Santo Gallus, Pengaku Iman – Santo 16 Oktober
Santo Gallus, Pengaku Iman – Santo Santa 16 Oktober
Setiap tanggal 16 Oktober, umat Katolik mengenang sejumlah orang kudus yang telah memberikan kesaksian iman melalui kehidupan mereka. Salah satu tokoh yang secara tradisional diperingati pada tanggal ini adalah Santo Gallus, Pengaku Iman, seorang rahib dan misionaris yang memiliki peranan penting dalam perkembangan kehidupan monastik dan pewartaan Injil di kawasan Eropa Tengah.
Kisah hidup Santo Gallus memperlihatkan bagaimana panggilan kepada kekudusan tidak selalu dijalani melalui tindakan besar yang mendapat perhatian banyak orang. Sebagian besar hidupnya justru dihabiskan dalam doa, kehidupan monastik, pewartaan, pertapaan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Dari sebuah tempat pertapaan sederhana, pengaruh spiritual Santo Gallus berkembang jauh melampaui masa hidupnya. Namanya kemudian dikaitkan dengan kota St. Gallen di Swiss dan terutama dengan Biara St. Gall, yang berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan monastik, pendidikan, seni, dan kebudayaan penting di Eropa pada Abad Pertengahan.
Siapakah sebenarnya Santo Gallus, Pengaku Iman yang diperingati 16 Oktober? Bagaimana perjalanan hidupnya sebagai rahib dan misionaris? Dan nilai rohani apa yang dapat dipelajari umat Katolik dari kehidupannya?
Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik
Siapa Santo Gallus?
Santo Gallus, yang juga dikenal sebagai Saint Gall, Gallus, atau Gall, adalah seorang rahib dan misionaris yang hidup sekitar abad ke-6 hingga awal abad ke-7. Tradisi menyebutnya berasal dari lingkungan monastik Irlandia dan menjadi salah seorang murid sekaligus rekan perjalanan Santo Kolumbanus (Columbanus). Santo Kolumbanus dikenal sebagai salah seorang misionaris monastik besar dari Irlandia yang membawa tradisi kehidupan biara ke berbagai wilayah Eropa daratan, dan Gallus termasuk dalam kelompok rahib yang mengikuti perjalanan misionernya.
Pada masa itu, perjalanan seorang misionaris sangat berbeda dengan perjalanan zaman modern. Mereka harus menempuh perjalanan panjang melewati laut, sungai, hutan, dan pegunungan. Kesulitan bahasa, budaya, cuaca, makanan, penyakit, bahkan ancaman keamanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi Gallus dan para rahib lainnya, perjalanan itu merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Mereka meninggalkan tanah kelahiran demi membawa kehidupan Injil ke tempat-tempat baru.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap
Arti Gelar Pengaku Iman
Dalam tradisi Gereja, Santo Gallus dikenal sebagai Pengaku Iman. Istilah "Pengaku Iman" atau Confessor dalam tradisi kekudusan Gereja biasanya menunjuk kepada seorang kudus yang memberikan kesaksian luar biasa tentang iman melalui kehidupannya, tetapi tidak meninggal sebagai martir. Dengan demikian, kesaksian Santo Gallus terutama tampak melalui kesetiaannya menjalani kehidupan monastik, doa, pewartaan Injil, pertapaan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Kekudusan tidak hanya diwujudkan melalui kemartiran. Kesetiaan kepada Kristus sepanjang kehidupan sehari-hari juga merupakan kesaksian iman yang sangat berharga. Kehidupan Santo Gallus menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi saksi Kristus bukan hanya dengan mencurahkan darah sebagai martir, melainkan juga dengan mempersembahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan dalam kesetiaan.
Baca juga: Santa Margaretha Maria Alacoque – 16 Oktober
Kehidupan Awal Santo Gallus
Informasi historis mengenai masa kecil Santo Gallus tidak selengkap catatan mengenai para kudus dari masa yang lebih modern. Tradisi yang berkembang menyebut bahwa Gallus berasal dari lingkungan monastik Irlandia. Ia mendapatkan pendidikan rohani dan intelektual dalam tradisi biara yang pada masa itu berkembang pesat. Biara bukan sekadar tempat berdoa, melainkan juga menjadi pusat pendidikan, penyalinan manuskrip, pembelajaran Kitab Suci, pembinaan rohani, dan kehidupan komunitas.
