Renungan Katolik Harian Minggu, 25 Januari 2026 Bacaan Injil: Matius 4:12–23
✨ Renungan Katolik Harian Minggu, 25 Januari 2026 Bacaan Injil: Matius 4:12–23
"Dipanggil dari Kegelapan Menuju Terang" Injil: Matius 4:12–23
Ketika Tuhan Datang di Saat yang Tidak Terduga
Hidup sering berjalan biasa-biasa saja. Rutinitas sekolah, kuliah, kerja, urus keluarga, scrolling media sosial, mengatur target hidup. Lalu tiba-tiba, sesuatu terjadi: sebuah teguran, kehilangan, perjumpaan, atau justru sebuah keheningan. Di momen seperti itulah Tuhan sering masuk, tidak selalu dengan suara keras, tetapi dengan undangan yang lembut: “Bertobatlah.” “Ikutlah Aku.”
Injil hari Minggu ini sangat kaya. Di dalamnya kita menemukan tiga hal besar: awal pelayanan Yesus, seruan pertobatan, dan panggilan para murid. Semua itu terjadi di tengah dunia yang tidak ideal, di wilayah yang disebut sebagai “Galilea bangsa-bangsa lain,” sebuah daerah yang dipandang gelap, pinggiran, dan tidak murni secara religius.
Dalam renungan Katolik harian Matius 4:12–23 ini, kita diajak melihat bahwa Allah justru senang memulai karya-Nya dari tempat yang dianggap kecil, gelap, dan tidak penting. Dan mungkin, itu sangat mirip dengan hidup kita.
Yesus Memulai dari Galilea: Dari Pinggiran, Bukan dari Pusat
Matius menulis bahwa setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea dan tinggal di Kapernaum, di daerah Zebulon dan Naftali. Ini bukan detail geografis biasa. Injil menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah penggenapan nubuat Yesaya:
“Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.”
Galilea adalah wilayah campuran, daerah perbatasan, jauh dari pusat religius Yerusalem. Secara sosial dan spiritual, ia dianggap “kurang murni.” Tetapi justru di sanalah Yesus memulai pewartaan Kerajaan Allah.
Ini adalah kabar gembira yang sangat kuat bagi siapa pun yang merasa hidupnya tidak ideal.
- Bagi remaja yang merasa imannya belum rapi.
- Bagi orang tua yang merasa banyak gagal.
- Bagi keluarga yang merasa jauh dari gambaran “keluarga Katolik sempurna.”
Renungan Katolik tentang pertobatan hari ini menegaskan: Tuhan tidak menunggu hidup kita terang untuk datang. Ia datang justru ke dalam kegelapan untuk menyalakan terang.
“Bertobatlah”: Undangan, Bukan Ancaman
Kalimat pertama pewartaan Yesus sangat sederhana:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”
Sering kali kata “bertobat” terdengar berat, seolah hanya milik orang berdosa besar. Padahal dalam bahasa Injil, pertobatan berarti berbalik arah, mengubah cara berpikir, membuka diri pada cara hidup Allah.
Yesus tidak memulai dengan hukuman, tetapi dengan kabar: Kerajaan Allah sudah dekat. Allah tidak jauh. Allah tidak eksklusif. Allah sedang datang.
Maka pertobatan bukan pertama-tama soal rasa bersalah, tetapi soal kesempatan baru.
- Kesempatan untuk melihat hidup dengan cara Tuhan.
- Kesempatan untuk membangun ulang relasi.
- Kesempatan untuk keluar dari kebiasaan lama yang memenjarakan.
Dalam konteks renungan Katolik remaja, ini sangat relevan. Banyak anak muda mengira iman hanya soal larangan. Injil hari ini membongkar anggapan itu. Pertobatan adalah pintu menuju hidup yang lebih utuh, bukan hidup yang lebih sempit.
Yesus yang Berjalan dan Memanggil
Yesus tidak menunggu murid datang. Ia berjalan di sepanjang Danau Galilea. Ia masuk ke ruang hidup orang-orang biasa: para nelayan, pekerja kasar, bukan ahli Taurat.
- Ia melihat Simon dan Andreas.
- Ia melihat Yakobus dan Yohanes.
- Ia melihat mereka bukan hanya sebagai nelayan, tetapi sebagai calon “penjala manusia.”
Panggilan Tuhan sering lahir di tengah aktivitas sehari-hari. Bukan di tempat spektakuler, tetapi di jaring, di perahu, di rutinitas.
Renungan Injil Matius hari ini mengingatkan kita bahwa panggilan Allah jarang datang sebagai kilat dari langit. Ia sering datang sebagai bisikan di tengah kesibukan: dalam kegelisahan, dalam kerinduan, dalam rasa “ada yang lebih.”
