak juga orang yang mengatakan, “Yesus ajaib! Ia melakukan banyak mukjizat!” Itu bukanlah poin utama. Kesaksian Yohanes di sini bukanlah pada apa yang Ia lakukan, melainkan siapakah Dia. Kitab Suci jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, yang turun ke dunia dalam rupa manusia.

Allah telah memberi kesaksian tentang Kristus. Namun orang-orang pada zaman Yesus tidak yakin bahwa Ia adalah Anak Allah. Mereka malah menyebut Dia sebagai peminum, pelahap, pemberontak, dan sebagainya. Sehingga ada orang yang berkata: “Bila orang-orang pada waktu itu tidak bisa percaya pada Dia, bagaimana Ia bisa dipercaya orang pada zaman ini?” 

Oleh karena itu ada tiga kesaksian bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi: air, darah, dan Roh (ayat 6). Air dan darah mengacu pada dua hal: baptisan dan kematian Yesus. Yesus dibaptis bukan karena Ia bertobat atas dosa-dosa-Nya, sebab Ia tidak berdosa. Ia dibaptis karena ingin mengidentifikasikan diri-Nya secara utuh dengan manusia berdosa. Ketika Yesus disalib, kematian-Nya bukanlah karena Ia harus mati, sebab maut tidak berkuasa atas Dia. Ia mati karena menyerahkan hidup-Nya untuk menyelamatkan kita dari dosa. Roh Kudus juga memberikan kesaksian tentang Yesus (Yoh. 15:26, 16:14).

Kesaksian itu adalah bahwa Allah telah mengaruniakan hidup kekal di dalam Yesus (ayat 11). Bila kita hidup di dalam Yesus, itulah bukti bahwa kita memiliki hidup yang kekal. Selanjutnya hidup itu harus merupakan kesaksian bahwa Yesuslah Juruselamat yang menganugerahkan kemenangan atas dosa dan maut. Maka jangan mau kalah terhadap dosa! Kalahkanlah dosa dengan kuasa Yesus yang telah menang atas maut. Hiduplah dalam kemenangan anak-anak Allah!

Mazmur, Pujian bagi Tuhan yang setia

Yerusalem sudah hancur dan umat tertindas terbuang ke Babel. Itulah situasi Israel saat itu sebagai akibat dosa-dosa mereka. Namun mazmur ini merayakan kesetiaan Tuhan yang nyata melalui janji-Nya, yang akan memulihkan mereka setelah masa penghukuman usai.

Pertama, pemazmur menegaskan kemahakuasaan Tuhan. Dia yang menciptakan benda-benda penerang di angkasa luas (4; band. Yes. 40:26), berkuasa untuk membangun kembali Yerusalem (Mzm. 147:2) dan mempersatukan lagi umat-Nya yang sudah kocar-kacir dalam penindasan (6).

Kedua, pemazmur menegaskan kasih Tuhan yang tak berkesudahan dan sangat berlimpah. Kalau Dia begitu peduli pada ciptaan yang lebih rendah daripada manusia; apalagi pada manusia, yang diciptakan menurut gambar-Nya sendiri. Kebalikan daripada naluri seekor gagak betina yang tega meninggalkan anak-anaknya kelaparan, Tuhan justru memberi mereka makan (9). Oleh karena itu, yang disukai Tuhan bukanlah orang yang senantiasa berjuang dengan kekuatannya sendiri, melainkan orang yang bersandar dan berharap kepada-Nya (10-11).

Ketiga, kesetiaan Tuhan jelas terbaca dari ikatan perjanjian-Nya dengan umat-Nya (19). Itulah yang membedakan umat Tuhan dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Dia, apalagi menyembah-Nya (20). Tuhan sendiri dalam kedaulatan-Nya yang akan memerintahkan alam untuk menyuburkan tempat tinggal umat-Nya, dan untuk menyejahterakan mereka (14-18).

Semua kebenaran indah ini diketahui umat karena Ia berfirman. Dalam firman-Nya Ia menegur umat, juga menyatakan rencana dan kehendak-Nya. Firman begitu penting dalam keumatan kita sebab di dalam firman-Nyalah Ia mengikat diri dengan kita dalam perjanjian yang menyemarakkan hidup kita.

Bertumbuhlah dalam pujian dan keyakinan melalui penghayatan firman yang makin dalam.

Injil hari ini,

Pada zaman Yesus belum ada pengobatan untuk orang sakit kusta seperti sekarang ini. Oleh karena itu, orang kusta harus hidup di luar kampung supaya tidak menulari orang lain. Nasib mereka sungguh menyedihkan. Tergerak oleh belas kasihan, Yesus menjamahnya dan menyembuhkan mereka.

Padahal, menurut peraturan orang Yahudi waktu itu, kalau seseorang menjamah orang kusta, dia menjadi tidak bersih, menjadi haram. Namun, belas kasihan-Nya jauh lebih besar daripada semuanya itu dan Ia mau menolong serta menyembuhkan orang yang menderita itu.

Dewasa ini, banyak sekali orang-orang yang menderita kusta rohani karena dosa-dosa yang diperbuatnya. Kusta rohani ini lebih berbahaya daripada kusta jasmani. Sebab, kusta rohani akan berlangsung terus sampai di balik kubur bila orang tersebut tidak disembuhkan lebih dahulu. Untuk itu pula Yesus datang. Untuk menyembuhkan kusta rohani itu Yesus rela wafat di salib.

Yesus juga mengharapkan agar kita pun mengasihi sesama kita, khususnya yang menderita. Yesus menyamakan diri-Nya dengan mereka yang menderita. Maka, apa yang kita lakukan bagi mereka, kita lakukan bagi Yesus sendiri. ”Aku lapar, dan kamu memberi Aku makan, Aku sakit dan kamu melawat Aku, Aku dalam penjara dan kamu menjenguk Aku …. Apa yang kamu lakukan bagi yang terkecil dari antara saudara-Ku itu, kamu lakukan bagi-Ku” (lih. Mat 25: 34–40).

Doa: 

Tuhan Yesus, berilah aku rahmat-Mu agar aku mampu melihat Engkau dalam diri sesamaku, terutama dalam diri mereka yang menderita. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 08 Januari 2021"