Pesta Salib Suci 14 September: Sejarah dan Makna
Pesta Salib Suci 14 September: Mengenang Salib Kristus, Tanda Kasih dan Keselamatan
Setiap tanggal 14 September, Gereja Katolik merayakan Pesta Salib Suci, sebuah perayaan liturgi yang mengajak umat beriman memandang kembali misteri Salib Tuhan Yesus Kristus. Salib yang pada zaman Romawi merupakan alat penghukuman dan kematian, melalui wafat dan kebangkitan Kristus telah menjadi tanda kasih Allah, kemenangan, pengharapan, dan keselamatan bagi umat manusia.
Pesta Salib Suci dikenal pula dengan nama Pesta Pemuliaan Salib Suci atau Exaltation of the Holy Cross. Perayaan ini bukanlah pemuliaan terhadap penderitaan atau benda semata. Gereja memuliakan karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus yang menyerahkan diri-Nya di kayu salib demi penebusan manusia.
Karena itu, ketika umat Katolik membuat Tanda Salib, memasang salib di rumah, mengenakan salib, atau berlutut di hadapan salib dalam liturgi, perhatian iman tidak berhenti pada kayu atau benda tersebut. Salib menunjuk kepada Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit, Sang Penebus dunia.
Pesta Salib Suci pada 14 September mengingatkan kita bahwa jalan Kristiani tidak dapat dipisahkan dari salib. Namun salib bukanlah akhir. Sesudah Jumat Agung datanglah Paskah. Sesudah kematian datanglah kebangkitan. Di dalam Kristus, penderitaan dan kematian tidak mempunyai kata terakhir.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Apa Itu Pesta Salib Suci?
Pesta Salib Suci 14 September merupakan perayaan Gereja untuk mengenang dan memuliakan Salib Kristus sebagai tanda karya penebusan Allah. Dalam tradisi liturgi Gereja, perayaan ini memiliki akar sejarah yang sangat tua dan berkaitan erat dengan Yerusalem serta tempat-tempat yang dikenang sebagai lokasi sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.
Makna terpenting dari pesta ini tidak terletak pada kisah mengenai sebuah benda bersejarah, melainkan pada misteri Paskah Kristus.
Yesus yang wafat di kayu salib adalah Yesus yang bangkit. Karena itulah umat Kristiani tidak melihat salib sebagai simbol kekalahan. Salib justru menyatakan betapa jauh kasih Allah menjangkau manusia.
Kristus taat kepada Bapa sampai mati. Ia menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Apa yang tampaknya merupakan kehinaan di mata dunia menjadi jalan menuju kemuliaan.
Santo Paulus mengungkapkan misteri ini dengan sangat kuat ketika berbicara mengenai Kristus yang merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Karena ketaatan itulah Allah meninggikan Dia.
Inilah paradoks iman Kristiani: melalui salib datanglah kehidupan; melalui kematian Kristus datanglah keselamatan.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Sejarah Pesta Salib Suci 14 September
Tradisi Penemuan Salib Kristus
Sejarah Pesta Pemuliaan Salib Suci secara tradisional dihubungkan dengan Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung.
Pada abad keempat, setelah agama Kristen memperoleh kebebasan yang lebih besar dalam Kekaisaran Romawi, perhatian terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem berkembang. Menurut tradisi Kristen kuno, Santa Helena melakukan perjalanan ke Tanah Suci dan dikaitkan dengan penemuan Salib Kristus.
Dalam berbagai tradisi kemudian, diceritakan bahwa penggalian di sekitar lokasi Golgota menghasilkan beberapa salib dan bahwa Salib Kristus kemudian dapat dikenali. Detail mengenai bagaimana salib tersebut diidentifikasi berbeda-beda dalam tradisi yang berkembang kemudian.
Karena itu, perlu dibedakan antara fakta sejarah yang dapat ditelusuri dan detail yang berasal dari tradisi kesalehan. Yang jelas, penghormatan terhadap Salib Kristus telah berkembang sangat awal dalam kehidupan Gereja dan Yerusalem menjadi pusat penting perayaan misteri sengsara serta kebangkitan Tuhan.
