Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Minggu 04 Juli 2021

Renungan Hari Minggu 04 Juli 2021

Renungan Hari Minggu 04 Juli 2021

Diutus kepada bangsa pemberontak

Tugas Yehezkiel berat sekali. Ia harus memberitakan firman penghukuman pada bangsanya sendiri. Mirip dengan tugas yang Yeremia terima. Kita telah melihat, visi kemuliaan-Nya sudah dinyatakan, lalu firman-Nya disampaikan (ayat 2:1-3:15). 

Urapan Roh Allah hadir pada Yehezkiel. LAI (TB, 1974) memakai “kembalilah rohku ke dalam aku”, namun terjemahan lebih tepat “Roh (Tuhan) memasuki aku” (ayat 2).

Tugas Yehezkiel yang berat dipaparkan demikian: Ia akan menghadapi bangsa yang mendurhaka kepada Tuhan (ayat 3). Baik mereka maupun nenek moyang mereka telah berlaku tidak setia kepada Tuhan. 

Begitu buruknya sikap mereka di mata Tuhan sehingga dalam perikop ini sapaan mesra “umat-Ku” (\’ami, Ibr.) yang biasa dipakaikan Tuhan kepada Israel tidak digunakan. Mereka disapa dengan memakai istilah bangsa (goy, Ibr., biasa dipakaikan kepada bangsa-bangsa yang tak mengenal Tuhan; 3). 

Kedurhakaan mereka diungkapkan lewat satu kata yang berulang dipakai, pemberontak (ayat 3, 5, 6, 7, 8) dan dua kata yang menunjukkan karakter yang tidak mau diajar, yaitu keras kepala dan tegar hati. Sebutan akrab TUHAN (Yahweh) pun hanya digunakan untuk menegaskan asal usul firman yang harus Yehezkiel beritakan (ayat 4). 

Yehezkiel akan mengalami masa sulit dan berbahaya seperti orang yang tinggal di tengah semak belukar yang berduri yang dihuni kalajengking yang sangat berbisa (ayat 6). Tidak ada kepastian apakah Israel akan mendengarkan pemberitaan Yehezkiel akan firman Tuhan atau tidak (ayat 5, 7).

Situasi sulit yang dihadapi Yehezkiel tidak beda jauh dengan situasi yang dihadapi kekristenan masa kini. Bangsa kita pun bangsa pemberontak, keras kepala, dan tegar hati, walaupun Tuhan telah menegur dengan berbagai cara: deraan gempa bumi, malapetaka alam maupun buatan manusia, dan keterpurukan ekonomi yang semakin menjadi-jadi, dst. 

Sama seperti kepada Yehezkiel, kita diperintahkan untuk tidak takut kepada manusia, sebaliknya taat, tidak memberontak kepada penugasan Tuhan.

Mazmur, Pengharapan di tengah hinaan.

Olokan dan hinaan dapat merupakan ujian berat bagi orang beriman yang menyebabkan iman dan kesetiaan orang kepada Tuhan luntur atau goyah. Namun penghinaan yang dilontarkan orang-orang sombong kepada pemazmur tidak mampu menggoyahkan pengharapannya kepada Tuhan. 

Ia tahu tempat pengaduan yang tepat, yang sanggup menyatakan belas kasihan kepadanya. Meneladani pemazmur, Kristen seharusnya tidak dikendalikan oleh situasi atau perlakuan orang yang tidak menyukainya, tetapi belajar tegar dalam menampik segala olokan dan hinaan, sehingga pada akhirnya Kristen akan nyata kebenarannya. Memiliki keyakinan bahwa ada pengharapan yang pasti di dalam Tuhan akan meneguhkan kita dalam mempertahankan iman di tengah penghinaan.

Penghinaan bagian hidup Kristen. Inilah “risiko” menjadi murid Kristus yang mendapatkan perlakukan yang sama dari dunia yang membenci-Nya. Kesadaran ini mempersiapkan kita dalam menghadapi penghinaan dan sambutan kurang ramah dari orang-orang yang kita layani atau lingkungan kita. 

Anugerah-Nya cukup bagi kita, sehingga kita memiliki hikmat untuk menyelami pikiran dan kebutuhan mereka. Kerinduan untuk memenangkan mereka bagi Kristus akan menumbuhkan kerelaan menerima penghinaan yang layak bagi kita.

Paulus dalam bacaan kedua mengajarkan, Kekuatan dalam kelemahan

Jika aku lemah, maka aku kuat” (10b). Pernyataan yang paradoks ini, kita kenal dalam perjalanan rasul Paulus setelah melampaui banyak penderitaan dalam upaya penyebaran Injil. 

