Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus 1 Oktober

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja yang diperingati Gereja Katolik setiap 1 Oktober

Santo Santa 1 Oktober: Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja

Setiap tanggal 1 Oktober, Gereja Katolik memperingati Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, seorang biarawati Karmelit yang dikenal luas karena ajaran rohaninya tentang “Jalan Kecil” menuju kekudusan. Ia juga dikenal sebagai Santa Theresia dari Lisieux, Santa Thérèse of Lisieux, atau Santa Theresia Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus.

Meskipun hidupnya relatif singkat dan sebagian besar dijalani di balik tembok biara, Santa Theresia menjadi salah satu orang kudus Katolik yang paling dikenal di seluruh dunia. Ia tidak mendirikan tarekat besar, tidak melakukan perjalanan misi ke negeri-negeri jauh, dan tidak meninggalkan karya teologi akademis yang rumit. Namun, melalui kehidupan sederhana yang dipenuhi cinta kepada Tuhan, ia menunjukkan bahwa jalan menuju kekudusan terbuka bagi setiap orang.

Pesan utama Santa Theresia sangat sederhana sekaligus mendalam: kita tidak harus melakukan perkara-perkara luar biasa untuk menjadi kudus. Kita dapat mengasihi Tuhan melalui hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, selama semuanya dilakukan dengan kasih yang besar dan kepercayaan penuh kepada-Nya.

Karena kedalaman spiritualitasnya, Gereja kemudian mengakui Santa Theresia sebagai Pujangga Gereja (Doctor of the Church). Ia juga dikenal sebagai pelindung karya misi, meskipun sepanjang kehidupan religiusnya ia tidak pernah meninggalkan biara Karmel di Lisieux.

Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus?

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus memiliki nama lengkap Marie Françoise-Thérèse Martin. Ia lahir pada 2 Januari 1873 di Alençon, Prancis, sebagai putri dari Louis Martin dan Zélie Guérin Martin.

Kedua orang tuanya dikenal sebagai keluarga Katolik yang saleh. Kehidupan iman yang mereka bangun dalam keluarga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan rohani Theresia dan saudari-saudarinya.

Louis dan Zélie Martin sendiri kemudian dikanonisasi sebagai orang kudus oleh Gereja Katolik. Kesaksian hidup mereka memperlihatkan bahwa kekudusan bukan hanya dapat ditemukan dalam kehidupan imam atau biarawan dan biarawati, tetapi juga dapat bertumbuh dalam kehidupan perkawinan dan keluarga.

Theresia adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Empat saudaranya meninggal ketika masih kecil, sedangkan lima putri yang bertahan hidup kemudian semuanya menjalani kehidupan religius.

Sejak kecil, Theresia memiliki kepekaan rohani yang kuat. Namun, masa kecilnya juga tidak selalu mudah.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap

Masa Kecil Santa Theresia dari Lisieux

Ketika Theresia masih berusia sekitar empat tahun, ibunya meninggal dunia akibat kanker payudara pada tahun 1877. Kehilangan tersebut memberikan dampak mendalam pada dirinya.

Setelah kematian ibunya, keluarga Martin pindah ke Lisieux, Normandia, dan menetap di sebuah rumah yang dikenal sebagai Les Buissonnets.

Theresia tumbuh sebagai seorang anak yang sangat sensitif. Ia mudah menangis dan mengalami pergumulan emosional setelah kehilangan ibunya serta ketika saudari-saudarinya satu demi satu memasuki kehidupan religius.

Namun, di tengah kelemahan tersebut, kehidupan rohaninya perlahan berkembang.

Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan rohaninya terjadi pada malam Natal tahun 1886.

Baca juga: Santo Gregorios Penerang, Rasul Armenia 30 September

Rahmat Natal 1886 dan Perubahan Hidup Theresia

Theresia kemudian menyebut peristiwa Natal 1886 sebagai salah satu titik penting dalam pertumbuhan rohaninya.

Pada masa sebelumnya, ia dikenal sangat sensitif dan mudah terluka oleh hal-hal kecil. Namun pada malam Natal tersebut, ia mengalami suatu perubahan batin yang mendalam.