“Segera Mereka Meninggalkan…” – Keberanian untuk Melepas
Injil mencatat dengan sederhana namun tajam:
“Mereka pun segera meninggalkan jala mereka dan mengikuti Dia.”
“Mereka segera meninggalkan perahu dan ayah mereka.”
Kata “segera” penting. Bukan berarti tanpa proses batin, tetapi menunjukkan ketegasan hati.
Mengikuti Yesus selalu mengandung unsur meninggalkan.
Meninggalkan jala: sumber keamanan lama.
Meninggalkan perahu: zona nyaman.
Bahkan meninggalkan ayah: relasi dan rencana yang sudah mapan.
Ini tidak berarti Yesus menolak keluarga atau pekerjaan. Tetapi Ia ingin menjadi pusat baru. Dan setiap pusat baru menuntut penataan ulang.
Dalam renungan Katolik keluarga, ini mengajak kita bertanya: apa “jala” yang sulit kita lepaskan?
- Mungkin ego.
- Mungkin kebiasaan yang tidak sehat.
- Mungkin ambisi.
- Mungkin luka lama.
Mengikuti Yesus bukan menambah satu aktivitas rohani, tetapi mengubah orientasi hidup.
Dipanggil, Bukan Karena Sempurna, Tapi Karena Dicintai
Yesus tidak memberi tes kelayakan. Ia tidak bertanya tentang latar belakang iman. Ia tidak meminta CV rohani. Ia memanggil, dan di dalam proses mengikuti itulah mereka dibentuk.
Ini kabar gembira bagi siapa pun yang merasa belum pantas.
Dalam renungan Katolik tentang panggilan, Injil hari ini menegaskan bahwa murid-murid tidak dipilih karena siap, tetapi supaya disiapkan. Mereka tidak sudah kudus, tetapi sedang dibentuk.
Maka hidup Kristiani bukan pamer kesempurnaan, tetapi kesediaan berjalan bersama Tuhan.
Yesus Berkeliling: Mengajar, Mewartakan, Menyembuhkan
Bagian akhir Injil merangkum pelayanan Yesus:
- Ia mengajar.
- Ia mewartakan Kerajaan Allah.
- Ia menyembuhkan segala penyakit.
Ini menunjukkan wajah iman yang utuh. Iman bukan hanya soal pikiran (mengajar), bukan hanya soal kata-kata (mewartakan), dan bukan hanya soal emosi (menyembuhkan). Iman mencakup seluruh hidup.
Yesus hadir bagi tubuh dan jiwa, pribadi dan komunitas, iman dan realitas sosial.
Dalam The Katolik renungan harian, ini adalah inspirasi besar: iman Katolik tidak boleh berhenti di konten rohani, tetapi harus menyentuh luka, keresahan, dan harapan manusia modern.
Dari Kegelapan Menuju Terang
Yesaya berkata: “Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.”
Terang itu bukan ide, tetapi pribadi: Yesus sendiri.
Dan terang tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk diikuti.
Dalam dunia yang penuh kebisingan, Injil hari Minggu ini mengundang kita kembali ke dasar:
- Apakah aku masih membiarkan Kristus berjalan di pesisir hidupku?
- Apakah aku masih memberi ruang bagi panggilan-Nya?
- Ataukah hidupku sudah terlalu penuh sehingga tidak ada tempat bagi suara Tuhan?
Refleksi Pribadi
Luangkan waktu hari ini untuk merenung:
- Di bagian hidup mana aku merasa “Galilea” – biasa, gelap, tidak ideal?
- Apakah aku sungguh percaya Tuhan bisa memulai dari sana?
- Jala apa yang paling sulit aku lepaskan saat ini?
- Jika Yesus memanggilku hari ini, bagian mana dari hidupku yang Ia ingin ubah arah?
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau datang ke Galilea, ke wilayah yang dianggap gelap, dan di sanalah Engkau menyalakan terang. Datanglah juga ke dalam hidup kami, ke bagian-bagian yang belum rapi, belum sembuh, belum setia. Ajari kami berani bertobat, berani meninggalkan, dan berani mengikuti. Jadikan kami murid-murid-Mu di tengah dunia digital, di keluarga, di sekolah, dan di Gereja. Amin.
Penutup: Iman yang Dimulai dengan Satu Langkah
Empat nelayan itu tidak tahu masa depan mereka. Mereka hanya tahu satu hal: Yesus memanggil, dan mereka melangkah.
Dan mungkin, itulah inti iman: bukan mengetahui semua jawaban, tetapi mempercayai Pribadi yang memanggil.
Semoga renungan Katolik Minggu ini meneguhkan para remaja, keluarga, dan siapa pun yang membaca untuk berani melangkah dari kegelapan menuju terang, dari kebiasaan menuju panggilan, dari rasa aman menuju iman.
Demikianlah Renungan Katolik Harian Minggu, 25 Januari 2026 Bacaan Injil: Matius 4:12–23, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

