Renungan Katolik Hari Senin, 16 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 8:11–13
🌄 Renungan Katolik Hari Senin, 16 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 8:11–13
Ketika Iman Menuntut Tanda Markus 8:11–13
Renungan Katolik Senin 16 Februari 2026 membawa kita pada satu adegan Injil yang singkat, tetapi sarat makna. Dalam Markus 8:11–13, Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi yang datang bukan untuk belajar atau percaya, melainkan untuk mencobai. Mereka meminta tanda dari surga—sebuah bukti spektakuler agar mereka mau percaya.
Namun respons Yesus mengejutkan. Ia mengeluh dalam hati-Nya dan berkata bahwa tidak akan diberikan tanda kepada angkatan ini. Lalu Ia pergi meninggalkan mereka.
Injil hari ini seolah menampar kesadaran iman kita: Apakah kita sungguh percaya, atau justru masih terus menuntut bukti demi bukti dari Tuhan?
1. Orang Farisi dan Iman yang Penuh Kecurigaan
Orang Farisi bukanlah orang yang tidak mengenal Allah. Mereka ahli Taurat, penjaga hukum, dan sangat religius. Namun dalam perikop ini, iman mereka berubah menjadi kecurigaan rohani. Mereka datang kepada Yesus bukan untuk mendengarkan, tetapi untuk menguji dan menjebak.
Permintaan mereka akan “tanda dari surga” bukanlah permohonan iman, melainkan tuntutan kekuasaan. Mereka ingin mengendalikan Tuhan sesuai standar mereka sendiri.
Dalam renungan Injil Markus 8:11–13 ini, kita diajak bercermin:
berapa kali kita juga bersikap seperti itu?
- “Kalau Tuhan benar-benar mendengarkan, seharusnya doa ini langsung dijawab.”
- “Kalau Allah sungguh hadir, mengapa hidup saya masih sulit?”
2. Yesus Mengeluh: Bahasa Hati Allah yang Terluka
Markus mencatat bahwa Yesus mengeluh dalam hati-Nya. Ini bukan sekadar gerakan emosional; ini adalah ungkapan kesedihan ilahi. Yesus sedih karena hati manusia begitu keras, bahkan setelah melihat banyak tanda kasih.
Sebelumnya, Yesus telah:
- memberi makan ribuan orang,
- menyembuhkan yang sakit,
- memulihkan yang tersingkir.
Namun semua itu belum cukup bagi mereka.
Dalam renungan harian Katolik ini, kita diingatkan bahwa Allah bukanlah pesulap yang harus selalu memuaskan rasa ingin tahu manusia. Ia adalah Bapa yang ingin dikenal melalui relasi, bukan demonstrasi kuasa semata.
3. Tidak Diberikan Tanda: Apakah Tuhan Diam?
Jawaban Yesus sering disalahpahami. Ketika Ia berkata bahwa tidak akan diberikan tanda, bukan berarti Tuhan berhenti bekerja. Justru sebaliknya: tanda terbesar sudah ada, tetapi tidak dikenali.
Yesus sendiri adalah tanda itu.
Hadir-Nya, sabda-Nya, kasih-Nya—itulah wahyu Allah yang paling sempurna.
Masalahnya bukan kurangnya tanda, melainkan mata iman yang tertutup.
4. Iman yang Selalu Menuntut Bukti
Dalam kehidupan modern, kita hidup di zaman verifikasi:
- bukti data,
- angka,
- hasil nyata.
Tanpa sadar, pola pikir ini merembes ke dalam iman. Kita ingin Tuhan bekerja sesuai logika kita.
Dalam Renungan Katolik Senin 16 Februari 2026, Injil mengingatkan bahwa iman bukanlah hasil dari eksperimen ilmiah. Iman adalah kepercayaan—sebuah keberanian untuk bersandar pada Tuhan bahkan ketika tanda tidak muncul seperti yang kita harapkan.
5. Tanda yang Sering Kita Abaikan
Sering kali Tuhan sudah memberi tanda, tetapi dalam bentuk yang sederhana:
- kekuatan untuk bertahan satu hari lagi,
- orang yang hadir tepat waktu,
- damai di tengah kesulitan,
- sabda Tuhan yang menyentuh hati.
Namun karena kita menunggu sesuatu yang spektakuler, kita gagal melihat kehadiran Allah yang lembut dan setia.
6. Yesus Pergi Meninggalkan Mereka: Sebuah Peringatan Lembut
Markus menulis bahwa Yesus meninggalkan mereka dan naik ke perahu. Kalimat ini singkat, tetapi sangat simbolis. Tuhan tidak memaksakan diri-Nya pada hati yang tertutup.
Dalam renungan Injil hari ini, ini menjadi peringatan:
iman yang keras kepala bisa membuat kita kehilangan momen rahmat.
Bukan karena Tuhan pergi menjauh, tetapi karena kita sendiri menutup pintu.
7. Dari Tanda ke Kepercayaan
Yesus mengundang kita berpindah:
- dari iman yang menuntut tanda
- menuju iman yang memercayakan diri
Iman sejati tidak berkata,
“Aku percaya jika Tuhan membuktikan.”
Tetapi berkata,
“Aku percaya, karena Tuhan setia.”
8. Relevansi bagi Remaja dan Orang Tua Milenial
Bagi remaja:
- iman sering diuji oleh pertanyaan rasional,
- keraguan bukan dosa, tetapi harus dibawa dalam doa.
Bagi orang tua milenial:
- iman sering diuji oleh tanggung jawab hidup,
- kelelahan bisa membuat kita menuntut Tuhan lebih banyak.
Yesus tidak menolak kita yang bertanya, tetapi Ia menolak hati yang tidak mau percaya.
9. Iman yang Dewasa
Iman dewasa bukan iman tanpa pertanyaan, melainkan iman yang:
- tetap setia meski tidak mengerti,
- tetap berdoa meski belum melihat hasil,
- tetap berjalan bersama Tuhan meski gelap.
Dalam renungan Katolik Mingguan dan Harian, Injil hari ini mengajak kita bertumbuh menuju iman semacam itu.
10. Belajar Percaya pada Kehadiran, Bukan Sensasi
Yesus hadir dalam:
- Ekaristi yang sederhana,
- sabda yang dibacakan,
- sesama yang membutuhkan.
Semua itu mungkin tidak spektakuler, tetapi di sanalah Tuhan bekerja.
Penutup: Apakah Kita Masih Meminta Tanda?
Dalam Renungan Katolik Senin 16 Februari 2026, Injil menantang kita: apakah iman kita masih bersyarat?
Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, sering kali kami menuntut tanda, padahal Engkau sudah hadir.
Bukalah mata iman kami, agar kami mampu melihat kasih-Mu dalam hal-hal kecil dan sederhana.
Ajarlah kami percaya, bahkan ketika Engkau terasa diam. Amin.
Demikianlah Renungan Katolik Hari Senin, 16 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 8:11–13, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

