Santo Yohanes Krisostomus – Santo 13 September
Santo Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja – Santo Santa 13 September
Setiap tanggal 13 September, Gereja Katolik memperingati Santo Yohanes Krisostomus, seorang uskup, pengkhotbah besar, Bapa Gereja, dan Pujangga Gereja yang hidup pada abad keempat hingga awal abad kelima. Ia dikenang karena keberaniannya mewartakan kebenaran Injil, kepeduliannya terhadap kaum miskin, serta kemampuan luar biasa dalam menjelaskan Kitab Suci.
Nama Krisostomus berasal dari bahasa Yunani Chrysostomos, yang berarti “mulut emas”. Gelar ini diberikan karena kefasihan dan kedalaman khotbahnya. Kata-katanya bukan sekadar indah untuk didengar, tetapi mampu menggugah hati, menegur ketidakadilan, dan mengajak umat untuk menjalani iman Kristiani secara nyata.
Kehidupan Santo Yohanes Krisostomus juga menunjukkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran tidak selalu membawa kenyamanan. Sebagai Uskup Agung Konstantinopel, ia berhadapan dengan berbagai kepentingan politik dan kehidupan mewah di kalangan masyarakat serta lingkungan kekaisaran. Keteguhannya membuatnya mengalami pertentangan, pengasingan, dan penderitaan.
Namun, justru melalui penderitaan itulah kesaksiannya semakin kuat. Sampai akhir hidupnya, Yohanes berusaha tetap setia kepada Kristus dan pelayanan Gereja.
Peringatan Santo Yohanes Krisostomus 13 September mengajak umat Katolik untuk merenungkan kembali bagaimana kita menggunakan perkataan, kekayaan, jabatan, dan kemampuan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santo Yohanes Krisostomus?
Santo Yohanes Krisostomus adalah salah seorang Bapa Gereja terbesar dari tradisi Timur. Ia dikenal sebagai pengkhotbah, penafsir Kitab Suci, imam, dan kemudian Uskup Agung Konstantinopel.
Yohanes diperkirakan lahir sekitar tahun 349 di Antiokhia, salah satu kota penting dalam Kekaisaran Romawi dan pusat awal perkembangan agama Kristen. Ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang.
Ayahnya meninggal ketika Yohanes masih kecil. Ibunya, Anthusa, kemudian membesarkannya dan memberikan pendidikan yang baik kepadanya. Yohanes memperoleh pendidikan dalam bidang sastra, retorika, dan berbagai ilmu yang dianggap penting pada zamannya.
Kemampuannya dalam retorika kelak menjadi salah satu sarana penting dalam pelayanannya. Namun, kemampuan berbicara yang ia miliki tidak dipergunakan hanya untuk mencari kehormatan duniawi. Setelah semakin mendalami iman Kristiani, Yohanes mengarahkan bakatnya untuk pewartaan Injil.
Ia kemudian menjadi salah seorang pengkhotbah terbesar dalam sejarah Kekristenan.
Arti Gelar “Krisostomus”
Nama kelahirannya adalah Yohanes. Gelar Chrysostomos atau Krisostomus diberikan kepadanya setelah kematiannya sebagai penghormatan terhadap kemampuan luar biasanya dalam berkhotbah.
Dalam bahasa Yunani, chrysos berarti emas dan stoma berarti mulut. Karena itu, Chrysostomos secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “mulut emas”.
Namun, kekuatan pewartaan Santo Yohanes Krisostomus bukan hanya terletak pada keindahan bahasanya.
Ia berusaha menjelaskan Kitab Suci dengan cara yang dapat dipahami umat dan kemudian menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Ia berbicara mengenai doa, keluarga, kekayaan, kemiskinan, keadilan, pertobatan, kehidupan moral, serta tanggung jawab umat Kristiani terhadap sesama.
