Santo Heribertus, Uskup: Kisah dan Teladan Iman
Santo Heribertus, Uskup: Teladan Pelayanan dan Kepedulian kepada Kaum Miskin
Santo Santa 30 Agustus – Santo Heribertus, Uskup
Santo Heribertus, Uskup Agung Köln, merupakan salah satu tokoh Gereja pada awal abad ke-11 yang dikenang karena kehidupan rohani, kebijaksanaan dalam memimpin, serta kepeduliannya terhadap kaum miskin. Ia lahir sekitar tahun 970 di Worms, Jerman, dan kemudian menjadi salah satu penasihat penting Kaisar Otto III sebelum akhirnya dipercaya memimpin Keuskupan Agung Köln.
Dalam tradisi Gereja, Santo Heribertus diperingati pada 30 Agustus, khususnya sebagai peringatan pemindahan atau pengangkatan relikuinya di Köln. Pesta utamanya secara umum juga dikenal pada 16 Maret, tanggal wafatnya pada tahun 1021. Keuskupan Agung Köln mencatat bahwa Heribertus menjadi Uskup Agung Köln sejak 999 hingga 1021 dan bahwa relikuinya dihormati di Köln-Deutz.
Kisah Santo Heribertus, Uskup memperlihatkan bahwa panggilan kekudusan tidak selalu berlangsung jauh dari kehidupan masyarakat. Ia justru menjalani panggilannya di tengah dunia politik, pemerintahan, pelayanan pastoral, dan persoalan sosial. Dari perjalanan hidupnya, umat Katolik dapat belajar mengenai pentingnya kerendahan hati, tanggung jawab, pertobatan, doa, serta perhatian kepada mereka yang membutuhkan.
Baca juga Santo Santa Bulan Agustus
Siapa Santo Heribertus, Uskup?
Santo Heribertus, Uskup, adalah seorang uskup Gereja pada abad pertengahan yang hidup dalam lingkungan Kekaisaran Romawi Suci. Ia berasal dari Worms dan sejak masa muda memperoleh pendidikan yang membentuk kehidupan rohaninya.
Heribertus lahir sekitar tahun 970 dari keluarga bangsawan. Ia mendapatkan pendidikan di lingkungan Biara Gorze di Lorraine. Tradisi mengenai kehidupannya menggambarkan bahwa pendidikan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan iman dan spiritualitasnya.
Pada awalnya, Heribertus mempunyai ketertarikan terhadap kehidupan membiara. Namun, keluarganya tidak menghendaki jalan tersebut. Ia kemudian kembali ke Worms. Meskipun tidak menjadi seorang biarawan, semangat doa dan kehidupan Kristiani tetap menjadi bagian penting dari dirinya.
Dalam perjalanan hidupnya, Heribertus kemudian ditahbiskan menjadi imam. Kemampuannya dalam bidang pemerintahan dan kehidupan Gereja membuatnya dipercaya menduduki berbagai tanggung jawab penting.
Ia akhirnya menjadi penasihat Kaisar Otto III dan kemudian terpilih sebagai Uskup Agung Köln pada tahun 999. Ia menjalankan pelayanan tersebut sampai wafat pada 16 Maret 1021.
Baca juga Kalender Liturgi Katolik Agustus 2026 Lengkap
Masa Muda dan Pendidikan Rohani Santo Heribertus
Lahir di Worms sekitar tahun 970
Heribertus lahir di Worms sekitar tahun 970. Pada masa itu, Worms merupakan salah satu pusat penting kehidupan politik dan Gereja di wilayah Jerman.
Sebagai anggota keluarga terpandang, Heribertus memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang baik. Namun, pendidikan yang diterimanya tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual. Ia juga dibentuk dalam kehidupan iman.
Ia kemudian belajar di Biara Gorze di Lorraine. Lingkungan biara tersebut menjadi tempat penting bagi perkembangan spiritualnya. Di sana ia mengenal kehidupan doa, disiplin, pertobatan, serta semangat pelayanan.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam hidupnya. Heribertus mulai memiliki keinginan untuk menyerahkan dirinya secara lebih khusus kepada Allah.
Keinginan hidup membiara
Sejak muda, Heribertus memiliki kecenderungan terhadap kehidupan membiara. Namun keluarganya memiliki rencana berbeda untuk masa depannya.