Basilika Makam Kudus di Yerusalem
Pada masa Kaisar Konstantinus, sebuah kompleks gereja besar dibangun di Yerusalem di lokasi yang dikaitkan dengan Golgota dan makam Kristus.
Kompleks tersebut kemudian dikenal sebagai Basilika Makam Kudus. Dedikasinya pada abad keempat menjadi salah satu latar belakang penting perkembangan perayaan liturgis pada bulan September.
Pada masa itu, relikui yang dihormati sebagai bagian dari Salib Kristus diperlihatkan kepada umat. Dari tradisi inilah berkembang perayaan yang kemudian dikenal luas sebagai Pemuliaan Salib Suci.
Tanggal 14 September akhirnya menjadi hari khusus ketika Gereja mengarahkan perhatian umat kepada Salib Tuhan.
Salib dalam Perjalanan Sejarah Gereja
Penghormatan kepada Salib Kristus terus berkembang sepanjang sejarah. Relikui Salib Suci juga mempunyai perjalanan sejarah yang kompleks, termasuk peristiwa-peristiwa peperangan dan perubahan kekuasaan di Yerusalem.
Namun bagi Gereja, arti Pesta Salib Suci jauh melampaui sejarah perjalanan sebuah relikui.
Yang dirayakan adalah misteri Kristus sendiri.
Salib dihormati karena pada salib itulah Yesus memberikan diri-Nya bagi keselamatan dunia. Dengan demikian, perayaan tanggal 14 September menjadi kesempatan bagi seluruh Gereja untuk merenungkan pusat iman Kristiani: wafat dan kebangkitan Tuhan.
Baca juga: Santo Yohanes Krisostomus – Santo 13 September
Makna Salib dalam Iman Katolik
Salib Adalah Tanda Kasih Allah
Mengapa salib begitu penting bagi umat Katolik?
Jawabannya adalah karena salib memperlihatkan kasih Allah yang memberikan diri.
Dalam Injil Yohanes kita menemukan salah satu pernyataan yang paling terkenal mengenai kasih Allah:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.”
Kasih tersebut mencapai puncaknya dalam misteri Paskah. Yesus tidak sekadar mengajarkan tentang kasih. Ia menjalani kasih itu sampai pada penyerahan diri.
Di kayu salib, Kristus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya perasaan. Kasih berarti memberikan diri bagi orang lain.
Karena itu, setiap kali melihat salib, umat Kristiani diingatkan: kita dikasihi Allah dengan kasih yang tidak berhenti ketika berhadapan dengan dosa, penderitaan, dan kematian.
Salib Adalah Tanda Keselamatan
Salib juga merupakan tanda keselamatan.
Dalam bacaan yang lazim dikaitkan dengan Pesta Salib Suci, Gereja mengingat kembali kisah bangsa Israel di padang gurun. Ketika bangsa itu mengalami akibat pemberontakannya, Musa diperintahkan membuat ular tembaga dan meninggikannya. Mereka yang memandangnya memperoleh keselamatan dari maut.
Yesus kemudian memakai gambaran tersebut ketika berbicara kepada Nikodemus.
Sebagaimana Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan.
Gambaran ini mencapai kepenuhannya dalam penyaliban Kristus.
Kristus “ditinggikan” di kayu salib. Namun peninggian itu sekaligus menjadi jalan menuju kemuliaan-Nya. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus mengalahkan dosa dan maut.
Salib dan Kebangkitan Tidak Dapat Dipisahkan
Iman Katolik tidak berhenti pada Jumat Agung.
Kristus yang disalibkan adalah Kristus yang bangkit.
Inilah alasan salib tidak boleh dimengerti sebagai pemujaan terhadap kesengsaraan. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa penderitaan pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang harus dicari atau dicintai.
Yang dimuliakan adalah kasih Kristus yang setia bahkan di tengah penderitaan.
Paskah mengubah cara kita memandang salib.
