Santo Theodorus 19 September, Uskup dan Pengaku Iman
Santo Santa 19 September: Santo Theodorus, Uskup dan Pengaku Iman
Setiap tanggal dalam kalender Gereja mengingatkan umat beriman akan orang-orang yang telah berusaha mengikuti Kristus dengan setia dalam keadaan hidup mereka masing-masing. Dalam Santo Santa 19 September, kita mengenang Santo Theodorus, Uskup dan Pengaku Iman, seorang gembala Gereja yang dikenang karena kesetiaannya kepada iman Kristiani dan pelayanan pastoralnya.
Kehidupan seorang santo tidak selalu dipenuhi peristiwa spektakuler. Ada orang kudus yang namanya dikenal di seluruh dunia dan meninggalkan banyak tulisan. Ada pula mereka yang hanya sedikit tercatat dalam sumber-sumber sejarah, tetapi tetap dikenang dalam tradisi Gereja karena kesetiaan hidup mereka.
Santo Theodorus termasuk tokoh yang informasi historis terperinci mengenai kehidupannya tidak sebanyak sejumlah Bapa Gereja atau santo besar lainnya. Karena itu, kisahnya perlu disampaikan secara hati-hati tanpa menambahkan detail yang tidak memiliki dasar sejarah yang jelas.
Namun, gelar yang menyertai namanya—Uskup dan Pengaku Iman—sudah memberikan sebuah gambaran rohani yang penting. Ia dikenang sebagai seorang gembala umat sekaligus saksi iman yang mempertahankan kesetiaan kepada Kristus.
Peringatan Santo Theodorus 19 September mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam: apakah iman yang kita akui dengan mulut juga sungguh tampak dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari?
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Mengenal Santo Theodorus, Uskup dan Pengaku Iman
Nama Theodorus berasal dari bahasa Yunani, Theodoros, yang secara umum berarti “karunia Allah” atau “pemberian Allah.” Nama ini cukup populer dalam dunia Kristen kuno sehingga terdapat sejumlah orang kudus bernama Theodorus dalam sejarah Gereja.
Hal tersebut juga berarti kita perlu berhati-hati agar tidak mencampurkan riwayat satu Santo Theodorus dengan tokoh lain yang memiliki nama serupa.
Santo Theodorus yang diperingati pada 19 September dalam tradisi tertentu dikenang dengan gelar uskup dan pengaku iman. Gelar tersebut menunjukkan dua dimensi utama kehidupannya: pelayanan sebagai gembala Gereja dan keberaniannya memberikan kesaksian tentang iman.
Sebagai seorang uskup, tugasnya bukan sekadar menjalankan administrasi gerejawi. Dalam pemahaman Katolik, seorang uskup menerima tugas untuk mengajar, menguduskan, dan menggembalakan umat Allah.
Ia dipanggil untuk menjaga iman apostolik, merawat kehidupan rohani umat, membimbing para imam, serta menjadi tanda persatuan bagi Gereja lokal yang dipercayakan kepadanya.
Sementara itu, sebutan pengaku iman memiliki arti khusus dalam tradisi Gereja.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Apa Arti Gelar Pengaku Iman?
Dalam sejarah Kekristenan, istilah pengaku iman atau confessor digunakan untuk orang beriman yang memberikan kesaksian teguh terhadap Kristus dan mempertahankan iman meskipun menghadapi penderitaan, tekanan, atau penganiayaan.
Pada masa Gereja perdana, istilah ini sering dikaitkan dengan mereka yang mengalami penderitaan karena iman tetapi tidak wafat sebagai martir. Dalam perkembangan tradisi Gereja, istilah “pengaku iman” juga digunakan secara lebih luas untuk menunjuk orang kudus yang memberikan kesaksian iman melalui kehidupan yang kudus dan setia.
Dengan demikian, martir dan pengaku iman sama-sama merupakan saksi Kristus, meskipun bentuk kesaksiannya berbeda.
Seorang martir memberikan kesaksian tertinggi sampai menumpahkan darah dan menyerahkan nyawanya karena Kristus. Seorang pengaku iman menunjukkan keteguhan melalui kesetiaan yang dapat berlangsung bertahun-tahun: mempertahankan kebenaran, menjalani kebajikan, menghadapi tekanan, serta tetap setia kepada Tuhan sampai akhir hidup.