Ia dipanggil kembali ke Worms agar tidak terlalu terpengaruh oleh kehidupan monastik. Akan tetapi, keputusan tersebut tidak menghapus semangat rohaninya.
Kisah ini memberikan sebuah pelajaran penting. Panggilan Tuhan dapat mengambil bentuk yang tidak selalu sesuai dengan rencana awal seseorang.
Heribertus memang tidak menjalani seluruh hidupnya sebagai seorang biarawan. Namun, semangat doa, pertobatan, dan pengabdian yang ia pelajari dari lingkungan biara tetap menjadi bagian penting dari kehidupannya sebagai imam dan uskup.
Baca juga Beato Ghabra Mikael, Martir – Santo Santa 30 Agustus
Heribertus Menjadi Imam dan Penasihat Kaisar
Setelah kembali ke Worms, kehidupan Heribertus semakin berkembang. Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam dan mulai dipercaya menjalankan berbagai tanggung jawab gerejawi.
Kecakapan serta kebijaksanaannya membuat Kaisar Otto III memperhatikannya. Heribertus kemudian menjadi salah satu penasihat kaisar dan menjalankan tugas sebagai kanselir. Sumber sejarah menyebut bahwa ia menjadi kanselir bagi Otto III untuk urusan Italia sejak 994 dan kemudian untuk wilayah Jerman pada 998.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa Heribertus berada dekat dengan pusat kekuasaan politik pada zamannya.
Namun, berada dekat dengan kekuasaan tidak membuatnya meninggalkan kehidupan rohani. Justru pengalaman tersebut menjadi kesempatan baginya untuk menjalankan tanggung jawab dengan perspektif iman.
Di sinilah salah satu aspek menarik dari kehidupan Santo Heribertus dapat ditemukan.
Kekudusan tidak selalu berarti meninggalkan seluruh kehidupan sosial. Seorang Kristen dapat dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai Injil di tengah pekerjaan, pemerintahan, masyarakat, dan berbagai tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Baca juga Baca juga Santo Raymundus Nonnatus, Pengaku Iman 31 Agustus
Santo Heribertus Menjadi Uskup Agung Köln
Terpilih sebagai Uskup Agung
Pada tahun 999, takhta Keuskupan Agung Köln mengalami kekosongan. Heribertus kemudian terpilih untuk memimpin keuskupan tersebut.
Menurut tradisi yang dicatat dalam kisah hidupnya, ia tidak menerima jabatan tersebut dengan kesombongan. Sebaliknya, ia menjalani tanggung jawab itu dengan rasa takut akan Allah dan kesadaran bahwa jabatan seorang uskup merupakan tugas pelayanan.
Ia ditahbiskan sebagai Uskup Agung Köln pada Hari Natal tahun 999. Sumber sejarah juga mencatat bahwa Heribertus menjalankan pelayanan sebagai Uskup Agung Köln dari 999 sampai wafat pada 1021.
Uskup bukan sekadar pemimpin administratif
Bagi Heribertus, menjadi uskup bukan sekadar memimpin lembaga Gereja.
Seorang uskup mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kehidupan iman umat, membina para imam, memperhatikan kaum miskin, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, Heribertus memberikan perhatian besar terhadap kehidupan rohani dan kesejahteraan umatnya.
Sumber-sumber sejarah mengenangnya sebagai seorang uskup yang memperhatikan orang miskin. Keuskupan Agung Köln bahkan menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting pada zamannya yang dikenang karena kepeduliannya kepada mereka yang membutuhkan.
Baca juga Bacaan Injil Hari Ini Minggu, 30 Agustus 2026 Matius 16:21-27
Pelayanan kepada Kaum Miskin
Salah satu ciri penting dalam kehidupan Santo Heribertus, Uskup adalah perhatian terhadap kaum miskin.
Dalam kehidupan Gereja, kepedulian kepada orang miskin bukan sekadar kegiatan sosial. Kepedulian tersebut berakar pada Injil dan pada keyakinan bahwa setiap manusia memiliki martabat sebagai ciptaan Allah.
Heribertus berusaha agar kehidupan Gereja tidak hanya tampak dalam bangunan yang megah atau tata pemerintahan yang baik, tetapi juga nyata dalam tindakan kasih kepada mereka yang mengalami kesulitan.