Ia merasakan rahmat Tuhan yang memberinya kekuatan untuk keluar dari sikap yang terlalu berpusat pada perasaan dirinya sendiri.

Theresia mulai memahami bahwa kasih sejati menuntut seseorang untuk melupakan dirinya sendiri dan memperhatikan kebahagiaan orang lain.

Peristiwa itu menjadi awal dari kematangan rohaninya.

Ia kemudian semakin yakin bahwa Tuhan memanggilnya untuk menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya melalui kehidupan sebagai seorang biarawati Karmelit.

Baca juga: Santo Remigius, Uskup dan Pengaku Iman 1 Oktober

Keinginan Masuk Biara Karmel pada Usia Muda

Theresia memiliki keinginan yang sangat kuat untuk masuk ke Biara Karmel Lisieux.

Namun ada satu masalah besar: usianya masih terlalu muda.

Theresia ingin memasuki biara ketika baru berusia sekitar lima belas tahun. Permohonannya tidak segera diterima karena aturan dan pertimbangan mengenai usianya.

Ia tidak menyerah.

Dalam sebuah perjalanan ziarah ke Roma bersama ayahnya dan rombongan peziarah dari Prancis pada tahun 1887, Theresia mendapat kesempatan menghadiri audiensi dengan Paus Leo XIII.

Meskipun para peziarah telah diminta untuk tidak berbicara secara pribadi kepada Paus, Theresia memberanikan diri menyampaikan keinginannya untuk memasuki Karmel pada usia lima belas tahun.

Theresia memohon agar Paus mengizinkannya masuk biara.

Paus Leo XIII tidak langsung memberikan izin khusus. Ia mendorong Theresia untuk mengikuti keputusan para pemimpin Gereja dan mempercayakan semuanya kepada kehendak Tuhan.

Setelah melalui proses dan penantian, keinginannya akhirnya terwujud.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 1 Oktober 2026 Matius 18:1-5

Santa Theresia Memasuki Biara Karmel Lisieux

Pada 9 April 1888, ketika berusia lima belas tahun, Theresia akhirnya memasuki Biara Karmel di Lisieux.

Di sana ia menerima nama religius Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus.

Kehidupan di biara tidak selalu mudah.

Theresia menghadapi rutinitas yang ketat, keterbatasan hidup komunitas, perbedaan karakter antarsuster, berbagai pengorbanan kecil, serta pergumulan batin.

Justru dalam kehidupan yang tampaknya sederhana inilah spiritualitasnya berkembang.

Theresia semakin menyadari bahwa kekudusan tidak harus dicapai melalui tindakan-tindakan besar.

Ia menemukan sebuah jalan yang kemudian dikenal sebagai “Jalan Kecil Santa Theresia.”

Baca juga: Renungan Harian Katolik 1 Oktober 2026 Menjadi Kecil di Hadapan Tuhan

Jalan Kecil Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Apa yang Dimaksud dengan Jalan Kecil?

Jalan Kecil Santa Theresia adalah spiritualitas yang menekankan kepercayaan penuh kepada kasih dan belas kasih Allah.

Theresia menyadari keterbatasannya sebagai manusia. Ia tidak merasa mampu melakukan karya-karya besar seperti para santo dan santa yang dikaguminya.

Namun hal tersebut tidak membuatnya menyerah mengejar kekudusan.

Sebaliknya, ia memahami bahwa seorang anak kecil tidak dapat mencapai tempat tinggi dengan kekuatannya sendiri. Anak itu membutuhkan seseorang yang lebih besar untuk mengangkatnya.

Demikian pula manusia membutuhkan rahmat Allah.

Bagi Theresia, kekudusan bukan terutama hasil dari kemampuan manusia, tetapi buah dari kerja sama manusia dengan rahmat Tuhan.

Menjadi Kecil di Hadapan Allah

Menjadi “kecil” bukan berarti menjadi lemah, malas, atau tidak bertanggung jawab.

Menjadi kecil berarti mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan.

