Sakramen Pengurapan Orang Sakit: Makna & Tata Cara
Sakramen Pengurapan Orang Sakit: Makna, Tujuan, dan Tata Caranya dalam Gereja Katolik
Sakramen Pengurapan Orang Sakit adalah salah satu dari tujuh sakramen dalam Gereja Katolik. Sakramen ini diberikan secara khusus kepada umat beriman yang mengalami sakit serius atau menghadapi kondisi kesehatan yang membahayakan karena usia lanjut. Melalui sakramen ini, Gereja menghadirkan kasih dan penghiburan Kristus yang menyembuhkan, menguatkan, serta menyertai manusia dalam penderitaannya.
Tidak sedikit orang yang masih menganggap Sakramen Pengurapan Orang Sakit sebagai sakramen yang hanya diberikan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian. Anggapan tersebut kurang tepat. Sakramen ini bukan sekadar persiapan menghadapi kematian, melainkan sakramen penyembuhan dan penguatan bagi orang beriman yang mengalami sakit berat atau kelemahan serius karena usia.
Melalui doa imam dan pengurapan dengan minyak suci, orang sakit dipercayakan kepada Tuhan agar memperoleh kekuatan, damai, keberanian, serta rahmat yang dibutuhkan untuk menghadapi penderitaannya dalam persatuan dengan Kristus.
Artikel ini membahas secara lengkap pengertian Sakramen Pengurapan Orang Sakit, dasar Kitab Suci, tujuan, rahmat, siapa yang dapat menerimanya, tata cara pelaksanaannya, hingga perbedaannya dengan Viatikum.
Baca juga: 7 Sakramen dalam Gereja Katolik dan Maknanya
Apa Itu Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Sakramen Pengurapan Orang Sakit adalah sakramen yang diberikan Gereja kepada orang beriman yang mulai berada dalam bahaya karena penyakit serius atau usia lanjut.
Sakramen ini termasuk dalam kelompok sakramen penyembuhan, bersama dengan Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi.
Dalam pelaksanaannya, imam mendoakan orang sakit dan mengurapinya dengan minyak yang telah diberkati. Tindakan tersebut menjadi tanda sakramental bahwa Kristus sendiri hadir mendampingi umat-Nya yang sedang mengalami penderitaan.
Yesus selama pelayanan-Nya di dunia menunjukkan perhatian yang sangat besar kepada orang sakit. Ia mendatangi mereka, menyentuh mereka, menyembuhkan mereka, dan memulihkan martabat mereka.
Karena itu, pelayanan Gereja terhadap orang sakit bukan sekadar kegiatan sosial atau tindakan kemanusiaan. Pelayanan tersebut merupakan bagian dari kelanjutan karya Kristus di tengah umat-Nya.
Melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit Katolik, Gereja berdoa agar orang yang sedang menderita memperoleh pertolongan dan keselamatan dari Tuhan.
Baca juga: Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi dalam Gereja Katolik
Dasar Kitab Suci Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Praktik mendoakan dan mengurapi orang sakit memiliki dasar yang kuat dalam Kitab Suci.
Yesus Menaruh Perhatian kepada Orang Sakit
Dalam Injil, kita menemukan banyak kisah tentang Yesus yang menyembuhkan orang sakit.
Ia menyembuhkan orang buta, orang lumpuh, penderita kusta, orang yang mengalami pendarahan, dan berbagai penyakit lainnya. Penyembuhan yang dilakukan Yesus bukan sekadar menunjukkan kuasa-Nya, tetapi juga menyatakan hadirnya Kerajaan Allah.
Yesus melihat manusia secara utuh. Ia memperhatikan tubuh sekaligus jiwa.
Karena itu, penyembuhan yang dibawa Kristus memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kesembuhan fisik. Ia datang untuk membawa keselamatan manusia secara menyeluruh.
Para Murid Mengurapi Orang Sakit dengan Minyak
Dalam Markus 6:13 diceritakan bahwa para murid:
“mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”
Penggunaan minyak dalam pelayanan para rasul menjadi salah satu latar belakang biblis bagi pengurapan orang sakit dalam tradisi Gereja.