Ia mengatur pelayanan kepada mereka yang membutuhkan dan mendorong kehidupan Gereja yang lebih tertib. Tradisi mengenai dirinya juga mencatat pembangunan serta pengembangan berbagai tempat ibadah dan komunitas religius.
Kepedulian sosial sebagai bagian dari iman
Teladan Heribertus tetap relevan bagi umat Katolik zaman sekarang.
Iman tidak berhenti pada doa pribadi. Doa yang benar seharusnya mendorong seseorang untuk semakin peka terhadap penderitaan orang lain.
Ketika melihat orang miskin, umat dipanggil bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membantu sesuai kemampuan.
Ketika melihat seseorang mengalami kesulitan, umat dipanggil untuk hadir dengan kasih.
Ketika ada orang yang tersisih, umat dipanggil untuk membuka ruang persaudaraan.
Dengan demikian, kehidupan Santo Heribertus mengingatkan bahwa pelayanan kepada sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Kristiani.
Santo Heribertus dan Kehidupan Doa
Menggabungkan pelayanan dan doa
Salah satu tantangan besar dalam kehidupan seorang pemimpin adalah menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan rohani.
Heribertus memiliki banyak tanggung jawab. Ia pernah terlibat dalam urusan pemerintahan, menjadi penasihat kaisar, kemudian memimpin keuskupan yang penting.
Namun, kehidupan rohani tetap menjadi dasar pelayanannya.
Kisah tradisional mengenai dirinya menggambarkan bahwa Heribertus semakin mengarahkan perhatian kepada doa dan pertobatan, terutama setelah mengalami berbagai persoalan politik yang menguji dirinya.
Hal ini menunjukkan bahwa kesibukan tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan Allah.
Doa dalam masa kesulitan
Kehidupan seorang pemimpin Gereja tentu tidak selalu mudah. Heribertus pernah menghadapi konflik dan tuduhan dalam konteks politik setelah kematian Otto III.
Dalam situasi semacam itu, ia tidak memilih untuk hidup dalam dendam.
Sebaliknya, ia mengarahkan hidupnya kembali kepada Allah.
Teladan tersebut sangat penting. Ketika seseorang mengalami kesalahpahaman, tuduhan, atau konflik, reaksi pertama mungkin adalah membalas. Namun kehidupan seorang murid Kristus dipanggil untuk mencari jalan damai dan menyerahkan keadilan terakhir kepada Tuhan.
Peristiwa Kekeringan dan Doa Memohon Hujan
Santo Heribertus juga sangat dikenal dalam tradisi Köln karena kaitannya dengan doa memohon hujan.
Keuskupan Agung Köln menyebut Heribertus sebagai pelindung yang berkaitan dengan hujan. Relikuinya berada di Köln-Deutz, dan penghormatan terhadap relik tersebut memiliki sejarah panjang.
Dalam kisah hidup tradisionalnya, ketika terjadi kekeringan, Heribertus bersama umat mengadakan prosesi dan mengajak mereka bertobat serta memohon belas kasih Allah.
Peristiwa tersebut memperlihatkan cara Gereja memahami hubungan antara doa dan kehidupan sehari-hari.
Umat tidak hanya datang kepada Tuhan ketika segala sesuatu berjalan baik. Dalam masa sulit, umat juga diajak membawa persoalan hidup kepada Allah.
Namun, doa memohon pertolongan Tuhan bukan berarti manusia berhenti berusaha.
Sebaliknya, doa memberikan kekuatan agar manusia tetap bekerja, berharap, dan bertindak dengan bijaksana.
Heribertus dan Pertobatan Hati
Salah satu pesan penting yang dapat diambil dari kehidupan Santo Heribertus adalah pentingnya pertobatan.
Dalam tradisi mengenai dirinya, Heribertus mengajak umat untuk bertobat dan percaya kepada kerahiman Allah.
Pertobatan dalam iman Katolik bukan hanya rasa bersalah. Pertobatan berarti perubahan arah hidup.
Seseorang yang bertobat kembali mengarahkan hati kepada Allah.
Ia belajar meninggalkan kesombongan, kebencian, ketidakadilan, dan egoisme.
Ia juga belajar memperbaiki hubungan dengan sesama.
