Santa Ruth 1 September: Teladan Kesetiaan dan Iman

Santa Ruth 1 September, perempuan Moab dalam Kitab Suci dan leluhur Raja Daud yang menjadi teladan kesetiaan dan iman kepada Allah

Santo Santa 1 September: Santa Ruth, Teladan Kesetiaan dan Iman kepada Allah

Dalam kalender Santo Santa 1 September, umat Katolik mengenal beberapa tokoh iman yang dapat menjadi inspirasi kehidupan rohani. Salah satunya adalah Ruth, perempuan Moab yang kisah hidupnya diabadikan dalam Kitab Ruth dalam Perjanjian Lama. Sejumlah sumber kalender orang kudus Katolik di Indonesia mencantumkan Ruth pada tanggal 1 September dan menyebutnya sebagai tokoh yang hidup sekitar abad ke-11 sebelum Masehi.

Ruth bukan seorang martir, biarawati, ataupun tokoh Gereja dalam pengertian zaman Perjanjian Baru. Ia adalah tokoh Kitab Suci Perjanjian Lama. Karena itu, ketika nama Ruth disebut sebagai “Santa Ruth” dalam tradisi atau kalender devosi tertentu, kita perlu memahami gelar tersebut dalam konteks penghormatan kepada orang-orang kudus Perjanjian Lama, bukan seolah-olah Ruth pernah melalui proses kanonisasi modern.

Kisah Ruth sangat istimewa karena memperlihatkan bagaimana Allah berkarya melalui kehidupan seorang perempuan asing yang sederhana. Ia mengalami kehilangan, kemiskinan, perpindahan tempat tinggal, dan ketidakpastian masa depan. Namun justru melalui kesetiaan dan kepercayaannya, Ruth masuk ke dalam sejarah keselamatan: ia menjadi leluhur Raja Daud dan, dalam silsilah Injil Matius, namanya tercantum dalam garis keturunan Yesus Kristus.

Kisah Ruth 1 September dengan demikian bukan hanya cerita keluarga dari masa lampau. Kehidupannya membawa pesan tentang kesetiaan, keberanian, kasih kepada keluarga, penerimaan terhadap orang asing, serta penyelenggaraan Allah yang sering bekerja melalui peristiwa-peristiwa sederhana.

Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman

Siapakah Ruth dalam Kitab Suci?

Ruth adalah seorang perempuan Moab yang kisahnya diceritakan dalam Kitab Ruth, salah satu kitab Perjanjian Lama. Kisahnya berlangsung pada zaman ketika para hakim memerintah Israel.

Kitab Ruth dimulai dengan situasi yang sulit. Kelaparan melanda tanah Israel sehingga seorang laki-laki bernama Elimelekh meninggalkan Betlehem di wilayah Yehuda bersama istrinya, Naomi, dan kedua putranya, Mahlon dan Kilyon. Mereka pergi ke negeri Moab dan tinggal sebagai pendatang di sana.

Di Moab, kehidupan keluarga tersebut berubah secara tragis. Elimelekh meninggal dunia. Kedua putranya kemudian menikah dengan perempuan Moab bernama Orpa dan Ruth. Namun setelah beberapa tahun, Mahlon dan Kilyon juga meninggal. Naomi pun kehilangan suami dan kedua putranya.

Dalam masyarakat kuno, keadaan seperti itu sangat berat. Seorang janda tidak hanya menghadapi kesedihan karena kehilangan orang yang dicintainya, tetapi juga dapat menghadapi kesulitan ekonomi dan ketidakpastian mengenai perlindungan sosial.

Di tengah keadaan itulah karakter Ruth mulai terlihat.

Ketika Naomi memutuskan kembali ke Betlehem, ia meminta kedua menantunya untuk tetap tinggal di Moab dan membangun kehidupan baru. Orpa akhirnya kembali kepada keluarganya, sedangkan Ruth mengambil keputusan yang berbeda.

Ia memilih mengikuti Naomi.

Keputusan inilah yang menjadi salah satu titik terpenting dalam kisah hidup Santa Ruth.

Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik

Ruth dan Naomi: Kesetiaan yang Tidak Mudah Dipatahkan

Hubungan antara Ruth dan Naomi merupakan salah satu gambaran kesetiaan yang paling indah dalam Kitab Suci.

Ruth sebenarnya mempunyai alasan yang sangat masuk akal untuk tinggal di Moab. Ia masih relatif muda dan dapat kembali kepada keluarganya. Ia juga dapat menikah lagi dan memulai kehidupan baru di tanah kelahirannya.

