Santo Padre Pio dari Pietrelcina – 23 September
Santo Santa 23 September: Santo Padre Pio dari Pietrelcina, Imam yang Mengabdikan Hidup bagi Doa dan Pengakuan Dosa
Setiap tanggal 23 September, Gereja Katolik memperingati Santo Padre Pio dari Pietrelcina, seorang imam Kapusin yang dikenal karena kehidupan doa yang mendalam, pelayanan Sakramen Tobat, kasih kepada orang sakit, serta kesetiaannya dalam menanggung berbagai penderitaan.
Nama Padre Pio menjadi salah satu nama yang sangat dikenal di kalangan umat Katolik pada abad ke-20. Banyak orang datang kepadanya untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa, meminta nasihat rohani, dan memohon doa. Hidupnya memperlihatkan bagaimana seorang imam dapat mempersembahkan seluruh dirinya bagi Kristus dan keselamatan jiwa-jiwa.
Padre Pio juga dikenal luas karena stigmata, yaitu luka-luka pada tubuh yang menyerupai luka penyaliban Kristus. Namun kekudusannya tidak seharusnya hanya dipandang melalui fenomena luar biasa tersebut. Inti kehidupan Padre Pio justru ditemukan dalam hal-hal yang sangat mendasar dalam kehidupan Katolik: Ekaristi, doa, pertobatan, Sakramen Rekonsiliasi, pengorbanan, dan kasih kepada sesama.
Peringatan Santo Padre Pio tanggal 23 September mengajak kita untuk kembali melihat kehidupan iman kita sendiri. Apakah kita sungguh menyediakan waktu untuk berdoa? Apakah kita masih menghargai Sakramen Pengakuan Dosa? Apakah penderitaan membawa kita semakin dekat kepada Tuhan atau justru menjauhkan kita dari-Nya?
Mari mengenal perjalanan hidup Santo Padre Pio dari Pietrelcina, imam yang seluruh hidupnya diarahkan kepada Kristus.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santo Padre Pio dari Pietrelcina?
Santo Padre Pio memiliki nama lahir Francesco Forgione. Ia lahir pada 25 Mei 1887 di Pietrelcina, sebuah kota kecil di wilayah Benevento, Italia.
Orangtuanya bernama Grazio Mario Forgione dan Maria Giuseppa Di Nunzio. Francesco tumbuh dalam keluarga Katolik sederhana yang kehidupan sehari-harinya sangat dekat dengan iman dan doa.
Sejak usia muda, Francesco menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap kehidupan rohani. Ia kemudian merasa terpanggil untuk mempersembahkan hidup kepada Tuhan melalui kehidupan religius.
Pada usia muda ia memasuki Ordo Saudara Dina Kapusin, salah satu cabang keluarga besar Fransiskan. Ketika menerima jubah religius, ia memperoleh nama Fra Pio, yang kemudian membuatnya dikenal dunia sebagai Padre Pio setelah ditahbiskan menjadi imam.
Perjalanan panggilannya tidak selalu mudah. Kesehatannya sering mengalami gangguan sehingga beberapa kali ia harus meninggalkan komunitas biara dan tinggal sementara bersama keluarganya.
Namun kelemahan fisik tidak memadamkan keinginannya untuk menjadi imam.
Baca juga: Sakramen Imamat: Pengertian, Makna dan Tingkatannya
Tahbisan Imamat Padre Pio
Padre Pio ditahbiskan menjadi imam pada 10 Agustus 1910 di Katedral Benevento.
Sejak saat itu, Ekaristi menjadi pusat yang semakin kuat dalam kehidupan rohaninya.
Bagi Padre Pio, imamat bukan sekadar jabatan dalam Gereja. Menjadi imam berarti menyerahkan diri kepada Kristus dan melayani umat yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Ia dikenal merayakan Misa dengan penuh perhatian dan devosi. Banyak orang yang kemudian datang untuk mengikuti perayaan Ekaristi yang dipimpinnya.
Pelayanan imamatnya akhirnya sangat erat dengan dua hal: altar dan ruang pengakuan dosa.