Dalam lingkungan seperti inilah Gallus bertumbuh. Kehidupan yang dipenuhi doa, disiplin, pembelajaran Kitab Suci, kerja, dan persaudaraan monastik membentuk spiritualitasnya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar penting bagi perjalanan hidupnya sebagai misionaris dan pertapa.
Menjadi Murid Santo Kolumbanus
Salah satu peristiwa penting dalam kehidupan Santo Gallus adalah hubungannya dengan Santo Kolumbanus. Gallus menjadi murid dan rekan misionernya. Kolumbanus memiliki semangat misioner yang kuat. Bersama sejumlah rahib, ia meninggalkan Irlandia dan melakukan perjalanan menuju daratan Eropa, dan Gallus termasuk di antara para rahib yang mengikuti perjalanan tersebut.
Perjalanan mereka bukanlah perjalanan untuk mencari kehidupan yang lebih nyaman. Sebaliknya, mereka secara sadar meninggalkan keamanan tanah kelahiran demi pelayanan kepada Kristus. Dalam tradisi monastik Irlandia terdapat semangat peregrinatio pro Christo, yakni meninggalkan tanah kelahiran dan menjalani kehidupan sebagai peziarah demi Kristus. Semangat inilah yang membantu kita memahami keberanian Santo Gallus dan rekan-rekannya.
Baca juga: Santo Ignasius dari Antiokia, Uskup dan Martir
Santo Gallus sebagai Misionaris
Bersama Santo Kolumbanus dan para rahib lainnya, Gallus menjalankan karya misioner di berbagai wilayah Eropa. Mereka membangun komunitas-komunitas religius, mewartakan Injil, mengajarkan kehidupan Kristiani, dan memperkenalkan tradisi monastik. Kehidupan para rahib sendiri menjadi bagian penting dari pewartaan karena mereka tidak hanya berbicara mengenai Injil, tetapi berusaha menghidupinya secara nyata.
Mereka bekerja, berdoa, hidup sederhana, membangun komunitas, menerima orang yang datang meminta pertolongan, serta menunjukkan bagaimana iman Kristiani dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan monastik menjadi kesaksian bahwa doa dan pekerjaan tidak harus dipisahkan, tetapi dapat menjadi dua jalan yang saling melengkapi dalam mempersembahkan kehidupan kepada Allah.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Jumat, 16 Oktober 2026 Lukas 12:1-7
Pewartaan melalui Kehidupan
Metode pewartaan seperti ini menjadi salah satu ciri penting tradisi monastik. Orang dapat mengenal ajaran Kristiani bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga dengan melihat bagaimana seorang rahib menjalani kehidupannya. Doa, kerja, keramahan, kesederhanaan, kesabaran, dan kesetiaan menjadi bentuk pewartaan yang nyata.
Dalam konteks tersebut, kehidupan Santo Gallus menunjukkan bahwa evangelisasi bukan hanya tugas mereka yang pandai berbicara. Setiap orang dapat mewartakan Injil melalui cara hidupnya. Kehidupan yang jujur, penuh kasih, sederhana, dan berpusat kepada Tuhan sering kali menjadi pewartaan yang jauh lebih kuat daripada banyak kata.
Perpisahan Santo Gallus dan Santo Kolumbanus
Dalam perjalanan misioner mereka, Santo Gallus akhirnya tidak melanjutkan perjalanan bersama Kolumbanus. Tradisi menceritakan bahwa Gallus jatuh sakit ketika Kolumbanus hendak melanjutkan perjalanan menuju Italia. Keadaan tersebut membuat Gallus tetap tinggal di kawasan sekitar Danau Constance, sementara Kolumbanus meneruskan perjalanannya.
Peristiwa ini menjadi titik penting dalam kehidupan Gallus. Rencana yang sebelumnya ia bayangkan berubah karena keadaan yang tidak dapat dikendalikannya. Namun perubahan tersebut justru membuka jalan menuju panggilan baru. Santo Gallus kemudian menjalani kehidupan pertapaan di wilayah yang sekarang termasuk Swiss. Dari sinilah warisan spiritualnya berkembang dan namanya kemudian dikenal oleh generasi-generasi berikutnya.