Namun dasar Kitab Suci yang paling jelas ditemukan dalam Surat Yakobus.
Yakobus 5:14-15
Surat Yakobus memberikan kesaksian yang sangat penting mengenai praktik Gereja perdana terhadap orang sakit:
“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.”
Kemudian dijelaskan bahwa doa yang lahir dari iman akan membawa pertolongan bagi orang sakit dan Tuhan akan membangunkannya.
Ayat ini memperlihatkan unsur-unsur yang kemudian terdapat dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit: adanya orang yang sakit, pelayanan pemimpin Gereja, doa, pengurapan dengan minyak, dan iman kepada Tuhan yang menyelamatkan.
Baca juga: Sakramen Imamat: Pengertian, Makna dan Tingkatannya
Mengapa Gereja Memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Penyakit merupakan bagian dari pengalaman manusia. Ketika mengalami sakit berat, seseorang bukan hanya menghadapi rasa sakit secara fisik.
Penyakit juga dapat membawa ketakutan, kecemasan, kesepian, rasa tidak berdaya, bahkan pergumulan iman.
Pertanyaan seperti “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” atau “Apakah Tuhan masih menyertai saya?” dapat muncul ketika seseorang menghadapi penderitaan yang berat.
Di sinilah Sakramen Pengurapan Orang Sakit mempunyai makna pastoral dan rohani yang sangat mendalam.
Gereja datang menemani orang sakit dan menyatakan bahwa dalam penderitaannya ia tidak ditinggalkan sendirian.
Kristus hadir bersamanya.
Tujuan Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Tujuan utama Sakramen Pengurapan Orang Sakit bukan semata-mata memperoleh kesembuhan fisik.
Rahmat sakramen ini jauh lebih luas.
Memberikan Kekuatan dan Penghiburan
Orang yang mengalami sakit berat sering menghadapi kelemahan fisik sekaligus tekanan batin.
Melalui sakramen ini, umat memohon agar Roh Kudus memberikan kekuatan, ketenangan, keberanian, dan pengharapan.
Rahmat Allah membantu orang sakit menghadapi penderitaannya dengan iman.
Mempersatukan Penderitaan dengan Kristus
Iman Katolik tidak mengajarkan bahwa penderitaan dengan sendirinya adalah sesuatu yang baik. Namun penderitaan yang tidak dapat dihindari dapat dipersatukan dengan penderitaan Kristus.
Yesus sendiri mengalami penderitaan dan kematian.
Karena itu, orang sakit dapat mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan dan mempersatukannya dengan salib Kristus.
Dengan cara demikian, penderitaan memperoleh makna rohani dalam misteri penebusan Kristus.
Memberikan Rahmat Pengampunan
Sakramen Pengurapan Orang Sakit juga berkaitan dengan pengampunan dosa.
Apabila memungkinkan, orang sakit dianjurkan menerima Sakramen Tobat atau Pengakuan Dosa terlebih dahulu.
Namun dalam keadaan tertentu ketika seseorang tidak dapat menerima Sakramen Tobat, Sakramen Pengurapan Orang Sakit juga membawa pengampunan dosa apabila diperlukan dan orang tersebut memiliki disposisi yang semestinya.
Mempersiapkan Diri Menghadapi Perjalanan Terakhir
Apabila seseorang benar-benar mendekati akhir hidupnya, Sakramen Pengurapan Orang Sakit menjadi salah satu bentuk persiapan rohani.
Gereja menemani umat beriman agar menghadapi kematian bukan dalam keputusasaan, tetapi dalam iman kepada Kristus yang telah wafat dan bangkit.
Kematian bagi orang Kristen bukanlah akhir dari segala sesuatu.
Iman Katolik mengakui kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal bersama Allah.
Rahmat Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Sakramen ini memberikan rahmat khusus dari Roh Kudus kepada orang yang menerimanya.
Kekuatan Menghadapi Penderitaan
Rahmat sakramen menolong orang sakit agar tidak mudah menyerah kepada keputusasaan.
Ia menerima kekuatan untuk mempercayakan dirinya kepada Tuhan di tengah ketidakpastian.
