Santo Fransiskus dari Assisi – Santo Santa 4 Oktober

Santo Fransiskus dari Assisi mengenakan jubah Fransiskan dalam peringatan Santo Santa 4 Oktober

Santo Santa 4 Oktober: Santo Fransiskus dari Assisi, Pengaku Iman

Setiap tanggal 4 Oktober, Gereja Katolik memperingati Santo Fransiskus dari Assisi, salah satu santo yang paling dikenal dan dicintai dalam sejarah Gereja. Ia dikenang karena kehidupannya yang sederhana, cintanya kepada Kristus, kepeduliannya kepada orang miskin, semangat perdamaian, serta penghormatannya terhadap seluruh ciptaan Tuhan.

Santo Fransiskus dari Assisi bukanlah seorang imam besar, penguasa, ataupun cendekiawan yang mengejar kedudukan. Ia memilih jalan yang sangat berbeda dari kehidupan masa mudanya: meninggalkan kekayaan dan kenyamanan untuk mengikuti Yesus Kristus dalam kemiskinan Injili.

Dari pertobatannya lahirlah sebuah gerakan rohani yang kemudian berkembang menjadi keluarga besar Fransiskan. Pengaruh spiritualitasnya bahkan tetap kuat berabad-abad setelah kematiannya.

Peringatan Santo Fransiskus dari Assisi pada 4 Oktober mengajak umat Katolik untuk kembali merenungkan sebuah pertanyaan mendasar: apakah kita sungguh-sungguh menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan?

Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Santo Fransiskus dari Assisi?

Santo Fransiskus dari Assisi atau Saint Francis of Assisi lahir di Assisi, Italia, sekitar tahun 1181 atau 1182. Nama baptisnya adalah Giovanni di Pietro di Bernardone.

Ayahnya, Pietro di Bernardone, adalah seorang pedagang kain yang berkecukupan. Karena hubungan dagang dan kecintaannya terhadap Prancis, sang ayah kemudian memanggil Giovanni dengan nama Francesco, yang akhirnya menjadi nama yang dikenal sepanjang sejarah.

Fransiskus tumbuh dalam keluarga berada. Pada masa mudanya, ia menikmati kehidupan yang relatif nyaman dan dikenal memiliki cita-cita duniawi sebagaimana banyak pemuda pada zamannya. Ia juga bercita-cita memperoleh kehormatan sebagai seorang kesatria.

Namun Tuhan secara perlahan mengubah arah hidupnya.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap

Masa Muda dan Pengalaman Perang

Pada masa Fransiskus hidup, kota-kota di Italia sering terlibat konflik. Assisi pun mengalami peperangan dengan Perugia.

Fransiskus ikut terlibat dalam peperangan tersebut. Sekitar tahun 1202, ia ditawan setelah pertempuran dan harus menjalani masa penahanan. Pengalaman perang, kekalahan, penjara, serta penyakit yang dialaminya kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan batinnya.

Setelah bebas, Fransiskus masih sempat mencoba mengejar impiannya menjadi seorang kesatria. Namun dalam perjalanan hidup berikutnya, ia semakin menyadari bahwa Tuhan memanggilnya menuju jalan yang berbeda.

Apa yang dahulu dianggapnya sebagai sumber kebahagiaan mulai kehilangan daya tarik.

Hatinya perlahan-lahan diarahkan kepada Kristus.

Baca juga: Santo Ewaldus Bersaudara, Martir – 3 Oktober

Pertobatan Santo Fransiskus dari Assisi

Pertobatan Fransiskus tidak terjadi hanya dalam satu peristiwa. Pertobatannya merupakan perjalanan panjang ketika Tuhan sedikit demi sedikit mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Salah satu pengalaman yang sangat penting adalah perjumpaannya dengan seorang penderita kusta.

Pada masa itu, orang yang menderita kusta sering dijauhi masyarakat. Fransiskus sendiri sebelumnya merasa takut dan jijik terhadap mereka. Namun setelah mengalami perubahan hati, ia berani mendekati seorang penderita kusta dan menunjukkan kasih kepadanya.

Pengalaman tersebut menjadi lambang perubahan besar dalam dirinya.

Orang yang sebelumnya ia hindari justru menjadi tempat baginya untuk belajar melihat wajah Kristus yang menderita.

Baca juga: Santo Kuintinus Martir – Santo Santa 4 Oktober

“Fransiskus, Perbaikilah Rumah-Ku”

Peristiwa terkenal lainnya dalam kehidupan Santo Fransiskus terjadi ketika ia berdoa di gereja kecil San Damiano yang berada dalam kondisi rusak.