Theresia ingin datang kepada Allah seperti seorang anak yang mempercayakan dirinya kepada ayahnya.

Ia percaya bahwa kelemahan manusia tidak harus menjadi penghalang menuju kekudusan apabila kelemahan itu diserahkan kepada belas kasih Allah.

Spiritualitas tersebut membuat Jalan Kecil sangat relevan bagi kehidupan umat Katolik.

Tidak semua orang dapat menjadi misionaris di negeri jauh.

Tidak semua orang dapat menjadi imam atau biarawan.

Tidak semua orang mampu melakukan karya besar yang dikenal banyak orang.

Namun setiap orang dapat mengasihi.

Melakukan Hal-Hal Kecil dengan Kasih

Salah satu ciri utama spiritualitas Santa Theresia adalah kesediaannya mempersembahkan tindakan-tindakan kecil kepada Tuhan.

Dalam kehidupan komunitas biara, ia berusaha menunjukkan kasih melalui kesabaran, keramahan, pengorbanan, doa, dan pelayanan sederhana.

Bahkan ketika berhadapan dengan seorang suster yang karakternya sulit baginya, Theresia berusaha memperlakukan orang tersebut dengan kasih.

Ia memahami bahwa kasih kepada Tuhan harus diwujudkan melalui kasih kepada sesama.

Di sinilah kekuatan spiritualitas Santa Theresia.

Kekudusan tidak hanya ditemukan di altar atau dalam pengalaman mistik yang luar biasa. Kekudusan juga dapat ditemukan ketika seseorang mengampuni, menahan amarah, membantu orang lain, melakukan pekerjaan dengan setia, menemani orang yang kesepian, atau berdoa bagi mereka yang membutuhkan.

Panggilan Santa Theresia: Menjadi Kasih di Jantung Gereja

Theresia memiliki kerinduan yang sangat besar.

Ia ingin menjadi misionaris.

Ia ingin menjadi martir.

Ia ingin menjadi imam.

Ia ingin menjadi rasul.

Ia merasa memiliki begitu banyak keinginan untuk melayani Tuhan sehingga sulit baginya memahami panggilan khususnya.

Jawabannya ia temukan ketika merenungkan ajaran Santo Paulus mengenai Gereja sebagai Tubuh Kristus dan keutamaan kasih.

Theresia akhirnya memahami bahwa panggilannya adalah kasih.

Ia menyadari bahwa di dalam jantung Gereja, ia ingin menjadi kasih.

Pemahaman ini menjadi salah satu bagian paling terkenal dari spiritualitas Santa Theresia dari Lisieux.

Kasih memberikan kehidupan kepada seluruh karya Gereja.

Tanpa kasih, bahkan karya yang tampaknya besar dapat kehilangan makna rohaninya.

Sebaliknya, tindakan yang sangat kecil dapat memiliki nilai besar di hadapan Tuhan apabila dilakukan dengan kasih.

Santa Theresia dan Semangat Misioner

Meskipun tidak pernah menjadi misionaris secara fisik, Theresia memiliki hati seorang misionaris.

Ia berdoa secara khusus bagi para imam dan misionaris.

Ia juga berkorespondensi dengan beberapa misionaris dan mempersembahkan doa serta penderitaannya untuk karya pewartaan Injil.

Theresia memahami bahwa kehidupan kontemplatif tidak berarti terpisah dari karya misi Gereja.

Melalui doa, pengorbanan, dan persatuan dengan Kristus, seorang biarawati kontemplatif dapat mendukung pewartaan Injil di seluruh dunia.

Karena semangat tersebut, Santa Theresia kemudian ditetapkan sebagai salah satu pelindung karya misi Katolik, bersama Santo Fransiskus Xaverius.

Hal ini terasa istimewa karena Theresia sendiri tidak pernah meninggalkan biara untuk menjadi misionaris.

Kisahnya menunjukkan bahwa misi Gereja bukan hanya pekerjaan mereka yang pergi ke negeri jauh. Setiap umat Katolik dapat mengambil bagian dalam karya misi melalui doa, kesaksian hidup, pelayanan, dan pengorbanan.