Di altar ia mempersembahkan Ekaristi bersama Gereja. Di ruang pengakuan dosa ia membantu banyak orang berdamai kembali dengan Allah.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Padre Pio di San Giovanni Rotondo
Pada tahun 1916, Padre Pio dikirim ke biara Kapusin di San Giovanni Rotondo, Italia.
Tempat inilah yang kemudian menjadi pusat sebagian besar kehidupan dan pelayanannya.
Awalnya San Giovanni Rotondo merupakan daerah yang relatif sederhana dan tidak terlalu dikenal. Namun seiring tersebarnya berita mengenai Padre Pio, semakin banyak umat datang ke sana.
Ada yang datang untuk mengikuti Misa.
Ada yang ingin menerima Sakramen Pengakuan Dosa.
Ada pula yang datang untuk meminta nasihat atau doa.
Padre Pio akhirnya menghabiskan lebih dari lima puluh tahun hidupnya di San Giovanni Rotondo.
Di tempat inilah ia menjalani sebagian besar pelayanan imamatnya sampai meninggal dunia pada tahun 1968.
Baca juga: Santo Mauritius dan Kawan-kawan, Martir 22 September
Santo Padre Pio dan Stigmata
Salah satu bagian kehidupan Santo Padre Pio dari Pietrelcina yang paling terkenal adalah stigmata.
Dalam tradisi spiritualitas Katolik, istilah stigmata digunakan untuk menyebut luka-luka tubuh yang memiliki kemiripan dengan luka-luka Kristus dalam sengsara dan penyaliban-Nya.
Pada 20 September 1918, ketika Padre Pio sedang berdoa di San Giovanni Rotondo, muncul luka-luka pada tangan, kaki, dan sisi tubuhnya.
Fenomena tersebut kemudian berlangsung selama puluhan tahun.
Kabar mengenai stigmata Padre Pio menyebar dengan cepat dan menarik perhatian umat, dokter, pejabat Gereja, maupun masyarakat luas.
Baca juga: Santo Linus, Paus dan Martir – 23 September
Bagaimana Gereja Menanggapi Stigmata Padre Pio?
Gereja Katolik bersikap hati-hati terhadap fenomena luar biasa.
Kehidupan Padre Pio dan berbagai fenomena yang dikaitkan dengannya diperiksa selama bertahun-tahun. Dalam beberapa periode ia juga mengalami pembatasan dalam pelayanan publik.
Situasi tersebut menjadi salah satu penderitaan berat dalam kehidupannya.
Namun Padre Pio tetap berada dalam Gereja dan berusaha menjalani kehidupan religiusnya dalam ketaatan.
Hal ini memberikan pelajaran penting bagi umat Katolik. Kekudusan seseorang tidak ditentukan terutama oleh pengalaman mistik atau fenomena luar biasa.
Buah kehidupan rohani jauh lebih penting: iman, kasih, kerendahan hati, pertobatan, doa, pelayanan, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Karena itu, ketika mengenang Padre Pio, umat sebaiknya tidak berhenti pada stigmata.
Kita perlu melihat Kristus yang menjadi pusat seluruh kehidupannya.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Rabu, 23 September 2026 Lukas 9:1-6
Padre Pio dan Sakramen Pengakuan Dosa
Salah satu pelayanan terbesar Padre Pio adalah Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi.
Selama bertahun-tahun ia menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan pengakuan dosa umat.
Orang-orang datang dari berbagai daerah untuk mengaku dosa kepadanya. Antrean untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dapat sangat panjang.
Mengapa pelayanan ini begitu penting?
Karena Padre Pio memahami bahwa kebutuhan terbesar manusia bukan hanya penyelesaian masalah duniawi, melainkan rekonsiliasi dengan Allah.
Dosa merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Melalui Sakramen Tobat, orang yang sungguh bertobat menerima pengampunan dan rahmat Allah.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 23 September 2026 Diutus dengan Hati yang Berserah
Pertobatan yang Sungguh-Sungguh
Padre Pio dikenal sebagai seorang bapa pengakuan yang tegas.
Ia tidak memandang Sakramen Rekonsiliasi sebagai formalitas. Pertobatan harus disertai penyesalan yang tulus dan keinginan untuk meninggalkan dosa.
Ketegasan tersebut lahir dari keseriusannya terhadap keselamatan jiwa.