Kematian tidak lagi menjadi akhir. Kubur tidak lagi mempunyai kemenangan terakhir. Penderitaan manusia dapat dipersatukan dengan Kristus dan memperoleh makna baru dalam terang kebangkitan.
Baca juga: Santo Yohanes Gabriel Dufresse, Martir 14 September
Mengapa Umat Katolik Menghormati Salib?
Sebagian orang mungkin bertanya mengapa umat Katolik begitu sering menggunakan salib dalam kehidupan rohani.
Salib terdapat di gereja, rumah, sekolah Katolik, rumah sakit, kalung, rosario, dan berbagai benda devosi.
Jawabannya sederhana: salib membawa ingatan umat kepada Kristus.
Gereja tidak menyembah kayu.
Penyembahan hanya diberikan kepada Allah. Ketika salib dihormati, penghormatan tersebut diarahkan kepada Kristus dan misteri keselamatan yang dilambangkan olehnya.
Hal ini terlihat secara khusus dalam liturgi Jumat Agung ketika umat memberikan penghormatan kepada Salib Suci.
Tindakan tersebut bukan penyembahan terhadap materi salib, tetapi ungkapan iman dan syukur kepada Kristus yang wafat demi keselamatan manusia.
Salib menjadi semacam pewartaan tanpa kata.
Melihat salib berarti diingatkan:
Allah mengasihi manusia.
Kristus menyerahkan diri-Nya.
Dosa tidak memiliki kemenangan terakhir.
Kematian telah dikalahkan.
Dan manusia dipanggil mengikuti Kristus menuju kehidupan kekal.
Tanda Salib dalam Kehidupan Umat Katolik
Salah satu doa paling sederhana yang dipelajari seorang Katolik adalah Tanda Salib:
“Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.”
Doa singkat ini memiliki makna iman yang sangat mendalam.
Dengan membuat Tanda Salib, umat mengakui iman kepada Allah Tritunggal sekaligus mengingat misteri keselamatan yang dilaksanakan Kristus melalui Salib-Nya.
Tanda Salib seharusnya tidak dilakukan sekadar sebagai kebiasaan otomatis.
Ketika memulai hari dengan Tanda Salib, kita mempersembahkan kehidupan kepada Allah.
Ketika membuat Tanda Salib sebelum makan, kita bersyukur atas berkat-Nya.
Ketika membuat Tanda Salib sebelum berdoa, kita menyadari bahwa kita datang kepada Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus.
Ketika membuat Tanda Salib dalam kesulitan, kita mengingat bahwa Kristus menyertai kita.
Dan ketika Tanda Salib dibuat pada akhir kehidupan seorang beriman, kita menyatakan pengharapan bahwa orang yang meninggal dalam Kristus dipanggil menuju kehidupan bersama-Nya.
Dengan demikian, Pesta Salib Suci juga menjadi kesempatan yang baik untuk memperbarui cara kita membuat Tanda Salib: lebih perlahan, sadar, hormat, dan penuh iman.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Senin, 14 September 2026 Yohanes 3:13-17
Bacaan Kitab Suci Pesta Salib Suci
Bacaan liturgi Pesta Pemuliaan Salib Suci membawa umat masuk ke dalam hubungan antara Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Kristus.
Bilangan 21:4–9 — Ular Tembaga di Padang Gurun
Dalam perjalanan di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut melawan Allah dan Musa. Setelah mereka mengalami malapetaka akibat ketidaktaatan mereka, bangsa itu bertobat dan meminta Musa berdoa.
Musa kemudian membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Mereka yang memandangnya tetap hidup.
Kisah tersebut menjadi gambaran yang kelak dipakai Yesus untuk menjelaskan misteri salib.
Keselamatan datang ketika manusia dengan iman berpaling kepada karya Allah.
Filipi 2:6–11 — Kristus Taat Sampai Mati
Surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi membawa kita ke pusat misteri Kristus.
Kristus merendahkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Karena itu Allah meninggikan Dia.
