Maria Mater Dolorosa: Bunda Berdukacita 15 September
Maria Mater Dolorosa: Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita 15 September
Setiap tanggal 15 September, Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita, yang juga dikenal dengan sebutan Maria Mater Dolorosa, Our Lady of Sorrows, atau Bunda Maria Berdukacita. Peringatan ini mengajak umat beriman merenungkan penderitaan yang dialami Bunda Maria sepanjang hidupnya, terutama ketika ia menyaksikan sengsara dan wafat Putranya, Yesus Kristus.
Kata Latin Mater Dolorosa berarti “Bunda yang Berdukacita” atau “Bunda Penuh Dukacita”. Gelar ini bukan sekadar menggambarkan kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dalam spiritualitas Katolik, Maria Mater Dolorosa memperlihatkan seorang perempuan beriman yang tetap berdiri bersama Kristus bahkan ketika jalan yang harus ditempuh dipenuhi penderitaan.
Maria tidak melarikan diri dari salib. Ia tetap hadir.
Di bawah salib Kristus, Maria menjadi saksi penderitaan Putranya sekaligus teladan iman yang bertahan dalam kegelapan. Karena itu, Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita 15 September memiliki pesan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: bagaimana tetap percaya kepada Allah ketika doa seolah belum mendapatkan jawaban, ketika kehilangan datang, dan ketika kehidupan berjalan tidak seperti yang diharapkan.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Mengapa Maria Mater Dolorosa Diperingati pada 15 September?
Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita dirayakan Gereja pada tanggal 15 September, sehari setelah Pesta Salib Suci pada 14 September.
Penempatan kedua perayaan ini secara berdekatan mempunyai makna rohani yang kuat. Pada tanggal 14 September, Gereja memandang dan memuliakan salib Kristus sebagai tanda kemenangan keselamatan. Sehari kemudian, umat diajak memandang Maria yang berdiri di dekat salib Putranya.
Salib Kristus dan dukacita Maria dengan demikian direnungkan dalam hubungan yang erat.
Namun, Maria tidak menjadi pusat keselamatan menggantikan Kristus. Yesus Kristus tetap satu-satunya Penebus dan pusat misteri keselamatan. Maria hadir sebagai Bunda yang dengan iman menyertai perjalanan Putranya dan menerima kehendak Allah dengan kesetiaan yang luar biasa.
Di dalam Injil Yohanes dikisahkan bahwa Maria berada dekat salib Yesus bersama beberapa perempuan lainnya dan murid yang dikasihi.
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya...”
— Yohanes 19:25
Satu kata sangat penting dalam gambaran ini: berdiri.
Maria berdiri di bawah salib.
Ia tidak dapat menghentikan penderitaan Putranya. Ia tidak dapat mengambil alih salib-Nya. Namun, ia dapat tetap berada di sana dan menemani-Nya sampai akhir.
Inilah salah satu gambaran paling kuat tentang kesetiaan Maria.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Arti Mater Dolorosa
Istilah Mater Dolorosa berasal dari bahasa Latin. Mater berarti “ibu” atau “bunda”, sedangkan dolorosa berarti “yang berdukacita” atau “yang mengalami kesedihan”.
Dalam tradisi Kristiani, gelar ini digunakan untuk menghormati Bunda Maria dalam hubungannya dengan penderitaan Kristus.
Devosi kepada Bunda Maria Berdukacita berkembang selama perjalanan panjang kehidupan Gereja. Renungan mengenai dukacita Maria memperoleh tempat khusus dalam spiritualitas Kristen, termasuk melalui meditasi mengenai Tujuh Dukacita Maria.
Gambaran Mater Dolorosa juga banyak ditemukan dalam seni Kristen. Maria sering digambarkan dengan wajah penuh kesedihan, berada di bawah salib, memangku tubuh Kristus setelah diturunkan dari salib, atau dengan hati yang ditembus pedang.
Pedang tersebut mengingatkan umat pada nubuat Simeon kepada Maria:
“...dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri...”
— Lukas 2:35
Nubuat itu seakan menjadi bayangan awal dari penderitaan yang kelak dialami Maria sebagai ibu Yesus.