Menurut tradisi Fransiskan, ketika berdoa di hadapan salib, Fransiskus mendengar panggilan Kristus yang memintanya untuk memperbaiki rumah-Nya yang hampir runtuh.

Pada awalnya Fransiskus memahami perintah tersebut secara harfiah. Ia mulai memperbaiki bangunan gereja yang rusak.

Namun panggilan itu kemudian dipahami dalam arti yang jauh lebih luas.

Fransiskus dipanggil untuk ikut memperbarui kehidupan Gereja melalui pertobatan, kemiskinan, kerendahan hati, persaudaraan, dan kesetiaan kepada Injil.

Ia tidak memperbarui Gereja melalui kekuasaan. Ia melakukannya dengan terlebih dahulu membiarkan Kristus memperbarui dirinya sendiri.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Minggu, 4 Oktober 2026 Matius 21:33-43

Santo Fransiskus Meninggalkan Kekayaan

Pertobatan Fransiskus akhirnya membawanya pada konflik dengan ayahnya.

Fransiskus menggunakan sebagian harta keluarganya dalam usahanya membantu memperbaiki gereja. Ayahnya menentang tindakan tersebut dan membawa persoalan mereka ke hadapan otoritas gerejawi.

Dalam peristiwa dramatis yang kemudian menjadi sangat terkenal, Fransiskus melepaskan haknya atas kekayaan keluarga dan menyerahkan kembali apa yang berasal dari ayahnya.

Ia memilih hidup dalam kemiskinan.

Keputusan tersebut bukan karena ia menganggap benda materi pada dirinya sendiri sebagai sesuatu yang jahat. Fransiskus ingin membebaskan dirinya dari keterikatan yang dapat menghalanginya mengikuti Kristus secara total.

Sejak saat itu hidupnya menjadi sebuah kesaksian tentang kemiskinan Injili.

Baginya, Kristus adalah kekayaan terbesar.

Santo Fransiskus dan Kehidupan Menurut Injil

Salah satu ciri utama spiritualitas Santo Fransiskus adalah keinginannya menjalankan Injil secara nyata.

Ia tidak ingin Injil hanya menjadi sesuatu yang dibaca atau didiskusikan.

Injil harus menjadi kehidupan.

Ketika semakin banyak orang tertarik mengikuti cara hidupnya, terbentuklah komunitas saudara-saudara yang kemudian berkembang menjadi Ordo Saudara Dina atau Ordo Fratrum Minorum (OFM).

Fransiskus menekankan kehidupan dalam kemiskinan, persaudaraan, doa, pelayanan kepada orang miskin, dan pewartaan pertobatan.

Persetujuan dari Paus

Sekitar tahun 1209, Fransiskus bersama para pengikut awalnya pergi ke Roma untuk memperoleh persetujuan atas cara hidup mereka.

Paus Inosensius III memberikan persetujuan awal terhadap bentuk kehidupan komunitas tersebut.

Hal ini penting karena menunjukkan bahwa gerakan Fransiskus tidak dimaksudkan sebagai pemberontakan terhadap Gereja.

Sebaliknya, Fransiskus ingin hidup dalam kesetiaan kepada Gereja Katolik.

Ketaatannya kepada Gereja menjadi bagian penting dari spiritualitasnya.

Santa Klara dan Keluarga Fransiskan

Kesaksian hidup Fransiskus juga menginspirasi seorang perempuan muda dari Assisi bernama Klara.

Santa Klara dari Assisi memilih mengikuti Kristus dalam kemiskinan dan kehidupan bakti. Bersama Fransiskus, lahirlah komunitas perempuan yang kemudian berkembang menjadi Ordo Santa Klara atau Poor Clares.

Selain itu, semangat Fransiskan kemudian berkembang pula di kalangan umat awam yang ingin menjalani nilai-nilai spiritualitas Fransiskan tanpa meninggalkan panggilan hidup mereka di tengah masyarakat.

Dari sinilah keluarga besar Fransiskan berkembang dalam berbagai bentuk kehidupan religius maupun awam.

Santo Fransiskus dan Cinta kepada Seluruh Ciptaan

Santo Fransiskus terkenal karena pandangannya terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan.

Ia memandang matahari, bulan, air, bumi, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya dalam hubungan persaudaraan karena semuanya berasal dari Sang Pencipta.

Pandangan tersebut tampak sangat indah dalam karya yang dikenal sebagai Kidung Saudara Matahari atau Canticle of the Creatures.

Fransiskus memuji Tuhan melalui ciptaan.