Walau Paulus merasa tidak perlu untuk mengungkapkannya kembali, ia bermaksud agar terhindar dari sikap tinggi hati. Meskipun Paulus punya banyak alasan untuk bermegah diri (11-13).

Walaupun telah mengalami peristiwa pertobatan yang hebat (1), Paulus tidak ingin membanggakannya. Sewaktu dia mengungkapkan kembali penglihatannya, ia memperhalus pernyataannya dengan kalimat \’ada seorang Kristen\’ dan bukan \’sewaktu saya bertemu Tuhan empat belas tahun yang lalu\’. Disebutkan juga \’entah di dalam tubuh, entah di luar tubuh, aku tidak tahu\’, selanjutnya ditegaskan `hanya Allah yang mengetahuinya\’ (2, 3). 

Lalu Paulus tiba-tiba terangkat ke Firdaus dan mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan kembali oleh manusia (4).

Para ahli menafsirkan bahwa peristiwa ini adalah kisah perjumpaan Paulus dengan Kristus, waktu Paulus berada dalam perjalanan ke Damaskus. Ada juga yang menyebutnya sebagai peristiwa pewahyuan dalam penglihatan akhir zaman. 

Bagi Paulus semua pengalaman adikodrati tersebut tidak melahirkan kebanggaan diri. Ia malah membanggakan kelemahannya, dengan berpendapat `supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu suatu utusan iblis\’ (7). Berulang kali Paulus memohon kepada Tuhan agar beban itu diangkat dari dirinya. 

Namun Paulus kembali harus tunduk pada otoritas Tuhan, karena dalam hambatan inilah kuasa Tuhan semakin disempurnakan di dalam diri Paulus (8, 9).

Refleksi: Apakah saat ini Anda sedang merasa teraniaya dalam pelayanan? Ingatlah bahwa dalam kelemahan manusia, kuasa pemulihan Tuhan yang cukup menghasilkan ketaatan, berlimpah. “Yang rapuh yang dipilih.”

Injil hari ini, Sudah beriman?

Tak ada tempat seistimewa Nazaret. Selama tiga puluh tahun Anak Allah tinggal di kota itu. Selama itu pula penduduk Nazaret menyaksikan bagaimana Dia hidup.

Yesus meninggalkan Nazaret sebagai tukang kayu. Ia kembali ke sana sebagai seorang rabbi, lengkap dengan murid-murid. Saat Yesus mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat mungkin merupakan saat pertama kali orang-orang di daerah itu mendengar Dia mengajar. 

Bagaimana reaksi mereka? Mereka heran dan bertanya-tanya. Sepengetahuan mereka, Yesus adalah anak tukang kayu. Di dalam budaya Yahudi pada waktu itu, anak seorang tukang kayu akan diajar untuk menjadi tukang kayu juga. Lalu dari mana Yesus mendapat kemampuan dan kuasa untuk mengajar? 

Pengenalan mereka terhadap keluarga dan kehidupan Yesus sebelumnya membuat mereka sulit menerima bahwa Ia bukan manusia biasa. Keheranan mereka bukanlah wujud kekaguman melainkan suatu gugatan karena tidak dapat menerima kenyataan itu. Bagaimana reaksi Yesus? 

Yesus menerima penolakan itu sebagai bagian dari harga yang harus dibayar (ayat 4). Penolakan orang Nazaret untuk percaya pada Yesus membuat Yesus tidak mengadakan banyak mukjizat di tempat itu (ayat 5-6a). Ketidakpercayaan mereka membuat Tuhan tidak berkarya. Karya Tuhan bukan untuk ditonton, tetapi untuk diimani.

Salah satu tekanan dalam Injil Markus adalah Yesus melakukan mukjizat sebagai respons terhadap iman dalam diri seseorang (band. Kis. 14:9-10). Yang dimaksud bukanlah orang yang belum percaya, melainkan orang yang menolak untuk percaya. 

Orang-orang semacam ini bukan belum mengenal Yesus sama sekali. Mereka sudah mendengar pengajaran Yesus. Mereka juga sudah mendengar berita-berita tentang mukjizat yang Dia lakukan. 

Namun respons mereka adalah tidak mau percaya. Lalu untuk apa Tuhan menunjukkan karya dan kuasa-Nya terhadap orang semacam itu? Bila berharap mukjizat-Nya terjadi atas diri kita, mari kita tanya diri sendiri: makin berimankah kita pada Yesus?

DOA: Roh Kudus Allah, nyatakanlah kepada kami betapa dalam kami membutuhkan iman yang mempercayai, berharap dan yakin akan kasih Allah itu. Ampunilah kami untuk ketidakpercayaan kami. Oleh rahmat-Mu, berdayakanlah kami agar dapat merangkul kepenuhan hidup yang telah dimenangkan Yesus bagi kami. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Minggu 04 Juli 2021"