Baca juga: Santo Yohanes Gabriel Dufresse, Martir 14 September
Nubuat Simeon tentang Dukacita Maria
Salah satu dasar Kitab Suci yang penting dalam devosi kepada Maria Mater Dolorosa terdapat dalam kisah Yesus dipersembahkan di Bait Allah.
Ketika Maria dan Yusuf membawa Kanak-kanak Yesus ke Yerusalem, mereka bertemu Simeon. Orang saleh itu mengenali Yesus sebagai keselamatan yang telah dipersiapkan Allah.
Namun, Simeon juga menyampaikan kata-kata yang berat kepada Maria.
Ia mengatakan bahwa Anak itu akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan dan bahwa sebuah pedang akan menembus jiwa Maria.
Maria tentu tidak mengetahui secara terperinci bagaimana nubuat itu akan terpenuhi. Tetapi kehidupan selanjutnya menunjukkan bahwa menjadi Bunda Sang Mesias tidak berarti terbebas dari penderitaan.
Maria harus membawa Yesus mengungsi. Ia pernah mencari-Nya dengan cemas. Ia menyaksikan penolakan terhadap Putranya. Dan pada akhirnya, ia menyaksikan Yesus dihukum, disalibkan, dan wafat.
Iman Maria karena itu bukanlah iman yang hanya hadir ketika semuanya berjalan baik.
Imannya diuji melalui penderitaan.
Baca juga: Santa Katarina dari Genoa, Janda – 15 September
Maria Tetap Percaya di Tengah Ketidakpastian
Ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel, Maria menjawab dengan penyerahan:
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
— Lukas 1:38
Jawaban tersebut bukan hanya berlaku pada saat Kabar Sukacita.
“Ya” Maria kepada Allah harus terus dihidupi sepanjang hidupnya, termasuk ketika rencana Allah menjadi sulit dipahami.
Di Betlehem, Maria melihat Sang Putra lahir dalam kesederhanaan. Ketika Herodes mengancam kehidupan Kanak-kanak Yesus, keluarga itu harus mengungsi. Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, Maria melihat berbagai tanggapan terhadap-Nya. Dan di Kalvari, Maria menyaksikan Putra yang dahulu digendongnya kini tergantung pada salib.
Kesetiaan Maria mencapai salah satu puncaknya di bawah salib.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Selasa, 15 September 2026 Yohanes 19-25-27
Tujuh Dukacita Bunda Maria
Tradisi Katolik secara khusus mengenal Tujuh Dukacita Maria. Ketujuh peristiwa ini membantu umat merenungkan perjalanan iman Bunda Maria dalam hubungannya dengan misteri kehidupan, sengsara, dan wafat Kristus.
1. Nubuat Simeon
Dukacita pertama adalah nubuat Simeon dalam Lukas 2:34–35.
Simeon mengatakan bahwa Yesus akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan dan bahwa pedang akan menembus jiwa Maria.
Sejak awal kehidupan Yesus, Maria menerima kenyataan bahwa panggilannya sebagai Bunda Mesias akan berhubungan dengan misteri penderitaan.
Bagi umat beriman, peristiwa ini mengajarkan bahwa mengikuti kehendak Allah tidak selalu berarti memperoleh kehidupan tanpa kesulitan. Terkadang kesetiaan justru meminta keberanian untuk berjalan bersama Tuhan melewati sesuatu yang belum sepenuhnya dimengerti.
2. Pelarian ke Mesir
Dukacita kedua adalah pelarian Keluarga Kudus ke Mesir sebagaimana dikisahkan dalam Matius 2:13–15.
Herodes ingin membunuh Kanak-kanak Yesus. Yusuf diperingatkan dalam mimpi untuk membawa Yesus dan Maria mengungsi ke Mesir.
Bayangkan keadaan Maria.
Ia baru saja melahirkan, tetapi keluarganya harus meninggalkan tempat tinggal dan pergi ke negeri asing demi menyelamatkan anaknya.
Dalam peristiwa ini, Maria dekat dengan pengalaman keluarga-keluarga yang hidup dalam ketidakpastian, pengungsian, ancaman, dan kehilangan rasa aman.