Penyakit dan Penderitaan Santa Theresia

Menjelang akhir hidupnya, kesehatan Theresia semakin memburuk.

Ia menderita tuberkulosis, penyakit yang pada masa itu sangat sulit disembuhkan.

Pada malam Jumat Agung tahun 1896, ia mengalami gejala serius berupa batuk darah. Theresia menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak akan berlangsung lama.

Penyakitnya semakin berat.

Ia mengalami rasa sakit, kelemahan tubuh, dan kesulitan bernapas.

Namun penderitaan fisik bukan satu-satunya ujian yang dialaminya.

Malam Gelap Iman Santa Theresia

Pada masa akhir kehidupannya, Theresia juga mengalami pencobaan iman yang berat.

Ia tidak selalu merasakan penghiburan rohani.

Sebaliknya, ia mengalami kegelapan batin dan pergumulan mengenai iman serta kehidupan kekal.

Pengalaman tersebut penting karena menunjukkan bahwa kehidupan seorang kudus bukan berarti kehidupan yang selalu dipenuhi perasaan damai atau pengalaman spiritual yang menyenangkan.

Theresia tetap memilih untuk percaya kepada Tuhan meskipun tidak selalu merasakan kehadiran-Nya.

Imannya menjadi semakin murni.

Ia tidak percaya karena mendapatkan kenyamanan emosional, tetapi karena memilih menyerahkan dirinya kepada Allah.

Pengalaman ini membuat Santa Theresia sangat dekat dengan orang-orang yang sedang mengalami kekeringan rohani, keraguan, penderitaan, atau masa ketika Tuhan terasa jauh.

Wafatnya Santa Theresia dari Lisieux

Santa Theresia wafat pada 30 September 1897 di Biara Karmel Lisieux.

Usianya baru 24 tahun.

Secara manusiawi, hidupnya tampak sangat singkat.

Ia hanya menjalani sekitar sembilan tahun kehidupan di Karmel dan hampir tidak dikenal di luar komunitas religiusnya ketika meninggal.

Namun setelah kematiannya, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Tulisan-tulisannya mulai tersebar.

Kisah kehidupannya menyentuh jutaan orang di berbagai negara.

Nama Theresia dari Lisieux kemudian dikenal di seluruh dunia.

Kisah Suatu Jiwa

Salah satu warisan terbesar Santa Theresia adalah kumpulan tulisan autobiografinya yang kemudian diterbitkan dengan judul Histoire d'une âme, atau Kisah Suatu Jiwa.

Tulisan tersebut awalnya tidak dimaksudkan sebagai buku teologi besar.

Theresia menulis pengalaman hidup dan perjalanan rohaninya terutama karena diminta oleh para pemimpin komunitas Karmel.

Namun melalui tulisan sederhana itu, dunia mengenal kedalaman spiritualitasnya.

Dalam Kisah Suatu Jiwa, pembaca menemukan seorang perempuan muda yang sangat menyadari kelemahannya tetapi memiliki kepercayaan besar kepada belas kasih Allah.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan menjadi salah satu karya spiritual Katolik yang sangat dikenal.

Kanonisasi Santa Theresia

Penghormatan kepada Theresia berkembang sangat cepat setelah kematiannya.

Paus Pius XI membeatifikasinya pada 29 April 1923.

Dua tahun kemudian, pada 17 Mei 1925, Paus Pius XI mengkanonisasinya sebagai santa.

Pada tahun 1927, Santa Theresia ditetapkan sebagai pelindung karya misi bersama Santo Fransiskus Xaverius.

Pengaruhnya terhadap spiritualitas Gereja terus berkembang selama abad ke-20.

Santa Theresia sebagai Pujangga Gereja

Pada 19 Oktober 1997, Paus Yohanes Paulus II menyatakan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus sebagai Pujangga Gereja.

Gelar ini diberikan kepada orang kudus tertentu yang ajaran rohaninya dinilai memiliki nilai istimewa bagi kehidupan dan iman Gereja.

Pengakuan tersebut sangat penting.