Gerak merendahkan diri lalu ditinggikan menjadi kunci untuk memahami Pesta Salib Suci.
Jalan Kristus menuju kemuliaan melewati penyerahan diri.
Bagi murid Kristus, hal ini menjadi panggilan untuk meninggalkan kesombongan dan belajar hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, serta pelayanan.
Yohanes 3:13–17 — Anak Manusia Harus Ditinggikan
Dalam Injil, Yesus menghubungkan kisah Musa dengan misteri diri-Nya sendiri.
Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya memperoleh hidup kekal.
Kemudian muncul inti kabar gembira: Allah begitu mengasihi dunia sehingga mengaruniakan Putra-Nya.
Allah mengutus Putra bukan untuk menghukum dunia, tetapi supaya dunia diselamatkan melalui Dia.
Karena itu, Salib Kristus harus selalu dibaca dalam terang kasih dan keselamatan Allah.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 14 September 2026 Memandang Salib, Menemukan Keselamatan
Renungan Pesta Salib Suci: Memikul Salib Bersama Kristus
Setiap manusia mempunyai “salib” dalam kehidupannya.
Ada kegagalan, kehilangan, konflik keluarga, persoalan pekerjaan, kekecewaan, kesepian, ketidakpastian, dan berbagai pengalaman berat lainnya.
Namun iman Kristiani tidak mengajarkan kita untuk mencari penderitaan.
Sebaliknya, ketika penderitaan yang tidak dapat dihindari hadir, kita diajak untuk menghadapinya bersama Kristus.
Yesus sendiri mengajarkan para murid untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya.
Memikul salib bukan berarti pasrah terhadap kejahatan atau membiarkan ketidakadilan berlangsung. Dalam keadaan yang berbahaya atau tidak adil, mencari pertolongan dan memperjuangkan kebenaran dapat menjadi tindakan yang benar.
Memikul salib berarti tetap memilih jalan Kristus ketika jalan itu menuntut kesetiaan.
Kadang salib kita adalah mengampuni ketika hati ingin membalas.
Kadang salib berarti tetap jujur ketika ketidakjujuran menawarkan keuntungan.
Kadang salib berarti setia menjalankan tanggung jawab yang berat.
Kadang salib berarti menemani seseorang yang sedang menderita.
Kadang salib berarti mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Kadang salib berarti terus berharap kepada Tuhan ketika jawaban doa belum terlihat.
Dalam semuanya itu, kita tidak memikul salib sendirian.
Kristus telah berjalan lebih dahulu.
Dari Salib Menuju Kebangkitan
Ada satu pesan penting dari Pesta Salib Suci 14 September yang tidak boleh dilupakan: salib bukan titik terakhir perjalanan Kristus.
Setelah Golgota datanglah makam kosong.
Karena itu, orang Kristiani selalu mempunyai alasan untuk berharap.
Harapan Kristiani bukan optimisme kosong yang mengatakan bahwa semua persoalan pasti segera selesai. Harapan Kristiani berakar pada suatu Pribadi: Yesus Kristus yang wafat dan bangkit.
Kita mungkin tidak selalu memahami mengapa suatu penderitaan terjadi.
Kita mungkin tidak memperoleh semua jawaban yang kita inginkan.
Namun kita percaya bahwa Allah mampu membawa kehidupan dari kematian, pengharapan dari keputusasaan, dan keselamatan dari apa yang tampaknya sebagai kekalahan.
Di Golgota, para murid melihat kematian Guru mereka.
Pada pagi Paskah, mereka menemukan bahwa kisah itu belum berakhir.
Begitu pula dalam kehidupan kita.
Ketika berada dalam masa yang gelap, jangan cepat menganggap bahwa Allah telah selesai bekerja.
Pelajaran Rohani dari Pesta Salib Suci
1. Kasih Sejati Berani Berkorban
Salib menunjukkan bahwa kasih bukan sekadar kata-kata.
Kristus memberikan diri-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kasih kepada pasangan, anak, orang tua, sahabat, komunitas, dan sesama juga membutuhkan pengorbanan.