Gelar Santo Theodorus sebagai Pengaku Iman karena itu mengingatkan kita bahwa kekudusan bukan hanya perkara satu tindakan heroik. Kekudusan juga dapat terwujud melalui ribuan keputusan kecil untuk tetap memilih Kristus.
Baca juga: Santo Yanuarius, Martir – Santo Santa 19 September
Santo Theodorus sebagai Seorang Uskup
Menjadi uskup pada masa Kekristenan awal bukanlah sebuah jabatan yang menjanjikan kenyamanan.
Dalam berbagai periode sejarah Gereja, para pemimpin umat menghadapi tantangan yang berat. Selain kemungkinan tekanan dari kekuasaan politik, mereka juga harus menjaga umat dari perpecahan, ajaran yang keliru, pertikaian internal, serta kemerosotan kehidupan rohani.
Di tengah situasi semacam itu, seorang uskup dituntut menjadi seorang gembala.
Gambaran mengenai gembala mempunyai tempat yang sangat penting dalam Kitab Suci. Yesus sendiri berkata:
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yohanes 10:11)
Seorang uskup dipanggil untuk meneladan Kristus Sang Gembala Baik.
Karena itulah, ketika Gereja mengenang seorang santo sebagai uskup, kita tidak sekadar mengenang kedudukan gerejawinya. Kita terutama mengenang panggilannya untuk memberikan hidup bagi umat yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Kesetiaan Santo Theodorus sebagai uskup dapat menjadi cermin bagi setiap orang yang menerima tanggung jawab atas kehidupan orang lain.
Orang tua adalah gembala bagi keluarganya. Guru memiliki tanggung jawab terhadap murid-muridnya. Pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap mereka yang dipimpinnya. Imam dan pelayan pastoral memiliki tanggung jawab terhadap umat.
Setiap tanggung jawab tersebut dapat menjadi jalan menuju kekudusan apabila dijalankan sebagai pelayanan dan bukan sekadar sebagai kesempatan memperoleh kedudukan.
Baca juga: Santa Emilia de Rodat – Santo Santa 19 September
Kesetiaan kepada Kristus di Tengah Tantangan
Salah satu pesan terbesar dari kehidupan para pengaku iman adalah ketekunan.
Mengikuti Kristus ketika segala sesuatu berjalan baik mungkin terasa mudah. Tantangan sesungguhnya muncul ketika kesetiaan kepada Injil membawa konsekuensi.
Ada saat ketika mengatakan kebenaran membuat seseorang tidak populer.
Ada saat ketika memilih kejujuran berarti kehilangan keuntungan.
Ada saat ketika mengampuni jauh lebih sulit daripada membalas.
Ada saat ketika mempertahankan iman membuat seseorang dianggap aneh atau ketinggalan zaman.
Dalam keadaan semacam itulah iman diuji.
Santo Theodorus sebagai pengaku iman mengingatkan umat Katolik bahwa iman bukan hanya sesuatu yang diucapkan dalam doa atau Syahadat pada hari Minggu. Iman harus menjadi dasar dari keputusan dan tindakan kita.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Sabtu, 19 September 2026 Lukas 8:4-15
Iman Harus Menjadi Kehidupan
Yakobus mengingatkan:
“Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17)
Iman yang hidup akan menghasilkan buah.
Orang yang percaya bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah akan belajar menghormati sesamanya.
Orang yang percaya kepada belas kasih Allah akan berusaha belajar mengampuni.
Orang yang percaya bahwa Kristus hadir dalam mereka yang kecil dan menderita akan terdorong untuk peduli kepada orang miskin, sakit, kesepian, dan tersingkir.
Dengan demikian, pengakuan iman tidak berhenti pada kata-kata. Kesaksian iman menjadi nyata dalam kehidupan.
Santo Theodorus dan Panggilan Menjadi Saksi Kristus
Tidak semua umat Katolik dipanggil menjadi uskup. Namun, setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi Kristus.
Kesaksian itu dimulai dari tempat yang paling dekat.
Di dalam keluarga, kita menjadi saksi Kristus ketika belajar sabar, mengampuni, mendengarkan, dan melayani.
Di tempat kerja, kita menjadi saksi Kristus ketika bekerja dengan jujur dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita.
Di sekolah, kampus, atau lingkungan pergaulan, kita menjadi saksi Kristus ketika tidak malu mempertahankan nilai-nilai yang benar.