Karena itu, cinta Santo Fransiskus kepada alam tidak dapat dipisahkan dari imannya kepada Allah.

Ia tidak menempatkan alam sebagai pengganti Tuhan. Sebaliknya, keindahan ciptaan mengarahkannya kepada Sang Pencipta.

Mengapa Santo Fransiskus Identik dengan Hewan?

Dalam berbagai karya seni, Santo Fransiskus sering digambarkan bersama burung atau binatang lainnya.

Tradisi Fransiskan memuat berbagai kisah mengenai kedekatan Fransiskus dengan makhluk hidup, termasuk kisah pewartaannya kepada burung-burung dan kisah serigala dari Gubbio.

Sebagian kisah tersebut berasal dari tradisi hagiografis yang berkembang dalam kehidupan dan ingatan komunitas Fransiskan.

Pesan rohaninya tetap jelas: manusia tidak dipanggil untuk memperlakukan ciptaan secara sewenang-wenang.

Ciptaan adalah pemberian Tuhan yang perlu diterima dengan rasa syukur dan tanggung jawab.

Santo Fransiskus dan Semangat Perdamaian

Fransiskus juga dikenal sebagai pembawa semangat damai.

Pada tahun 1219, ketika Perang Salib Kelima berlangsung, ia melakukan perjalanan ke wilayah Timur dan bertemu Sultan al-Malik al-Kamil di Mesir.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu episode menarik dalam kehidupan Fransiskus.

Di tengah situasi perang antara pasukan Kristen dan Muslim, Fransiskus memilih melakukan perjumpaan secara langsung.

Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa pertemuan Fransiskus dengan Sultan benar-benar terjadi, meskipun rincian percakapan mereka diceritakan dengan variasi dalam sumber-sumber kemudian.

Bagi umat masa kini, peristiwa tersebut dapat menjadi inspirasi mengenai keberanian untuk bertemu dan berdialog di tengah konflik tanpa harus mengorbankan keyakinan iman.

Stigmata Santo Fransiskus dari Assisi

Menjelang akhir kehidupannya, Fransiskus mengalami sebuah pengalaman mistik yang sangat terkenal.

Pada tahun 1224, ketika sedang menjalani masa doa di Gunung La Verna, ia menerima stigmata, yaitu tanda-tanda luka yang berhubungan dengan luka-luka Kristus yang tersalib.

Tradisi dan sumber-sumber Fransiskan awal memberikan kesaksian mengenai peristiwa tersebut.

Bagi Fransiskus, pengalaman ini bukanlah alasan untuk membanggakan dirinya.

Seluruh kehidupannya justru menunjukkan keinginannya untuk semakin menyerupai Kristus dalam kerendahan hati, penderitaan, dan kasih.

Stigmata menjadi lambang mendalam dari persatuannya dengan Kristus yang tersalib.

Akhir Kehidupan Santo Fransiskus

Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, kesehatan Fransiskus semakin memburuk.

Tubuhnya menjadi lemah dan ia mengalami berbagai penyakit. Namun semangatnya untuk memuji Tuhan tetap kuat.

Salah satu hal yang mengagumkan dari spiritualitas Fransiskus adalah kemampuannya melihat kehidupan dan kematian dalam terang iman.

Ia bahkan menyebut kematian sebagai “Saudari Kematian Badani” dalam Kidung Saudara Matahari.

Fransiskus meninggal di dekat Assisi pada 3 Oktober 1226.

Ia baru berusia sekitar 44 tahun.

Namun kehidupan yang relatif singkat tersebut meninggalkan pengaruh luar biasa bagi Gereja dan dunia.

Kanonisasi Santo Fransiskus

Tidak lama setelah kematiannya, penghormatan kepada Fransiskus berkembang dengan cepat.

Pada 16 Juli 1228, Paus Gregorius IX menyatakan Fransiskus sebagai santo.

Dengan demikian, hanya sekitar dua tahun setelah kematiannya, Gereja secara resmi mengakui kekudusan hidupnya.

Pesta liturgis Santo Fransiskus dari Assisi diperingati setiap tanggal 4 Oktober.

Sampai sekarang, tanggal tersebut menjadi salah satu peringatan santo yang dikenal luas di berbagai belahan dunia.

Mengapa Santo Fransiskus Disebut Pengaku Iman?

Dalam tradisi Gereja, istilah Pengaku Iman atau Confessor digunakan untuk orang kudus yang memberikan kesaksian luar biasa terhadap iman Kristiani melalui kehidupan mereka, tetapi tidak meninggal sebagai martir.

