Renungan Harian Katolik 24 September 2026
Renungan Harian Katolik 24 September 2026: Mencari Yesus Bukan Sekadar karena Penasaran
Kamis, 24 September 2026
Kamis Pekan Biasa XXV
Warna Liturgi: Hijau
Ayat renungan:
“Siapakah gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?”
(Lukas 9:9)
Bacaan Liturgi Hari Ini
Bacaan I: Pengkhotbah 1:2–11
Mazmur Tanggapan: Mazmur 90:3–4, 5–6, 12–13, 14, 17
Bait Pengantar Injil: Yohanes 14:6
Bacaan Injil: Lukas 9:7–9
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 24 September 2026 Lukas 9:7-9
Pengantar Renungan
Pernahkah kita mendengar banyak hal tentang seseorang tetapi belum sungguh-sungguh mengenalnya?
Kita mungkin mengetahui namanya, pekerjaannya, kisah hidupnya, bahkan apa yang telah dilakukannya. Namun, mengetahui berbagai informasi tentang seseorang tidak selalu berarti kita mempunyai hubungan pribadi dengannya.
Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan iman.
Kita bisa mengetahui banyak hal tentang Yesus. Kita mengenal kisah kelahiran-Nya. Kita mengetahui mukjizat-mukjizat-Nya. Kita mendengar sabda-Nya setiap kali mengikuti Misa. Kita mengenal kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.
Namun ada pertanyaan yang jauh lebih dalam:
Apakah kita sungguh mengenal Yesus secara pribadi?
Injil hari ini memperlihatkan Herodes yang mendengar berbagai kabar tentang Yesus. Banyak orang membicarakan siapa sebenarnya Yesus. Ada yang mengira Yohanes Pembaptis telah bangkit. Ada yang mengatakan Elia telah muncul. Ada pula yang menganggap seorang nabi zaman dahulu telah bangkit kembali.
Herodes menjadi bingung.
Ia bahkan bertanya tentang siapakah orang yang sedang menjadi pembicaraan itu.
Kemudian muncul sebuah kalimat penting: Herodes ingin melihat Yesus.
Sekilas, keinginan itu terdengar baik. Tetapi Injil mengajak kita melihat lebih dalam. Ada perbedaan besar antara ingin melihat Yesus karena rasa ingin tahu dan mencari Yesus karena kerinduan untuk percaya, bertobat, dan mengikuti-Nya.
Di situlah Sabda Tuhan hari ini menyentuh kehidupan kita.
Baca juga: Renungan Harian
Segala Sesuatu di Dunia Akan Berlalu
Bacaan pertama dari Kitab Pengkhotbah membawa kita kepada kenyataan tentang kefanaan hidup manusia.
Pengkhotbah melihat bagaimana generasi datang dan pergi. Matahari terbit lalu terbenam. Angin berputar. Sungai-sungai mengalir menuju laut. Kehidupan seolah terus bergerak dalam siklus yang sama.
Manusia bekerja, mengejar keberhasilan, mengumpulkan kekayaan, membangun nama, dan berusaha meninggalkan sesuatu bagi dunia.
Namun semuanya pada akhirnya akan berlalu.
Pesan ini bukan berarti bahwa pekerjaan, keluarga, pendidikan, pelayanan, atau usaha manusia tidak memiliki arti. Kitab Pengkhotbah justru mengingatkan kita agar tidak menjadikan hal-hal sementara sebagai tujuan terakhir kehidupan.
Kita membutuhkan keberhasilan, tetapi keberhasilan bukanlah Tuhan.
Kita membutuhkan uang untuk menjalani kehidupan, tetapi uang tidak dapat memberikan kehidupan kekal.
Kita membutuhkan penghargaan, tetapi pujian manusia tidak dapat memenuhi kerinduan terdalam hati.
Kita dapat memiliki banyak hal dan tetap merasa kosong.
Kita dapat sangat sibuk dan tetap tidak mengetahui ke mana kehidupan kita sedang berjalan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Apa yang sudah saya capai?”
Melainkan:
“Untuk siapa saya menjalani semuanya ini?”
Jika Tuhan tidak berada di pusat kehidupan kita, keberhasilan terbesar sekalipun akhirnya dapat terasa kosong.
Tetapi ketika kehidupan diarahkan kepada Tuhan, bahkan pekerjaan sederhana dapat memperoleh makna yang sangat besar.
“Siapakah Gerangan Dia Ini?”
Injil membawa kita kepada Herodes.
Ia mendengar berbagai kabar mengenai Yesus. Mukjizat dan pewartaan Yesus mulai dikenal banyak orang. Para murid juga telah diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah.
Kabar tentang Yesus akhirnya sampai ke istana.