Sebaliknya, mengikuti Naomi berarti memasuki masa depan yang penuh ketidakpastian.

Ruth akan meninggalkan tanah kelahirannya, masyarakatnya, dan lingkungan yang dikenalnya. Ia akan pergi ke negeri Israel sebagai seorang perempuan Moab dan seorang janda.

Namun Ruth memilih kesetiaan.

Dalam Ruth 1:16-17 terdapat pernyataan Ruth kepada Naomi yang menjadi salah satu bagian paling terkenal dari Kitab Ruth. Intinya, Ruth menyatakan bahwa ke mana Naomi pergi, ia akan pergi; bangsa Naomi akan menjadi bangsanya dan Allah Naomi akan menjadi Allahnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan Ruth bukan hanya keputusan emosional karena kasihnya kepada ibu mertuanya. Di dalamnya juga terdapat dimensi iman.

Ruth Memilih Allah Israel

Kalimat bahwa Allah Naomi akan menjadi Allah Ruth menunjukkan sebuah perubahan penting dalam kehidupannya.

Ruth berasal dari Moab. Ia bukan bagian dari bangsa Israel berdasarkan kelahiran. Namun ia memilih untuk menyatukan hidupnya dengan Naomi dan dengan umat Allah.

Di sini kita melihat salah satu pesan penting dari kisah Ruth: karya keselamatan Allah tidak dibatasi oleh asal-usul manusia.

Allah dapat memanggil dan menggunakan siapa saja.

Ruth yang pada awal cerita merupakan seorang perempuan asing akhirnya memperoleh tempat yang sangat penting dalam sejarah Israel.

Hal tersebut juga menjadi pengingat bagi umat Katolik bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh suku, bangsa, kekayaan, status sosial, atau latar belakang keluarganya. Allah melihat hati manusia dan kesediaannya untuk menanggapi rahmat-Nya.

Baca juga: Santa Verena, Santo Santa 1 September

Ruth Tiba di Betlehem

Ruth dan Naomi akhirnya tiba di Betlehem.

Namun kepulangan Naomi tidak langsung berarti kehidupan mereka menjadi mudah. Mereka adalah dua orang janda yang harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ruth kemudian mengambil inisiatif untuk pergi ke ladang dan memungut bulir-bulir jelai yang tertinggal setelah para pekerja melakukan panen.

Tindakan ini sesuai dengan ketentuan sosial dalam hukum Israel yang memberi kesempatan kepada orang miskin dan pendatang untuk memperoleh makanan dari sisa hasil panen.

Ruth tidak hanya berdoa dan menunggu sesuatu terjadi. Ia bekerja.

Inilah bagian penting dari spiritualitas yang dapat kita pelajari dari Ruth dalam Kitab Suci.

Iman kepada penyelenggaraan Allah tidak berarti manusia menjadi pasif. Kepercayaan kepada Tuhan justru dapat berjalan bersama keberanian untuk bekerja, mengambil tanggung jawab, dan melakukan apa yang dapat dilakukan.

Pertemuan Ruth dengan Boas

Tanpa Ruth ketahui sebelumnya, ladang tempat ia bekerja ternyata milik seorang laki-laki bernama Boas.

Boas merupakan seorang kerabat dari keluarga Elimelekh. Ia mengetahui kesetiaan Ruth kepada Naomi dan mendengar bagaimana Ruth meninggalkan tanah kelahirannya untuk hidup bersama ibu mertuanya.

Boas kemudian memperlakukan Ruth dengan baik.

Ia memberikan perlindungan kepadanya dan memastikan bahwa Ruth dapat memperoleh makanan dengan aman.

Pertemuan antara Ruth dan Boas menjadi bagian penting dalam perkembangan kisah ini. Dari sudut pandang iman, rangkaian peristiwa tersebut dapat dibaca sebagai tanda penyelenggaraan Allah.

Ruth tidak mengetahui apa yang akan terjadi ketika ia meninggalkan Moab.

Ia juga tidak mengetahui bahwa ladang tempat ia bekerja akan menghubungkannya dengan Boas.

Namun langkah-langkah kecil yang dijalaninya dengan setia akhirnya membuka jalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

Baca juga: Santo Santa 2 September: Martir Paris 1792

Pernikahan Ruth dan Boas

Pada akhirnya Ruth menikah dengan Boas.

Dalam konteks sosial Israel kuno, Boas menjalankan peran sebagai kerabat yang menolong mempertahankan keberlangsungan keluarga. Kisah Kitab Ruth memberikan perhatian khusus pada kewajiban dan hak seorang kerabat penebus.