3. Yesus Hilang di Bait Allah
Dukacita ketiga terjadi ketika Yesus berusia dua belas tahun dan tertinggal di Yerusalem.
Maria dan Yusuf mencari-Nya selama tiga hari dengan penuh kecemasan sebelum akhirnya menemukan Yesus di Bait Allah.
Maria berkata:
“Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”
— Lukas 2:48
Peristiwa ini memperlihatkan sisi manusiawi kehidupan Maria. Ia mengenal kecemasan seorang ibu.
Namun, Injil juga menunjukkan bahwa Maria menyimpan berbagai perkara itu di dalam hatinya. Ia terus merenungkan misteri Putranya meskipun tidak selalu langsung memahami segala sesuatu.
4. Maria Bertemu Yesus dalam Perjalanan Menuju Kalvari
Tradisi devosional Gereja merenungkan perjumpaan Maria dengan Yesus yang sedang membawa salib menuju Kalvari sebagai dukacita keempat.
Perjumpaan ini juga dikenal dalam devosi Jalan Salib, khususnya pada perhentian keempat.
Kitab Suci tidak memberikan kisah terperinci mengenai perjumpaan tersebut dalam perjalanan menuju Golgota. Karena itu, detailnya hendaknya dipahami sebagai bagian dari tradisi devosional, bukan sebagai uraian eksplisit Injil.
Meskipun demikian, Injil dengan jelas menempatkan Maria dalam rangkaian peristiwa sengsara Kristus dan terutama di dekat salib-Nya.
Renungan ini mengajak umat membayangkan penderitaan seorang ibu yang melihat anaknya diperlakukan dengan kejam tetapi tidak mampu menghentikannya.
5. Maria Berdiri di Bawah Salib Yesus
Dukacita kelima membawa kita langsung ke Kalvari.
Injil Yohanes mencatat bahwa Maria berdiri dekat salib Yesus.
Di tengah penderitaan-Nya, Yesus berkata kepada Maria:
“Ibu, inilah anakmu!”
Kemudian kepada murid yang dikasihi-Nya:
“Inilah ibumu!”
Lalu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya.
Dalam tradisi Katolik, perkataan Kristus ini memiliki kedalaman rohani yang besar. Maria yang adalah Bunda Yesus juga dipandang dalam relasinya sebagai Bunda bagi para murid Kristus dan Bunda Gereja.
Di Kalvari, Maria tidak berhenti menjadi murid karena penderitaan.
Ia justru menunjukkan bagaimana seorang murid tetap tinggal bersama Kristus ketika banyak hal tidak dapat dipahami.
6. Jenazah Yesus Diturunkan dari Salib
Dukacita keenam berhubungan dengan tubuh Yesus yang diturunkan dari salib setelah wafat-Nya.
Tradisi seni Kristen menghasilkan salah satu gambaran paling terkenal mengenai peristiwa ini: Pietà, yaitu Maria memangku tubuh Kristus yang telah wafat.
Kitab Suci tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Maria memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari salib. Gambaran Pietà merupakan perkembangan tradisi devosi dan seni Kristen.
Namun, maknanya sangat kuat.
Bunda yang dahulu menggendong Kanak-kanak Yesus kini direnungkan sedang menerima tubuh Putranya yang telah menyerahkan hidup bagi keselamatan dunia.
Dalam keheningan itu, cinta seorang ibu bertemu dengan misteri salib.
7. Yesus Dimakamkan
Dukacita ketujuh adalah pemakaman Yesus.
Tubuh Kristus dibaringkan dalam makam. Batu ditutupkan di depan pintunya.
Bagi para murid, tampaknya semuanya telah berakhir.
Maria berada dalam misteri keheningan antara Jumat Agung dan kebangkitan. Gereja merenungkan kesetiaannya sebagai iman yang tetap berharap kepada Allah sekalipun kemenangan belum terlihat.