Herodes menjadi gelisah dan bertanya siapakah sebenarnya Yesus itu.
Pertanyaan Herodes sebenarnya merupakan pertanyaan yang sangat penting.
Siapakah Yesus?
Namun pertanyaan yang benar belum tentu membawa seseorang kepada jawaban iman apabila hatinya tidak terbuka.
Herodes pernah berhadapan dengan Yohanes Pembaptis. Yohanes telah menyerukan kebenaran dan pertobatan kepadanya. Tetapi Herodes tidak membiarkan kebenaran itu mengubah hidupnya.
Sekarang ia mendengar tentang Yesus.
Ia ingin melihat-Nya.
Tetapi keinginan melihat Yesus belum sama dengan keinginan mengikuti Yesus.
Di sinilah kita perlu memeriksa diri.
Mungkin kita pun tertarik kepada Yesus karena mukjizat.
Kita berdoa ketika membutuhkan pertolongan.
Kita mencari Tuhan ketika menghadapi masalah.
Kita datang kepada-Nya ketika sakit, mengalami kesulitan ekonomi, menghadapi konflik keluarga, atau ketika rencana hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan.
Tidak ada yang salah dengan datang kepada Tuhan membawa kebutuhan kita.
Yesus sendiri mengundang kita datang kepada-Nya.
Tetapi Tuhan menghendaki hubungan yang lebih dalam.
Dia tidak hanya ingin menjadi tempat kita meminta pertolongan.
Dia ingin menjadi Tuhan atas seluruh kehidupan kita.
Mengenal Tentang Yesus dan Mengenal Yesus
Ada perbedaan antara mengetahui tentang Yesus dan mengenal Yesus.
Seseorang dapat membaca banyak buku teologi tanpa mempunyai hubungan doa yang mendalam.
Seseorang dapat mengetahui banyak ayat Kitab Suci tetapi belum membiarkan Sabda itu mengubah perilakunya.
Seseorang dapat rajin mengikuti kegiatan Gereja tetapi tetap menyimpan kebencian.
Seseorang bahkan dapat berbicara tentang Tuhan setiap hari tetapi tidak menyediakan waktu untuk berbicara kepada Tuhan.
Karena itu iman Katolik tidak berhenti pada pengetahuan.
Iman membawa kita kepada perjumpaan.
Kita mengenal Kristus melalui Sabda-Nya.
Kita berjumpa dengan-Nya dalam doa.
Kita menerima-Nya secara istimewa dalam Ekaristi.
Kita mengalami belas kasih-Nya dalam Sakramen Rekonsiliasi.
Kita melayani-Nya melalui sesama, terutama mereka yang kecil, miskin, sakit, kesepian, dan membutuhkan pertolongan.
Semakin dekat kita kepada Kristus, semakin kita menyadari bahwa iman bukan sekadar mengetahui sesuatu tentang Tuhan.
Iman berarti menyerahkan hidup kepada-Nya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 25 September 2026
Jangan Hanya Mencari Mukjizat, Carilah Sang Pemberi Mukjizat
Ada kecenderungan manusia untuk mencari Tuhan terutama ketika menginginkan sesuatu.
Ketika doa kita terkabul, kita bersukacita.
Tetapi ketika jawaban Tuhan berbeda dari harapan kita, kita dapat kecewa.
Di sinilah kemurnian iman diuji.
Apakah kita mencintai Tuhan karena berkat-Nya atau karena Dia adalah Tuhan?
Apakah kita mengikuti Yesus hanya ketika kehidupan berjalan baik?
Apakah kita tetap percaya ketika doa belum mendapatkan jawaban?
Iman yang dewasa perlahan-lahan belajar berkata:
“Tuhan, aku mencari Engkau, bukan hanya pemberian-Mu.”
Mukjizat terbesar dalam kehidupan rohani bukan selalu ketika keadaan di sekitar kita berubah.
Kadang-kadang mukjizat terbesar terjadi ketika hati kita yang berubah.
Dari mudah marah menjadi mampu mengampuni.
Dari putus asa menjadi berharap.
Dari egois menjadi murah hati.
Dari penuh kebencian menjadi berdamai.
Dari jauh dari Tuhan menjadi kembali berdoa.
Itulah karya rahmat yang sering berlangsung dalam keheningan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 17 September 2026: Kasih yang Lahir dari Pengampunan
Apakah Kita Sungguh Ingin Melihat Yesus?
Herodes ingin melihat Yesus.
Hari ini kita pun dapat mengatakan hal yang sama:
“Tuhan, aku ingin melihat-Mu.”
Tetapi di manakah kita dapat melihat-Nya?