Karena itu, hubungan Ruth dan Boas tidak sebaiknya disederhanakan hanya menjadi kisah romantis.

Kitab Ruth berbicara tentang keluarga, tanggung jawab, hukum, solidaritas, kesetiaan, dan pemeliharaan Allah terhadap mereka yang berada dalam keadaan rentan.

Dari pernikahan Ruth dan Boas lahirlah seorang anak bernama Obed.

Obed kemudian menjadi ayah Isai, sedangkan Isai adalah ayah Daud.

Dengan demikian, Ruth menjadi nenek moyang Raja Daud. Sumber kalender Katolik Indonesia juga mencatat hubungan genealogis Ruth dengan Obed, Isai, Daud, dan akhirnya garis keturunan Kristus.

Namun kisahnya bahkan mempunyai arti yang lebih besar dalam Perjanjian Baru.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Selasa, 1 September 2026 Lukas 4:31-37

Ruth Menjadi Leluhur Yesus Kristus

Nama Ruth muncul dalam silsilah Yesus yang dituliskan oleh Santo Matius.

Dalam Matius 1:5 disebutkan bahwa Boas memperanakkan Obed dari Ruth. Garis keturunan tersebut kemudian berlanjut kepada Isai dan Raja Daud, sampai akhirnya menuju kepada Yesus Kristus.

Kehadiran Ruth dalam silsilah Yesus sangat bermakna.

Ruth adalah perempuan Moab, seorang asing di tengah bangsa Israel. Namun Allah memasukkannya ke dalam sejarah keselamatan dan garis keturunan Sang Mesias.

Hal ini menunjukkan bahwa rencana Allah sering kali jauh lebih luas daripada batas-batas yang dibuat manusia.

Ruth mungkin tidak pernah membayangkan dampak besar dari keputusannya untuk setia kepada Naomi.

Ketika ia meninggalkan Moab, ia hanya mengambil satu langkah iman.

Namun Allah memakai kesetiaan sederhana tersebut sebagai bagian dari rencana keselamatan yang jauh lebih besar.

Inilah salah satu pesan terindah dari kisah Santa Ruth 1 September: kita tidak selalu mengetahui akibat dari sebuah tindakan baik yang kita lakukan hari ini.

Kesetiaan kecil yang dilakukan karena kasih dapat menghasilkan buah yang baru terlihat bertahun-tahun kemudian, bahkan melampaui kehidupan kita sendiri.

Mengapa Ruth Dikenang pada 1 September?

Dalam sejumlah kalender orang kudus Katolik di Indonesia, Ruth diperingati pada 1 September bersama tokoh lain seperti Santo Pedro Armengol dan Santa Verena. Sumber-sumber tersebut mencatat Ruth sebagai perempuan Moab dari sekitar abad ke-11 SM.

Sumber Katolik lainnya juga menggunakan sebutan Santa Ruth dalam daftar orang kudus tanggal 1 September.

Namun penting untuk membedakan antara kalender devosi orang kudus dan Kalender Romawi Umum Gereja Katolik.

Pencantuman Ruth pada 1 September dalam kalender devosi tertentu tidak berarti tanggal tersebut merupakan pesta atau peringatan liturgis universal yang wajib dirayakan oleh seluruh Gereja Katolik.

Ruth adalah tokoh suci dari Perjanjian Lama yang hidup berabad-abad sebelum kelahiran Kristus dan jauh sebelum adanya proses kanonisasi seperti yang berkembang kemudian dalam sejarah Gereja.

Karena itu, umat sebaiknya memahami penghormatan kepada Ruth terutama melalui kesaksian Kitab Suci dan tempatnya dalam sejarah keselamatan.

Teladan Iman Santa Ruth bagi Umat Katolik

Kisah Santo Santa 1 September, Ruth tetap sangat relevan bagi kehidupan orang Katolik zaman sekarang.

Kita mungkin hidup ribuan tahun setelah Ruth, tetapi pergumulan manusia tidak sepenuhnya berubah.

Ada orang yang kehilangan anggota keluarga.

Ada yang harus meninggalkan kampung halaman.

Ada yang menghadapi kesulitan ekonomi.

Ada yang merasa menjadi orang asing di lingkungan baru.

Ada pula yang tidak mengetahui bagaimana masa depannya akan berjalan.

Dalam situasi seperti itulah kehidupan Ruth memberikan beberapa pelajaran rohani.

1. Setia Ketika Keadaan Tidak Menguntungkan

Kesetiaan Ruth kepada Naomi bukan kesetiaan ketika semuanya berjalan baik.