Dalam dunia modern, manusia mudah mencari pembenaran atas kesalahannya. Kehidupan Padre Pio mengingatkan kita bahwa belas kasih Allah bukan berarti dosa tidak penting.
Justru karena Allah mengasihi manusia, Dia memanggil manusia untuk bertobat.
Bagi umat Katolik, teladan ini dapat diwujudkan dengan kembali menghargai Sakramen Pengakuan Dosa sebagai perjumpaan dengan belas kasih Allah.
Baca juga: Sakramen Ekaristi: Pengertian, Makna dan Dasarnya>
Ekaristi dalam Kehidupan Santo Padre Pio
Selain Sakramen Rekonsiliasi, Ekaristi merupakan pusat kehidupan Padre Pio.
Perayaan Misa yang dipimpinnya dikenal berlangsung dengan penuh kekhusyukan.
Bagi seorang imam, Ekaristi bukan sekadar kegiatan rutin. Dalam Misa Kudus, Gereja mengambil bagian secara sakramental dalam kurban Kristus dan menerima Tubuh serta Darah-Nya sebagai santapan kehidupan kekal.
Padre Pio menjalani spiritualitas yang sangat berpusat pada misteri Kristus yang tersalib.
Karena itu altar memiliki tempat istimewa dalam kehidupannya.
Teladannya mengajak umat Katolik bertanya:
Apakah kita mengikuti Misa hanya sebagai kewajiban?
Ataukah kita sungguh menyadari bahwa Ekaristi merupakan pusat kehidupan Gereja?
Mengikuti Misa dengan perhatian, mempersiapkan hati sebelum menerima Komuni Kudus, dan mengucap syukur sesudahnya merupakan langkah sederhana yang dapat membantu kita bertumbuh dalam iman.
Padre Pio dan Kehidupan Doa
Padre Pio adalah seorang imam dengan kehidupan doa yang sangat mendalam.
Doa baginya bukan kegiatan tambahan setelah pekerjaan selesai. Doa adalah napas kehidupan rohani.
Salah satu bentuk doa yang sangat dekat dengan spiritualitasnya adalah Doa Rosario.
Devosinya kepada Santa Perawan Maria sangat kuat. Ia mendorong umat untuk berdoa dan menyerahkan kehidupan kepada Tuhan dengan kepercayaan.
Namun penting dipahami bahwa dalam iman Katolik, doa kepada para kudus tidak menggantikan Allah.
Allah tetap menjadi sumber segala rahmat.
Ketika umat meminta doa Santa Perawan Maria atau para kudus, umat memohon agar mereka mendoakan kita di hadapan Allah, sebagaimana kita juga meminta saudara seiman di dunia untuk mendoakan kita.
Doa sebagai Senjata Rohani
Kehidupan Padre Pio menunjukkan bahwa doa memiliki kekuatan besar dalam menghadapi pencobaan, penderitaan, ketakutan, dan berbagai kesulitan hidup.
Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan semua persoalan sekaligus.
Namun kita selalu dapat datang kepada Tuhan.
Doa mengubah cara kita menghadapi persoalan karena doa membawa hati kembali kepada Allah.
Casa Sollievo della Sofferenza: Kasih kepada Orang Sakit
Spiritualitas Padre Pio tidak berhenti pada doa pribadi.
Kasih kepada Kristus mendorongnya untuk memperhatikan orang-orang yang menderita, terutama mereka yang sakit.
Dari perhatian tersebut lahirlah sebuah karya besar bernama Casa Sollievo della Sofferenza, yang berarti kurang lebih "Rumah untuk Meringankan Penderitaan".
Rumah sakit tersebut diresmikan pada 5 Mei 1956 di San Giovanni Rotondo.
Bagi Padre Pio, pelayanan kesehatan bukan sesuatu yang terpisah dari iman.
Orang sakit perlu mendapatkan perawatan yang baik sekaligus dihormati martabatnya sebagai manusia.
Karya ini memperlihatkan keseimbangan penting dalam spiritualitas Katolik.
Doa harus menghasilkan kasih.
Iman harus menghasilkan pelayanan.
Kasih kepada Tuhan harus terlihat dalam kepedulian kepada sesama.