Pertapaan Santo Gallus
Gallus mencari tempat yang sunyi untuk menjalani kehidupan doa dan akhirnya menetap di sebuah lembah dekat Sungai Steinach. Menurut tradisi, di tempat tersebut ia membangun tempat tinggal sederhana dan kapel. Ia menjalani kehidupan sebagai pertapa dengan menempatkan doa, kerja, dan hubungan dengan Tuhan sebagai pusat kehidupannya.
Kesunyian yang dipilihnya bukan berarti membenci dunia atau manusia. Dalam spiritualitas Kristiani, pertapaan merupakan usaha memberikan ruang yang lebih besar bagi doa dan hubungan dengan Tuhan. Gallus mencari keheningan agar dapat mendengarkan Tuhan dengan lebih sungguh. Namun justru di tempat yang sunyi itu, orang-orang mulai datang kepadanya untuk mencari nasihat, doa, pengajaran, dan bimbingan rohani. Dengan demikian, tempat pertapaan sederhana perlahan menjadi pusat kehidupan rohani.
Dari Pertapaan Menuju Komunitas
Inilah salah satu hal menarik dalam kisah Santo Gallus. Ia mencari kesunyian, tetapi kehidupan doanya justru menarik orang lain. Bukan karena ia membangun pusat yang megah atau memiliki kekuasaan politik, melainkan karena kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan memiliki daya tarik rohani tersendiri.
Setelah wafatnya, komunitas religius terus berkembang di sekitar tempat pertapaannya. Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, kawasan tersebut berkembang menjadi Biara St. Gall yang terkenal. Sebuah tempat sederhana yang semula digunakan seorang rahib untuk berdoa akhirnya memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan Gereja dan kebudayaan Eropa.
Santo Gallus dan Kota St. Gallen
Nama Santo Gallus kemudian diabadikan dalam nama St. Gallen, sebuah kota di Swiss. Kota tersebut berkembang di sekitar komunitas monastik yang memiliki akar tradisional pada pertapaan Santo Gallus. Warisan Gallus kemudian menjadi jauh lebih besar daripada tempat pertapaan sederhana yang ia bangun semasa hidupnya.
Biara St. Gall berkembang menjadi salah satu pusat monastik dan intelektual penting di Eropa Abad Pertengahan. Perpustakaannya terkenal karena menyimpan banyak manuskrip berharga. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana sebuah karya kecil dapat menghasilkan pengaruh yang jauh melampaui kehidupan seseorang. Gallus sendiri mungkin tidak pernah membayangkan bahwa tempat pertapaannya kelak berkembang menjadi pusat agama dan kebudayaan yang terkenal, tetapi benih kecil yang ditanam dengan kesetiaan dapat menghasilkan buah bagi banyak generasi.
Santo Gallus Menolak Jabatan Uskup
Tradisi kehidupan Santo Gallus juga menceritakan bahwa ia pernah ditawari jabatan gerejawi yang tinggi. Gallus dikaitkan dengan tawaran untuk menjadi uskup di Konstanz, tetapi ia tidak mengambil jabatan tersebut dan lebih memilih mempertahankan kehidupan monastik serta pertapaannya.
Keputusan ini dapat dipahami sebagai tanda bahwa Gallus mengenali panggilannya sendiri. Dalam kehidupan rohani, tidak semua bentuk pelayanan harus dijalankan oleh setiap orang. Ada yang dipanggil menjadi pemimpin, misionaris, imam, biarawan, biarawati, orang tua, pendidik, pekerja, atau pelayan masyarakat. Kesucian bukanlah perlombaan untuk mendapatkan posisi tertinggi, melainkan kesetiaan menjalankan panggilan yang dipercayakan Tuhan kepada masing-masing pribadi.