Kita melihat Kristus dalam Sabda Tuhan yang kita baca.
Kita menjumpai-Nya dalam Ekaristi.
Kita melihat wajah-Nya dalam orang yang membutuhkan pertolongan.
Kita dapat menemukan-Nya dalam anggota keluarga yang membutuhkan kesabaran kita.
Kita dapat menjumpai-Nya dalam orang yang mungkin sulit kita kasihi.
Kita bahkan dapat menemukan kehadiran-Nya dalam penderitaan ketika kita tetap percaya bahwa Tuhan berjalan bersama kita.
Sering kali kita meminta:
“Tuhan, tunjukkan diri-Mu kepadaku.”
Sementara mungkin Tuhan menjawab:
“Bukalah matamu. Aku sudah berada di dekatmu.”
Baca juga: Renungan Harian Katolik 18 September 2026: Mengikuti Yesus dengan Setia dan Penuh Syukur
Belajar Menghitung Hari-Hari Kita
Mazmur hari ini membawa kita kepada sebuah doa yang sangat indah: memohon agar Tuhan mengajar kita menggunakan hari-hari kehidupan dengan bijaksana.
Waktu adalah salah satu pemberian Tuhan yang paling berharga.
Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali.
Barang yang rusak mungkin dapat diganti.
Tetapi waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.
Karena itu kita perlu bertanya:
Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi?
Berapa banyak waktu yang hilang karena menyimpan kemarahan?
Berapa banyak kesempatan mengasihi yang kita lewatkan?
Berapa kali kita berkata, “Nanti saya akan berdoa”?
“Nanti saya akan meminta maaf.”
“Nanti saya akan menghubungi orang tua.”
“Nanti saya akan kembali ke gereja.”
“Nanti saya akan memperbaiki hidup.”
Masalahnya, kita tidak mengetahui berapa banyak “nanti” yang masih kita miliki.
Sabda Tuhan tidak bermaksud membuat kita takut.
Sebaliknya, Sabda Tuhan mengajak kita menghargai hari ini.
Hari ini kita masih dapat berdoa.
Hari ini kita masih dapat mengampuni.
Hari ini kita masih dapat meminta maaf.
Hari ini kita masih dapat melakukan kebaikan.
Hari ini kita masih dapat kembali kepada Tuhan.
Jangan menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk mulai hidup bersama Tuhan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 19 September 2026: Menjadi Tanah yang Baik bagi Sabda Tuhan
Tiga Poin Permenungan Hari Ini
1. Apa yang sedang saya kejar?
Kita semua mempunyai cita-cita dan tanggung jawab. Itu baik.
Tetapi kita perlu memastikan bahwa kesibukan tidak membuat kita kehilangan arah.
Pekerjaan penting.
Keluarga penting.
Masa depan penting.
Namun semuanya perlu ditempatkan di bawah terang kehendak Tuhan.
Jangan sampai kita berhasil mendapatkan banyak hal tetapi kehilangan kedamaian hati, keluarga, iman, dan hubungan dengan Tuhan.
2. Apakah saya mengenal Yesus atau hanya mengetahui tentang Dia?
Pertanyaan ini perlu dijawab secara pribadi.
Jangan hanya bertanya:
“Siapakah Yesus menurut orang lain?”
Tanyakanlah:
“Siapakah Yesus bagiku?”
Apakah Dia sekadar tokoh agama?
Apakah Dia hanya tempat meminta pertolongan?
Ataukah Dia sungguh Tuhan, Sahabat, Penebus, dan pusat kehidupan kita?
Jawaban sejati tidak hanya diberikan melalui kata-kata.
Jawaban itu terlihat dari cara kita hidup.
3. Apakah perjumpaan dengan Tuhan mengubah hidup saya?
Setiap perjumpaan sejati dengan Kristus seharusnya perlahan-lahan mengubah hati.
Mungkin perubahan itu tidak terjadi sekaligus.
Namun seiring perjalanan iman, seharusnya ada sesuatu yang bertumbuh.
Kita menjadi lebih sabar.
Lebih mudah mengampuni.
Lebih rendah hati.
Lebih peduli kepada sesama.
Lebih setia berdoa.
Lebih berani meninggalkan dosa.
Bukan karena kita menjadi sempurna, tetapi karena kita memberi ruang bagi rahmat Tuhan untuk bekerja.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 20 September 2026: Kemurahan Hati Allah Melampaui Perhitungan Manusia
Pesan untuk Kehidupan Hari Ini
Di tengah dunia yang penuh informasi, kita dapat mengetahui banyak hal tetapi kehilangan kebijaksanaan.
Kita mengetahui berita terbaru.
Kita mengikuti media sosial.