Pertobatan harus menghasilkan tindakan
Pertobatan sejati tidak berhenti pada kata-kata.
Jika seseorang mengaku mengasihi Tuhan tetapi terus-menerus menyakiti sesamanya, maka hidupnya perlu diperiksa kembali.
Jika seseorang rajin berdoa tetapi tidak peduli kepada orang yang membutuhkan, ada sesuatu yang belum selaras dalam kehidupannya.
Heribertus memberikan contoh bahwa kehidupan rohani harus diwujudkan dalam pelayanan konkret.
Doa, pertobatan, pelayanan, dan kasih kepada sesama seharusnya berjalan bersama.
Santo Heribertus sebagai Gembala Umat
Memperhatikan para imam
Sebagai Uskup Agung Köln, Heribertus tidak hanya memperhatikan umat awam. Ia juga memberikan perhatian kepada para imam yang berada dalam tanggung jawab pastoralnya.
Tradisi mengenai kehidupannya menyebut bahwa ia melakukan kunjungan pastoral dan memperhatikan pembinaan rohani para imam.
Hal tersebut sangat penting karena kesehatan rohani sebuah keuskupan juga bergantung pada kehidupan para pelayannya.
Seorang imam membutuhkan doa, dukungan, pembinaan, dan persaudaraan.
Heribertus memahami bahwa pelayanan Gereja bukan pekerjaan seorang diri.
Gembala yang dekat dengan umat
Seorang uskup dipanggil untuk menjadi gembala.
Gembala tidak hanya berada di tempat yang tinggi dan memberikan perintah. Gembala berjalan bersama umat, mendengarkan mereka, mengenal kebutuhan mereka, dan menolong mereka menemukan jalan kepada Kristus.
Teladan ini tetap penting bagi Gereja masa kini.
Pemimpin Gereja perlu memiliki hati seorang gembala: tegas dalam kebenaran, tetapi lembut dalam kasih.
Pembangunan dan Pengembangan Kehidupan Gereja
Heribertus juga dikenang karena perhatian terhadap pembangunan serta pengembangan berbagai institusi Gereja.
Salah satu karya yang secara khusus dikaitkan dengannya adalah pembangunan dan pemberian dukungan kepada Biara Deutz di seberang Sungai Rhein dari Köln. Ia juga dikaitkan dengan pembangunan kembali Gereja Para Rasul dan Kapel Santo Stefanus di Köln.
Karya pembangunan tersebut tidak semata-mata harus dipahami sebagai pembangunan fisik.
Bagi Gereja abad pertengahan, biara dan gereja merupakan pusat kehidupan rohani, pendidikan, doa, pelayanan, dan pembentukan masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan tempat-tempat tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kehidupan iman umat.
Tuduhan dan Ujian dalam Kehidupan Heribertus
Kehidupan Santo Heribertus tidak bebas dari konflik.
Setelah Kaisar Otto III meninggal secara mendadak ketika berada di Italia, muncul ketegangan politik. Heribertus turut menghadapi situasi sulit karena kedekatannya dengan sang kaisar.
Dalam beberapa tradisi populer, ia bahkan dikaitkan dengan tuduhan bahwa dirinya terlibat dalam kematian Otto III. Tuduhan tersebut merupakan bagian dari konflik politik pada masa itu.
Namun, setelah keadaan politik berubah, Heribertus tidak memilih untuk hidup dalam kebencian.
Ia justru semakin mengarahkan hidupnya kepada pelayanan Gereja dan kehidupan rohani.
Di sini umat dapat menemukan teladan yang sangat berharga: kesulitan tidak harus membuat seseorang menjadi pahit.
Seseorang dapat mengalami ketidakadilan dan tetap memilih untuk tidak membalas dengan kebencian.
Wafatnya Santo Heribertus
Heribertus meninggal dunia pada 16 Maret 1021 di Köln setelah sekitar dua puluh dua tahun melayani sebagai Uskup Agung Köln.
Ia kemudian dihormati sebagai seorang santo.
Dalam perkembangan devosi Gereja di Köln, penghormatan terhadap relikunya semakin kuat. Relikuinya berada di Köln-Deutz dan menjadi bagian penting dari tradisi penghormatan kepada Santo Heribertus. Pada 30 Agustus 1147, relikunya diangkat atau dipindahkan dalam suatu peristiwa yang kemudian menjadi dasar peringatan 30 Agustus di Köln.