Di sinilah Maria Mater Dolorosa menjadi teladan bagi umat yang sedang mengalami masa-masa ketika Tuhan terasa diam.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 15 September 2026 Berdiri Teguh Bersama Maria di Bawah Salib
Maria Mater Dolorosa di Bawah Salib Kristus
Pusat peringatan Bunda Maria Berdukacita bukanlah kesedihan demi kesedihan itu sendiri.
Pusatnya tetap Yesus Kristus dan misteri keselamatan-Nya.
Maria membawa umat kepada Kristus.
Ketika Gereja memandang dukacita Maria, Gereja sebenarnya sedang diajak memandang lebih dalam harga kasih Kristus yang menyerahkan diri bagi manusia.
Maria berada dekat dengan salib bukan sebagai pengganti Kristus, melainkan sebagai ibu dan murid yang setia.
Ia menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu dapat menghilangkan penderitaan orang yang dicintai. Kadang-kadang bentuk cinta yang paling mendalam adalah tetap hadir.
Maria tetap hadir ketika Kristus menderita.
Inilah spiritualitas kehadiran yang sangat relevan bagi kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang yang kita kasihi sakit, kita mungkin tidak dapat menyembuhkannya. Ketika seorang sahabat berduka, kita mungkin tidak memiliki kata-kata yang mampu menghapus kesedihannya. Ketika keluarga menghadapi masalah, kita mungkin tidak mempunyai solusi seketika.
Tetapi kita dapat hadir.
Maria mengajarkan nilai kehadiran yang setia.
Apakah Umat Katolik Menyembah Maria?
Peringatan Maria Mater Dolorosa juga menjadi kesempatan untuk memahami dengan tepat penghormatan Gereja Katolik kepada Bunda Maria.
Umat Katolik tidak menyembah Maria sebagai Allah.
Penyembahan diberikan hanya kepada Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Maria dihormati karena perannya yang unik dalam sejarah keselamatan sebagai Bunda Yesus Kristus dan karena teladan imannya. Penghormatan kepada Maria pada akhirnya harus mengarahkan umat kepada Kristus.
Karena itu, ketika umat merenungkan dukacita Maria, tujuan akhirnya bukan berhenti pada penderitaan Maria, melainkan semakin memahami kasih Kristus dan belajar mengikuti-Nya dengan setia.
Baca Juga:Doa Litani Tujuh Duka Maria
Makna Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita bagi Umat Katolik
1. Iman Tidak Menghilangkan Semua Penderitaan
Kehidupan Maria menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak berarti kehidupan akan bebas dari masalah.
Maria adalah seorang yang dipenuhi rahmat, tetapi ia tetap mengalami penderitaan.
Hal ini penting bagi kehidupan rohani.
Ketika kesulitan datang, seseorang mungkin bertanya:
“Apakah Tuhan meninggalkan saya?”
Maria Mater Dolorosa mengingatkan kita bahwa penderitaan bukan dengan sendirinya tanda ketidakhadiran Allah.
Di Kalvari, ketika situasinya tampak paling gelap, rencana keselamatan Allah justru sedang mencapai puncaknya.
2. Tetap Berdiri di Dekat Salib
Maria berdiri dekat salib.
Sikap ini dapat menjadi gambaran kehidupan iman.
Ada saatnya kita dapat melakukan banyak hal. Ada pula saatnya kita tidak dapat mengubah keadaan dan hanya dapat tetap setia.
Dalam situasi seperti itu, iman berkata:
“Tuhan, aku mungkin tidak memahami semuanya, tetapi aku tetap bersama-Mu.”
Itulah semangat Mater Dolorosa.
3. Belajar Menemani Orang yang Menderita
Dunia sering menawarkan banyak kata kepada orang yang sedang berduka, padahal tidak semua penderitaan membutuhkan penjelasan.
Kadang-kadang orang hanya membutuhkan seseorang yang mau tinggal bersama mereka.
Maria memberikan teladan tersebut.
Ia tidak memberikan khotbah panjang di Kalvari. Ia hadir.
Bagi keluarga, komunitas, dan umat paroki, peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita dapat menjadi panggilan untuk lebih peka terhadap mereka yang sedang sakit, berduka, kesepian, atau menghadapi persoalan hidup.