Di dunia digital, kita menjadi saksi Kristus ketika tidak ikut menyebarkan fitnah, kebencian, penghinaan, atau informasi palsu.
Kesaksian seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun justru melalui kesetiaan sehari-hari, kehidupan Kristiani memperoleh kekuatannya.
Tidak Malu Menjadi Murid Kristus
Salah satu tantangan bagi orang beriman pada zaman modern adalah kecenderungan untuk memisahkan iman dari kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin rajin berdoa tetapi memperlakukan orang lain dengan kasar.
Seseorang mungkin aktif dalam kegiatan Gereja tetapi tidak jujur dalam pekerjaannya.
Seseorang mungkin mengenakan simbol keagamaan tetapi mudah menyebarkan kebencian melalui media sosial.
Kehidupan para kudus mengingatkan kita bahwa tidak seharusnya ada jurang antara iman yang dirayakan dan kehidupan yang dijalankan.
Menjadi pengaku iman berarti membiarkan seluruh kehidupan berkata:
“Aku percaya kepada Kristus, dan karena itu aku ingin hidup menurut jalan-Nya.”
Kepemimpinan Kristiani Adalah Pelayanan
Gelar Santo Theodorus sebagai uskup juga memberikan pelajaran penting mengenai kepemimpinan.
Dunia sering mengukur kepemimpinan melalui kekuasaan, pengaruh, kekayaan, atau jumlah orang yang mengikuti seseorang.
Yesus memberikan ukuran yang berbeda.
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Markus 10:43)
Dalam pandangan Kristiani, pemimpin bukan pertama-tama orang yang dilayani, tetapi orang yang melayani.
Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi pemimpin Gereja.
Seorang ayah atau ibu memimpin dengan melayani keluarganya.
Seorang guru memimpin dengan memberikan dirinya bagi perkembangan murid.
Seorang pemimpin masyarakat dipanggil untuk mengusahakan kebaikan bersama.
Seorang atasan di tempat kerja seharusnya melihat bawahannya bukan sekadar sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat.
Keteladanan para uskup kudus seperti Santo Theodorus mengingatkan kita bahwa semakin besar tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula panggilannya untuk melayani.
Menjadi Pengaku Iman pada Zaman Sekarang
Kita mungkin bertanya: bagaimana mungkin menjadi “pengaku iman” dalam kehidupan modern?
Tidak selalu diperlukan tindakan luar biasa.
Ada banyak kesempatan sederhana.
1. Berani Memilih Kejujuran
Kejujuran merupakan salah satu bentuk kesaksian iman yang sangat nyata.
Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbohong demi keuntungan tetapi memilih berkata benar, ia sedang memberikan kesaksian tentang nilai Injil.
Ketika seorang pekerja menolak melakukan manipulasi meskipun semua orang menganggapnya biasa, ia sedang mempertahankan integritas.
Kekudusan sering dimulai dari keputusan yang tidak diketahui siapa pun selain Tuhan.
2. Menjaga Perkataan
Dunia digital memberikan kemampuan luar biasa kepada manusia untuk berbicara kepada banyak orang. Namun kemampuan itu membawa tanggung jawab.
Sebelum membagikan sesuatu, kita dapat bertanya:
Apakah ini benar?
Apakah ini berguna?
Apakah ini membangun?
Apakah perkataan ini mencerminkan kasih Kristus?
Menolak menyebarkan fitnah atau kebencian juga merupakan bentuk kesaksian iman.
3. Setia dalam Doa
Pengaku iman bukan hanya seseorang yang berbicara tentang Tuhan, tetapi seseorang yang hidup bersama Tuhan.
Tanpa doa, kehidupan rohani mudah menjadi kering.
Karena itu, kita dapat belajar menyediakan waktu setiap hari untuk berjumpa dengan Tuhan melalui doa pribadi, membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, adorasi, Rosario, maupun bentuk-bentuk doa lain yang membantu kita bertumbuh dalam hubungan dengan Kristus.
4. Mengampuni
Mengampuni merupakan salah satu kesaksian Kristiani yang paling sulit.
Dunia sering mengajarkan pembalasan. Kristus mengajarkan pengampunan.
Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kejahatan itu benar. Pengampunan juga tidak berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Namun orang Kristiani dipanggil untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati.
