Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Renungan Hari Minggu 11 Juli 2021

Renungan Hari Minggu 11 Juli 2021

Renungan Hari Minggu 11 Juli 2021

Kitab Amos hari ini, sepertinya Tuhan tidak peduli lagi terhadap umat Israel. Imam Amazia sebagai rtepresentasi umat dan khususnya para pemimpinnya, secara terang-terangan menolak nabi Allah dan beritanya. 

Mereka yang dengan sadar menolak firman Allah akan kena hukuman dan kematian kekal; doa-doa mereka tidak akan sampai kepada Allah, sia-sia. Amazia dengan nada menghina mengusir Amos dengan sebutan “Pelihat”, dan memang para nabi biasanya mendapat penampakan atau penglihatan dari Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya (7:12). 

Amazia menyamakan Amos dengan nabi-nabi yang memangku jabatan itu dan mencari nafkahnya sebagai nabi, (bdk 1Sa 9:8+). Amazia tidak berkata bahwa Amos adalah nabi gadungan, tetapi dengan turun tangan langsung dalam menggalang opini umat ia menuduh Amos seolah-olah bersepakat melawan raja, Ams 7:10. 

Amazia sebenarnya takut kalau-kalau pemberitaan Amos mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Firman kenabian yang disampaikan Amos dianggap berdaya sehingga langsung menyebabkan kemalangan yang dinubuatkan.

Amos menjawab imam Amazia dengan rendah hati dengan mengatakan bahwa ia bukanlah seorang nabi profesional dan mengatakan bahwa ia adalah seorang gembala dan pemungut buah ara hutan. Buah ini tak bernilai tinggi, untuk menunjukkan bahwa dirinya hanyalah umat yang rendah dan sederhana.. 

Tetapi “Tuhan mengambil aku … Tuhan berfirman kepadaku”. Pengulangan nama Allah membuat jelas fakta bahwa Amos tidak bernubuat oleh kehendak manusia, tetapi karena panggilan langsung Allah, yang menjadikan dia nabi.

Mazmur,

Kehidupan orang percaya seringkali masih jatuh bangun di dalam dosa. Memang proses penyucian merupakan lorong yang sempit dan sulit dilewati. Mazmur 85 adalah doa bangsa Israel untuk kembali meminta belas kasihan Allah. Mereka mengingat pemulihan yang Allah lakukan setelah mereka dihukum akibat dosa-dosa mereka. 

Mungkin hal ini mengacu pada peristiwa pascapembuangan Babilonia. Kini mereka memohon lagi pada Allah agar Ia menyingkirkan murka-Nya berdasarkan kasih setia-Nya (ayat 5- 8). Secara tersirat, dapat disimpulkan bahwa mereka menyeleweng lagi, sehingga Allah kembali menghukum mereka.

Bangsa Israel tidak memberikan contoh yang baik ketika menyia- nyiakan pengampunan Tuhan. Namun demikian, mereka tidak tenggelam dalam rasa bersalah dan penghukuman. Mereka menyadari dosa mereka dan berbalik pada Tuhan. Tentu mereka malu ketika sekali lagi harus meminta pertolongan Allah yang mereka sakiti hati-Nya. 

Mereka tahu bahwa Allah akan memberikan keselamatan-Nya pada orang-orang yang takut akan Dia (ayat 10). Kini mereka harus mendengarkan firman Tuhan agar tidak bebal seperti anjing yang kembali ke muntahannya (ayat 9). 

Pada akhirnya, doa dan harapan dalam ayat 5-8 akan dijawab dengan kondisi shalom, sebagaimana diimani bangsa Israel (ayat 11-14). Kasih, kesetiaan, kebaikan, keadilan, dan damai sejahtera akan memerintah Israel. Inilah tanda bahwa Allah kembali menyertai mereka.

Ketika Anda kembali jatuh ke dalam dosa, beranilah berharap pada kasih setia dan keselamatan dari Allah. Berbaliklah pada-Nya, dan dengan anugerah Tuhan, jangan berbuat dosa lagi!

Paulus dalam bacaan kedua, Memuji dan Menjadi Umat Allah?

Ayat-ayat berikut ini membawa kita bermuara kepada suatu pujian kepada Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Sungguh suatu pujian yang luar biasa dan menakjubkan.

Pertama, pujian kepada Bapa. Allah yang dikenal sebagai Bapa adalah sumber segala berkat (ayat 3). Bapalah yang telah memilih kita (ayat 4). Tujuan Bapa memilih kita adalah supaya kita kudus dan tak bercacat. Bapalah yang menentukan kita menjadi anak-anak-Nya (ayat 5). Bapalah yang menganugerahkan kepada kita anugerah-Nya yang mulia (ayat 6). Bapa menyatakan kepada kita rahasia kehendak-Nya (ayat 9). Bapalah yang mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus (ayat 10). Bapa jugalah yang mengerjakan sesuatu menurut kehendak-Nya (ayat 11). Apakah puji-pujian kita menghayati kebenaran-kebenaran indah ini tentang Allah Bapa sumber dan tujuan hidup kita?

Kedua, pujian kepada Yesus. Allah Bapa memberkati kita karena Yesus Kristus. Tanpa relasi pribadi dengan Kristus, berkat-berkat yang diberikan Bapa tidak dapat kita nikmati dan alami. Di dalam Kristus, Bapa memberkati kita (ayat 3). Di dalam Yesus, Bapa memilih kita (ayat 4). Di dalam kita memperoleh penebusan (ayat 7). Di dalam Kristus, Allah Bapa mempersatukan segala sesuatu (ayat 10). Di dalam Yesus, etnis Yahudi (ayat 11,12) dan etnis nonYahudi bersatu menjadi umat Allah (ayat 13). Di dalam Yesus dua etnis yang berbeda dipersatukan. Yesuslah yang memungkinkan kita hidup penuh pujian sebab mengalami berkat-berkat Allah melalui Dia.