Baginya, firman Tuhan harus sungguh-sungguh mengubah kehidupan.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Masa Muda dan Panggilan Santo Yohanes Krisostomus
Pendidikan yang diterima Yohanes membuka kemungkinan baginya untuk mengejar karier yang menjanjikan dalam kehidupan masyarakat Romawi. Ia mempelajari retorika di Antiokhia dan memiliki kemampuan intelektual yang menonjol.
Namun, kehidupan duniawi tidak sepenuhnya memuaskan kerinduan hatinya.
Yohanes semakin tertarik kepada kehidupan Kristiani yang mendalam. Setelah menerima baptisan ketika sudah dewasa, ia semakin serius mempelajari Kitab Suci dan menjalani kehidupan rohani.
Dalam perjalanan panggilannya, Yohanes pernah menjalani kehidupan asketis yang sangat keras. Ia menghabiskan waktu dalam kesunyian, doa, puasa, dan pembelajaran Kitab Suci.
Praktik asketis yang terlalu berat akhirnya memengaruhi kesehatannya. Ia kemudian kembali ke Antiokhia.
Pengalaman tersebut tetap meninggalkan pengaruh besar terhadap spiritualitasnya. Yohanes memahami bahwa kehidupan seorang murid Kristus menuntut pengendalian diri dan kebebasan dari keterikatan terhadap harta maupun kehormatan duniawi.
Baca juga: Nama Tersuci Maria, Ibu Yesus – 12 September
Santo Yohanes Krisostomus Menjadi Imam dan Pengkhotbah
Yohanes ditahbiskan menjadi diakon pada sekitar tahun 381 dan kemudian menjadi imam sekitar tahun 386.
Sebagai imam di Antiokhia, kemampuan berkhotbahnya semakin dikenal luas. Banyak umat datang untuk mendengarkan penjelasannya mengenai Kitab Suci.
Ia memberikan rangkaian homili mengenai berbagai kitab dalam Alkitab, termasuk Injil Matius, Injil Yohanes, Surat-surat Santo Paulus, Kitab Kejadian, dan berbagai bagian Kitab Suci lainnya.
Khotbah yang Dekat dengan Kehidupan Umat
Salah satu ciri penting pewartaan Santo Yohanes Krisostomus adalah kemampuannya menghubungkan Kitab Suci dengan kehidupan konkret.
Ia tidak ingin umat hanya mendengarkan firman Tuhan di gereja lalu melupakannya setelah pulang.
Menurut Yohanes, iman harus terlihat dalam cara seseorang memperlakukan keluarganya, menggunakan kekayaannya, berbicara kepada orang lain, memperhatikan kaum miskin, serta menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Karena itulah khotbahnya terkadang terdengar keras.
Ia mengecam keserakahan, kemewahan berlebihan, ketidakpedulian terhadap orang miskin, penyalahgunaan kekuasaan, dan kehidupan moral yang bertentangan dengan Injil.
Namun, tujuan tegurannya bukan sekadar untuk menghakimi.
Ia ingin membawa umat kepada pertobatan dan kehidupan yang semakin menyerupai Kristus.
Baca juga: Pesta Salib Suci 14 September: Sejarah dan Makna
Uskup Agung Konstantinopel
Pada tahun 398, Yohanes diangkat menjadi Uskup Agung Konstantinopel, salah satu jabatan gerejawi yang sangat penting pada masa itu.
Konstantinopel merupakan pusat kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur. Kehidupan di kota tersebut sangat dekat dengan istana, pejabat tinggi, kaum bangsawan, dan berbagai kepentingan politik.
Yohanes memasuki lingkungan tersebut dengan semangat pembaruan.
Ia berusaha memperbaiki kehidupan klerus, menekankan disiplin gerejawi, mengurangi kemewahan dalam kediaman uskup, serta mengarahkan sumber daya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Gaya hidup sederhana dan kritiknya terhadap kemewahan segera menarik perhatian.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Minggu, 13 September 2026 Matius 18:21-35
Pembela Kaum Miskin
Salah satu tema yang sangat kuat dalam ajaran Santo Yohanes Krisostomus adalah perhatian kepada orang miskin.