Dengan demikian, kehidupan Padre Pio mengajarkan bahwa kekudusan tidak berarti melarikan diri dari penderitaan dunia. Sebaliknya, orang yang semakin dekat dengan Tuhan seharusnya semakin peka terhadap penderitaan sesamanya.
Penderitaan dalam Kehidupan Padre Pio
Hidup Padre Pio tidak bebas dari penderitaan.
Sejak muda ia mengalami berbagai persoalan kesehatan. Ia juga menanggung stigmata selama bertahun-tahun dan menghadapi pemeriksaan serta pembatasan dari otoritas Gereja pada masa tertentu.
Popularitasnya juga membawa tantangan tersendiri.
Namun penderitaan tidak membuatnya meninggalkan panggilannya.
Dalam spiritualitas Kristiani, penderitaan tidak dicari demi penderitaan itu sendiri. Penderitaan juga bukan berarti Allah menikmati kesakitan manusia.
Sebaliknya, ketika penderitaan tidak dapat dihindari, seorang Kristiani dapat mempersatukannya dengan penderitaan Kristus dan menjalaninya dalam iman.
Kristus sendiri memasuki penderitaan manusia melalui salib.
Karena itu orang beriman tidak menghadapi penderitaan sendirian.
Teladan Padre Pio dapat memberikan pengharapan kepada siapa pun yang sedang menghadapi penyakit, kehilangan, kegagalan, kesepian, atau berbagai beban kehidupan.
Wafatnya Santo Padre Pio
Padre Pio meninggal dunia pada 23 September 1968 di San Giovanni Rotondo.
Ia berusia 81 tahun.
Tanggal wafatnya kemudian menjadi tanggal peringatan liturgisnya, yaitu 23 September.
Berita kematiannya membawa dukacita bagi banyak orang yang mengenal pelayanan dan kehidupan rohaninya.
Namun penghormatan kepada Padre Pio tidak berhenti setelah kematiannya.
Devosi umat kepadanya terus berkembang di berbagai negara.
Proses resmi Gereja untuk memeriksa kehidupan dan kekudusannya kemudian berlangsung selama bertahun-tahun.
Beatifikasi dan Kanonisasi Padre Pio
Padre Pio dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 2 Mei 1999.
Tiga tahun kemudian, pada 16 Juni 2002, Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasikannya sebagai santo.
Sejak saat itu ia dihormati secara resmi sebagai Santo Pio dari Pietrelcina.
Peringatan liturgisnya dirayakan setiap 23 September.
Kanonisasi tidak berarti Gereja menjadikan seseorang suci. Gereja menyatakan melalui proses kanonisasi bahwa orang tersebut telah hidup dalam kekudusan dan dapat dihormati oleh umat beriman sebagai santo serta diteladani kehidupan Kristennya.
Mukjizat dan Kisah-Kisah tentang Padre Pio
Banyak kisah luar biasa dikaitkan dengan Padre Pio.
Selain stigmata, terdapat berbagai kesaksian mengenai pengetahuan rohani yang tidak biasa, penyembuhan, aroma harum yang dikaitkan dengannya, dan bahkan bilokasi.
Sebagian kisah tersebut sangat populer dalam devosi umat.
Namun umat Katolik perlu membedakan antara fakta sejarah yang terdokumentasi, kesaksian, tradisi devosional, dan ajaran resmi Gereja.
Kita tidak perlu menjadikan setiap cerita luar biasa sebagai dasar iman.
Iman Katolik berpusat pada Yesus Kristus, bukan pada fenomena supranatural seorang santo.
Mukjizat terbesar yang perlu terjadi dalam kehidupan kita adalah perubahan hati: dari dosa menuju pertobatan, dari kebencian menuju pengampunan, dari keegoisan menuju kasih, dan dari kehidupan yang jauh dari Tuhan menuju persatuan dengan-Nya.
Itulah arah utama kehidupan Santo Padre Pio.
Teladan Santo Padre Pio bagi Umat Katolik
Meskipun Padre Pio hidup pada abad yang berbeda, spiritualitasnya tetap relevan bagi kehidupan umat Katolik sekarang.
1. Menempatkan Tuhan sebagai Pusat Kehidupan
Kesibukan dapat membuat doa menjadi hal terakhir yang dilakukan.