4. Membawa Dukacita kepada Tuhan
Kesedihan tidak perlu disembunyikan dari Allah.
Kitab Suci penuh dengan doa orang-orang yang berseru kepada Tuhan dalam penderitaan.
Iman Katolik tidak mengajarkan bahwa orang beriman harus berpura-pura selalu bahagia. Sebaliknya, segala pengalaman manusia dapat dibawa ke hadapan Allah.
Maria Mater Dolorosa menunjukkan bahwa dukacita dapat dijalani dalam iman.
Air mata tidak selalu berarti hilangnya kepercayaan.
Seseorang dapat menangis dan tetap berharap.
5. Salib Bukan Akhir Cerita
Peringatan Bunda Maria Berdukacita tidak dapat dipisahkan dari misteri Paskah.
Yesus yang wafat di salib adalah Yesus yang bangkit.
Karena itu, dukacita Maria tidak berakhir dalam keputusasaan.
Bagi umat Kristiani, penderitaan dan kematian bukan kata terakhir. Kebangkitan Kristus menjadi dasar pengharapan bahwa Allah mampu membawa kehidupan dari kematian dan terang dari kegelapan.
Teladan Maria Mater Dolorosa dalam Kehidupan Sehari-hari
Peringatan 15 September tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan mengenai sejarah atau tradisi Gereja.
Teladan Maria dapat diterapkan secara konkret.
Ketika menghadapi masalah keluarga, belajarlah untuk tidak segera menyerah.
Ketika seseorang yang kita kasihi menderita, berusahalah hadir meskipun kita tidak mempunyai solusi.
Ketika doa belum dijawab sesuai harapan, tetaplah percaya kepada Allah.
Ketika masa depan terasa tidak pasti, ingatlah Maria yang terus berjalan bersama Tuhan bahkan ketika ia belum memahami seluruh rencana-Nya.
Dan ketika memikul salib kehidupan, jangan memikulnya sendirian.
Datanglah kepada Kristus dalam doa, Ekaristi, Kitab Suci, dan kehidupan Gereja. Kita juga dapat memohon doa Bunda Maria agar ia menyertai perjalanan kita menuju Putranya.
Devosi kepada Bunda Maria Berdukacita
Salah satu bentuk devosi yang berkaitan erat dengan peringatan ini adalah Devosi Tujuh Dukacita Bunda Maria.
Umat dapat merenungkan tujuh dukacita tersebut sambil berdoa dan memandang setiap peristiwa dalam terang kehidupan Kristus.
Tujuan devosi ini bukan sekadar membangkitkan rasa sedih.
Renungan atas dukacita Maria hendaknya membawa umat kepada pertobatan, kasih kepada Kristus, kesabaran dalam penderitaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Devosi Maria yang sehat selalu bersifat Kristosentris, yaitu membawa umat semakin dekat kepada Yesus Kristus.
Renungan 15 September: Belajar Berdiri Bersama Maria
Mungkin salah satu kata paling sederhana untuk direnungkan pada peringatan Maria Mater Dolorosa adalah:
berdiri.
Maria berdiri dekat salib.
Dalam hidup, kita juga memiliki “Kalvari” masing-masing: kegagalan, kehilangan, penyakit dalam keluarga, konflik, kecemasan akan masa depan, kesulitan ekonomi, atau doa yang belum mendapatkan jawaban seperti yang kita inginkan.
Godaan terbesar dalam keadaan demikian adalah kehilangan harapan.
Maria mengajarkan jalan lain.
Tetaplah berdiri bersama Kristus.
Bukan karena kita selalu mengerti.
Bukan karena rasa sakit sudah hilang.
Tetapi karena kita percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.
Iman bukan kemampuan mengetahui semua jawaban. Iman adalah keberanian untuk tetap menyerahkan diri kepada Allah.
Ketika Maria berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu,” ia belum mengetahui seluruh perjalanan yang akan dilewatinya.
Namun, ia tetap setia.
Dari Nazaret sampai Betlehem.
Dari pengungsian ke Mesir sampai kehidupan tersembunyi di Nazaret.
Dari pelayanan Yesus sampai Kalvari.
