Renungan Katolik Harian Jumat, 9 Januari 2026 Bacaan Injil : Lukas 5:12-16

Renungan Katolik Harian Jumat, 9 Januari 2026 Bacaan Injil : Lukas 5:12-16

✨ Renungan Katolik Harian Jumat, 9 Januari 2026 Bacaan Injil : Lukas 5:12-16

“Tuhan, Jika Engkau Mau, Engkau Dapat Mentahirkan Aku”

(Lukas 5:12-16)

Dalam Injil Lukas 5:12-16, kita berjumpa dengan seorang yang penuh kusta—seorang yang terbuang, dianggap najis, dijauhi, bahkan dinilai sebagai hukuman Tuhan oleh masyarakat pada zamannya. Namun hari itu hidupnya berubah total. Ia tidak hanya disembuhkan, tetapi dipuji, disentuh, dan dipulihkan martabatnya oleh Yesus.

Kisah ini bukan sekadar mukjizat fisik. Inilah potret mendalam tentang belas kasih Tuhan, sebuah pesan yang tetap relevan bagi kita yang hidup di era digital yang sering penuh komentar pedas, penolakan, dan luka batin tersembunyi.

1. “Tuhan, jika Engkau mau…” — doa yang lahir dari keputusasaan dan iman

Kalimat pendek ini adalah salah satu doa terindah dalam Kitab Suci. Bukan panjang, bukan rumit, tetapi jujur dan menyerah pada kasih Tuhan.

Orang kusta itu tidak menuntut, tidak memaksa, tidak memanipulasi. Ia hanya berseru dengan hati yang hancur:

“Jika Engkau mau…”

Inilah bentuk kerendahan hati rohani yang sangat dalam. Ia meyakini kuasa Yesus (“Engkau dapat mentahirkan aku”), tetapi ia juga membiarkan Tuhan menjadi Tuhan.

Di dunia digital yang serba instan, kita sering ingin Tuhan menjawab cepat, menjawab sesuai rencana kita. Renungan Katolik harian ini mengajak kita kembali ke doa yang tulus:

Tuhan, aku percaya Engkau mampu. Tapi biarlah Engkau yang memimpin.

2. Yesus menyentuh yang tidak boleh disentuh

Dalam tradisi Yahudi, menyentuh orang kusta berarti ikut menjadi najis. Tetapi Yesus justru melampaui batas itu. Ia bukan hanya berkata, “Aku mau.” Ia juga menyentuh.

Inilah puncak belas kasih.

Sentuhan-Nya bukan sekadar menyembuhkan tubuh; itu memulihkan identitas, harga diri, dan rasa dicintai.

Banyak dari kita mungkin tidak menderita kusta secara fisik, tetapi kita membawa kusta batin:

  • luka masa lalu
  • rasa tidak layak
  • dosa yang memalukan
  • kegagalan yang tak ingin kita ceritakan
  • kelelahan yang kita sembunyikan di balik senyum media sosial

Hari ini, Tuhan ingin menyentuh bagian itu.

Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan.

3. “Pergilah… dan persembahkanlah kurban…” — mukjizat diiringi ketaatan

Setelah disembuhkan, Yesus meminta orang itu pergi kepada imam dan melakukan sesuai hukum Musa.

Mengapa?

Karena mukjizat harus diiringi ketaatan, bukan euforia.

Pemulihan tidak berhenti pada pengalaman emosional; ia menghasilkan hidup yang baru, langkah yang tertata, dan iman yang terwujud dalam tindakan nyata.

Sering kali kita ingin rasanya saja—merasa disembuhkan, merasa dipulihkan—tetapi tidak mau melangkah dalam ketaatan sehari-hari: berdoa, berdamai, mengampuni, hidup jujur.

Renungan ini mengajak kita merenung:

Sudahkah aku menanggapi kasih Allah dengan ketaatan, bukan hanya perasaan?

4. Yesus “mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa”

Di tengah kesuksesan pelayanan, di tengah orang-orang yang terus mencari Dia, Yesus memilih sunyi.

Ia tidak mencari popularitas.

Ia tidak mengejar pusat perhatian.

Ia kembali kepada Bapa.

Ini adalah contoh spiritualitas Katolik yang penting bagi generasi digital:

ketika notifikasi merajalela, ketika hidup dipenuhi hiruk-pikuk pekerjaan dan media sosial, kita membutuhkan ruang sunyi untuk kembali menjadi diri kita di hadapan Allah.

Renungan harian Katolik ini mengajak kita menata ulang ritme rohani:

Apakah aku menyediakan waktu sunyi setiap hari untuk berjumpa Tuhan?

Tanpa itu, hati perlahan kosong meskipun aktivitas rohani banyak.

5. Pesan untuk hidup kita hari ini

Bacaan Injil hari ini memberi tiga pesan tegas:

A. Datanglah dengan jujur seperti orang kusta

Bukan dengan pencitraan rohani, tetapi dengan luka apa adanya.

B. Izinkan Yesus menyentuh bagian hidup yang paling kamu sembunyikan

Sebab belas kasih-Nya lebih besar daripada rasa malu kita.

C. Setelah disembuhkan, hiduplah dalam ketaatan

Iman tidak berhenti pada emosi; iman adalah perjalanan.

D. Sediakan ruang sunyi

Pertumbuhan rohani lahir dari keheningan bersama Tuhan.

Doa Renungan

Tuhan Yesus,

Aku datang kepada-Mu seperti orang kusta itu—dengan luka, kelemahan, dan dosa yang sering aku sembunyikan.

Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.

Sentuhlah bagian hidupku yang rapuh, pulihkanlah batinku,

dan ajarlah aku hidup dalam ketaatan serta kesetiaan.

Amin.

Demikianlah Renungan Katolik Harian Jumat, 9 Januari 2026 Bacaan Injil : Lukas 5:12-16, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url