Renungan Katolik Harian Sabtu, 24 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 3:20–21
✨ Renungan Katolik Harian Sabtu, 24 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 3:20–21
"Orang-orang mengatakan Yesus tidak waras lagi." Injil: Markus 3:20–21
Ketika Niat Baik Disalahartikan
Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat ketika niat baik kita justru disalahpahami. Kita ingin menolong, tapi dianggap ikut campur. Kita ingin setia, tapi dikira berlebihan. Kita ingin berubah menjadi lebih baik, tapi malah dicemooh. Bagi banyak remaja Katolik dan orang tua milenial, pengalaman ini sangat dekat: ketika mulai rajin ke gereja, aktif di pelayanan, atau menjaga nilai hidup Kristiani, tak jarang muncul komentar, “Kok jadi aneh?”, “Terlalu fanatik”, atau “Lebay.”
Injil hari ini membawa kita pada situasi yang sangat manusiawi, namun sekaligus sangat menyentuh: Yesus sendiri disalahpahami oleh orang-orang terdekat-Nya.
“Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka: Ia tidak waras lagi.” (Mrk 3:20–21)
Dalam renungan Katolik harian Markus 3:20-21 ini, kita diajak merenungkan bagaimana mengikuti kehendak Allah kadang membuat kita tampak “berbeda”, bahkan di mata orang yang paling dekat.
Yesus yang Lelah, Tapi Tidak Berhenti Mengasihi
Markus menulis bahwa orang banyak begitu berdesakan sampai Yesus dan para murid “tidak sempat makan.” Ini bukan detail kecil. Injil ingin menunjukkan betapa totalnya Yesus memberikan diri. Ia tidak mengutamakan kenyamanan pribadi. Ia tidak memusatkan perhatian pada diri-Nya sendiri. Hidup-Nya tercurah untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyentuh luka-luka manusia.
Dalam perspektif dunia, hidup seperti itu tampak tidak seimbang. Tidak produktif. Tidak sehat. Bahkan “tidak waras.”
Namun dalam perspektif iman, inilah cinta yang utuh. Cinta yang memberi diri.
Renungan Injil Markus ini menampar cara hidup kita yang sering sangat terukur: jam istirahat, jam hiburan, jam untuk diri sendiri. Semua itu baik. Tapi Injil hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah hidup imanku pernah benar-benar menuntut pengorbanan?
Atau jangan-jangan, aku hanya beriman sejauh masih nyaman?
Disalahpahami oleh Orang Terdekat
Yang paling menyakitkan dari Injil hari ini bukanlah kerumunan, bukan juga kelelahan, melainkan reaksi keluarga Yesus sendiri. Mereka datang untuk “mengambil Dia,” karena mengira Ia sudah tidak waras.
Yesus tidak disalahpahami oleh musuh, tetapi oleh keluarga.
Ini realitas yang sangat dekat dengan hidup banyak orang. Kadang yang paling sulit menerima perubahan iman kita justru orang rumah sendiri. Ketika seorang remaja mulai serius ikut misa harian, aktif OMK, atau memilih pergaulan yang lebih sehat, bisa saja ia dicurigai. Ketika orang tua mulai memperdalam iman, ikut pendalaman Kitab Suci, atau terlibat pelayanan, bisa dianggap aneh atau berlebihan.
Dalam renungan Katolik tentang panggilan ini, kita belajar bahwa kesetiaan pada Allah tidak selalu langsung dipahami, bahkan oleh orang-orang yang kita cintai.
Namun Yesus tidak mundur. Ia tidak menjelaskan diri-Nya secara defensif. Ia tidak meninggalkan misi-Nya demi menjaga citra. Ia tetap melangkah di jalan yang dipercayakan Bapa.
Panggilan yang Mengganggu Zona Nyaman
Mengikuti Tuhan hampir selalu mengguncang kenyamanan. Panggilan Allah tidak hanya menenangkan, tetapi juga mengganggu. Ia memanggil kita keluar dari kebiasaan lama, cara pikir lama, dan standar dunia yang sering egois.
Bagi remaja, panggilan itu bisa berupa keberanian berkata tidak pada pergaulan yang merusak.
Bagi mahasiswa, bisa berupa integritas di tengah budaya instan.
Bagi orang tua milenial, bisa berupa kesetiaan membangun keluarga Katolik di dunia yang serba cepat dan dangkal.
Dan ketika seseorang mulai hidup berbeda, dunia akan mencari label. Kadang label itu tidak adil. Kadang menyakitkan.
Yesus mengajarkan bahwa tidak semua ketidaksetujuan harus dilawan. Tidak semua salah paham harus dibalas. Ada saat di mana kesetiaan kita berbicara lebih keras daripada penjelasan.