Santo Fransiskus tidak wafat karena dibunuh akibat mempertahankan iman.

Namun seluruh kehidupannya merupakan pengakuan iman yang nyata.

Ia mengakui Kristus melalui kemiskinan.

Ia mengakui Kristus melalui pelayanan kepada orang kecil.

Ia mengakui Kristus melalui doa.

Ia mengakui Kristus melalui persaudaraan dan perdamaian.

Dan ia mengakui Kristus melalui kesediaannya meninggalkan kenyamanan duniawi untuk mengikuti Injil.

Karena itulah Santo Fransiskus dari Assisi dapat dikenang sebagai seorang Pengaku Iman.

Spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi

Spiritualitas Fransiskan memiliki kekayaan yang sangat luas. Namun beberapa unsur utama dapat membantu umat Katolik memahami warisan rohaninya.

1. Kristus sebagai Pusat Kehidupan

Fransiskus tidak sekadar mengajarkan kesederhanaan.

Pusat kehidupannya adalah Yesus Kristus.

Kemiskinan, persaudaraan, cinta kepada ciptaan, pelayanan kepada orang sakit, dan semangat damai semuanya berakar pada keinginannya mengikuti Kristus.

Karena itu, meneladani Santo Fransiskus bukan sekadar hidup minimalis.

Meneladaninya berarti menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.

2. Kemiskinan dan Kesederhanaan

Fransiskus melihat keterikatan terhadap harta sebagai salah satu hal yang dapat menghambat kebebasan manusia untuk mengikuti Tuhan.

Bagi umat Katolik masa kini, tidak semua orang dipanggil menjalani kemiskinan radikal seperti Fransiskus.

Namun setiap orang dapat belajar hidup sederhana.

Kita dapat bertanya:

Apakah barang yang kita miliki membantu kita menjalankan panggilan hidup atau justru menguasai hati kita?

3. Kasih kepada Orang Miskin

Pertobatan Fransiskus membawanya semakin dekat dengan orang yang miskin, sakit, dan tersingkir.

Ia menemukan Kristus dalam diri mereka.

Hal ini mengingatkan umat bahwa iman Katolik tidak boleh berhenti pada doa pribadi.

Kasih kepada Tuhan harus diwujudkan dalam kasih kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian.

4. Persaudaraan

Fransiskus memandang orang lain sebagai saudara dan saudari.

Persaudaraan ini lahir dari kesadaran bahwa kita semua adalah ciptaan Allah.

Di tengah dunia yang mudah terpecah karena perbedaan ekonomi, politik, budaya, maupun kepentingan, spiritualitas persaudaraan Fransiskan tetap sangat relevan.

5. Merawat Ciptaan

Santo Fransiskus mengingatkan bahwa bumi bukan sekadar kumpulan sumber daya untuk dieksploitasi.

Alam adalah ciptaan Tuhan.

Karena itu umat Kristiani mempunyai tanggung jawab moral untuk menggunakannya dengan bijaksana.

Merawat lingkungan, mengurangi pemborosan, menghormati makhluk hidup, dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab dapat menjadi bentuk konkret rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Santo Fransiskus dan Doa “Jadikanlah Aku Pembawa Damai”

Salah satu doa yang sangat terkenal sering disebut sebagai Doa Santo Fransiskus, dengan ungkapan yang memohon agar seseorang dijadikan alat atau pembawa damai Tuhan.

Namun penting untuk membedakan tradisi populer dengan fakta sejarah.

Doa tersebut tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan Santo Fransiskus dan tidak diketahui berasal langsung darinya. Teks doa itu muncul berabad-abad setelah kehidupan Fransiskus dan baru kemudian dikaitkan dengan namanya.

Walaupun demikian, isi doa tersebut memang mencerminkan banyak nilai yang selaras dengan spiritualitas Fransiskan, terutama perdamaian, kasih, pengampunan, dan pemberian diri.

Karena itu umat tetap dapat menggunakan doa tersebut sebagai doa Kristiani, sambil memahami sejarahnya dengan tepat.

Teladan Santo Fransiskus untuk Kehidupan Masa Kini

Kehidupan Santo Fransiskus terjadi sekitar delapan abad yang lalu. Namun pesan hidupnya terasa sangat relevan.

Masyarakat modern menghadapi budaya konsumsi yang terus mendorong manusia untuk memiliki lebih banyak.

Fransiskus mengajarkan kebebasan melalui kesederhanaan.

Dunia menghadapi konflik dan perpecahan.

Fransiskus mengajarkan persaudaraan dan perdamaian.