Padre Pio mengingatkan bahwa hubungan dengan Tuhan justru harus menjadi dasar kehidupan.
Kita tidak harus menjadi biarawan atau biarawati untuk memiliki kehidupan doa yang baik.
Mulailah dari hal sederhana: doa pagi dan malam, membaca Kitab Suci, berdoa Rosario, mengikuti Misa, serta menyediakan beberapa menit untuk berada dalam keheningan di hadapan Tuhan.
2. Kembali kepada Sakramen Pengakuan Dosa
Salah satu warisan rohani terbesar Padre Pio adalah cintanya terhadap Sakramen Rekonsiliasi.
Jangan takut datang kepada Tuhan ketika kita jatuh dalam dosa.
Dalam Sakramen Tobat, Kristus menawarkan pengampunan kepada orang yang datang dengan pertobatan yang tulus.
Mengaku dosa bukan tanda kelemahan.
Mengakui dosa membutuhkan kerendahan hati dan keberanian untuk membiarkan rahmat Allah memperbarui kehidupan kita.
3. Mencintai Ekaristi
Padre Pio mengajarkan melalui kehidupannya bahwa Ekaristi harus menempati tempat utama dalam kehidupan seorang Katolik.
Misa bukan sekadar rutinitas mingguan.
Ekaristi adalah perjumpaan dengan Kristus.
Karena itu kita dapat belajar mempersiapkan diri sebelum Misa, mengikuti liturgi dengan penuh perhatian, mendengarkan Sabda Tuhan, dan menerima Komuni Kudus dengan hormat serta dalam disposisi yang layak.
4. Tekun Berdoa Rosario
Devosi Padre Pio kepada Rosario mengingatkan kita tentang nilai doa yang sederhana tetapi mendalam.
Melalui Rosario, kita merenungkan misteri kehidupan, sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus bersama Maria.
Rosario dapat didoakan ketika hati tenang maupun ketika kita sedang menghadapi persoalan.
Kita dapat membawa keluarga, pekerjaan, kesehatan, masa depan, dan seluruh pergumulan kita kepada Tuhan melalui doa.
5. Melihat Kristus dalam Orang yang Menderita
Casa Sollievo della Sofferenza menunjukkan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Tidak semua orang dapat membangun rumah sakit seperti Padre Pio.
Namun setiap orang dapat melakukan sesuatu.
Mengunjungi orang sakit, mendengarkan seseorang yang sedang berduka, membantu keluarga yang kesulitan, memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, atau sekadar memberikan waktu kepada orang yang kesepian merupakan bentuk kasih yang nyata.
Kekudusan sering bertumbuh melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih besar.
Santo Padre Pio dan Pesan bagi Keluarga Katolik
Kehidupan Santo Padre Pio juga dapat menjadi inspirasi bagi keluarga.
Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar mengenal Tuhan.
Orangtua tidak hanya mengajarkan iman melalui kata-kata. Anak-anak terutama belajar melalui apa yang mereka lihat.
Ketika anak melihat orangtuanya berdoa, mengikuti Misa dengan setia, meminta maaf ketika salah, mengampuni, dan membantu sesama, iman menjadi sesuatu yang nyata.
Keluarga dapat membangun kebiasaan sederhana seperti berdoa sebelum makan, doa malam bersama, membaca Injil hari Minggu, atau mendoakan satu peristiwa Rosario bersama.
Tidak harus selalu panjang.
Yang penting adalah kesetiaan.
Renungan Santo Santa 23 September: Jangan Takut Datang kepada Tuhan
Ada saatnya seseorang merasa terlalu berdosa untuk kembali kepada Tuhan.
Ada pula yang merasa malu karena berulang kali jatuh dalam kelemahan yang sama.
Kehidupan dan pelayanan Santo Padre Pio memberikan pesan penting: jangan menjauh dari Tuhan justru ketika kita membutuhkan belas kasih-Nya.
Kristus datang untuk menyelamatkan manusia.
Dia memanggil orang berdosa kepada pertobatan.
Karena itu jalan kembali kepada Tuhan selalu dimulai dengan keberanian untuk berkata:
"Tuhan, kasihanilah aku."
Kita mungkin tidak memiliki pengalaman mistik seperti Padre Pio.