Yesus Tidak Membela Diri, Ia Tetap Mencintai
Menarik bahwa Injil tidak mencatat Yesus marah atau tersinggung. Ia tidak mengejar keluarga-Nya untuk meluruskan pendapat mereka. Fokus-Nya tetap pada misi.
Ini mengajarkan kedewasaan rohani: tidak semua kritik perlu dijawab, tidak semua penilaian perlu diklarifikasi. Kadang yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, melainkan ketekunan dalam kasih.
Dalam konteks renungan Katolik keluarga, ini sangat penting. Banyak konflik iman terjadi bukan karena kebencian, tetapi karena ketidaktahuan dan ketakutan. Keluarga Yesus mungkin sungguh khawatir. Mereka melihat Yesus kelelahan, dikerumuni, dan tidak punya waktu untuk diri-Nya. Reaksi mereka lahir dari rasa cemas, meski keliru.
Maka, ketika kita disalahpahami karena iman, Injil hari ini mengajak kita untuk tidak langsung menghakimi. Bisa jadi di balik komentar itu ada kekhawatiran, ketidakmengertian, atau luka.
Berani Menjadi “Berbeda”
Yesus hari ini tampak “berbeda.” Hidup-Nya tidak mengikuti logika dunia. Dan murid-murid-Nya dipanggil untuk belajar hidup dengan keberbedaan itu.
Menjadi Katolik bukan hanya soal identitas, tetapi cara hidup. Cara memandang sesama. Cara mengelola waktu. Cara mengambil keputusan. Cara memperlakukan yang lemah. Dan semua itu membuat kita tidak selalu cocok dengan arus utama.
Renungan Katolik remaja hari ini menegaskan bahwa iman bukan aksesoris, melainkan arah hidup. Ketika iman menjadi pusat, hidup kita memang akan terlihat aneh di mata dunia. Tapi justru di situlah terang Kristus bisa bersinar.
Yesus berkata di bagian lain Injil bahwa terang tidak dinyalakan untuk diletakkan di bawah gantang. Terang memang terlihat. Dan karena terlihat, ia bisa dikomentari, dinilai, bahkan ditolak.
Namun terang tetaplah terang.
Membedakan Antara Fanatisme dan Kesetiaan
Penting juga untuk merenungkan dengan jujur: apakah setiap “berbeda” pasti berasal dari Tuhan? Injil hari ini bukan pembenaran untuk sikap keras, tidak bijak, atau mencari sensasi rohani. Yesus bukan ekstrim demi ekstrim. Ia total dalam kasih.
Ukuran kesetiaan Kristiani bukan seberapa aneh kita di mata orang, tetapi seberapa besar kasih kita pada sesama.
Yesus kelelahan bukan karena mengejar pujian, tetapi karena melayani. Ia disalahpahami bukan karena mencari perhatian, tetapi karena memberi diri.
Maka, renungan Katolik Sabtu ini mengajak kita bertanya: apakah keberbedaanku lahir dari cinta atau dari ego?
Jika dari cinta, mungkin akan ada salah paham. Tapi di sana juga akan ada damai yang dalam.
Refleksi Pribadi
- Luangkan sejenak hari ini dan tanyakan pada dirimu:
- Pernahkah aku disalahpahami karena memilih hidup lebih setia pada Tuhan?
- Apa reaksiku saat itu: marah, mundur, atau tetap setia?
- Apakah hidup imanku sudah cukup nyata sehingga “terlihat” dalam pilihan-pilihanku?
- Atau justru terlalu tersembunyi demi menjaga kenyamanan?
Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi aneh, tetapi untuk menjadi setia. Dan kesetiaan sejati hampir selalu menuntut keberanian.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau mengenal rasanya disalahpahami. Engkau tahu pedihnya ketika orang terdekat tidak mengerti jalan yang Engkau tempuh. Ajari kami untuk setia tanpa keras, teguh tanpa sombong, dan berani tanpa kehilangan kasih. Bila hidup iman kami membuat kami berbeda, biarlah perbedaan itu memancarkan cinta-Mu. Amin.
Penutup: Kesetiaan Lebih Penting daripada Penilaian
Dalam dunia yang cepat memberi label, Injil hari ini membebaskan kita dari ketergantungan pada penilaian manusia. Yesus menunjukkan bahwa yang terpenting bukan bagaimana orang menilai, tetapi bagaimana kita setia pada kehendak Bapa.
Semoga renungan Katolik harian Markus 3:20-21 ini meneguhkan langkah kita, khususnya dalam proyek The Katolik renungan harian, agar semakin banyak remaja dan keluarga Katolik berani hidup otentik, walau tidak selalu dimengerti.
Karena pada akhirnya, lebih baik setia dan disalahpahami, daripada dimengerti tetapi kehilangan arah.
Demikianlah Renungan Katolik Harian Sabtu, 24 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 3:20–21, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