Spiritualitas Santo Gallus
Kehidupan Santo Gallus, Pengaku Iman memiliki sejumlah nilai spiritual yang tetap relevan bagi umat Katolik saat ini. Meskipun ia hidup lebih dari seribu tahun yang lalu, pengalaman hidupnya berbicara mengenai persoalan yang masih sangat dekat dengan manusia modern: keberanian meninggalkan kenyamanan, kemampuan menerima perubahan, pentingnya keheningan, serta kesetiaan mewartakan Injil melalui kehidupan sehari-hari.
Berani Meninggalkan Kenyamanan
Gallus meninggalkan tanah kelahirannya untuk menjalankan kehidupan misioner. Keputusan seperti itu membutuhkan keberanian besar. Bagi umat masa kini, meninggalkan kenyamanan tidak selalu berarti pergi ke negeri lain. Terkadang Tuhan mengundang seseorang meninggalkan kebiasaan buruk, egoisme, kemarahan, ambisi berlebihan, atau cara hidup yang menjauhkan diri dari-Nya. Pertobatan selalu memiliki unsur meninggalkan sesuatu agar dapat menerima sesuatu yang lebih baik dari Tuhan.
Setia ketika Rencana Berubah
Gallus pernah mengalami sakit sehingga tidak dapat meneruskan perjalanan bersama Kolumbanus. Apa yang tampaknya merupakan hambatan ternyata menjadi awal fase baru dalam hidupnya. Pengalaman ini sangat dekat dengan kehidupan manusia karena tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan. Pekerjaan dapat berubah, rencana keluarga dapat mengalami hambatan, kesehatan dapat terganggu, dan hubungan dengan orang lain dapat menghadapi masalah.
Kehidupan Santo Gallus mengingatkan bahwa perubahan rencana tidak selalu berarti berakhirnya panggilan. Kadang-kadang justru di tengah perubahan itulah seseorang menemukan jalan pelayanan yang baru. Tuhan dapat memakai keadaan yang tidak direncanakan manusia untuk membuka kesempatan baru bagi pertumbuhan iman.
Mencintai Doa dan Keheningan
Santo Gallus memilih kehidupan pertapaan, dan keheningan memiliki tempat penting dalam kehidupan rohaninya. Manusia modern hidup di tengah arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti. Telepon, media sosial, berita, pekerjaan, dan berbagai hiburan membuat pikiran mudah dipenuhi kebisingan.
Karena itu, teladan Gallus terasa semakin relevan. Umat Katolik membutuhkan waktu untuk berhenti dari kesibukan dan berada dalam keheningan bersama Tuhan. Keheningan dapat ditemukan melalui adorasi, meditasi Kitab Suci, doa pribadi, Rosario, atau beberapa menit doa sebelum memulai aktivitas. Keheningan bukan kekosongan, melainkan kesempatan untuk memberikan ruang kepada Tuhan agar berbicara dalam hati.
Mewartakan Injil melalui Kehidupan
Gallus tidak dikenal terutama karena karya tulis besar atau pidato terkenal. Warisan terbesarnya justru berasal dari kehidupannya. Hal ini mengingatkan umat bahwa kesaksian Kristiani dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Orang tua mewartakan Injil ketika mendidik anak dengan kasih. Pekerja mewartakan Injil ketika bekerja dengan jujur. Pelajar mewartakan Injil ketika belajar dengan tekun dan tidak melakukan kecurangan. Orang yang terluka mewartakan Injil ketika berusaha mengampuni, sedangkan orang yang berkecukupan mewartakan Injil ketika bersedia berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Iman menjadi nyata ketika diwujudkan dalam tindakan.
Santo Gallus dan Makna Kesederhanaan
Salah satu pesan yang kuat dari kehidupan Santo Gallus adalah kesederhanaan. Ia tidak memulai karya dengan bangunan besar atau sumber daya melimpah. Ia memulai dari kehidupan doa di sebuah tempat sederhana. Namun justru dari kesederhanaan tersebut berkembang warisan yang bertahan selama berabad-abad.
