Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Jumat 16 Juli 2021

Renungan Hari Jumat 16 Juli 2021

Renungan Hari Jumat 16 Juli 2021

Peringatan karya penebusan Allah

Apa hal istimewa, sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan, yang harus dilakukan umat Israel sebelum mereka dapat menikmati pembebasan yang Allah akan segera laku-kan? Mereka harus melakukan suatu ritual, yang kemudian dinamakan Paskah, dengan iman. 

Sesuai dengan instruksi di ayat 3-11, mereka harus mempersiapkan diri untuk perayaan Paskah di keluarga masing-masing, dalam keadaan yang siap untuk segera melakukan perjalanan. Satu hal yang penting dalam perayaan Paskah adalah mereka harus menorehkan darah kurban bakaran itu ke ambang pintu setiap rumah keluarga Israel (ayat 7).

Apa yang mereka lakukan itu kelak harus dilakukan berulang-ulang sebagai peringatan atas apa yang Allah akan segera lakukan di hari terakhir itu (ayat 14). Yaitu bagaimana Tuhan menghukum bangsa Mesir, yang memusuhi mereka, dengan cara membinasakan anak-anak sulung keluarga-keluarga Mesir (ayat 12). 

Sedangkan umat Tuhan diluputkan dari kematian anak sulung oleh karena darah yang ditaruh di ambang pintu rumah-rumah mereka (ayat 13). Jadi peringatan kebebasan sekaligus mengenang kedahsyatan Tuhan menghukum musuh.

Perjamuan Paskah ini harus dirayakan secara berkala, lengkap dengan kelanjutannya, yaitu hari raya “roti tidak beragi” selama tujuh hari. Ritual yang diatur untuk perayaan Paskah maupun lanjutannya sangat penting untuk dihayati oleh generasi selanjutnya. 

Mereka yang tidak menyaksikan secara langsung bagaimana Tuhan membela dan berperang bagi umat-Nya, melalui ritual ini menyelami, menghayati, bahkan mengulang kembali pengalaman nenek moyang mereka dalam memori bersama mereka.

Gereja merayakan Paskah setahun sekali dalam Misa Agung Paskah dalam rangka menghadirkan kembali peristiwa sejarah keselamatan bagi umat manusia. Yaitu peristiwa Tuhan Yesus bertindak menebus umat-Nya dan mengalahkan musuh utama melalui kema-tian-Nya di kayu salib.

Mazmur, Allah pasti mempertahankan milik-Nya.

Mazmur ini dibuka dengan ungkapan pemazmur, “Aku mengasihi Tuhan”. Kasih pemazmur ini merupakan respons terhadap kasih Allah yang telah menyendengkan telinga-Nya kepadanya (ayat 2). Ungkapan ini didasari pada pengalamannya dibebaskan dari bahaya maut. 

Memang tidak disebutkan oleh apa bahaya maut itu disebabkan, tetapi ia merasa sudah tertangkap oleh sang maut (ayat 3). Pemazmur menuturkan bagaimana ia mengalami krisis iman ketika tenggelam dalam penderitaannya. Tidak ada seorang pun yang menolong. Sendiri dalam penderitaan melahirkan kekecewaan yang dalam (ayat 11). 

Namun, keadaan itu tidak menggoyahkan kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 10). Wajar bila pemazmur rindu untuk membalas segala kebaikan Allah. Ia akan mengangkat piala keselamatan, menyerukan nama-Nya (ayat 13), membayar nazarnya di depan umat Allah (ayat 14,18); mempersembahkan kurban syukur kepada Allah. Artinya, ia ingin hidupnya selalu memuliakan Allah.

Dari pengalaman iman pemazmur bersama Allah ini, kita belajar tiga hal. Pertama, hakikat hidup kita adalah karunia Tuhan semata-mata, dan bernilai kekal. Kedua, hidup kita berharga di mata-Nya. Hal ini makin membuat kita menghayati kehadiran dan keberadaan Allah yang mempedulikan keberadaan umat-Nya. 

Bahkan tidak akan dibiarkan-Nya kematian menjemput mereka sebelum waktunya (ayat 15). Ketiga, kebaikan Allah yang juga bernilai kekal itu ditanggapi dengan sikap paling mulia, yaitu mengabdi sebagai hamba-Nya, makin mengasihi-Nya untuk selama-selamanya.

Renungkan: Allah mengizinkan kita mengalami “krisis iman” agar kita menyadari dan makin menghayati kasih setia Allah dalam hidup kita.

Injil hari ini, Bukan aturan tetapi hati.

Dua peristiwa ini menunjuk kepada satu pesan penting tentang inti aturan-aturan agama. Murid-murid Yesus, karena lapar memetik bulir gandum (ayat 1). Perbuatan demikian tidak salah (Ul. 23:25). 

Yang membuat orang Farisi berang bukan tindakan tersebut melainkan waktu tindakan itu dilakukan. Murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat. Murid Yesus tidak melanggar hukum Allah, hanya melanggar hukum agama yang dibentuk orang Farisi. Respons Yesus menunjuk kepada dua peristiwa dalam PL.

Pertama, tindakan Daud (ayat 3-4). Ketika lapar, Daud dan rombongannya mengambil roti sajian Bait Allah. 12 roti sajian itu diletakkan di atas meja di dalam tempat kudus, hanya boleh dimakan oleh imam di tempat kudus karena roti itu kudus. Roti sajian itu diminta Daud dari imam Ahimelekh (ayat 1Sam. 21:1-6). Itu sebenarnya tidak boleh namun kebutuhan manusia lebih penting dari ritual agama (ayat 7, Hos. 6:6). 

Kedua, tindakan imam-imam (ayat 5). Aturan dalam Bilangan 28:9, mengatur pekerjaan yang harus para imam lakukan pada hari Sabat. Namun, mereka tidak dianggap bersalah walau melanggar Sabat. 

Dari kedua peristiwa ini Yesus menegaskan bahwa inti dari peraturan adalah mengutamakan hidup.

Renungkan: Apakah kita beragama sebatas ritual? Apakah kasih kita kepada Tuhan dan sesama terhambat atau justru bertumbuh melaluinya?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Jumat 16 Juli 2021"