Ia setia ketika masa depan justru tampak gelap.

Kesetiaan seperti inilah yang sangat berharga dalam kehidupan Kristiani.

Mudah mengucapkan syukur ketika doa kita dikabulkan sesuai keinginan. Tantangan yang lebih besar adalah tetap percaya kepada Tuhan ketika kita belum mengetahui bagaimana persoalan akan diselesaikan.

Ruth mengajarkan kita untuk terus berjalan bersama Allah meskipun kita belum melihat seluruh jalan di depan.

2. Kasih Sejati Membutuhkan Pengorbanan

Ruth dapat memilih jalan yang lebih mudah.

Namun ia memilih mendampingi Naomi.

Kasih Ruth bukan sekadar perasaan. Kasih itu diwujudkan melalui keputusan, perjalanan, kerja keras, dan pengorbanan.

Bagi umat Katolik, teladan ini mengingatkan pada panggilan Kristus untuk mengasihi sesama bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata.

Kasih dalam keluarga sering kali diwujudkan melalui hal-hal sederhana: merawat orang tua, mendampingi pasangan yang mengalami kesulitan, bekerja demi keluarga, mendengarkan seseorang yang sedang berduka, atau tetap hadir ketika orang lain membutuhkan kita.

3. Jangan Meremehkan Pekerjaan Sederhana

Ketika tiba di Betlehem, Ruth melakukan pekerjaan yang sangat sederhana: memungut sisa bulir gandum di ladang.

Namun justru melalui aktivitas sehari-hari itulah jalan kehidupannya berubah.

Kita terkadang membayangkan karya Allah hanya muncul melalui peristiwa luar biasa.

Kitab Ruth memperlihatkan hal yang berbeda.

Allah dapat berkarya melalui ladang, pekerjaan, perjumpaan, keluarga, perjalanan, dan keputusan-keputusan kecil.

Kekudusan pun sering bertumbuh melalui kesetiaan terhadap tugas sehari-hari.

4. Allah Dapat Berkarya Melalui Orang yang Dianggap Asing

Ruth bukan perempuan Israel.

Ia adalah orang Moab.

Namun statusnya sebagai orang asing tidak menghalangi Allah untuk menjadikannya bagian dari sejarah keselamatan.

Pesan tersebut sangat relevan dalam dunia yang masih sering terpecah karena perbedaan suku, bangsa, budaya, status sosial, atau latar belakang.

Kisah Ruth mengajak orang beriman untuk belajar melihat manusia sebagaimana Allah melihatnya.

Orang yang dianggap tidak penting oleh dunia dapat mempunyai tempat istimewa dalam rencana Tuhan.

5. Percayalah kepada Penyelenggaraan Allah

Salah satu tema utama Kitab Ruth adalah penyelenggaraan Allah.

Menariknya, karya Allah dalam kitab ini tidak selalu tampil melalui mukjizat spektakuler.

Allah bekerja melalui rangkaian peristiwa biasa.

Ruth pergi ke sebuah ladang.

Ia bertemu Boas.

Boas menunjukkan kemurahan hati.

Kemudian terbukalah jalan bagi pemulihan kehidupan Ruth dan Naomi.

Hal ini mengingatkan kita bahwa penyelenggaraan Tuhan tidak selalu berarti persoalan langsung menghilang secara ajaib.

Sering kali Allah membimbing kita sedikit demi sedikit.

Ruth dan Harapan bagi Mereka yang Mengalami Kehilangan

Kisah Ruth dimulai dengan kehilangan.

Naomi kehilangan suami dan kedua putranya. Ruth kehilangan suaminya. Mereka kemudian menjalani perjalanan menuju Betlehem tanpa mengetahui dengan pasti bagaimana kehidupan mereka selanjutnya.

Namun Kitab Ruth tidak berakhir dengan kematian.

Kitab itu berakhir dengan kehidupan baru dan harapan.

Ruth menikah dengan Boas dan melahirkan Obed. Keluarga yang sebelumnya mengalami kehilangan memperoleh masa depan baru.

Pesannya bukan bahwa setiap kesedihan akan selalu diselesaikan dengan cara yang sama seperti pengalaman Ruth.

Iman Katolik tidak menjanjikan bahwa semua persoalan duniawi akan berakhir sesuai keinginan kita.

Sebaliknya, kisah Ruth memberikan keyakinan bahwa penderitaan tidak harus menjadi kata terakhir.

Allah tetap dapat berkarya ketika manusia hanya melihat jalan buntu.