Di sinilah Injil menjadi nyata.
5. Peduli kepada Mereka yang Membutuhkan
Iman kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.
Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan dipenjara (bdk. Matius 25:31-46).
Karena itu, salah satu cara terbaik untuk menghormati para kudus adalah meneruskan semangat kasih yang mereka hidupi.
Refleksi Santo Santa 19 September
Peringatan Santo Santa 19 September dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa kehidupan kita sendiri.
Kita mungkin tidak menghadapi penganiayaan sebagaimana dialami banyak orang Kristiani pada masa lampau. Namun setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.
Hari ini, tantangan iman dapat muncul dalam bentuk materialisme, individualisme, ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama, godaan untuk menghalalkan segala cara, kecanduan akan pengakuan sosial, atau keinginan untuk selalu mengikuti arus.
Di tengah semua itu, Kristus tetap memanggil:
“Ikutlah Aku.”
Panggilan tersebut sama seperti dua ribu tahun lalu.
Mengikuti Kristus berarti membiarkan Dia membentuk cara kita berpikir, berbicara, bekerja, mengasihi, dan mengambil keputusan.
Apakah Kita Sudah Menjadi Saksi Kristus?
Pada peringatan Santo Theodorus, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri:
Apakah orang lain dapat melihat kasih Kristus melalui sikap saya?
Apakah saya tetap jujur ketika tidak ada orang yang mengawasi?
Apakah saya berani mempertahankan kebenaran tanpa membenci mereka yang berbeda pendapat?
Apakah saya menggunakan tanggung jawab dan kedudukan untuk melayani atau untuk mencari kepentingan diri sendiri?
Apakah kehidupan doa saya sungguh memengaruhi cara saya memperlakukan sesama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat kita putus asa. Sebaliknya, semuanya dapat membantu kita melihat bagian kehidupan yang masih perlu diserahkan kepada Tuhan.
Kekudusan adalah perjalanan.
Tuhan terus bekerja dalam diri orang yang bersedia membuka hati kepada rahmat-Nya.
Teladan Santo Theodorus bagi Keluarga Katolik
Keluarga adalah salah satu tempat utama untuk belajar menjadi kudus.
Sering kali kita membayangkan kekudusan terjadi di biara, gereja, atau tempat-tempat yang sunyi. Padahal sebagian besar umat beriman menjalani panggilan mereka di tengah pekerjaan, rumah tangga, pendidikan anak, masalah ekonomi, dan hubungan dengan sesama.
Justru di sanalah kesetiaan diuji.
Orang tua dapat belajar dari semangat seorang gembala seperti Santo Theodorus. Anak-anak bukan sekadar orang yang harus diperintah, melainkan pribadi yang dipercayakan Tuhan untuk dibimbing menuju kebaikan.
Mendidik anak dalam iman bukan hanya menyuruh mereka pergi ke gereja.
Anak-anak belajar iman terutama dari apa yang mereka lihat.
Ketika mereka melihat orang tua berdoa, mereka belajar bahwa Tuhan penting.
Ketika mereka melihat orang tua saling mengampuni, mereka belajar tentang belas kasih.
Ketika mereka melihat orang tua jujur, mereka belajar tentang integritas.
Ketika mereka melihat orang tua membantu orang yang membutuhkan, mereka belajar tentang kasih Kristiani.
Dengan demikian, keluarga dapat menjadi sekolah pertama bagi kekudusan.
Jangan Takut Menjadi Kudus
Kadang-kadang kata “kudus” terdengar terlalu tinggi.
Kita membayangkan orang kudus sebagai pribadi yang sama sekali tidak pernah mengalami kelemahan, pergumulan, atau godaan.
Padahal kekudusan bukan berarti manusia tidak pernah menghadapi kelemahan. Kekudusan adalah kesediaan untuk terus kembali kepada Tuhan, menerima rahmat-Nya, bertobat ketika jatuh, dan berjalan kembali bersama-Nya.
Para kudus menunjukkan bahwa rahmat Allah dapat bekerja melalui manusia.
Karena itu, kisah Santo Theodorus, Uskup dan Pengaku Iman, seharusnya tidak hanya membuat kita mengagumi masa lalu.
Kisah para kudus harus membuat kita bertanya:
“Bagaimana saya dapat mengikuti Kristus dengan lebih setia hari ini?”