Kedamaian dan Keberanian
Penyakit berat dapat menimbulkan rasa takut terhadap penderitaan, kehilangan kemampuan, atau bahkan kematian.
Melalui doa Gereja, orang sakit memohon rahmat agar memperoleh damai dan keberanian.
Damai tersebut tidak selalu berarti bahwa semua persoalan langsung hilang. Sebaliknya, damai Kristus memberikan kekuatan untuk menjalani keadaan yang ada bersama Tuhan.
Persatuan dengan Sengsara Kristus
Penderitaan orang sakit dapat dipersatukan dengan sengsara Kristus demi kebaikan rohani dirinya dan Gereja.
Dengan demikian, orang sakit tidak dianggap sebagai anggota Gereja yang tidak lagi mempunyai peran.
Doa, iman, dan persembahan penderitaan mereka tetap mempunyai tempat dalam kehidupan Gereja.
Rahmat Gerejawi
Sakramen ini juga menunjukkan persatuan orang sakit dengan seluruh Gereja.
Ketika seorang imam datang dan mendoakan orang sakit, Gereja hadir bersamanya.
Umat yang sakit tidak berjalan sendirian.
Seluruh Gereja mempercayakannya kepada Kristus.
Persiapan Menuju Kehidupan Kekal
Bagi mereka yang sedang mendekati akhir kehidupan, pengurapan memberikan rahmat yang membantu mempersiapkan diri menghadapi perjalanan terakhir menuju rumah Bapa.
Siapa yang Boleh Menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa sakramen ini hanya boleh diberikan kepada orang yang sudah hampir meninggal.
Padahal, Sakramen Pengurapan Orang Sakit tidak hanya untuk orang yang sedang menghadapi saat kematian.
Sakramen ini dapat diberikan kepada umat Katolik yang mulai berada dalam bahaya karena sakit serius atau usia lanjut.
Misalnya, seseorang yang mengalami penyakit berat dapat meminta pengurapan meskipun belum berada dalam kondisi kritis.
Demikian pula seseorang yang lanjut usia dan mengalami kelemahan serius dapat menerima sakramen ini.
Apakah Sakramen Pengurapan Orang Sakit Bisa Diterima Lebih dari Sekali?
Ya.
Sakramen Pengurapan Orang Sakit dapat diterima lebih dari satu kali.
Misalnya, seseorang telah menerima pengurapan karena penyakit serius kemudian sembuh. Beberapa tahun kemudian ia kembali mengalami penyakit berat. Ia dapat menerima sakramen tersebut kembali.
Sakramen juga dapat diulangi apabila kondisi penyakit yang sama menjadi semakin serius.
Karena itu, keluarga tidak perlu takut atau menunda meminta pelayanan imam hanya karena orang yang sakit pernah menerima pengurapan sebelumnya.
Kapan Sebaiknya Memanggil Imam?
Keluarga sebaiknya tidak menunggu sampai orang sakit kehilangan kesadaran atau berada dalam detik-detik terakhir kehidupan.
Jika seorang anggota keluarga mengalami sakit berat, kondisi kesehatannya memburuk secara serius, atau mengalami kelemahan berat karena usia lanjut, keluarga dapat menghubungi paroki untuk meminta pelayanan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Menghubungi imam lebih awal juga memungkinkan orang sakit mengikuti doa dengan sadar dan, jika kondisinya memungkinkan, menerima Sakramen Tobat serta Komuni Kudus.
Siapa yang Dapat Memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Pelayan Sakramen Pengurapan Orang Sakit adalah imam, yaitu uskup atau presbiter.
Diakon maupun umat awam tidak dapat memberikan sakramen ini.
Umat awam tentu dapat dan sangat dianjurkan untuk mendoakan serta mendampingi orang sakit. Namun pengurapan sakramental merupakan pelayanan yang dipercayakan kepada imam.
Karena itu, apabila keluarga menginginkan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, mereka perlu menghubungi pastor paroki atau imam Katolik.
Minyak yang Digunakan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Dalam sakramen ini digunakan minyak yang diberkati untuk pengurapan orang sakit.