Dan dari salib menuju pengharapan akan kebangkitan.
Karena itu, Bunda Maria Berdukacita menjadi sahabat rohani bagi mereka yang sedang membawa beban.
Kita dapat memohon:
“Bunda Maria, doakanlah kami agar mampu tetap setia kepada Kristus ketika hidup terasa berat.”
Bukan agar Maria menggantikan Kristus, tetapi agar melalui teladan dan doanya, kita semakin dekat kepada Putranya.
Doa kepada Tuhan pada Peringatan Maria Mater Dolorosa
Ya Allah, Bapa yang penuh kasih,
Engkau menghendaki Santa Perawan Maria berdiri dengan setia di dekat salib Putra-Mu.
Kami bersyukur atas teladan iman Bunda Maria yang tetap percaya kepada-Mu di tengah penderitaan dan dukacita.
Ketika kami menghadapi salib kehidupan, kuatkanlah iman kami. Ketika hati kami terluka, jangan biarkan kami kehilangan pengharapan. Ketika orang-orang yang kami kasihi menderita, ajarlah kami untuk hadir dengan kasih sebagaimana Maria hadir bersama Yesus.
Semoga dengan meneladan kesetiaan Bunda Maria dan melalui doa-doanya bagi kami, kami semakin dekat kepada Yesus Kristus, Putra-Mu, dan berani mengikuti-Nya dalam suka maupun duka.
Bunda Maria Berdukacita, doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
Penutup: Maria Mater Dolorosa, Bunda yang Tetap Setia
Pada 15 September, Gereja mengajak kita memandang Maria Mater Dolorosa, Santa Perawan Maria Berdukacita.
Kita melihat seorang ibu yang mengenal rasa sakit.
Namun, lebih dari itu, kita melihat seorang murid yang tetap setia.
Maria berada dekat salib Kristus ketika banyak orang meninggalkan-Nya. Ia tidak mampu menghentikan penderitaan Putranya, tetapi ia memberikan sesuatu yang sangat berharga: kehadiran dan kesetiaan.
Teladan tersebut tetap relevan bagi umat Kristiani hari ini.
Ketika kehidupan mudah, percaya kepada Tuhan mungkin terasa sederhana. Tetapi ketika salib datang, iman kita diuji.
Maria Mater Dolorosa mengajarkan:
Tetaplah dekat dengan Yesus.
Ketika tidak memahami jalan-Nya, tetaplah percaya.
Ketika doa belum terjawab, tetaplah berharap.
Ketika hati terluka, bawalah luka itu kepada Tuhan.
Dan ketika orang lain menderita, jangan buru-buru meninggalkan mereka. Hadirlah sebagaimana Maria hadir di Kalvari.
Sebab salib bukanlah akhir.
Sesudah Jumat Agung datanglah Paskah.
Di dalam Kristus, penderitaan tidak memiliki kata terakhir. Kasih Allah dan kehidupan kekal adalah pengharapan kita.
Santa Perawan Maria Berdukacita, doakanlah kami.
Bagikan Renungan Ini 🙏
Jika renungan Maria Mater Dolorosa ini menguatkan hati dan iman Anda, jangan simpan untuk diri sendiri.
Bagikan kepada keluarga, sahabat, grup WhatsApp, komunitas lingkungan, dan umat di paroki Anda. Mungkin ada seseorang yang hari ini sedang berduka, terluka, kehilangan harapan, atau sedang memikul salib kehidupan dan membutuhkan penguatan iman.
Satu kali Anda membagikan renungan ini, bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk kembali mengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Mari ikut mewartakan kasih Kristus melalui hal sederhana: baca, renungkan, lalu bagikan.
🙏 Bagikan di WhatsApp
📘 Bagikan di Facebook
❤️ Kirimkan kepada seseorang yang membutuhkan penguatan hari ini
Santa Perawan Maria Berdukacita, doakanlah kami.
Semoga melalui teladan Bunda Maria, kita tetap setia berdiri bersama Kristus dalam suka maupun duka.
Demikianlah Maria Mater Dolorosa: Bunda Berdukacita 15 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
