Santa Hildegardis dari Bingen, Santo Santa 17 September
Santo Santa 17 September: Santa Hildegardis dari Bingen, Perawan dan Pujangga Gereja
Setiap tanggal 17 September, Gereja Katolik mengenang Santa Hildegardis dari Bingen, seorang biarawati Benediktin, mistikus, penulis, pemimpin komunitas religius, penggubah musik, dan salah satu perempuan paling luar biasa dalam sejarah Gereja. Kehidupannya menunjukkan bahwa kekudusan tidak membuat seseorang menjauh dari persoalan dunia. Sebaliknya, kedekatan dengan Allah dapat membuka mata manusia untuk semakin mencintai Gereja, sesama, dan seluruh ciptaan.
Santa Hildegardis hidup pada abad ke-12, tetapi warisan rohaninya tetap menarik perhatian hingga sekarang. Ia menulis mengenai kehidupan rohani, Kitab Suci, kebajikan, hubungan manusia dengan ciptaan, serta berbagai persoalan yang dihadapi Gereja pada zamannya. Ia juga menggubah karya musik liturgis dan berkorespondensi dengan berbagai tokoh penting.
Lebih dari delapan abad setelah wafatnya, Gereja memberikan pengakuan yang sangat istimewa terhadap kedalaman ajarannya. Paus Benediktus XVI menetapkan Santa Hildegardis dari Bingen sebagai Pujangga Gereja Universal pada 7 Oktober 2012. Ia kemudian dimasukkan ke dalam Kalender Romawi Umum dengan peringatan fakultatif pada tanggal 17 September.
Kisah Santa Hildegardis dari Bingen mengajak umat Katolik menyadari bahwa iman dan pengetahuan tidak harus dipertentangkan. Ketika semuanya diarahkan kepada Allah, doa, ilmu pengetahuan, seni, musik, pelayanan, dan perhatian terhadap ciptaan dapat menjadi jalan untuk memuliakan Sang Pencipta.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santa Hildegardis dari Bingen?
Santa Hildegardis—yang lebih dikenal secara internasional sebagai Hildegard of Bingen—adalah seorang biarawati Benediktin dari Jerman yang hidup antara tahun 1098 dan 1179.
Ia lahir di Bermersheim, wilayah yang sekarang termasuk Jerman, dalam sebuah keluarga bangsawan. Sejak masih muda, Hildegardis menjalani kehidupan yang diarahkan secara khusus kepada Allah.
Pada masa itu, kehidupan monastik merupakan salah satu pusat utama kehidupan rohani sekaligus pendidikan. Biara menjadi tempat doa, pembelajaran Kitab Suci, penyalinan manuskrip, musik liturgis, serta perkembangan berbagai bidang pengetahuan.
Dalam lingkungan inilah Hildegardis bertumbuh.
Namun, kehidupan Santa Hildegardis tidak berhenti di balik tembok biara. Pengaruh rohaninya akhirnya menjangkau banyak orang, termasuk para pemimpin Gereja dan masyarakat.
Ia menjadi seorang perempuan yang berani berbicara mengenai pertobatan, pembaruan kehidupan Kristiani, kesetiaan kepada Injil, dan tanggung jawab para pemimpin Gereja.
Santa Hildegardis Bukan Seorang Martir
Dalam membahas Santo Santa 17 September, penting untuk membedakan fakta sejarah dari informasi yang terkadang beredar secara keliru.
Santa Hildegardis bukan seorang martir.
Ia tidak wafat karena dibunuh akibat mempertahankan iman. Santa Hildegardis meninggal pada 17 September 1179 setelah mengalami sakit pada masa akhir kehidupannya.
Gelar liturgis yang digunakan Gereja untuknya adalah Perawan dan Pujangga Gereja.
Karena itu, penyebutan “Santa Hildegardis, Martir” sebaiknya dihindari agar informasi mengenai santo-santa Katolik tetap sesuai dengan tradisi dan sumber resmi Gereja.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Masa Kecil dan Panggilan Hidup Santa Hildegardis
Hildegardis lahir pada tahun 1098. Sejak kecil, kehidupannya telah diarahkan kepada pengabdian kepada Allah.
Dalam tradisi biografinya, Hildegardis dikenal mengalami pengalaman rohani dan penglihatan sejak usia muda. Namun ia tidak serta-merta mengumumkan pengalaman tersebut kepada banyak orang.