Minyak merupakan simbol yang kaya dalam tradisi Kitab Suci.
Dalam kehidupan sehari-hari pada zaman dahulu, minyak dapat digunakan untuk merawat luka dan memberikan kesegaran. Dalam kehidupan iman, minyak juga menjadi tanda berkat, pengudusan, dan kekuatan dari Allah.
Dalam liturgi pengurapan, minyak menjadi tanda sakramental karya Roh Kudus yang memberikan kekuatan kepada orang sakit.
Tata Cara Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Pelaksanaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit dapat disesuaikan dengan kondisi orang yang menerimanya. Sakramen dapat dirayakan di rumah, rumah sakit, kapel, gereja, maupun tempat lain yang sesuai.
Secara umum, tata cara Pengurapan Orang Sakit Katolik mencakup beberapa bagian berikut.
1. Persiapan Orang Sakit dan Keluarga
Keluarga menghubungi imam dan menjelaskan keadaan orang yang sakit.
Jika dilaksanakan di rumah, keluarga dapat mempersiapkan ruangan yang bersih dan tenang sehingga doa dapat berlangsung dengan khidmat.
Anggota keluarga sebaiknya ikut berdoa apabila keadaan memungkinkan.
2. Pembukaan dan Salam
Imam memulai perayaan dengan salam serta doa pembukaan sesuai ritus Gereja.
Kehadiran imam menjadi tanda kehadiran Gereja yang datang mendampingi anggota umatnya yang sedang sakit.
3. Sakramen Tobat Jika Memungkinkan
Jika orang sakit masih dapat berkomunikasi dan keadaan memungkinkan, ia dapat menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu.
Pengakuan dosa dilakukan secara pribadi antara orang sakit dan imam.
Keluarga hendaknya memberikan ruang dan privasi pada bagian ini.
4. Liturgi Sabda
Sabda Allah dapat dibacakan untuk menguatkan iman orang sakit dan keluarganya.
Kitab Suci mengingatkan bahwa Kristus hadir bersama manusia dalam penderitaan.
Sabda Tuhan juga mengarahkan perhatian umat kepada pengharapan akan keselamatan dan kehidupan kekal.
5. Penumpangan Tangan
Imam menumpangkan tangan atas orang sakit dalam keheningan dan doa.
Tindakan ini memiliki akar dalam tradisi Kitab Suci dan kehidupan Gereja.
Penumpangan tangan menjadi tanda permohonan akan pertolongan dan karya Roh Kudus.
6. Pengurapan dengan Minyak
Bagian utama sakramen adalah pengurapan dengan minyak orang sakit yang dilakukan oleh imam disertai rumusan doa liturgis Gereja.
Dalam Ritus Romawi, pengurapan biasanya dilakukan pada dahi dan tangan orang sakit, dengan penyesuaian apabila kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
Pengurapan ini menjadi tanda nyata rahmat Kristus yang hadir menguatkan orang yang sedang menderita.
7. Doa Sesudah Pengurapan
Setelah pengurapan, imam berdoa bagi orang sakit.
Doa disesuaikan dengan keadaan orang tersebut, misalnya bagi mereka yang sedang sakit berat, lanjut usia, atau berada dalam kondisi yang sangat serius.
8. Komuni Kudus Jika Memungkinkan
Apabila memungkinkan dan sesuai keadaan, orang sakit dapat menerima Komuni Kudus.
Bagi seseorang yang berada dalam perjalanan terakhir hidupnya, penerimaan Ekaristi sebagai bekal terakhir disebut Viatikum.
Perbedaan Pengurapan Orang Sakit dan Viatikum
Pengurapan Orang Sakit dan Viatikum sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda.
Sakramen Pengurapan Orang Sakit diberikan kepada orang yang mengalami bahaya karena penyakit serius atau usia lanjut. Tujuannya adalah memberikan rahmat, kekuatan, penghiburan, dan persatuan dengan Kristus.
Sementara itu, Viatikum adalah Komuni Kudus yang diberikan kepada umat beriman yang sedang mendekati akhir perjalanan hidupnya.
Istilah viaticum memiliki pengertian bekal untuk perjalanan.