Dengan demikian, terdapat alasan historis mengapa Santo Heribertus diperingati pada 30 Agustus, meskipun tanggal wafatnya adalah 16 Maret.
Mengapa Santo Heribertus Diperingati pada 30 Agustus?
Bagi umat yang mencari Santo Santa 30 Agustus, nama Santo Heribertus sering muncul bersama Beato Ghabra Mikael dalam kalender orang kudus Katolik Indonesia.
Peringatan Santo Heribertus pada 30 Agustus terutama berhubungan dengan tradisi Köln mengenai pemindahan atau pengangkatan relikunya. Sumber sejarah mengenai kalender para kudus juga mencatat bahwa 30 Agustus merupakan hari perayaan pemindahan relikui Heribertus di Köln.
Karena itu, penting membedakan antara:
- 16 Maret: tanggal wafat Santo Heribertus dan hari pesta yang dikenal secara luas.
- 30 Agustus: peringatan pemindahan/pengangkatan relikunya dalam tradisi Köln.
Penjelasan ini membantu pembaca memahami mengapa nama Santo Heribertus muncul dalam daftar orang kudus 30 Agustus.
Teladan Santo Heribertus bagi Umat Katolik Masa Kini
1. Tetap setia ketika rencana hidup berubah
Heribertus pernah menginginkan kehidupan membiara, tetapi perjalanan hidupnya mengambil arah yang berbeda.
Hal tersebut mengajarkan bahwa manusia boleh mempunyai rencana, tetapi tetap perlu membuka diri terhadap kehendak Allah.
Tidak semua jalan hidup yang kita bayangkan akan terjadi.
Namun, perubahan jalan tidak berarti Allah meninggalkan kita.
2. Gunakan kemampuan untuk melayani
Heribertus memiliki kemampuan intelektual dan administratif. Ia dapat bekerja dalam lingkungan pemerintahan dan kemudian menjadi pemimpin Gereja.
Kemampuan tersebut tidak digunakan hanya untuk kepentingan dirinya.
Ia menggunakannya untuk melayani.
Umat Katolik masa kini juga dapat belajar bahwa bakat dan kemampuan adalah anugerah yang perlu digunakan demi kebaikan.
3. Jangan melupakan orang miskin
Kepedulian terhadap kaum miskin merupakan bagian penting dari warisan Santo Heribertus.
Di tengah dunia yang sering menilai manusia berdasarkan kekayaan dan keberhasilan, Gereja mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki martabat.
Membantu sesama bukan berarti harus selalu melakukan sesuatu yang besar.
Tindakan sederhana seperti berbagi, mendengarkan, menemani, dan memperhatikan orang yang kesulitan juga merupakan bentuk kasih Kristiani.
4. Jadikan doa sebagai dasar pelayanan
Santo Heribertus mengingatkan bahwa aktivitas yang sangat banyak tetap membutuhkan dasar rohani.
Tanpa doa, pelayanan dapat berubah menjadi sekadar pekerjaan.
Dengan doa, pelayanan menjadi persembahan kepada Allah.
5. Belajar mengampuni
Dalam menghadapi konflik politik dan tuduhan, Heribertus memberikan teladan untuk tidak hidup dalam dendam.
Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kesalahan itu benar.
Mengampuni berarti menyerahkan luka kepada Allah dan menolak membiarkan kebencian menguasai hati.
Santo Heribertus dan Relevansinya bagi Keluarga
Teladan Santo Heribertus, Uskup juga dapat diterapkan dalam keluarga.
Orang tua dapat belajar membimbing anak dengan iman tanpa memaksakan semua rencana mereka.
Anak-anak dapat belajar menggunakan kemampuan yang mereka miliki untuk membantu keluarga dan sesama.
Setiap anggota keluarga dapat membangun kebiasaan doa bersama.
Keluarga juga dapat belajar lebih peka terhadap tetangga yang membutuhkan pertolongan.
Dengan demikian, penghormatan kepada Santo Heribertus tidak berhenti pada mengenang sejarah. Kehidupannya dapat menjadi inspirasi untuk membangun keluarga yang berakar pada doa, kasih, dan pelayanan.