Pengorbanan itu dapat berupa waktu, perhatian, kesabaran, pengampunan, dan kesediaan mendengarkan.
2. Kerendahan Hati Membuka Jalan kepada Allah
Kristus merendahkan diri.
Dunia sering mengukur keberhasilan dari kekuasaan, kekayaan, popularitas, atau kemampuan mengalahkan orang lain.
Salib menunjukkan jalan berbeda.
Kebesaran dalam Kerajaan Allah ditemukan dalam kasih dan pelayanan.
3. Pengampunan Lebih Kuat daripada Kebencian
Dari salib, Yesus menunjukkan belas kasih.
Ini menjadi tantangan besar bagi setiap murid-Nya.
Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kejahatan adalah benar. Pengampunan juga tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti sebelumnya tanpa batas yang sehat.
Mengampuni berarti menolak membiarkan kebencian menguasai hati dan menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah.
4. Jangan Kehilangan Harapan
Salib tampak seperti kekalahan.
Kebangkitan menunjukkan bahwa Allah memiliki kata terakhir.
Ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana, orang beriman dipanggil untuk tetap berharap.
Bukan karena kita mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi karena kita mengetahui kepada siapa kita percaya.
5. Ikutilah Kristus Setiap Hari
Salib bukan sekadar simbol yang dipajang.
Salib adalah panggilan hidup.
Mengikuti Kristus berarti membawa nilai Injil ke dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, lingkungan, pelayanan, dan relasi dengan sesama.
Kesetiaan kepada Kristus harus terlihat dalam pilihan sehari-hari.
Cara Menghayati Pesta Salib Suci 14 September
Ada beberapa cara sederhana untuk menghayati Pesta Salib Suci secara lebih mendalam.
Pertama, jika memungkinkan, ikutilah Perayaan Ekaristi dan dengarkan bacaan Kitab Suci dengan penuh perhatian.
Kedua, luangkan waktu untuk berdoa di depan salib atau crucifix. Pandanglah Kristus yang tersalib dan bersyukurlah atas kasih-Nya.
Ketiga, buatlah Tanda Salib dengan lebih sadar sepanjang hari. Jangan terburu-buru. Ingatlah bahwa tindakan sederhana tersebut merupakan pengakuan iman.
Keempat, bacalah dan renungkan Yohanes 3:13–17 atau Filipi 2:6–11.
Kelima, bawalah satu kesulitan pribadi kepada Tuhan. Daripada hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi?”, kita juga dapat berdoa, “Tuhan, bagaimana aku dapat tetap setia kepada-Mu dalam keadaan ini?”
Keenam, lakukan satu tindakan kasih yang konkret. Kunjungilah orang yang kesepian, bantulah seseorang yang membutuhkan, berdamailah dengan orang lain jika memungkinkan, atau berikan perhatian kepada anggota keluarga yang membutuhkan dukungan.
Dengan demikian, penghormatan terhadap Salib Suci tidak berhenti pada devosi, tetapi menghasilkan buah kasih dalam kehidupan nyata.
Salib Kristus di Tengah Dunia Modern
Manusia modern sering berusaha menghindari segala bentuk ketidaknyamanan. Kita ingin kehidupan berjalan cepat, mudah, dan sesuai keinginan.
Namun kenyataan tidak selalu demikian.
Ada hal-hal yang membutuhkan kesabaran. Ada hubungan yang membutuhkan pengampunan. Ada tanggung jawab yang membutuhkan pengorbanan. Ada kebenaran yang harus dipertahankan meskipun tidak populer.
Di sinilah pesan Salib Kristus tetap relevan.
Salib mengajarkan bahwa hidup yang bermakna tidak selalu merupakan hidup yang paling mudah.
Kristus tidak menyelamatkan dunia dengan mencari kenyamanan bagi diri-Nya. Ia menyelamatkan melalui kasih yang memberikan diri.
Karena itu, ketika dunia berkata, “Utamakan dirimu sendiri,” Salib mengajarkan kita untuk bertanya, “Bagaimana aku dapat mengasihi?”