Kita mungkin tidak menerima stigmata.
Kita mungkin tidak dikenal oleh ribuan orang.
Namun kita semua dipanggil kepada kekudusan.
Kekudusan dimulai dari keputusan-keputusan sederhana setiap hari: memilih berdoa daripada melupakan Tuhan, memilih mengampuni daripada menyimpan dendam, memilih berkata benar daripada berbohong, memilih melayani daripada hanya memikirkan diri sendiri.
Kita tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler untuk menjadi kudus.
Kita hanya perlu membiarkan Kristus bekerja dalam kehidupan kita dan dengan setia mengikuti-Nya setiap hari.
Doa Memohon Pertolongan Tuhan melalui Perantaraan Santo Padre Pio
Allah Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur kepada-Mu atas teladan kehidupan Santo Padre Pio dari Pietrelcina.
Engkau memanggilnya untuk melayani-Mu sebagai imam dan menjadikan hidupnya sarana untuk membawa banyak orang kepada pertobatan, Ekaristi, dan kasih kepada sesama.
Tuhan Yesus Kristus,
ajarilah kami mencintai-Mu dengan hati yang tulus.
Ketika kami jatuh dalam dosa, berilah kami keberanian untuk bertobat dan menerima belas kasih-Mu dalam Sakramen Rekonsiliasi.
Ketika kami mengalami penderitaan, kuatkanlah kami agar tidak kehilangan iman dan pengharapan.
Ketika kami melihat sesama yang menderita, bukalah hati kami agar kami tidak hanya berdoa, tetapi juga berani menolong mereka dengan tindakan nyata.
Melalui perantaraan Santo Padre Pio, kami menyerahkan kepada-Mu segala kebutuhan, pergumulan, keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan masa depan kami.
Santo Padre Pio dari Pietrelcina, doakanlah kami agar semakin setia mengikuti Yesus Kristus.
Semoga seluruh hidup kami akhirnya menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah.
Amin.
Penutup
Santo Padre Pio dari Pietrelcina, yang diperingati Gereja setiap 23 September, menunjukkan kepada kita bahwa pusat kekudusan bukanlah fenomena luar biasa, melainkan persatuan yang semakin dalam dengan Yesus Kristus.
Ia adalah imam yang mencintai Ekaristi, menghabiskan banyak waktunya untuk melayani umat dalam Sakramen Pengakuan Dosa, tekun dalam doa, dan menunjukkan kepedulian nyata kepada mereka yang menderita.
Stigmata membuat namanya dikenal dunia, tetapi kesetiaannya kepada Kristuslah yang membuat hidupnya menjadi teladan.
Peringatan Santo Padre Pio mengundang kita untuk memperbarui kehidupan rohani: lebih tekun berdoa, lebih mencintai Ekaristi, berani kembali kepada Sakramen Rekonsiliasi, dan lebih peduli kepada orang yang menderita.
Kita mungkin tidak dipanggil melakukan hal-hal luar biasa. Namun setiap orang dipanggil menjadi kudus melalui kehidupan sehari-hari.
Semoga melalui teladan dan doa Santo Padre Pio, kita semakin dekat kepada Kristus dan semakin setia menjalankan kehendak-Nya.
Santo Padre Pio dari Pietrelcina, doakanlah kami.
Bagikan Kisah Santo Padre Pio
Apakah kisah Santo Padre Pio dari Pietrelcina ini menguatkan iman Anda?
Jangan berhenti pada diri sendiri. Bagikan artikel ini kepada keluarga, sahabat, komunitas, dan orang-orang yang sedang membutuhkan penguatan.
Mungkin ada seseorang yang sedang sakit, menghadapi persoalan berat, merasa jauh dari Tuhan, atau membutuhkan keberanian untuk kembali kepada Sakramen Pengakuan Dosa.
Melalui satu kali berbagi, Anda mungkin menjadi jalan kecil yang dipakai Tuhan untuk membawa pengharapan kepada seseorang hari ini.
Mari sebarkan kisah para kudus, bukan sekadar agar semakin banyak orang mengenal mereka, tetapi agar semakin banyak hati diarahkan kepada Yesus Kristus.
Demikianlah Santo Padre Pio dari Pietrelcina – 23 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