Baginya, kepedulian terhadap mereka bukan tambahan opsional dalam kehidupan Kristiani. Kasih kepada sesama merupakan konsekuensi nyata dari kasih kepada Kristus.
Ia berkali-kali mengingatkan umat bahwa kekayaan membawa tanggung jawab.
Harta tidak seharusnya hanya digunakan untuk kesenangan pribadi ketika orang lain mengalami kelaparan dan penderitaan.
Ajaran tersebut tetap sangat relevan hingga sekarang.
Di tengah masyarakat yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan kekayaan dan status, Santo Yohanes Krisostomus mengingatkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimilikinya.
Konflik dan Penentangan terhadap Santo Yohanes Krisostomus
Ketegasan Yohanes dalam mengkritik penyalahgunaan kekayaan dan kekuasaan membuatnya memperoleh banyak lawan.
Sebagian kalangan gerejawi tidak menyukai reformasi yang ia lakukan. Selain itu, hubungannya dengan lingkungan istana juga semakin memburuk.
Salah satu tokoh penting dalam konflik tersebut adalah Permaisuri Eudoxia, istri Kaisar Arcadius. Situasi politik dan gerejawi pada masa itu sangat rumit, dan perselisihan Yohanes tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik pribadi antara dirinya dan sang permaisuri.
Ada pula pertentangan dengan sejumlah uskup, terutama Theophilus dari Aleksandria, yang memiliki kepentingan dan pengaruh besar dalam politik gerejawi saat itu.
Berbagai tuduhan kemudian diarahkan kepada Yohanes.
Sinode Oak dan Pengasingan
Pada tahun 403, sebuah sinode yang dikenal sebagai Sinode Oak (Synod of the Oak) diadakan. Dalam sinode tersebut, berbagai tuduhan diajukan terhadap Yohanes.
Ia akhirnya dijatuhi hukuman dan diasingkan.
Namun, reaksi masyarakat terhadap pengasingannya sangat kuat. Yohanes memiliki banyak pendukung di antara umat Konstantinopel. Tidak lama kemudian ia dipanggil kembali.
Kedamaian tersebut tidak berlangsung lama.
Konflik kembali muncul dan pada tahun 404, Yohanes sekali lagi diasingkan.
Kali ini pengasingannya berlangsung lebih berat dan akhirnya membawanya menuju akhir kehidupan.
Penderitaan Santo Yohanes Krisostomus dalam Pengasingan
Meskipun berada jauh dari umat yang dipercayakan kepadanya, Yohanes tidak berhenti menjalankan pelayanan rohani.
Ia tetap menulis surat, memberikan nasihat, dan menguatkan orang-orang yang berhubungan dengannya.
Kesehatannya semakin memburuk. Kondisi perjalanan dan pengasingan yang berat membuat tubuhnya semakin lemah.
Pada tahun 407, ia diperintahkan untuk dipindahkan lebih jauh menuju wilayah Pityus di pesisir timur Laut Hitam.
Perjalanan tersebut sangat berat bagi seorang yang kondisi kesehatannya sudah buruk.
Yohanes akhirnya tidak pernah mencapai tempat tujuan.
Ia meninggal di Comana di Pontus pada 14 September 407.
Tradisi mencatat kata-kata terakhir yang sangat terkenal dari Santo Yohanes Krisostomus:
“Kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatu.”
Ungkapan tersebut menggambarkan spiritualitas yang telah ia jalani sepanjang hidupnya.
Bahkan ketika kehilangan kedudukan, kenyamanan, kesehatan, dan akhirnya kehidupannya, ia tetap ingin memuliakan Allah.
Mengapa Pesta Santo Yohanes Krisostomus Diperingati 13 September?
Santo Yohanes Krisostomus meninggal pada 14 September 407. Namun, dalam kalender liturgi Gereja Katolik Roma, peringatannya dirayakan pada 13 September.
Salah satu alasannya adalah tanggal 14 September digunakan untuk perayaan penting Pesta Salib Suci.
Karena itu, peringatan liturgis Santo Yohanes Krisostomus ditempatkan pada tanggal 13 September.