Kehidupan rohaninya berkembang dalam lingkungan monastik.
Ia berada di bawah bimbingan Jutta dari Sponheim, seorang perempuan bangsawan yang memilih kehidupan religius. Dari lingkungan tersebut Hildegardis belajar kehidupan doa, Kitab Suci, mazmur, serta disiplin kehidupan monastik.
Setelah Jutta meninggal, Hildegardis kemudian memperoleh tanggung jawab memimpin komunitas para biarawati.
Perjalanan ini memperlihatkan satu ciri penting dalam kehidupan Santa Hildegardis: panggilannya tidak berkembang dalam sekejap.
Allah membentuk dirinya melalui perjalanan panjang.
Ada masa belajar.
Ada masa keheningan.
Ada masa pelayanan.
Dan akhirnya ada masa ketika ia dipanggil untuk berbicara kepada dunia yang lebih luas.
Baca juga: Santo Robertus Bellarminus – Santo 17 September
Pengalaman Mistik Santa Hildegardis
Salah satu aspek yang paling dikenal dari kehidupan Santa Hildegardis dari Bingen adalah pengalaman mistiknya.
Hildegardis menyatakan bahwa sejak usia muda ia mengalami penglihatan rohani. Akan tetapi, ia tidak memahami pengalaman tersebut sebagai alasan untuk meninggikan dirinya sendiri.
Sebaliknya, pengalaman itu menjadi tanggung jawab.
Sekitar usia 42 tahun, ia merasa mendapat dorongan kuat untuk menuliskan apa yang telah dilihat dan dipahaminya dalam terang iman.
Dari sinilah lahir salah satu karya terkenalnya, Scivias, sebuah judul yang dapat dipahami sebagai “Kenalilah Jalan-Jalan Tuhan”.
Baca juga: Santa Hildegardis dari Bingen, Santo Santa 17 September
Penglihatan yang Berpusat pada Allah
Tulisan-tulisan Hildegardis tidak boleh dipahami hanya sebagai kumpulan pengalaman mistik yang aneh atau spektakuler.
Pusat kehidupan rohaninya tetaplah Allah.
Tema-tema besar dalam pemikirannya mencakup penciptaan, kejatuhan manusia dalam dosa, karya keselamatan Allah, Kristus, Gereja, kehidupan sakramental, kebajikan, serta tujuan akhir kehidupan manusia.
Bagi Hildegardis, seluruh ciptaan memiliki makna ketika dipandang dalam hubungannya dengan Sang Pencipta.
Manusia bukan pusat mutlak alam semesta.
Allah adalah pusatnya.
Karena itu, manusia dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menggunakan ciptaan secara bertanggung jawab.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 17 September 2026 Lukas 7:36-50
Santa Hildegardis sebagai Pemimpin Biara
Santa Hildegardis bukan hanya seorang mistikus dan penulis. Ia juga memiliki tanggung jawab nyata sebagai pemimpin komunitas religius.
Pada akhirnya ia mendirikan komunitas di Rupertsberg dekat Bingen.
Keputusan tersebut bukan tanpa kesulitan. Sebagai seorang perempuan pada abad pertengahan, Hildegardis menghadapi berbagai keterbatasan sosial dan kelembagaan.
Namun ia menunjukkan keteguhan.
Bagi Hildegardis, kehidupan membiara bukan sekadar tempat untuk menghindari dunia. Biara adalah tempat untuk mencari Allah melalui doa, kehidupan bersama, disiplin, pekerjaan, pembelajaran, dan liturgi.
Ia berusaha memperhatikan kebutuhan rohani maupun material para suster yang dipercayakan kepadanya.
Kepemimpinan ini memperlihatkan bahwa kekudusan juga membutuhkan kemampuan untuk melayani orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Santa Hildegardis dan Pembaruan Gereja
Salah satu hal paling menarik dari kehidupan Santa Hildegardis 17 September adalah keberaniannya berbicara kepada berbagai tokoh berpengaruh pada zamannya.
Ia berkorespondensi dengan pemimpin Gereja maupun penguasa duniawi.
Pesannya tidak selalu nyaman.
Hildegardis menyerukan pertobatan dan pembaruan moral. Ia mengingatkan bahwa jabatan dalam Gereja bukanlah sarana mencari kehormatan pribadi, tetapi tanggung jawab untuk melayani umat Allah.