Santo Heribertus dan Kepemimpinan Kristiani
Di tengah dunia modern, banyak orang berbicara mengenai kepemimpinan.
Ada kepemimpinan yang mengejar kekuasaan.
Ada pula kepemimpinan yang mengejar popularitas.
Namun, kepemimpinan Kristiani mempunyai ukuran yang berbeda.
Pemimpin dipanggil untuk melayani.
Heribertus menjadi contoh bahwa jabatan tinggi tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari orang kecil.
Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kesempatan untuk berbuat baik.
Karena itu, kehidupan Santo Heribertus dapat menjadi inspirasi bagi orang tua, guru, pemimpin masyarakat, pengurus lingkungan, pelayan Gereja, dan siapa saja yang dipercaya memimpin orang lain.
Makna Rohani Santo Heribertus bagi Gereja Masa Kini
Kisah Santo Heribertus, Uskup mempertemukan beberapa tema penting dalam kehidupan Kristiani: doa, pelayanan, kepemimpinan, pertobatan, kepedulian sosial, dan kesetiaan.
Ia hidup pada zaman yang berbeda jauh dengan zaman sekarang.
Namun, persoalan manusia tetap memiliki banyak kesamaan.
Manusia masih mencari kekuasaan.
Manusia masih menghadapi konflik.
Orang miskin masih membutuhkan perhatian.
Para pemimpin masih membutuhkan kebijaksanaan.
Dan setiap orang masih membutuhkan pertobatan.
Karena itu, kesaksian para kudus tetap relevan.
Santo Heribertus mengajarkan bahwa kekudusan bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari.
Kekudusan justru tampak ketika seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan hati yang tertuju kepada Allah.
Doa kepada Santo Heribertus
Santo Heribertus, Uskup yang setia kepada Kristus,
Engkau telah menerima berbagai tanggung jawab dalam kehidupanmu dan berusaha menjalankannya dengan iman serta kerendahan hati.
Doakanlah kami agar mampu menggunakan setiap kemampuan yang Tuhan berikan untuk melayani sesama.
Ajarlah kami untuk mencintai doa, setia dalam pelayanan, dan peka terhadap kebutuhan orang miskin serta mereka yang mengalami kesulitan.
Ketika kami menghadapi tuduhan, konflik, atau ketidakadilan, bantulah kami agar tidak dikuasai kebencian.
Mohonkanlah bagi kami hati yang sabar, bijaksana, rendah hati, dan penuh belas kasih.
Semoga kami semakin dekat kepada Kristus dan mampu menghadirkan kasih-Nya dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Santo Heribertus, doakanlah kami.
Amin.
Kesimpulan
Santo Heribertus, Uskup, adalah sosok penting dalam sejarah Gereja Köln pada abad ke-11. Lahir sekitar tahun 970 di Worms, ia memperoleh pendidikan yang kuat dalam lingkungan Gereja, kemudian menjadi imam, penasihat Kaisar Otto III, dan akhirnya Uskup Agung Köln dari tahun 999 hingga wafat pada 1021.
Ia dikenang bukan hanya karena kedudukannya sebagai uskup, tetapi juga karena kehidupan doa, pelayanan pastoral, kepedulian terhadap kaum miskin, perhatian terhadap para imam, serta usaha membangun kehidupan Gereja.
Peringatan Santo Heribertus 30 Agustus memiliki hubungan khusus dengan tradisi Köln mengenai pemindahan atau pengangkatan relikunya. Sementara itu, tanggal wafatnya, 16 Maret, juga menjadi hari pesta Santo Heribertus dalam tradisi Gereja.
Bagi umat Katolik masa kini, kisahnya menjadi pengingat bahwa kekudusan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk pelayanan. Seorang Kristen tidak harus berada di tempat yang sunyi untuk menjadi kudus. Ia dapat menjadi saksi Kristus dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan pelayanan Gereja.
Warisan Santo Heribertus pada akhirnya mengajak kita untuk menggabungkan doa dan tindakan, iman dan kasih, kepemimpinan dan pelayanan.
Semoga melalui teladan Santo Heribertus, kita semakin menyadari bahwa setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita merupakan kesempatan untuk melayani Allah dan sesama.
Santo Heribertus, Uskup, doakanlah kami.
Demikianlah Santo Heribertus, Uskup: Kisah dan Teladan Iman, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