Lingkungan hidup menghadapi berbagai tekanan.

Fransiskus mengingatkan manusia bahwa alam merupakan ciptaan yang patut disyukuri dan dirawat.

Banyak orang juga mengalami kesepian meskipun hidup di tengah kemajuan teknologi.

Fransiskus mengajarkan arti komunitas, persaudaraan, dan kehadiran bagi sesama.

Namun semua nilai tersebut tidak boleh dilepaskan dari pusat kehidupannya: Yesus Kristus.

Fransiskus dapat hidup sederhana karena ia menemukan kekayaan dalam Kristus.

Ia dapat mendekati orang yang tersingkir karena ia melihat Kristus dalam diri mereka.

Ia dapat mengasihi ciptaan karena ia terlebih dahulu mengasihi Sang Pencipta.

Renungan Santo Fransiskus dari Assisi 4 Oktober

Peringatan Santo Fransiskus mengundang kita melihat kembali apa yang benar-benar kita anggap berharga.

Manusia sering mengukur keberhasilan berdasarkan kekayaan, popularitas, kedudukan, dan pengakuan orang lain.

Fransiskus pernah mengenal dunia seperti itu.

Namun akhirnya ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: Kristus.

Pertobatannya menunjukkan bahwa kekudusan tidak selalu dimulai dari kehidupan yang sempurna. Kekudusan dimulai ketika seseorang bersedia membiarkan Tuhan mengubah arah hidupnya.

Mungkin kita tidak dipanggil meninggalkan seluruh harta seperti Fransiskus.

Tetapi kita dipanggil meninggalkan apa pun yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Mungkin kita tidak dipanggil mendirikan sebuah ordo religius.

Tetapi kita dipanggil membangun persaudaraan di keluarga, lingkungan, tempat kerja, paroki, dan masyarakat.

Mungkin kita tidak menerima stigmata seperti Fransiskus.

Namun setiap orang Kristiani dipanggil untuk memikul salib dan mengikuti Kristus.

Peringatan Santo Santa 4 Oktober akhirnya bukan sekadar kesempatan mengenang seorang tokoh besar dari abad pertengahan.

Kisah Santo Fransiskus adalah undangan untuk bertanya:

Apakah Injil sungguh sudah menjadi cara hidup kita?

Doa pada Peringatan Santo Fransiskus dari Assisi

Allah Bapa yang Mahabaik,
Engkau telah memanggil Santo Fransiskus dari Assisi
untuk mengikuti Putra-Mu dalam kerendahan hati,
kemiskinan, kasih, dan sukacita Injil.

Bantulah kami agar tidak terikat pada kekayaan duniawi,
tetapi mampu menggunakan segala sesuatu
sesuai dengan kehendak-Mu.

Ajarlah kami melihat Kristus
dalam diri orang miskin, sakit, kesepian, dan tersingkir.

Tumbuhkanlah dalam hati kami
semangat persaudaraan dan perdamaian,
serta rasa syukur dan tanggung jawab
terhadap seluruh ciptaan-Mu.

Semoga melalui teladan dan perantaraan
Santo Fransiskus dari Assisi,
kami semakin setia mengikuti Yesus Kristus
dan berani menjalankan Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Demi Kristus, Tuhan kami.

Amin.

Penutup

Santo Fransiskus dari Assisi, yang diperingati Gereja Katolik setiap 4 Oktober, merupakan salah satu saksi besar tentang kekuatan pertobatan dan kesetiaan kepada Injil.

Ia lahir dalam keluarga berkecukupan tetapi memilih kemiskinan. Ia pernah mengejar kemuliaan duniawi tetapi akhirnya mencari kemuliaan Tuhan. Ia pernah menghindari penderita kusta tetapi kemudian menemukan Kristus melalui pelayanan kepada mereka.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa Tuhan dapat mengubah hati manusia secara mendalam.

Warisan Santo Fransiskus juga tidak terbatas pada kecintaannya terhadap alam. Di pusat spiritualitasnya terdapat Kristus yang miskin dan tersalib.

Karena itu, memperingati Santo Fransiskus berarti belajar mencintai Kristus dengan lebih sungguh, melayani orang kecil, membangun perdamaian, hidup sederhana, dan merawat ciptaan sebagai pemberian Allah.

Semoga teladan Santo Fransiskus dari Assisi, Pengaku Iman, membantu kita menjadi orang Kristiani yang tidak hanya mengetahui Injil, tetapi berani menjadikannya nyata dalam kehidupan.


Demikianlah Santo Fransiskus dari Assisi – Santo Santa 4 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url