Ia juga menentang ajaran yang dianggap menyimpang dari iman Gereja.
Keberanian tersebut bukan berasal dari ambisi politik. Dasarnya adalah keyakinan bahwa kehidupan Gereja harus selalu diperbarui dalam kesetiaan kepada Kristus.
Berani Berbicara karena Mencintai Gereja
Di sini terdapat pelajaran penting bagi umat Katolik masa kini.
Mencintai Gereja bukan berarti menutup mata terhadap kelemahan manusia yang ada di dalamnya.
Sebaliknya, cinta yang sejati mendorong seseorang berdoa bagi Gereja, hidup kudus, menyerukan pertobatan, dan ikut membangun kehidupan Kristiani dengan setia.
Santa Hildegardis tidak meninggalkan Gereja ketika melihat persoalan.
Ia berusaha melayani pembaruannya dari dalam.
Santa Hildegardis sebagai Pewarta
Hal yang sangat luar biasa untuk seorang perempuan abad ke-12 adalah perjalanan pewartaan yang dilakukan Hildegardis.
Ia melakukan beberapa perjalanan untuk menyampaikan pesan rohani dan menyerukan pembaruan hidup Kristiani.
Menurut surat apostolik Paus Benediktus XVI mengenai dirinya, Hildegardis berkhotbah dalam perjalanan ke berbagai tempat seperti Köln, Trier, Liège, Mainz, Metz, Bamberg, dan Würzburg.
Aktivitas seperti itu bukan sesuatu yang biasa bagi perempuan pada zamannya.
Namun pengaruh spiritual Hildegardis membuat suaranya didengarkan.
Ia berbicara bukan untuk mempromosikan dirinya sendiri, tetapi untuk mengarahkan orang kepada pertobatan dan kehidupan menurut Injil.
Karya-Karya Santa Hildegardis dari Bingen
Warisan Santa Hildegardis sangat luas. Ia menghasilkan tulisan mengenai teologi, kehidupan rohani, penglihatan mistik, alam, kesehatan menurut pengetahuan zamannya, serta berbagai aspek kehidupan manusia.
Beberapa karya rohaninya yang terkenal antara lain:
Scivias
Scivias merupakan salah satu karya utama Santa Hildegardis.
Di dalamnya ia menggambarkan sejumlah penglihatan dan refleksi teologis mengenai hubungan antara Allah, penciptaan, manusia, Kristus, Gereja, dan sejarah keselamatan.
Karya tersebut membantu memperlihatkan bahwa spiritualitas Hildegardis memiliki dimensi yang sangat luas.
Baginya, keselamatan manusia tidak dapat dipisahkan dari karya Allah dalam sejarah.
Liber Vitae Meritorum
Karya lain yang penting adalah Liber Vitae Meritorum, yang membahas kehidupan moral manusia, kebajikan, dan berbagai kecenderungan buruk yang menjauhkan manusia dari Allah.
Pesannya tetap relevan.
Kehidupan rohani bukan sekadar mengalami perasaan religius. Iman harus menghasilkan perubahan nyata dalam cara manusia berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama.
Liber Divinorum Operum
Dalam Liber Divinorum Operum, Hildegardis mengembangkan refleksi yang luas mengenai karya Allah, manusia, dan ciptaan.
Pemikirannya memperlihatkan sebuah pandangan yang terintegrasi: manusia hidup di dalam ciptaan Allah dan karena itu memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan yang dipercayakan kepadanya.
Santa Hildegardis dan Musik Gereja
Salah satu warisan yang membuat Santa Hildegardis sangat unik adalah musiknya.
Ia menggubah berbagai nyanyian rohani yang digunakan dalam konteks kehidupan religius dan liturgis.
Bagi Hildegardis, musik memiliki hubungan erat dengan pujian kepada Allah.
Musik bukan sekadar hiburan.
Ketika diarahkan dengan benar, keindahan suara dapat membantu hati manusia mengarahkan diri kepada Sang Pencipta.
Warisan musik Hildegardis tetap dipelajari dan dinyanyikan berabad-abad setelah kematiannya.
Hal ini memperlihatkan bagaimana iman dapat menghasilkan keindahan.