Ketika dunia berkata, “Balaslah orang yang menyakitimu,” Salib mengajarkan pengampunan.
Ketika dunia berkata, “Kekuasaan adalah kemenangan,” Salib memperlihatkan kekuatan pelayanan.
Dan ketika dunia berkata bahwa kematian adalah akhir segalanya, iman Kristiani mewartakan: Kristus telah bangkit.
Doa pada Pesta Salib Suci
Ya Allah, Bapa yang Mahakasih,
kami bersyukur kepada-Mu karena melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Engkau telah menunjukkan kasih-Mu yang begitu besar kepada dunia.
Kami memuji Engkau atas misteri Salib Kristus, tempat kasih, ketaatan, dan penyerahan diri dinyatakan dengan sempurna.
Tuhan Yesus Kristus, ajarlah kami mengikuti jejak-Mu. Ketika kami menghadapi kesulitan, berilah kami kekuatan untuk tetap setia. Ketika hati kami dipenuhi luka, ajarlah kami mengampuni. Ketika kami kehilangan harapan, ingatkanlah kami bahwa Salib-Mu tidak berakhir di Golgota, tetapi menuju kemenangan kebangkitan.
Tolonglah kami agar tidak hanya mengenakan atau memandang salib, tetapi sungguh menghidupi maknanya melalui kasih, kerendahan hati, pengorbanan, pelayanan, dan kesetiaan kepada kehendak-Mu.
Semoga Salib Kristus selalu menjadi tanda pengharapan bagi keluarga kami, Gereja, dan seluruh dunia.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Penutup
Pesta Salib Suci 14 September mengundang seluruh umat Katolik untuk kembali memandang pusat iman Kristiani: Yesus Kristus yang wafat dan bangkit demi keselamatan manusia.
Salib bukan simbol keputusasaan.
Salib adalah tanda kasih Allah.
Salib bukan kemenangan kematian.
Salib adalah jalan menuju kebangkitan dan kehidupan.
Salib bukan sekadar hiasan Kristiani.
Salib adalah panggilan untuk mengikuti Kristus melalui kasih, pengampunan, kerendahan hati, pengorbanan, dan kesetiaan.
Setiap kali kita membuat Tanda Salib, semoga kita tidak melakukannya hanya karena kebiasaan. Biarlah kita kembali mengingat misteri iman yang terkandung di dalamnya: kita adalah milik Allah, ditebus oleh Kristus, dan dipanggil hidup dalam Roh Kudus.
Pada 14 September, ketika Gereja merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci, marilah kita memandang Kristus yang tersalib dengan iman dan memandang Kristus yang bangkit dengan pengharapan.
Sebab bagi mereka yang percaya, perjalanan tidak berhenti di Golgota.
Melalui Salib menuju kebangkitan. Melalui Kristus menuju kehidupan kekal.
Mari Bagikan Renungan Pesta Salib Suci
Jika renungan Pesta Salib Suci 14 September ini menguatkan iman Anda, jangan simpan pesan kasih Kristus hanya untuk diri sendiri. Bagikan renungan ini kepada keluarga, sahabat, komunitas lingkungan, grup doa, atau orang-orang yang mungkin sedang membutuhkan pengharapan dan kekuatan.
Satu pesan sederhana yang kita bagikan dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk kembali memandang Salib Kristus dan menemukan pengharapan di tengah pergumulannya.
Mari ikut mewartakan bahwa Salib Kristus bukan tanda kekalahan, melainkan tanda kasih, keselamatan, dan kemenangan. Semoga semakin banyak orang mengenal kasih Tuhan dan dikuatkan untuk memikul salib kehidupan bersama Kristus.
Selamat merayakan Pesta Salib Suci, 14 September.
Tuhan memberkati kita dan keluarga kita. ✝️
Bagikan renungan ini kepada orang yang Anda kasihi, dan jadilah pembawa kabar pengharapan hari ini.
Demikianlah Pesta Salib Suci 14 September: Sejarah dan Makna, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