Ketiga, pujian kepada Roh Kudus. Allah memberkati umat-Nya dengan berkat rohani (ayat 3). Artinya, semua berkat-berkat Roh Kudus diberikan Bapa karena kita adalah umat-Nya. Roh Kudus merupakan meterai dari semua berkat yang diberikan Bapa (ayat 3). Roh Kudus adalah jeminan warisan kita (ayat 14). Karya penyelamatan Yesus Kristus boleh kita cicipi kini dan seterusnya karena Roh Kudus memungkinkan kita masuk di dalam pengalaman rohani tersebut.

Menjadi umat Allah.

Siapakah umat Allah itu? Paulus menegaskan bahwa umat Allah terdiri dari etnis Yahudi dan juga etnis nonYahudi. Hal ini dijelaskan Paulus dengan mempergunakan pronomia ‘kami dan kamu’. Pronomina ‘kami’ menunjuk pada etnis Yahudi dimana Paulus adalah anggotanya. 

Sementara pronominal ‘kamu’ menunjuk pada semua etnis di luar etnis Yahudi. Paulus menulis ‘di dalam Dialah kami … supaya kami (ayat 11, 12). Kemudian Paulus menulis ‘di dalam Dia kamu juga’ (ayat 13). 

Kedua etnis yang berbeda sekarang tidak hanya memiliki dasar yang sama yakni Yesus Kristus (ayat 11,13), tetapi juga sama-sama berada dalam Kristus, memiliki warisan yang sama dan Roh Kudus yang sama (ayat 14). Keduanya menjadi satu umat Allah.

Sekarang pertanyaannya bagaimana menjadi umat Allah? Paulus menyebut dua hal yang kelihatannya bertolak belakang. Pertama, kehendak Allah (ayat 5,9,11). Manusia dari segala etinis menjadi umat Allah karena dan oleh kehendak Allah. Persatuan dua etnis yang bertentangan bukanlah keinginan atau hasil usaha manusia. 

Kedua, pemberitaan Injil (ayat 13). Tanpa pemberitaan Injil iman tidak mungkin lahir. Jika tidak ada yang memberitakan Injil tidak mungkin etnis Yahudi dan nonYahudi memiliki iman pada Yesus. Injil ini disebut Paulus sebagai Injil keselamatan (ayat 13).

 Relasi kehendak Allah dan pemberitaan Injil dapat dirumuskan: “Pemberitaan Injil adalah satu-satunya sarana yang ditetapkan Allah dalam melepaskan manusia dari kebutaan dan perbudakan mereka yang dipilih-Nya dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, membebaskan mereka untuk percaya pada Yesus, dan dengan demikian kehendak-Nya terjadi”. Jelas bahwa memberitakan Injil berarti memberlakukan kehendak Allah. 

Juga memberitakan Injil menghasilkan persekutuan umat manusia menurut cara yang tidak dapat dibuat oleh usaha-usaha manusia.

Injil hari ini, Pelayan Tuhan

Penolakan orang banyak untuk memercayai Yesus membuat Dia mengalihkan perhatian dari orang banyak, untuk kemudian mengajar dan melatih murid-murid-Nya (Mrk. 6:6b-8:30). Ini merupakan bagian penting dari pelayanan Yesus karena merupakan persiapan bagi para murid untuk pelayanan di masa-masa yang akan datang.

Sebagai bagian dari pelatihan, Yesus mengutus murid-murid-Nya pergi berdua-berdua (ayat 7). Fakta ini mengajar kita tentang pentingnya persekutuan dan kerja sama dalam melayani Tuhan. Dua orang tentu bisa bekerja lebih baik daripada seorang diri. Mereka dapat saling menguatkan.

Kemudian Yesus memperlengkapi mereka dengan kuasa atas roh jahat. Namun mereka tidak boleh membawa perbekalan (ayat 8-9). Lalu bagaimana mereka memenuhi kebutuhan? Mereka harus bergantung pada Allah. Dengan cara demikian, Yesus memang ingin mengajar mereka beriman bahwa Allah sanggup menyediakan keperluan mereka. 

Sebab itu mereka tidak boleh pilih-pilih tempat tinggal, apalagi karena alasan ingin mencari tempat yang lebih nyaman (ayat 10).

Lalu bagaimana bila orang tidak mau menerima mereka? Tentu mereka tidak boleh merasa rendah diri, takut, apalagi jadi mundur. Mereka harus bertindak atas otoritas yang Tuhan telah berikan pada mereka. Sebab itu mereka harus memperingatkan orang tersebut (ayat 11). 

Setelah Yesus mempersiapkan mereka, mereka pun pergi memberitakan pertobatan (ayat 12), mengusir setan-setan, dan menyembuhkan yang sakit (ayat 13). Dengan melakukan semua itu, mereka menunjukkan bahwa kerajaan Allah datang dengan kuasa.

Dari perikop ini, kita belajar bahwa pelayan Tuhan harus hidup bergantung pada Allah. Baik dalam melakukan tugasnya maupun dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya. Namun bagi kita yang dilayani, itu bukan alasan bagi kita untuk tidak memperhatikan kebutuhan hamba-hamba Tuhan yang melayani kita. Melalui kitalah, Tuhan menyatakan pemeliharaan-Nya atas pelayan-pelayan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Post a Comment for "Renungan Hari Minggu 11 Juli 2021"