Dengan demikian, dalam seri Santo Santa 13 September, umat Katolik mengenang seorang gembala yang mengabdikan kemampuan intelektual dan kefasihannya untuk mewartakan firman Allah.
Santo Yohanes Krisostomus sebagai Pujangga Gereja
Santo Yohanes Krisostomus dihormati sebagai Pujangga Gereja atau Doctor of the Church karena kedalaman ajaran teologis dan pengaruhnya yang besar terhadap kehidupan Gereja.
Tulisan dan khotbahnya merupakan sumber penting bagi teologi, spiritualitas, penafsiran Kitab Suci, kehidupan moral, dan pelayanan pastoral.
Warisan tulisannya sangat luas.
Banyak homilinya masih dapat dipelajari hingga sekarang, khususnya penjelasannya mengenai kitab-kitab Perjanjian Baru.
Seorang Bapa Gereja Timur
Yohanes juga merupakan salah seorang Bapa Gereja Timur yang paling berpengaruh.
Ia memiliki tempat istimewa dalam tradisi Gereja Timur dan Barat. Dalam tradisi Bizantium, namanya juga sangat erat dikaitkan dengan Liturgi Ilahi Santo Yohanes Krisostomus, bentuk liturgi yang sangat luas digunakan dalam Gereja-gereja tradisi Bizantium.
Pengaruhnya dengan demikian tidak terbatas pada tulisan teologis.
Warisan rohaninya terus hadir dalam kehidupan liturgis jutaan umat Kristiani.
Ajaran Santo Yohanes Krisostomus tentang Kitab Suci
Salah satu kecintaan terbesar Santo Yohanes Krisostomus adalah Kitab Suci.
Baginya, firman Tuhan bukan hanya bahan pembelajaran bagi para imam atau teolog.
Setiap umat Kristiani perlu mengenal Kitab Suci.
Ia mendorong umat untuk membawa pembacaan firman Tuhan ke dalam kehidupan keluarga. Rumah tangga Kristiani hendaknya menjadi tempat di mana iman dipelajari dan dihidupi.
Hal tersebut sangat relevan bagi keluarga Katolik masa kini.
Membaca Kitab Suci tidak harus selalu dimulai dengan pembelajaran yang rumit. Keluarga dapat memulainya dengan membaca Injil harian, merenungkannya bersama, kemudian menutupnya dengan doa.
Sedikit demi sedikit, firman Tuhan dapat membentuk cara berpikir dan bertindak.
Ajaran tentang Kekayaan dan Kemiskinan
Perhatian Santo Yohanes Krisostomus kepada orang miskin merupakan salah satu aspek paling terkenal dalam pelayanannya.
Ia menegaskan bahwa kekayaan pada dirinya sendiri bukanlah tujuan akhir kehidupan.
Orang yang memperoleh banyak berkat memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya demi kebaikan.
Dalam pemikirannya, memberi kepada orang miskin bukan hanya tindakan kemurahan hati. Di dalam orang yang membutuhkan, seorang Kristiani dipanggil untuk mengenali Kristus sendiri.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Injil tentang kasih kepada sesama.
Iman yang Menjadi Perbuatan
Kehidupan Kristiani tidak cukup hanya diwujudkan melalui kata-kata.
Seseorang dapat rajin berdoa dan mengikuti ibadah, tetapi semua itu harus menghasilkan kasih nyata.
Kita dapat bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kehadiran kita membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik?
Apakah kita menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan hanya untuk kepentingan diri sendiri?
Apakah kita masih mampu melihat penderitaan orang di sekitar kita?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita memahami mengapa pewartaan Santo Yohanes Krisostomus tetap relevan setelah lebih dari enam belas abad.
Teladan Keberanian Santo Yohanes Krisostomus
Tidak mudah menyampaikan kebenaran ketika kebenaran tersebut tidak disukai oleh orang yang berkuasa.
Santo Yohanes Krisostomus mengalami konsekuensi nyata karena keteguhannya.
