Renungan Katolik Harian Jumat, 2 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 1:19-28

Renungan Katolik Harian Jumat, 2 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 1:19-28

✨ Renungan Katolik Harian Jumat, 2 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 1:19-28

“Suara di Padang Gurun”

“Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!” (Yohanes 1:23)

Pendahuluan: Hari Baru, Suara yang Membuka Jalan

Memasuki hari kedua di tahun baru, Gereja mengundang kita untuk kembali mendengarkan suara yang sering kita abaikan: suara Yohanes Pembaptis, sang perintis jalan bagi Mesias. Dalam renungan Katolik harian ini, kita diajak untuk melihat bagaimana Yohanes, dengan kerendahan hatinya, mengajar kita membangun tahun baru bukan dengan banyak ambisi, tetapi dengan hati yang jernih—yang tahu siapa dirinya dan siapa Tuhan yang harus ditinggikan.

Injil hari ini (Yohanes 1:19–28) bukan hanya kisah dialog antara Yohanes dan orang-orang Farisi; ini adalah kisah identitas, panggilan, dan kerendahan hati yang menjadi pondasi hidup rohani kita.

1. Ketika Dunia Bertanya: “Siapa Engkau?”

Dalam Injil Yohanes 1:19–28, para imam dan orang Lewi datang kepada Yohanes untuk bertanya:

“Siapa engkau?”

Ini adalah pertanyaan yang juga sering menghampiri hati kita—kadang melalui orang lain, kadang muncul dalam kesepian doa kita.

Tahun baru sering menjadi momen untuk mencari identitas:

“Siapa aku sebenarnya?”

“Ke mana arah hidupku?”

“Apa panggilanku?”

Yohanes menjawab dengan jujur dan rendah hati:

“Aku bukan Mesias… bukan Elia… bukan nabi.”

Ia tidak tergoda untuk menjadi apa yang bukan dirinya. Dan di sinilah kebijaksanaan rohani itu muncul:

Ia tahu dirinya bukan pusat cerita.

Bagi kita yang hidup di dunia media sosial, pencapaian, dan ekspektasi, ini sulit. Kita sering merasa harus membuktikan diri, harus menjadi “lebih” agar diterima. Tapi Yohanes memberi contoh:

Identitas sejati bukan tentang apa yang orang lihat, tetapi tentang kesetiaan pada panggilan Tuhan.

2. “Aku hanyalah suara…” — Kerendahan Hati yang Membebaskan

Ini mungkin bagian paling indah dari seluruh bacaan:

“Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun.”

Yohanes tidak menyebut dirinya terang. Bukan tokoh utama.

Ia hanya suara—bukan firman.

Suaranya hanyalah gema. Sumbernya adalah Tuhan sendiri.

Dalam refleksi iman Katolik, ini mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah sarana, bukan pusat. Kita dipanggil untuk menjadi "suara" yang memantulkan kebaikan Tuhan dalam pekerjaan, keluarga, persahabatan, dan pelayanan.

Kerendahan hati Yohanes bukanlah merendahkan diri, tetapi menempatkan diri pada posisi yang benar:

Tuhan nomor satu. Aku melayani jalan-Nya.

Kerendahan hati macam ini bukan membuat kita kecil, tapi justru membebaskan:

  • Bebas dari pencitraan
  • Bebas dari tekanan untuk sempurna
  • Bebas dari rasa harus diakui

Karena kita tahu siapa yang harus ditinggikan.

3. Padang Gurun: Tempat Tuhan Memurnikan Suara

Yohanes bukan tampil di kota besar, melainkan di padang gurun.

Kenapa?

Karena padang gurun adalah ruang pemurnian. Tempat di mana suara Tuhan terdengar lebih jelas karena dunia tidak bising.

Dalam hidup kita, padang gurun bisa berupa:

  • Masa penantian
  • Masa tidak dianggap
  • Masa di mana pelayanan kita tampak kecil
  • Masa hidup terasa sepi

Namun justru di sana, Tuhan membentuk suara kita—suara hati, suara panggilan, suara iman.

Bagi para anak muda Gen Z, orang tua milenial, atau siapa pun yang menjalani tahun yang penuh tantangan, padang gurun bukan kutukan. Itu ruang formasi.

4. “Di tengah-tengah kamu berdiri Dia…” — Tuhan yang Sering Tak Kita Kenali

Yohanes berkata:

“Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”

Ini salah satu kalimat paling menusuk dalam seluruh Injil Yohanes.

Tuhan hadir, tetapi kita sering tidak mengenalnya.

Dia ada:

  • dalam orang rumah yang kita abaikan,
  • dalam pekerjaan kecil yang kita keluhkan,
  • dalam situasi sulit yang kita hindari,
  • bahkan dalam kegelisahan hati yang kita rasakan.

Dalam renungan rohani Katolik, kita diingatkan bahwa Tuhan hadir bukan hanya dalam hal-hal besar yang spektakuler, tetapi dalam keseharian yang sederhana.

Tahun ini, mungkin kita tidak butuh keajaiban besar.

Kita hanya butuh mata yang lebih peka dan hati yang lebih kontemplatif.

5. “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” — Kerendahan Hati yang Menghormati Tuhan

Kerendahan hati Yohanes mencapai puncaknya ketika ia berkata:

“Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Membuka tali kasut adalah pekerjaan budak. Namun Yohanes merasa tidak pantas sekalipun untuk pekerjaan itu.

Ini menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada Tuhan—bukan rasa takut, tapi kekaguman yang membentuk doa yang tulus.

Dalam dunia yang sering meremehkan hal suci, Yohanes mengingatkan:

Tuhan itu Kudus. Dan sikap hati kita harus menghormati kekudusan itu.

6. Panggilan Tahun Baru: Kurangi Ego, Perbanyak Suara Tuhan

Melalui Injil Yohanes 1:19-28, renungan hari ini mengajak kita:

  • Untuk tidak sibuk mencari pengakuan, tetapi mencari Tuhan.
  • Untuk tidak mengejar label atau pencitraan, tetapi kesetiaan pada panggilan.
  • Untuk tidak menjadi pusat, tetapi menjadi suara yang mengarahkan orang pada Kristus.

Di awal tahun baru, ajakan Yohanes sangat relevan:

“Luruskanlah jalan Tuhan.”

Luruskan, bukan ributkan.

Buka hati, bukan sibuk dengan ego.

Benahi relasi, bukan cari pembenaran.

7. Aplikasi Praktis Hari Ini

Hari ini kita bisa mulai dengan langkah kecil tetapi penting:

  • Ambil waktu 5 menit hening — biarkan suara Tuhan lebih keras dari keramaian dunia.
  • Tuliskan 1 hal yang ingin kamu benahi dalam relasi dengan Tuhan.
  • Lakukan satu tindakan kecil kerendahan hati: mendengar tanpa menyela, mengalah, atau membantu tanpa pamrih.
  • Ucapkan doa pendek sepanjang hari:“Tuhan, jadikan aku suara-Mu.”

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau hadir di tengah kami, sering kali tanpa kami sadari. Melalui teladan Yohanes Pembaptis, ajarilah kami menjadi suara-Mu: sederhana, jujur, dan penuh kerendahan hati. Bimbing kami untuk memulai tahun baru dengan hati yang jernih, peka, dan setia pada panggilan-Mu. Amin.

Demikianlah Renungan Katolik Harian Jumat, 2 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 1:19-28, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url