Karena itu, Ekaristi yang diterima menjelang kematian menjadi bekal rohani bagi perjalanan menuju kehidupan kekal.
Dalam pelayanan pastoral kepada orang yang mendekati kematian, Sakramen Tobat, Pengurapan Orang Sakit, dan Viatikum dapat menjadi bagian dari pendampingan sakramental Gereja sesuai keadaan orang tersebut.
Apakah Menerima Pengurapan Berarti Akan Segera Meninggal?
Tidak.
Inilah salah satu kesalahpahaman yang penting untuk diluruskan.
Menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit bukan tanda bahwa seseorang pasti akan segera meninggal.
Sakramen ini justru sebaiknya tidak ditunda sampai seseorang berada pada detik-detik terakhir kehidupan.
Ketakutan terhadap pengurapan terkadang membuat keluarga terlambat memanggil imam. Ada keluarga yang khawatir orang sakit akan merasa bahwa kondisinya sudah tidak memiliki harapan ketika melihat imam datang.
Pandangan tersebut perlu diubah.
Kedatangan imam seharusnya dipahami sebagai kehadiran Gereja yang membawa doa, penghiburan, dan rahmat Kristus.
Apakah Pengurapan Orang Sakit Menjamin Kesembuhan Fisik?
Gereja berdoa bagi kesehatan orang sakit dan percaya bahwa Allah berkuasa menyembuhkan.
Namun Sakramen Pengurapan Orang Sakit bukan jaminan bahwa setiap orang yang menerimanya pasti sembuh secara fisik.
Rahmat Allah bekerja sesuai kehendak dan rencana keselamatan-Nya.
Kesembuhan jasmani dapat terjadi apabila hal itu sesuai dengan kehendak Tuhan dan bermanfaat bagi keselamatan orang tersebut.
Namun rahmat sakramen terutama memberikan kekuatan rohani, penghiburan, kedamaian, keberanian, pengampunan apabila diperlukan, serta persatuan yang lebih mendalam dengan Kristus.
Karena itu, sakramen tidak boleh dipahami sebagai pengganti perawatan medis.
Doa dan pengobatan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Umat Katolik dapat berdoa memohon pertolongan Tuhan sekaligus menggunakan sarana medis secara bertanggung jawab.
Sakramen Pengurapan dan Makna Penderitaan Kristiani
Salah satu pertanyaan terbesar dalam kehidupan manusia adalah mengapa penderitaan terjadi.
Iman Kristen tidak memberikan jawaban sederhana yang menghapus seluruh misteri penderitaan.
Namun iman menunjukkan bahwa Allah tidak meninggalkan manusia dalam penderitaan.
Kristus sendiri memasuki pengalaman penderitaan manusia.
Ia menangis, mengalami penolakan, menderita, disalibkan, dan wafat. Tetapi salib bukan akhir kisah Kristus.
Sesudah salib ada kebangkitan.
Karena itulah umat Kristiani memandang penderitaan dalam terang misteri Paskah: sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.
Sakramen Pengurapan Orang Sakit menghadirkan pengharapan tersebut secara khusus bagi mereka yang sedang menderita.
Peran Keluarga dalam Mendampingi Orang Sakit
Kehadiran keluarga sangat penting dalam pelayanan kepada orang sakit.
Pendampingan bukan hanya berarti menyediakan obat, makanan, atau kebutuhan fisik. Orang sakit juga membutuhkan perhatian emosional dan rohani.
Keluarga dapat menemani dengan doa, mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi, membantu orang sakit mengikuti Misa jika memungkinkan, serta menghubungi imam ketika dibutuhkan.
Jangan menunggu keadaan menjadi sangat kritis untuk membicarakan kebutuhan rohani.
Menerima sakramen bukan berarti menyerah terhadap penyakit.
Sebaliknya, menerima sakramen berarti menyerahkan perjuangan kepada Tuhan sambil tetap menjalani pengobatan dan perawatan yang diperlukan.
Cara Meminta Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Jika anggota keluarga membutuhkan pengurapan, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menghubungi paroki Katolik terdekat atau paroki tempat orang tersebut terdaftar.