Kekudusan tidak mematikan kreativitas. Justru ketika kreativitas diarahkan kepada Allah, seni dapat menjadi sarana untuk mengangkat hati manusia kepada-Nya.
Santa Hildegardis dan Alam Ciptaan
Nama Santa Hildegardis juga sering dikaitkan dengan perhatian terhadap alam dan kesehatan.
Namun bagian ini perlu dipahami secara hati-hati.
Tulisan Hildegardis mengenai tumbuhan, makanan, tubuh manusia, dan pengobatan muncul dalam konteks pengetahuan abad pertengahan. Karena itu, teks-teks tersebut tidak boleh langsung diperlakukan sebagai pedoman medis modern.
Nilai yang dapat diambil terutama adalah pandangan rohaninya bahwa ciptaan memiliki keteraturan dan kebaikan karena berasal dari Allah.
Alam bukanlah sesuatu yang terpisah dari iman.
Kitab Kejadian mengajarkan bahwa ciptaan berasal dari Allah dan manusia menerima tanggung jawab untuk mengelolanya.
Dalam semangat tersebut, warisan Hildegardis dapat mengingatkan umat Kristiani agar tidak memperlakukan ciptaan secara sewenang-wenang.
Menjaga Ciptaan sebagai Bentuk Syukur
Ketika seseorang menyadari bahwa dunia adalah pemberian Allah, sikap terhadap alam akan berubah.
Makanan tidak sekadar barang konsumsi.
Air bukan sekadar komoditas.
Tanah, tumbuhan, hewan, dan lingkungan bukan semata-mata benda yang dapat dieksploitasi tanpa batas.
Semua adalah bagian dari ciptaan yang dipercayakan Allah kepada manusia.
Karena itu, menjaga lingkungan dapat menjadi bagian dari tanggung jawab moral seorang Kristiani.
Mengapa Santa Hildegardis Disebut Pujangga Gereja?
Gelar Pujangga Gereja atau Doctor of the Church bukan sekadar penghargaan akademis.
Gereja memberikan gelar tersebut kepada santo atau santa yang kekudusan dan ajarannya memiliki nilai penting bagi kehidupan Gereja secara luas.
Pada 7 Oktober 2012, Paus Benediktus XVI secara resmi menyatakan Santa Hildegardis dari Bingen sebagai Pujangga Gereja Universal.
Pengakuan tersebut menegaskan bahwa ajarannya bukan hanya warisan sejarah abad pertengahan. Kekayaan pemikirannya dapat membantu umat Kristiani memahami iman dan menjalani kehidupan dalam hubungan yang lebih mendalam dengan Allah.
Gereja melihat dalam dirinya keselarasan yang indah antara ajaran dan kehidupan.
Ia tidak hanya menulis tentang mencari kehendak Allah.
Ia berusaha melakukannya.
Ia tidak hanya berbicara mengenai Gereja.
Ia melayani Gereja.
Ia tidak hanya berbicara mengenai kebajikan.
Ia berusaha menghidupinya.
Peringatan Santa Hildegardis Setiap 17 September
Santa Hildegardis wafat pada 17 September 1179 di Rupertsberg, dekat Bingen.
Tanggal kematiannya kemudian menjadi tanggal peringatannya.
Pada tahun 2021, peringatan Santa Hildegardis secara resmi dimasukkan ke dalam Kalender Romawi Umum sebagai peringatan fakultatif pada tanggal 17 September.
Gelar yang tercantum adalah:
Santa Hildegardis dari Bingen, Perawan dan Pujangga Gereja.
Dengan demikian, umat Katolik di berbagai belahan dunia dapat mengenangnya dalam perayaan liturgi Gereja pada tanggal tersebut.
Teladan Santa Hildegardis bagi Umat Katolik
Kehidupan Santa Hildegardis dari Bingen memiliki banyak pelajaran yang tetap relevan bagi umat Katolik zaman sekarang.
1. Menempatkan Allah sebagai Pusat Kehidupan
Di tengah kesibukan, manusia mudah menjadikan pekerjaan, uang, popularitas, pencapaian, atau bahkan dirinya sendiri sebagai pusat kehidupan.
Santa Hildegardis menunjukkan arah yang berbeda.
Allah harus menjadi pusat.
Ketika Allah ditempatkan sebagai pusat, pekerjaan, ilmu, seni, keluarga, pelayanan, dan kehidupan sosial menemukan tempatnya yang benar.