Ia kehilangan jabatan dan harus menjalani pengasingan.
Namun, keberaniannya juga perlu dipahami bersama dengan tujuan pelayanan Kristiani. Membela kebenaran bukan berarti mencari pertengkaran atau merasa diri selalu benar.
Keberanian Kristiani harus lahir dari kasih kepada Allah dan sesama.
Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan hati. Sebaliknya, kasih tanpa keberanian untuk mengatakan kebenaran dapat berubah menjadi sikap yang membiarkan kesalahan terus berlangsung.
Santo Yohanes mengajak kita mencari keseimbangan tersebut.
Santo Pelindung Para Pengkhotbah
Karena kemampuan pewartaannya yang luar biasa, Santo Yohanes Krisostomus dikenal secara khusus sebagai pelindung para pengkhotbah dan mereka yang berkarya dalam pewartaan.
Teladannya sangat berharga bagi imam, diakon, katekis, pengajar agama, penulis Katolik, serta siapa pun yang menggunakan kata-kata untuk menyampaikan iman.
Namun, pesannya juga berlaku bagi setiap orang.
Pada zaman media sosial, hampir setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara kepada banyak orang.
Sebuah tulisan, komentar, foto, atau video dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan orang.
Karena itu, pertanyaan pentingnya adalah:
Untuk apakah kita menggunakan kata-kata kita?
Apakah untuk membangun atau menghancurkan?
Apakah untuk menyampaikan kebenaran atau menyebarkan informasi yang belum jelas?
Apakah untuk membawa damai atau memperbesar kebencian?
Santo Yohanes Krisostomus menunjukkan bahwa kemampuan berbicara merupakan anugerah yang sekaligus membawa tanggung jawab.
Renungan Santo Yohanes Krisostomus 13 September
Peringatan Santo Yohanes Krisostomus 13 September menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam: apa yang kita lakukan dengan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita?
Yohanes memiliki kecerdasan dan kemampuan berbicara.
Ia dapat saja menggunakan kemampuan tersebut untuk mengejar karier, kekayaan, dan kehormatan.
Sebaliknya, ia mempersembahkannya untuk pelayanan kepada Tuhan.
Tidak semua orang dipanggil menjadi pengkhotbah seperti Santo Yohanes Krisostomus. Namun, setiap orang memiliki karunia tertentu.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang mampu mendengarkan.
Ada yang memiliki kemampuan memimpin.
Ada yang memiliki sumber daya untuk membantu orang lain.
Ada pula yang mungkin hanya memiliki waktu dan perhatian untuk menemani seseorang yang sedang mengalami kesulitan.
Di hadapan Tuhan, setiap karunia dapat menjadi jalan pelayanan.
Berani Menjadi Suara Kebenaran
Kehidupan Santo Yohanes juga mengingatkan kita bahwa mengikuti Kristus terkadang menuntut keberanian.
Ada saat ketika lebih mudah untuk diam.
Ada saat ketika mengatakan kebenaran dapat membuat kita tidak populer.
Namun, seorang murid Kristus dipanggil untuk tetap berpegang pada kebenaran dengan kasih dan kebijaksanaan.
Keberanian tersebut dapat dimulai dari hal sederhana: menolak ikut menyebarkan fitnah, berlaku jujur dalam pekerjaan, membela orang yang diperlakukan tidak adil, meminta maaf ketika bersalah, atau mengingatkan sesama dengan penuh kasih.
Peduli kepada Mereka yang Membutuhkan
Teladan Santo Yohanes Krisostomus juga menantang kita untuk melihat kembali hubungan kita dengan harta benda.
Kita hidup dalam budaya yang terus mengajak manusia untuk memiliki lebih banyak.
Namun Injil mengajarkan sesuatu yang berbeda: berkat yang kita terima juga dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Kita tidak harus menjadi kaya untuk mulai berbagi.
Kita dapat berbagi makanan, waktu, pengetahuan, perhatian, kesempatan, bahkan doa.
Kasih menjadi nyata melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus.