Sampaikan bahwa Anda ingin meminta pelayanan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Berikan informasi penting mengenai keadaan pasien dan lokasinya, terutama apabila pasien berada di rumah sakit.
Jika pasien sedang dirawat di rumah sakit, keluarga juga dapat menanyakan kepada petugas rumah sakit mengenai pelayanan rohani atau kapelan Katolik yang tersedia.
Dalam keadaan darurat, sampaikan kepada paroki atau petugas bahwa kondisi pasien kritis sehingga pelayanan dapat diprioritaskan sesuai kemungkinan.
Persiapan Sakramen Pengurapan Orang Sakit di Rumah
Tidak diperlukan persiapan yang rumit.
Hal terpenting adalah menciptakan suasana yang mendukung doa.
Keluarga dapat mempersiapkan tempat yang bersih dan tenang. Jika memungkinkan, sebuah salib dapat ditempatkan di dekat orang sakit.
Namun jangan sampai persiapan benda-benda tersebut justru membuat keluarga menunda memanggil imam.
Dalam keadaan darurat, yang paling penting adalah segera menghubungi imam.
Buah Rohani Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi Keluarga
Sakramen ini bukan hanya menjadi momen penting bagi orang sakit.
Keluarga yang hadir juga dapat mengalami penguatan iman.
Ketika seluruh keluarga berkumpul dan berdoa, mereka diingatkan bahwa kehidupan manusia berada dalam tangan Tuhan.
Mereka belajar menyerahkan ketakutan, kesedihan, dan ketidakpastian kepada-Nya.
Dalam situasi tertentu, perayaan sakramen bahkan dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berdamai, saling memaafkan, dan kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.
Kesalahpahaman tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Beberapa kesalahpahaman masih sering ditemukan di kalangan umat.
Pertama, pengurapan dianggap hanya untuk orang yang akan meninggal. Padahal sakramen dapat diterima ketika seseorang mulai menghadapi bahaya karena sakit serius atau usia lanjut.
Kedua, ada anggapan bahwa pengurapan hanya boleh diterima sekali seumur hidup. Ini juga tidak benar. Sakramen dapat diterima kembali apabila seseorang sembuh kemudian mengalami penyakit serius lainnya, atau ketika kondisi penyakitnya menjadi semakin berat.
Ketiga, ada anggapan bahwa pengurapan pasti menghasilkan kesembuhan jasmani. Gereja memang berdoa memohon kesehatan, tetapi rahmat sakramen tidak dapat dipersempit menjadi kesembuhan fisik semata.
Keempat, ada anggapan bahwa memanggil imam berarti keluarga sudah menyerah. Justru sebaliknya, meminta pelayanan sakramen merupakan tindakan iman.
Renungan: Kristus Hadir di Tengah Penderitaan
Penyakit sering membuat manusia menyadari keterbatasannya.
Hal-hal yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah tiba-tiba menjadi sulit. Seseorang yang terbiasa mandiri mungkin harus bergantung kepada orang lain.
Dalam keadaan seperti ini, rasa takut dan pertanyaan mengenai masa depan sangatlah manusiawi.
Sakramen Pengurapan Orang Sakit mengingatkan kita akan satu kebenaran penting: Kristus tidak meninggalkan kita ketika kita lemah.
Ia hadir bukan hanya ketika hidup berjalan baik.
Ia juga hadir di kamar rumah sakit, di rumah ketika tubuh mulai melemah, dalam kecemasan menjelang operasi, dan dalam perjalanan seseorang menghadapi akhir kehidupan.
Kita mungkin memohon kesembuhan dan Tuhan menghendaki kita untuk berdoa dengan penuh iman. Namun iman yang sejati juga belajar berkata bersama Kristus, “Jadilah kehendak-Mu.”
Pengharapan Kristiani bukanlah keyakinan bahwa kita tidak akan pernah mengalami penderitaan.
Pengharapan Kristiani adalah keyakinan bahwa penderitaan dan kematian tidak memiliki kata terakhir.
Kristus yang disalibkan telah bangkit.
Karena kebangkitan-Nya, orang beriman memiliki pengharapan akan kehidupan yang tidak berkesudahan.