Theresia tidak pernah belajar teologi di universitas. Ia tidak menulis karya akademis yang rumit. Ia meninggal pada usia yang sangat muda.

Namun Gereja melihat kedalaman luar biasa dalam ajarannya mengenai kasih, kepercayaan, rahmat, dan kekudusan.

Jalan Kecilnya menunjukkan bahwa teologi tidak selalu harus disampaikan melalui bahasa yang sulit.

Kebenaran iman juga dapat dipahami melalui pengalaman seorang anak yang mempercayakan dirinya kepada kasih Bapa.

Mengapa Santa Theresia Disebut Santa Bunga Mawar?

Santa Theresia sering digambarkan membawa salib dan bunga mawar.

Bunga mawar kemudian menjadi salah satu simbol yang paling erat dikaitkan dengannya.

Menjelang akhir hidupnya, Theresia mengungkapkan keinginannya untuk terus melakukan kebaikan setelah kematiannya. Dalam tradisi devosi kepadanya berkembang ungkapan mengenai “hujan bunga mawar”, yang melambangkan rahmat dan kebaikan yang diperoleh melalui doa serta perantaraannya.

Karena itu, umat Katolik sering menyebutnya Santa Theresia Bunga Kecil atau The Little Flower.

Namun devosi kepada Santa Theresia tidak boleh berhenti pada simbol bunga mawar.

Pesan utama hidupnya tetaplah kasih kepada Tuhan, kepercayaan kepada belas kasih-Nya, dan kesetiaan dalam melakukan hal-hal kecil.

Perbedaan Santa Theresia Lisieux dan Santa Teresa Avila

Nama kedua santa ini sering membuat orang keliru.

Santa Theresia dari Lisieux hidup pada abad ke-19 di Prancis dan dikenal melalui spiritualitas Jalan Kecil.

Sementara itu, Santa Teresa dari Ávila hidup pada abad ke-16 di Spanyol dan merupakan tokoh penting dalam pembaruan Ordo Karmel.

Keduanya merupakan biarawati Karmelit dan keduanya juga telah dinyatakan sebagai Pujangga Gereja.

Namun mereka adalah dua pribadi yang berbeda.

Santa Teresa dari Ávila terkenal melalui karya-karya mistiknya seperti The Interior Castle, sedangkan Santa Theresia dari Lisieux dikenal terutama melalui Kisah Suatu Jiwa dan Jalan Kecil.

Teladan Santa Theresia bagi Kehidupan Katolik

1. Percaya kepada Belas Kasih Tuhan

Theresia mengajarkan bahwa kelemahan bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan.

Sebaliknya, kesadaran akan kelemahan seharusnya membuat kita semakin mempercayakan diri kepada belas kasih-Nya.

2. Setia dalam Perkara Kecil

Kehidupan sehari-hari menyediakan banyak kesempatan untuk bertumbuh dalam kekudusan.

Pekerjaan, keluarga, sekolah, pelayanan, dan relasi dengan sesama dapat menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan.

3. Mengasihi Orang yang Sulit Kita Kasihi

Kasih Kristiani bukan hanya perasaan.

Kasih juga merupakan keputusan.

Theresia belajar menunjukkan kasih bahkan kepada orang-orang yang secara manusiawi sulit baginya.

4. Berdoa bagi Karya Misi

Kita mungkin tidak dipanggil menjadi misionaris ke negara lain.

Namun kita dapat mendukung karya pewartaan Injil melalui doa, persembahan, pelayanan, dan kesaksian hidup.

5. Tetap Percaya dalam Kegelapan

Ketika mengalami penderitaan dan kekeringan rohani, Theresia tetap memilih percaya kepada Tuhan.

Teladannya mengingatkan kita bahwa iman tidak selalu bergantung pada perasaan.

Makna Peringatan Santa Theresia 1 Oktober

Gereja memperingati Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus setiap tanggal 1 Oktober, sehari setelah tanggal wafatnya, 30 September.

Peringatan ini mengajak umat Katolik merenungkan kembali panggilan universal menuju kekudusan.

Kekudusan bukan hanya untuk segelintir orang.

Setiap orang dipanggil menjadi kudus sesuai keadaan hidupnya.