Nilai-Nilai yang Dapat Diteladani
Dari kehidupan Santo Yohanes Krisostomus, umat Katolik dapat belajar beberapa nilai penting.
Pertama, mencintai Kitab Suci. Firman Tuhan harus menjadi makanan rohani yang membentuk pikiran dan tindakan kita.
Kedua, menggunakan kemampuan untuk kemuliaan Tuhan. Setiap bakat adalah pemberian yang dapat digunakan untuk pelayanan.
Ketiga, berani menyampaikan kebenaran. Iman kepada Kristus membutuhkan keberanian, tetapi kebenaran harus selalu disampaikan dalam kasih.
Keempat, memperhatikan orang miskin. Kasih Kristiani harus diwujudkan dalam kepedulian konkret kepada mereka yang membutuhkan.
Kelima, tetap setia dalam penderitaan. Santo Yohanes kehilangan banyak hal, tetapi ia tidak kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan.
Teladannya mengingatkan kita bahwa keberhasilan hidup Kristiani tidak terutama diukur dari kenyamanan, popularitas, atau kedudukan, melainkan dari kesetiaan kepada Allah.
Doa melalui Perantaraan Santo Yohanes Krisostomus
Allah Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur kepada-Mu atas kehidupan dan kesaksian Santo Yohanes Krisostomus,
uskup dan pujangga Gereja yang dengan setia mewartakan firman-Mu.
Tanamkanlah dalam hati kami kerinduan untuk mencintai Kitab Suci
dan keberanian untuk menghidupi kebenaran Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Ajarlah kami menggunakan perkataan untuk membangun,
menghibur mereka yang berduka,
menguatkan mereka yang lemah,
dan membawa damai kepada sesama.
Bukalah mata kami terhadap mereka yang miskin, kesepian, dan membutuhkan pertolongan.
Jauhkanlah kami dari keterikatan berlebihan kepada kekayaan dan kehormatan duniawi.
Berilah kami keteguhan ketika menghadapi kesulitan karena kesetiaan kepada-Mu.
Semoga melalui teladan dan perantaraan Santo Yohanes Krisostomus,
kami semakin setia mengikuti Yesus Kristus
dan menggunakan seluruh hidup kami bagi kemuliaan-Mu serta kebaikan sesama.
Demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Santo Yohanes Krisostomus, doakanlah kami.
Penutup
Kehidupan Santo Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja, menunjukkan bahwa kata-kata dapat menjadi sarana luar biasa bagi pewartaan Injil ketika digunakan dengan iman, keberanian, dan kasih.
Dari Antiokhia hingga Konstantinopel, dari mimbar gereja hingga tempat pengasingan, Yohanes berusaha mempertahankan satu tujuan: membawa manusia semakin dekat kepada Kristus.
Ia berbicara bagi kaum miskin, menyerukan pertobatan, menjelaskan Kitab Suci, dan tidak takut menghadapi konsekuensi ketika pewartaannya menyinggung kepentingan orang-orang berkuasa.
Pada akhirnya, ia kehilangan kedudukan dan meninggal dalam perjalanan pengasingan. Namun, warisan rohaninya tidak ikut hilang.
Lebih dari enam belas abad kemudian, khotbah dan tulisannya masih dibaca oleh umat Kristiani di seluruh dunia.
Pada peringatan Santo Santa 13 September, teladan Santo Yohanes Krisostomus mengundang kita untuk bertanya: apakah perkataan dan kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita sudah dipakai untuk membangun Kerajaan Allah?
Semoga kita belajar menggunakan perkataan dengan bijaksana, mencintai firman Tuhan, peduli kepada mereka yang membutuhkan, dan tetap setia kepada Kristus dalam segala keadaan.
Seperti semangat yang tercermin dalam akhir hidup Santo Yohanes Krisostomus, semoga seluruh perjalanan hidup kita menjadi sebuah pujian:
Kemuliaan bagi Allah dalam segala sesuatu.
Demikianlah Santo Yohanes Krisostomus – Santo 13 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
