Renungan Katolik Hari Selasa, 3 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 5:21–43

Renungan Katolik Hari Selasa, 3 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 5:21–43

🌄 Renungan Katolik Hari Selasa, 3 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 5:21–43

Iman yang Menyentuh, Iman yang Menghidupkan Injil: Markus 5:21–43

Iman di Tengah Kerumunan

Dalam bacaan Injil hari ini (Markus 5:21–43), kita diajak menyelami dua kisah mukjizat Yesus yang sangat menyentuh: seorang perempuan yang dua belas tahun menderita pendarahan, dan seorang anak perempuan yang telah mati, putri Yairus, kepala rumah ibadat.

Kedua kisah ini disatukan dalam satu narasi yang indah. Di tengah kerumunan orang yang berdesakan, ada dua pribadi yang datang kepada Yesus bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk berharap. Mereka datang dengan iman yang mungkin kecil di mata manusia, tetapi sangat besar di hadapan Allah.

Bagi kita yang hidup di zaman digital, penuh distraksi dan kebisingan, Injil ini menjadi renungan Katolik harian yang sangat relevan: bagaimana tetap memiliki iman yang berani “menyentuh” Yesus di tengah keramaian dunia.

1. Perempuan yang Menyentuh Jubah Yesus: Iman yang Rendah Hati

Markus menceritakan seorang perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia sudah menghabiskan seluruh hartanya untuk tabib-tabib, tetapi tidak sembuh, malah semakin parah. Secara sosial dan religius, ia dianggap najis. Ia tidak boleh disentuh, apalagi menyentuh orang lain.

Namun perempuan ini melakukan sesuatu yang tampak sederhana, bahkan diam-diam: ia menyentuh jubah Yesus.

“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mrk 5:28)

Inilah iman yang tidak berisik, tidak pamer, tetapi penuh kepercayaan. Ia tidak menuntut, tidak berteriak, tidak merasa layak. Ia hanya percaya bahwa Yesus cukup.

Dalam dunia hari ini, banyak orang mencari pengakuan, validasi, dan penyembuhan lewat hal-hal yang instan: popularitas, relasi, pencapaian, atau pelarian digital. Tetapi Injil mengingatkan kita bahwa iman Katolik sejati sering kali justru lahir dari kerendahan hati: keberanian untuk mengakui bahwa kita lemah dan membutuhkan Tuhan.

Yesus berhenti. Di tengah kerumunan, Ia memperhatikan satu sentuhan iman. Ia tidak membiarkan mukjizat terjadi secara anonim.

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Mrk 5:34)

Yesus bukan hanya menyembuhkan tubuhnya, tetapi memulihkan martabatnya. Ia menyebutnya “anak-Ku”. Ia mengembalikannya ke dalam relasi.

2. Yairus: Iman yang Bertahan Saat Harapan Seolah Mati

Sementara itu, Yairus datang dengan kegelisahan seorang ayah. Anaknya hampir mati. Ia memohon Yesus datang ke rumahnya. Namun di tengah jalan, kabar buruk datang:

“Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” (Mrk 5:35)

Inilah momen krisis iman. Ketika doa terasa terlambat. Ketika harapan tampak sia-sia. Ketika logika berkata: “Sudah selesai.”

Tetapi Yesus berkata:

“Jangan takut, percaya saja.” (Mrk 5:36)

Kalimat ini adalah inti dari renungan Injil hari ini. Percaya saja. Bukan karena situasi membaik, tetapi karena Yesus hadir.

Yesus masuk ke rumah Yairus, ke ruang duka, ke tempat ratapan. Ia memegang tangan anak itu dan berkata:

“Talita kum!” — “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” (Mrk 5:41)

Dan hidup kembali.

Mukjizat ini bukan sekadar tentang kebangkitan fisik, tetapi tentang kuasa Yesus atas segala bentuk “kematian”: putus asa, luka batin, kehilangan makna, iman yang padam.

3. Dua Kisah, Satu Pesan: Iman yang Menyentuh Hati Allah

Menarik bahwa Injil menggabungkan dua sosok yang sangat berbeda: seorang perempuan anonim dan seorang pemimpin rumah ibadat. Satu dikucilkan, satu dihormati. Satu menyentuh diam-diam, satu memohon terang-terangan. Tetapi keduanya disatukan oleh iman.

Dalam renungan Katolik Markus 5:21-43, kita melihat bahwa iman tidak diukur dari status, latar belakang, atau kesempurnaan hidup. Iman diukur dari keberanian datang kepada Yesus apa adanya.

Yesus menanggapi iman yang rapuh. Ia tidak menuntut iman yang sempurna. Ia hanya meminta satu hal: jangan takut, percaya saja.

4. Relevansi untuk Hidup Kita Hari Ini

Bagi remaja, Gen Z, dan orang tua milenial, Injil ini sangat dekat dengan realitas kita.

  • Kita seperti perempuan yang sudah “mencoba segalanya”: motivasi, konten rohani, konseling, hiburan, kesibukan… tetapi hati tetap kosong.
  • Kita seperti Yairus yang membawa doa-doa tentang keluarga, masa depan, kesehatan, dan relasi—namun kadang terasa semuanya terlambat.

Yesus hadir hari ini juga. Dalam Ekaristi, dalam doa sunyi, dalam Kitab Suci, dalam Gereja, dalam sesama. Ia masih membiarkan diri-Nya “disentuh” oleh iman.

Pertanyaannya: apakah kita cukup percaya untuk datang kepada-Nya?

Dalam “The Katolik”, renungan seperti ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya konten, bukan hanya tradisi, tetapi relasi yang hidup. Yesus menyembuhkan, memulihkan, dan membangkitkan, bukan hanya di Galilea dua ribu tahun lalu, tetapi juga di kamar kita, di sekolah kita, di kantor kita, di tengah kecemasan kita hari ini.

5. Refleksi Pribadi

Coba renungkan:

  • Bagian hidup mana yang sedang “berdarah” dan melemahkan imanku diam-diam?
  • Area mana yang terasa “sudah mati” dan membuatku hampir berhenti berharap?
  • Apakah aku lebih sering berdesakan dalam “kerumunan” dunia, atau sungguh-sungguh mencari Yesus?

Yesus hari ini berkata kepada kita:

“Jangan takut. Percaya saja.”

Bukan janji hidup tanpa masalah, tetapi janji kehadiran Allah di tengah segala masalah.

6. Doa Penutup

Tuhan Yesus, di tengah kerumunan hidup kami, Engkau tetap melihat iman yang kecil. 

Di saat harapan kami melemah, Engkau tetap memegang tangan kami. Ajarilah kami iman seperti perempuan yang berani menyentuh jubah-Mu.

Ajarilah kami iman seperti Yairus yang tetap berjalan bersama-Mu meski kabar buruk datang. 

Sembuhkanlah luka-luka yang kami sembunyikan. Bangkitkanlah bagian hidup kami yang hampir mati. Kami percaya, Tuhan. Tolonglah kami yang kurang percaya ini. Amin.

Demikianlah Renungan Katolik Hari Selasa, 3 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 5:21–43, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url