2. Tidak Takut Mengembangkan Talenta
Santa Hildegardis memiliki banyak kemampuan.
Ia menulis.
Ia memimpin komunitas.
Ia menggubah musik.
Ia mempelajari alam berdasarkan pengetahuan yang tersedia pada zamannya.
Ia memberikan nasihat rohani.
Semua itu mengingatkan kita bahwa talenta bukan untuk disembunyikan.
Talenta adalah anugerah yang harus dikembangkan dan digunakan bagi kemuliaan Allah serta kebaikan sesama.
3. Menggabungkan Doa dan Pengetahuan
Ada anggapan bahwa orang beriman tidak perlu banyak belajar, atau sebaliknya, bahwa semakin berpengetahuan seseorang akan semakin jauh dari iman.
Kehidupan Hildegardis membantah pemisahan sederhana tersebut.
Iman mendorong manusia mencari kebenaran karena seluruh kebenaran pada akhirnya berasal dari Allah.
Seorang Katolik dapat menjadi pribadi yang tekun berdoa sekaligus tekun belajar.
4. Berani Menyerukan Pertobatan
Hildegardis berani menyampaikan teguran kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Namun pembaruan selalu harus dimulai dari diri sendiri.
Sebelum sibuk melihat dosa orang lain, umat Kristiani perlu bertanya:
Apakah hidup saya sendiri sudah semakin dekat kepada Kristus?
Apakah saya sungguh berusaha meninggalkan dosa?
Apakah doa saya menghasilkan kasih kepada sesama?
Pertobatan Gereja selalu dimulai dari pertobatan setiap anggotanya.
5. Menghargai Keindahan sebagai Jalan Menuju Allah
Musik memiliki tempat penting dalam kehidupan Santa Hildegardis.
Hal ini mengingatkan bahwa keindahan dapat menolong manusia mengarahkan hati kepada Allah.
Musik sakral, arsitektur gereja, seni religius, ikonografi, dan berbagai bentuk kreativitas dapat menjadi sarana pewartaan ketika semuanya membantu manusia menemukan kebenaran dan keindahan yang berasal dari Tuhan.
Renungan Santo Santa 17 September
Kehidupan Santa Hildegardis mengajukan sebuah pertanyaan penting:
Untuk apakah Allah memberikan kemampuan kepada kita?
Ada orang yang pandai menulis.
Ada yang pandai berbicara.
Ada yang mampu mengajar.
Ada yang memiliki kemampuan dalam musik.
Ada yang ahli dalam teknologi.
Ada yang pandai mengelola keuangan.
Ada yang mampu merawat orang sakit.
Ada pula yang memiliki kemampuan sederhana tetapi sangat penting: mendengarkan orang lain dengan penuh kasih.
Tidak semua orang dipanggil menjadi Hildegardis.
Namun setiap orang menerima karunia.
Persoalannya bukan apakah karunia kita besar atau kecil.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah karunia itu sudah digunakan untuk kemuliaan Allah dan kebaikan sesama?
Santa Hildegardis menggunakan kemampuan intelektual, spiritual, artistik, dan kepemimpinannya dalam pelayanan kepada Allah.
Kita pun dipanggil melakukan hal yang sama dalam keadaan hidup masing-masing.
Seorang ibu dapat memuliakan Allah dengan mendidik anak-anak dalam kasih dan iman.
Seorang ayah dapat memuliakan Allah melalui kerja yang jujur dan tanggung jawab terhadap keluarganya.
Seorang pelajar dapat memuliakan Allah dengan belajar secara sungguh-sungguh.
Seorang pekerja dapat memuliakan Allah dengan menjalankan tugas secara jujur.
Seorang seniman dapat memuliakan Allah dengan menciptakan karya yang membawa manusia kepada kebenaran dan keindahan.
Seorang pengguna media sosial bahkan dapat memuliakan Allah melalui apa yang ia bagikan.
Kekudusan bukan milik biara saja.
Kekudusan adalah panggilan setiap orang yang telah dibaptis.
Belajar Mendengarkan Suara Tuhan
Ada pelajaran lain yang sangat kuat dari kehidupan Santa Hildegardis: pentingnya mendengarkan.
Dunia modern dipenuhi suara.
Notifikasi.
Video.
Berita.
Komentar.
Perdebatan.