Jawabannya mungkin sangat sederhana.
Berdoalah dengan lebih sungguh.
Ampunilah seseorang.
Berhentilah menyebarkan gosip.
Kembalikan sesuatu yang bukan hak kita.
Bantulah orang yang sedang kesulitan.
Datanglah kepada Sakramen Tobat.
Ikutilah Ekaristi dengan hati yang sungguh rindu kepada Tuhan.
Lakukan pekerjaan dengan jujur.
Kesetiaan kecil yang dilakukan karena kasih kepada Allah dapat menjadi jalan menuju kekudusan.
Doa Memohon Keteguhan Iman
Marilah kita berdoa kepada Allah sambil mengenang teladan Santo Theodorus:
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Ya Allah, Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur kepada-Mu atas rahmat iman
yang Engkau anugerahkan kepada Gereja-Mu.
Kami bersyukur atas teladan Santo Theodorus,
uskup dan pengaku iman,
yang dikenang karena kesetiaannya
dalam mengikuti Kristus dan melayani umat-Mu.
Teguhkanlah iman kami, ya Tuhan,
agar kami tidak hanya mengakui nama-Mu dengan bibir,
tetapi juga mewartakan kasih-Mu melalui kehidupan kami.
Berilah kami keberanian untuk memilih kebenaran,
kerendahan hati untuk melayani,
kekuatan untuk mengampuni,
dan hati yang peka terhadap penderitaan sesama.
Bimbinglah para uskup, imam, diakon,
dan seluruh pelayan Gereja-Mu,
agar mereka semakin menyerupai Kristus,
Sang Gembala Baik.
Semoga dengan meneladan kesetiaan Santo Theodorus
dan dengan dukungan doa seluruh persekutuan para kudus,
kami semakin bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih,
hingga pada akhirnya kami boleh bersatu dengan-Mu
dalam kehidupan kekal.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Santo Theodorus, doakanlah kami.
Penutup: Belajar Setia Bersama Santo Theodorus
Peringatan Santo Theodorus 19 September mengingatkan kita bahwa Gereja dibangun bukan hanya oleh tokoh-tokoh yang terkenal, tetapi juga oleh begitu banyak orang beriman yang menjalankan panggilannya dengan setia.
Sebagai uskup, Santo Theodorus mengingatkan kita akan panggilan untuk menggembalakan dan melayani.
Sebagai pengaku iman, ia mengingatkan kita akan keberanian untuk tetap berpihak kepada Kristus.
Dan sebagai seorang kudus, ia menunjukkan arah perjalanan setiap orang Kristiani: semakin bersatu dengan Tuhan dan semakin mengasihi sesama.
Kita mungkin tidak dipanggil melakukan sesuatu yang dikenal oleh banyak orang. Namun kita semua dipanggil menjadi kudus.
Mulailah dari tempat kita berada sekarang.
Mulailah dari keluarga.
Mulailah dari pekerjaan.
Mulailah dari perkataan.
Mulailah dari doa.
Mulailah dari satu tindakan kasih.
Semoga melalui teladan Santo Theodorus, kita semakin berani mengakui Kristus bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan seluruh kehidupan.
Mari Bagikan Kisah Santo Theodorus
Jika kisah dan renungan Santo Santa 19 September ini membantu Anda semakin mengenal kekayaan iman Katolik, jangan berhenti pada diri sendiri.
Bagikan artikel ini kepada keluarga, sahabat, komunitas, lingkungan, dan sesama umat Katolik. Mungkin ada seseorang yang hari ini sedang mengalami keraguan, tekanan, atau kesulitan untuk mempertahankan imannya. Kisah seorang pengaku iman dapat menjadi pengingat bahwa kesetiaan kepada Kristus tidak pernah sia-sia.
Satu artikel yang kita bagikan mungkin terlihat sederhana. Namun Tuhan dapat memakai hal sederhana untuk menyentuh hati seseorang.
Mari bersama-sama menggunakan media digital bukan hanya untuk menyebarkan informasi, tetapi juga untuk mewartakan iman, menumbuhkan harapan, dan menghadirkan kasih Kristus.
Santo Theodorus, Uskup dan Pengaku Iman, doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus sampai akhir. Amin.
Demikianlah Santo Theodorus 19 September, Uskup dan Pengaku Iman, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