Hal ini sejalan dengan pola yang sering ditemukan dalam Kitab Suci. Tuhan dapat menggunakan sesuatu yang tampak kecil untuk menghasilkan sesuatu yang besar. Benih sesawi sangat kecil tetapi dapat bertumbuh, sedangkan beberapa roti dan ikan dapat menjadi sarana memberi makan banyak orang. Demikian pula sebuah kehidupan sederhana yang dipersembahkan kepada Tuhan dapat menghasilkan buah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Mukjizat dan Legenda Santo Gallus
Seperti banyak santo dari Abad Pertengahan awal, kehidupan Santo Gallus juga dikelilingi sejumlah kisah dan legenda. Salah satu kisah terkenal berkaitan dengan seekor beruang. Menurut legenda, ketika Gallus berada di sekitar tempat pertapaannya, ia bertemu seekor beruang. Gallus meminta hewan tersebut membawa kayu untuk api. Setelah itu ia memberikan makanan kepada beruang tersebut dan memintanya meninggalkan daerah itu.
Kisah tersebut menjadi sangat terkenal dalam tradisi setempat. Karena itu, beruang sering digunakan sebagai salah satu atribut ikonografi Santo Gallus dan juga berkaitan erat dengan tradisi visual St. Gallen. Kisah semacam ini perlu dibedakan dari data sejarah yang dapat diverifikasi. Legenda hagiografis berkembang sebagai bagian dari tradisi penghormatan kepada orang kudus dan sering membawa pesan simbolis atau spiritual, meskipun setiap detailnya tidak selalu dapat dipastikan secara historis.
Wafatnya Santo Gallus
Tanggal pasti kelahiran dan kematian Santo Gallus tidak sepenuhnya pasti karena keterbatasan sumber sejarah dari periode tersebut. Tradisi menempatkan wafatnya sekitar pertengahan abad ke-7 setelah ia menjalani kehidupan panjang sebagai rahib, misionaris, dan pertapa. Tanggal 16 Oktober secara tradisional dikaitkan dengan peringatannya.
Setelah wafat, penghormatan terhadap Gallus berkembang dan namanya terus hidup melalui komunitas yang bertumbuh di sekitar tempat pertapaannya. Dengan demikian, kehidupan yang secara lahiriah tampak sederhana meninggalkan warisan rohani yang jauh melampaui zamannya.
Warisan Santo Gallus bagi Gereja
Warisan Santo Gallus tidak dapat dipisahkan dari perkembangan monastisisme di Eropa. Tradisi kehidupan monastik membantu menjaga dan mengembangkan berbagai aspek kehidupan Gereja serta kebudayaan Eropa selama berabad-abad. Biara-biara menjadi tempat doa, pendidikan, pelayanan kepada masyarakat, penyalinan manuskrip, dan pembelajaran.
Biara St. Gall yang berkembang setelah zaman Gallus menjadi salah satu contoh penting dari warisan tersebut. Namun warisan terdalam Santo Gallus bukanlah bangunan atau institusi. Warisan itu adalah kesaksian bahwa satu kehidupan yang sungguh-sungguh dipersembahkan kepada Tuhan dapat memberikan pengaruh kepada generasi-generasi berikutnya.
Teladan Santo Gallus bagi Umat Katolik Masa Kini
Peringatan Santo Gallus pada 16 Oktober dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali kehidupan iman kita. Apakah kita masih menyediakan waktu untuk berdoa? Apakah kesibukan telah membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi sekadar rutinitas? Apakah kita mampu menerima perubahan ketika rencana kehidupan tidak berjalan sesuai harapan? Apakah kehidupan kita membuat orang lain semakin dekat kepada Kristus?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita melihat bahwa kisah seorang rahib yang hidup lebih dari seribu tahun lalu ternyata masih memiliki relevansi bagi kehidupan modern. Santo Gallus mengingatkan bahwa kekudusan tidak selalu tumbuh melalui peristiwa luar biasa. Kekudusan lebih sering berkembang melalui kesetiaan yang dilakukan setiap hari.
Menjadi Kudus dalam Hal-Hal Kecil
Tidak semua umat dipanggil menjadi pertapa seperti Gallus, tetapi setiap umat dipanggil kepada kekudusan. Jalan menuju kekudusan sering kali dibangun melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan setia: berdoa ketika bangun pagi, mengucapkan terima kasih, menolong orang yang membutuhkan, mendengarkan orang lain, menahan diri dari perkataan yang menyakitkan, melakukan pekerjaan dengan jujur, mengampuni, mengunjungi orang sakit, dan berbagi dengan mereka yang berkekurangan.