Ruth dalam Rencana Keselamatan Allah

Jika kita membaca Kitab Ruth hanya sebagai cerita keluarga, kita akan kehilangan salah satu dimensi terpentingnya.

Ruth berada di antara zaman para hakim dan munculnya kerajaan Daud.

Anaknya, Obed, menjadi ayah Isai.

Isai menjadi ayah Daud.

Berabad-abad kemudian, Injil Matius memasukkan Ruth ke dalam silsilah Yesus Kristus.

Karena itu, kehidupan Ruth mempunyai dimensi mesianik.

Ia menjadi bagian dari jalan sejarah yang akhirnya mengarah kepada Kristus.

Bagi umat Katolik, hal ini memperlihatkan kesatuan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah yang berkarya dalam kehidupan Abraham, Musa, Ruth, dan Daud adalah Allah yang menggenapi janji keselamatan-Nya dalam Yesus Kristus.

Renungan Santo Santa 1 September: Belajar dari Ruth

Pada peringatan Santo Santa 1 September, kisah Ruth mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih mampu setia ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana?

Ruth kehilangan suaminya.

Ia meninggalkan tanah kelahirannya.

Ia memasuki negeri asing.

Ia bekerja sebagai seorang perempuan miskin di ladang.

Jika dilihat hanya dari permukaan, kehidupan Ruth tampaknya dipenuhi ketidakpastian.

Namun ia terus berjalan.

Di situlah kekuatan imannya terlihat.

Kita juga sering ingin mengetahui seluruh rencana Tuhan sebelum berani melangkah. Kita ingin mendapatkan jaminan bahwa keputusan kita akan berhasil.

Kehidupan iman tidak selalu bekerja demikian.

Kadang-kadang Tuhan hanya menunjukkan langkah berikutnya.

Tugas kita adalah menjalani langkah itu dengan setia.

Ruth tidak mengetahui bahwa ia akan menjadi leluhur Daud ketika mengikuti Naomi.

Ia tidak mengetahui bahwa namanya kelak akan tercantum dalam silsilah Kristus ketika memungut bulir di ladang.

Ia hanya melakukan apa yang benar pada saat itu.

Mungkin demikian pula panggilan Tuhan bagi kita.

Kesetiaan hari ini dapat menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar yang belum dapat kita lihat.

Doa Memohon Teladan Iman seperti Ruth

Allah Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur atas kesaksian hidup Ruth,
yang tetap setia di tengah kehilangan dan ketidakpastian.

Engkau membimbing langkahnya dari Moab menuju Betlehem
dan menjadikan kehidupannya bagian dari rencana keselamatan-Mu.

Ajarlah kami untuk memiliki hati yang setia,
berani mengasihi dengan tulus,
tekun menjalankan tanggung jawab sehari-hari,
dan percaya kepada penyelenggaraan-Mu
ketika kami belum memahami jalan kehidupan kami.

Semoga melalui teladan Ruth,
kami belajar menerima sesama tanpa membeda-bedakan,
menolong mereka yang membutuhkan,
dan tetap berpegang kepada-Mu dalam suka maupun duka.

Melalui perantaraan para kudus-Mu,
teguhkanlah iman kami agar setiap keputusan dan pekerjaan kami
senantiasa membawa kami semakin dekat kepada Kristus.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.

Amin.

Penutup

Ruth yang dikenang pada 1 September memberikan teladan bahwa kekudusan dapat ditemukan dalam kesetiaan yang sederhana.

Ia bukan ratu ketika kisahnya dimulai. Ia bukan perempuan kaya atau berkuasa. Ruth adalah seorang janda dari negeri asing yang memilih untuk mengasihi, bekerja, dan percaya.

Namun dari kesetiaan itulah Allah menumbuhkan buah yang luar biasa.

Ruth menjadi istri Boas, ibu Obed, nenek moyang Raja Daud, dan akhirnya salah satu perempuan yang disebut dalam silsilah Yesus Kristus.

Kisahnya mengingatkan kita bahwa tidak ada kesetiaan kepada Tuhan yang sia-sia.

Kita mungkin tidak melihat hasil dari setiap pengorbanan. Kita mungkin tidak memahami mengapa Tuhan mengizinkan jalan tertentu dalam kehidupan. Namun seperti Ruth, kita dipanggil untuk tetap berjalan bersama-Nya.

Pada Santo Santa 1 September, semoga teladan Ruth membantu kita untuk berkata melalui seluruh kehidupan kita: di mana Tuhan membimbing, di sanalah kita mau berjalan.

Demikianlah Santa Ruth 1 September: Teladan Kesetiaan dan Iman, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url