Seorang ibu dapat menjadi kudus melalui kesetiaan merawat keluarganya.

Seorang ayah dapat bertumbuh dalam kekudusan melalui tanggung jawab dan pengorbanannya.

Seorang pelajar dapat mengejar kekudusan melalui kejujuran dan ketekunan.

Seorang pekerja dapat menguduskan pekerjaannya melalui integritas.

Orang yang sakit dapat mempersembahkan penderitaannya dalam persatuan dengan Kristus.

Inilah salah satu pesan terbesar Jalan Kecil Santa Theresia: tidak ada tindakan kasih yang terlalu kecil di hadapan Tuhan.

Renungan Santo Santa 1 Oktober

Kita sering membayangkan kekudusan sebagai sesuatu yang sangat jauh.

Kita melihat para martir, misionaris, pendiri tarekat, dan tokoh besar Gereja, lalu merasa kehidupan kita terlalu biasa untuk menjadi kudus.

Santa Theresia menunjukkan pandangan yang berbeda.

Justru kehidupan biasa dapat menjadi jalan kekudusan.

Kita tidak perlu menunggu kesempatan melakukan sesuatu yang besar.

Kesempatan untuk mengasihi Tuhan sudah tersedia hari ini.

Ketika kita menahan kata-kata kasar, kita sedang belajar mengasihi.

Ketika kita memaafkan seseorang, kita sedang berjalan menuju kekudusan.

Ketika kita menyelesaikan pekerjaan dengan jujur meskipun tidak ada yang melihat, kita sedang mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan.

Ketika kita berdoa bagi orang lain, kita sedang mengambil bagian dalam misi Gereja.

Jalan Kecil bukan jalan yang mudah karena menuntut kasih yang terus-menerus.

Namun jalan ini dapat ditempuh siapa saja.

Kita hanya perlu memulai dari hal kecil yang berada di hadapan kita.

Doa melalui Perantaraan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Ya Allah Bapa yang Mahakasih,

Engkau telah memanggil Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus untuk mengikuti Putra-Mu melalui jalan kerendahan hati, kepercayaan, dan kasih.

Ajarlah kami untuk menjadi kecil di hadapan-Mu, menyadari kelemahan kami, dan mempercayakan seluruh hidup kami kepada belas kasih-Mu.

Bantulah kami agar mampu melakukan setiap tugas kecil dengan kasih yang besar, bersabar terhadap sesama, mengampuni mereka yang menyakiti kami, serta setia menjalankan panggilan kami setiap hari.

Melalui perantaraan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, kuatkanlah iman kami ketika mengalami kesulitan dan kegelapan.

Bangkitkanlah pula dalam hati kami semangat untuk mendukung karya pewartaan Injil melalui doa, pengorbanan, dan kesaksian hidup.

Semoga kami belajar mengasihi-Mu dengan hati sederhana dan suatu hari diperkenankan menikmati sukacita kekal bersama-Mu.

Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Amin.

Penutup

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menunjukkan kepada dunia bahwa usia muda, kehidupan tersembunyi, dan keterbatasan manusia bukanlah penghalang untuk mencapai kekudusan.

Ia hanya hidup selama 24 tahun dan menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di dalam Biara Karmel Lisieux. Namun kehidupan yang tampaknya kecil tersebut memberikan pengaruh luar biasa bagi Gereja.

Melalui Jalan Kecil Santa Theresia, kita belajar bahwa kekudusan dimulai dari kepercayaan kepada belas kasih Allah dan diwujudkan melalui tindakan kasih sehari-hari.

Peringatan Santo Santa 1 Oktober menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali bertanya: apakah kita menunggu kesempatan melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan, sementara kesempatan-kesempatan kecil untuk mengasihi-Nya sudah hadir setiap hari?

Teladan Santa Theresia mengajak kita tidak meremehkan hal-hal kecil.

Sebab ketika dilakukan dengan kasih dan dipersembahkan kepada Tuhan, tindakan yang sederhana dapat memiliki nilai yang sangat besar.


Demikianlah Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus 1 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url