Doa bagi Orang Sakit
Allah Bapa yang Mahakasih,
kami menyerahkan kepada-Mu saudara-saudari kami yang sedang mengalami sakit dan penderitaan.
Kuatkanlah mereka dalam kelemahan, hiburlah mereka dalam ketakutan, dan teguhkanlah iman mereka dalam setiap pergumulan.
Semoga Yesus Kristus yang telah menanggung penderitaan manusia menyertai mereka. Curahkanlah Roh Kudus-Mu agar mereka memperoleh damai, keberanian, dan pengharapan.
Bila sesuai dengan kehendak-Mu, anugerahkanlah kesembuhan dan pulihkanlah kesehatan mereka. Berkatilah pula para dokter, perawat, keluarga, dan semua orang yang merawat serta mendampingi mereka.
Ajarlah kami untuk percaya bahwa dalam kesehatan maupun sakit, dalam kehidupan maupun kematian, kami selalu berada dalam kasih-Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Kesimpulan
Sakramen Pengurapan Orang Sakit merupakan tanda kasih Kristus kepada umat yang mengalami sakit serius atau kelemahan berat karena usia lanjut.
Melalui doa Gereja dan pengurapan dengan minyak suci oleh imam, orang sakit menerima rahmat khusus untuk menghadapi penderitaan dengan iman, kekuatan, kedamaian, dan pengharapan.
Sakramen ini tidak seharusnya dipandang sebagai “sakramen terakhir” yang baru diberikan ketika seseorang hampir meninggal. Gereja justru menghendaki agar umat yang memenuhi kondisi untuk menerimanya tidak terlambat memperoleh pertolongan sakramental.
Bagi keluarga Katolik, pemahaman ini sangat penting. Ketika seseorang mengalami sakit serius, jangan hanya memperhatikan kebutuhan fisiknya. Perhatikan pula kebutuhan rohaninya.
Kehadiran imam, Sakramen Tobat apabila memungkinkan, Sakramen Pengurapan Orang Sakit, serta penerimaan Ekaristi dapat menjadi sumber kekuatan yang besar.
Pada akhirnya, sakramen ini membawa orang sakit kepada Kristus—Dia yang menyembuhkan, menghibur, menyertai dalam penderitaan, dan membuka jalan menuju kehidupan kekal.
FAQ Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Apa itu Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Sakramen Pengurapan Orang Sakit adalah sakramen penyembuhan dalam Gereja Katolik yang diberikan kepada umat yang mulai berada dalam bahaya karena penyakit serius atau usia lanjut untuk memperoleh kekuatan dan rahmat dari Tuhan.
Apakah Pengurapan Orang Sakit hanya untuk orang yang akan meninggal?
Tidak. Sakramen ini dapat diberikan kepada orang yang mengalami sakit serius atau kelemahan berat karena usia lanjut dan tidak harus menunggu hingga berada di ambang kematian.
Siapa yang boleh memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Pelayan sakramen ini adalah imam, yaitu uskup atau presbiter.
Apakah Sakramen Pengurapan Orang Sakit boleh diterima berkali-kali?
Ya. Sakramen dapat diterima kembali jika seseorang sembuh lalu mengalami penyakit serius lainnya atau apabila penyakit yang sedang dialaminya menjadi semakin berat.
Apakah setelah menerima pengurapan seseorang pasti sembuh?
Tidak selalu. Gereja memohon kesembuhan apabila sesuai dengan kehendak Allah, tetapi rahmat sakramen terutama memberikan kekuatan, penghiburan, kedamaian, dan pertolongan rohani kepada orang sakit.
Apa perbedaan Pengurapan Orang Sakit dan Viatikum?
Pengurapan Orang Sakit adalah sakramen bagi mereka yang berada dalam bahaya karena sakit serius atau usia lanjut. Viatikum adalah Ekaristi atau Komuni Kudus yang diberikan sebagai bekal bagi umat beriman yang sedang mendekati akhir perjalanan hidupnya.
Demikianlah Sakramen Pengurapan Orang Sakit: Makna & Tata Cara, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