Kita mengetahui apa yang dilakukan banyak orang.
Namun jangan sampai kita mengetahui begitu banyak tentang dunia tetapi semakin sedikit mengenal Tuhan.
Hari ini, sediakanlah beberapa menit dalam keheningan.
Letakkan telepon.
Hentikan sejenak kesibukan.
Datanglah kepada Tuhan.
Tidak perlu menggunakan banyak kata.
Katakan saja:
“Yesus, aku ingin mengenal-Mu lebih dalam.”
Kemudian diamlah.
Biarkan Tuhan berbicara melalui Sabda-Nya.
Mungkin kita tidak mengalami sesuatu yang luar biasa. Tetapi kesetiaan untuk datang kepada Tuhan setiap hari perlahan-lahan akan membentuk hati kita.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 21 September 2026: Tuhan Memanggil Kita Apa Adanya
Pertanyaan Refleksi
- Apa yang paling banyak menyita pikiran dan waktu saya akhir-akhir ini?
- Apakah kesibukan saya semakin mendekatkan atau justru menjauhkan saya dari Tuhan?
- Apakah saya mencari Yesus hanya ketika membutuhkan pertolongan?
- Siapakah Yesus bagi saya secara pribadi?
- Adakah bagian kehidupan saya yang belum berani saya serahkan kepada Tuhan?
- Kebaikan sederhana apa yang dapat saya lakukan hari ini?
Baca juga: Renungan Harian Katolik 22 September 2026: Mendengar Sabda Tuhan dan Melaksanakannya
Doa Renungan Harian
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Tuhan Yesus yang penuh kasih,
hari ini aku datang kepada-Mu dengan segala keadaan hidupku.
Sering kali aku sibuk mengejar banyak hal hingga lupa bahwa hanya Engkaulah yang dapat memenuhi kerinduan terdalam hatiku.
Aku sering mencari-Mu ketika membutuhkan pertolongan, tetapi melupakan-Mu ketika keadaan berjalan baik.
Ampunilah aku, Tuhan.
Jangan biarkan aku hanya mengetahui tentang Engkau tanpa sungguh mengenal-Mu.
Tanamkanlah dalam hatiku kerinduan untuk mencari wajah-Mu setiap hari.
Ajarlah aku menggunakan waktu yang Engkau berikan dengan bijaksana.
Bantulah aku untuk tidak menyia-nyiakan hari-hariku dalam kebencian, iri hati, kecemasan, dan kesibukan yang tidak membawa kehidupan.
Bukalah mataku agar mampu melihat kehadiran-Mu dalam Ekaristi, dalam Sabda-Mu, dalam keluargaku, dalam pekerjaanku, dan terutama dalam sesama yang membutuhkan kasih.
Tuhan Yesus,
jika hatiku mulai menjauh, panggillah aku kembali.
Jika imanku melemah, kuatkanlah aku.
Jika aku jatuh dalam dosa, berilah aku keberanian untuk bertobat.
Jika hidup terasa kosong, ingatkanlah aku bahwa Engkau selalu berjalan bersamaku.
Aku ingin mencari-Mu bukan hanya karena mukjizat-Mu, tetapi karena aku mencintai-Mu.
Aku ingin mengenal-Mu lebih dalam, mengikuti-Mu dengan setia, dan menjadikan Engkau pusat seluruh hidupku.
Bimbinglah langkahku hari ini dan setiap hari.
Sebab Engkaulah jalan, kebenaran, dan kehidupan.
Amin.
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 23 September 2026: Diutus dengan Hati yang Berserah
Penutup
Herodes ingin melihat Yesus, tetapi Injil mengingatkan kita bahwa sekadar rasa ingin tahu tidak cukup.
Kita dipanggil untuk melangkah lebih jauh.
Dari mendengar tentang Yesus menjadi mengenal Yesus.
Dari penasaran kepada Yesus menjadi percaya kepada Yesus.
Dari mencari pertolongan-Nya menjadi menyerahkan hidup kepada-Nya.
Dan dari sekadar berkata, “Aku ingin melihat Yesus,” menjadi:
“Tuhan Yesus, aku ingin mengikuti-Mu.”
Semoga hari ini kita tidak hanya sibuk mengejar sesuatu yang akan berlalu. Semoga kita menggunakan setiap kesempatan untuk semakin mengenal dan mencintai Dia yang tidak pernah berlalu.
🙏 Renungan hari ini bermanfaat bagi Anda?
Bagikan kepada keluarga dan sahabat. Mungkin melalui satu kali berbagi, Anda dapat menjadi jalan Tuhan untuk menguatkan seseorang hari ini.
Demikianlah Renungan Harian Katolik 24 September 2026, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