Tindakan sederhana dapat menjadi bentuk nyata kasih kepada Tuhan dan sesama. Kesetiaan dalam perkara kecil mempersiapkan hati untuk semakin terbuka terhadap kehendak Allah.
Renungan Santo Gallus 16 Oktober
Kisah Santo Gallus memperlihatkan sebuah paradoks menarik. Ia mencari tempat yang sunyi, tetapi namanya kemudian dikenal luas. Ia memilih kehidupan sederhana, tetapi warisannya berkembang menjadi besar. Ia tidak mengejar kedudukan, tetapi namanya kemudian melekat pada sebuah kota dan tradisi monastik yang berpengaruh.
Semua ini mengingatkan bahwa buah kehidupan seseorang tidak selalu dapat diukur ketika ia masih hidup. Manusia sering menginginkan hasil yang cepat. Kita ingin doa segera dijawab, pekerjaan segera berhasil, dan pelayanan segera menghasilkan perubahan. Namun Tuhan bekerja menurut waktu-Nya. Tugas manusia adalah menanam dengan setia.
Gallus menanam melalui doa, kehidupan monastik, pelayanan, dan kesaksian iman. Generasi setelahnya melihat buah yang jauh lebih besar. Karena itu, pada peringatan Santo Gallus, Pengaku Iman, 16 Oktober, kita dapat belajar untuk tidak meremehkan kebaikan kecil yang dilakukan dengan kasih. Mungkin kita tidak pernah melihat seluruh buahnya, tetapi Tuhan dapat menggunakan setiap kebaikan untuk menghadirkan rahmat-Nya kepada orang lain.
Doa melalui Perantaraan Santo Gallus
Ya Allah yang Mahakasih, Engkau telah memanggil Santo Gallus untuk meninggalkan kenyamanan hidupnya dan mengikuti panggilan-Mu sebagai rahib, misionaris, dan pertapa. Melalui teladan Santo Gallus, ajarlah kami mencintai doa, mencari keheningan di tengah kesibukan, serta tetap percaya kepada-Mu ketika rencana kehidupan kami berubah.
Berilah kami keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu. Ajarlah kami menjadi saksi Injil melalui perkataan, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari. Semoga melalui perantaraan Santo Gallus kami semakin setia mengikuti Kristus dan menjadi pembawa kasih, damai, dan harapan bagi sesama.
Santo Gallus, Pengaku Iman, doakanlah kami.
Amin.
Penutup
Santo Gallus, Pengaku Iman, yang diperingati setiap 16 Oktober, merupakan teladan seorang rahib yang menyerahkan kehidupannya kepada Tuhan melalui doa, pewartaan, kehidupan monastik, dan pertapaan. Perjalanan hidupnya bersama Santo Kolumbanus menunjukkan keberanian seorang misionaris yang rela meninggalkan tanah kelahirannya demi Kristus. Ketika sakit membuat rencananya berubah, Gallus tidak berhenti mengikuti Tuhan. Ia menemukan bentuk panggilan baru melalui kehidupan pertapaan.
Dari tempat sederhana tersebut tumbuh sebuah warisan besar yang kemudian berkaitan erat dengan perkembangan St. Gallen dan Biara St. Gall. Kisahnya mengingatkan bahwa kekudusan tidak bergantung pada seberapa terkenal seseorang atau seberapa besar karya yang dapat dilakukannya. Yang terutama adalah kesetiaan kepada Allah dalam panggilan yang telah diterima.
Melalui doa yang tekun, pekerjaan sederhana, kasih kepada sesama, dan kesediaan mengikuti kehendak Tuhan, setiap orang dapat menanam benih kebaikan. Kita mungkin tidak mengetahui seberapa besar buah yang akan dihasilkan. Namun seperti kehidupan Santo Gallus, sebuah benih kecil yang ditanam dalam iman dapat menghasilkan buah yang bertahan jauh melampaui kehidupan orang yang menanamnya.
Santo Gallus, Pengaku Iman, doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus dalam setiap keadaan kehidupan.
Demikianlah Santo Gallus, Pengaku Iman – Santo 16 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