Media sosial.
Iklan.
Pendapat manusia datang tanpa henti.
Dalam keadaan seperti itu, hati mudah kehilangan keheningan.
Santa Hildegardis bertumbuh dari kehidupan doa yang panjang. Sebelum suaranya didengar banyak orang, ia terlebih dahulu belajar mendengarkan Allah.
Inilah urutan yang penting.
Kita tidak dapat membawa Sabda Tuhan kepada dunia jika kita sendiri tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan-Nya.
Karena itu, peringatan Santa Hildegardis 17 September dapat menjadi kesempatan untuk kembali membangun kehidupan doa.
Mulailah dari hal sederhana.
Bacalah Kitab Suci.
Ikutilah Perayaan Ekaristi dengan penuh perhatian.
Luangkan waktu untuk adorasi jika memungkinkan.
Berdoalah dalam keheningan.
Periksalah hati di hadapan Tuhan.
Dan mintalah Roh Kudus menuntun keputusan-keputusan hidup kita.
Doa Memohon Rahmat melalui Teladan Santa Hildegardis
Ya Allah, Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur kepada-Mu atas kehidupan Santa Hildegardis dari Bingen, yang Engkau panggil untuk melayani-Mu melalui doa, kehidupan religius, pengetahuan, tulisan, musik, dan pelayanan kepada Gereja.
Engkau menganugerahkan kepadanya kerinduan untuk mencari kehendak-Mu dan keberanian untuk menyerukan pembaruan hidup Kristiani.
Melalui teladan dan perantaraan Santa Hildegardis, bantulah kami agar semakin mencintai Sabda-Mu, setia kepada Gereja-Mu, dan menggunakan setiap talenta yang Engkau percayakan kepada kami untuk kemuliaan nama-Mu.
Berilah kami kerendahan hati untuk terus belajar, keberanian untuk membela kebenaran, kebijaksanaan dalam menggunakan ciptaan, dan hati yang selalu terbuka terhadap tuntunan Roh Kudus.
Semoga dalam segala pekerjaan, pengetahuan, kreativitas, dan pelayanan kami, Kristus semakin dikenal dan dicintai.
Santa Hildegardis dari Bingen, doakanlah kami.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Penutup: Santa Hildegardis, Cahaya bagi Gereja
Santa Hildegardis dari Bingen memperlihatkan betapa luasnya karya Allah dalam kehidupan seseorang yang menyerahkan dirinya kepada-Nya.
Ia adalah seorang perawan yang membaktikan hidupnya kepada Tuhan.
Ia seorang biarawati dan pemimpin komunitas.
Ia seorang mistikus.
Ia seorang penulis.
Ia seorang penggubah musik.
Ia seorang perempuan yang berani menyerukan pembaruan kehidupan Kristiani.
Dan berabad-abad setelah kematiannya, Gereja mengakui kedalaman ajarannya dengan memberikan gelar Pujangga Gereja.
Peringatan Santo Santa 17 September mengajak kita bukan sekadar mengagumi kehidupan Santa Hildegardis, tetapi meneladaninya.
Kita mungkin tidak menulis karya teologi besar.
Kita mungkin tidak menggubah musik yang bertahan selama berabad-abad.
Kita mungkin tidak pernah berbicara di hadapan banyak orang.
Namun kita semua memiliki sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan.
Waktu.
Kemampuan.
Pekerjaan.
Doa.
Perhatian.
Kreativitas.
Kesetiaan.
Kasih kepada sesama.
Semoga teladan Santa Hildegardis membantu kita menggunakan seluruh hidup sebagai persembahan kepada Allah.
Santa Hildegardis dari Bingen, Perawan dan Pujangga Gereja, doakanlah kami agar setia mengikuti Kristus dan berani menggunakan setiap karunia Tuhan demi kemuliaan-Nya. Amin.
Jika kisah Santa Hildegardis dari Bingen ini memberi inspirasi bagi Anda, bagikanlah artikel ini kepada keluarga, sahabat, komunitas lingkungan, dan sesama umat Katolik. Dengan membagikan kisah para kudus, kita ikut memperkenalkan teladan iman mereka dan mengajak semakin banyak orang untuk bertumbuh dalam kasih kepada Kristus dan Gereja-Nya.
Demikianlah Santa Hildegardis dari Bingen, Santo Santa 17 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
