Santo Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang
Santo Santa 20 September: Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang, Martir Korea
Setiap tanggal 20 September, Gereja Katolik memperingati Santo Andreas Kim Taegon, Santo Paulus Chong Hasang, dan kawan-kawan martir Korea. Mereka adalah saksi iman yang menunjukkan bahwa kasih kepada Kristus dapat bertahan bahkan di tengah penganiayaan, ancaman, penjara, penyiksaan, dan kematian.
Kisah para Martir Korea memiliki tempat istimewa dalam sejarah Gereja. Kekristenan di Korea berkembang dalam keadaan yang tidak biasa. Iman Katolik pada awalnya diperkenalkan dan dipelajari terutama melalui kaum awam Korea yang menemukan tulisan-tulisan Kristiani, kemudian membentuk komunitas iman sebelum kehadiran imam yang menetap berkembang dengan lebih teratur.
Dari komunitas yang tumbuh dalam keadaan sulit itu kemudian muncul tokoh-tokoh besar seperti Santo Andreas Kim Taegon, imam Katolik Korea pertama, serta Santo Paulus Chong Hasang, seorang awam dan katekis yang berperan penting dalam perkembangan Gereja Katolik di Korea.
Keduanya akhirnya menyerahkan hidup sebagai martir karena mempertahankan iman kepada Yesus Kristus.
Peringatan Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang mengingatkan umat Katolik masa kini bahwa iman bukan hanya sesuatu yang diucapkan dengan bibir. Iman harus diwujudkan melalui keberanian, kesetiaan, kasih, pengorbanan, serta keteguhan mengikuti Kristus dalam segala keadaan.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Sejarah Gereja Katolik di Korea
Untuk memahami kehidupan Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang, kita perlu melihat terlebih dahulu bagaimana Gereja Katolik bertumbuh di Korea.
Pada akhir abad ke-18, Korea masih berada di bawah Dinasti Joseon. Masyarakat saat itu memiliki struktur sosial dan budaya yang sangat kuat berdasarkan tradisi Konfusianisme.
Pada periode tersebut, sejumlah cendekiawan Korea mulai mengenal ajaran Katolik melalui buku-buku yang berasal dari Tiongkok. Tulisan mengenai iman Kristiani, filsafat, ilmu pengetahuan, dan ajaran Gereja menarik perhatian beberapa kaum terpelajar.
Salah satu ciri menarik dari sejarah Gereja Korea adalah besarnya peranan kaum awam pada masa awal pertumbuhannya.
Mereka mempelajari ajaran Katolik, menerima iman, berkumpul untuk berdoa, serta berusaha membangun kehidupan Kristiani bahkan ketika jumlah imam sangat terbatas.
Komunitas Katolik kemudian berkembang.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadapi tantangan besar.
Kesetiaan orang Katolik kepada Allah dan beberapa praktik Kristiani dipandang bertentangan dengan sejumlah tuntutan sosial dan ritual tradisional pada masa itu. Pemerintah pun mulai mencurigai komunitas Katolik.
Berbagai gelombang penganiayaan terjadi.
Banyak umat Katolik ditangkap, dipenjarakan, disiksa, dan dibunuh karena menolak meninggalkan iman kepada Kristus.
Di tengah situasi inilah lahir para martir yang sekarang dihormati Gereja, termasuk Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Santo Andreas Kim Taegon, Imam Katolik Korea Pertama
Lahir dalam Keluarga Katolik
Santo Andreas Kim Taegon lahir pada tahun 1821 dalam sebuah keluarga Katolik di Korea.
Iman yang diterimanya bukanlah iman yang mudah dijalankan.
Menjadi Katolik pada masa tersebut berarti hidup dengan kemungkinan mengalami diskriminasi, penangkapan, bahkan kematian.
Keluarganya sendiri mengalami konsekuensi berat karena iman Kristiani. Ayah Andreas, Ignatius Kim Je-jun, juga dikenal sebagai seorang martir.
Lingkungan keluarga seperti inilah yang membentuk Andreas sejak usia muda.
Baginya, iman bukan sekadar tradisi keluarga. Iman kepada Kristus adalah sesuatu yang harus dipertahankan bahkan ketika ada harga besar yang harus dibayar.
Baca juga: Santa Pomposa dari Córdoba, Martir 19 September
Panggilan Menjadi Imam
Pada usia muda, Andreas Kim Taegon dipilih untuk dipersiapkan menjadi imam.
Perjalanan menuju imamat tidak mudah karena Gereja Korea masih mengalami penganiayaan dan tidak memiliki fasilitas pendidikan calon imam seperti di banyak wilayah lain.
Andreas harus melakukan perjalanan panjang ke luar Korea untuk menjalani pendidikan.
Ia akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1845 oleh Uskup Jean-Joseph-Jean-Baptiste Ferréol.
Dengan tahbisan tersebut, Andreas Kim Taegon dikenal sebagai imam Katolik Korea pertama.
Peristiwa ini sangat penting dalam sejarah Gereja Katolik Korea.
Seorang putra bangsa Korea kini menjadi imam yang dapat melayani umatnya sendiri di tengah situasi penganiayaan.
Baca juga: Santo Eustakius, Martir – Santo Santa 20 September
Pelayanan di Tengah Bahaya
Setelah ditahbiskan, Pastor Andreas Kim Taegon kembali melayani Gereja Korea.
Pelayanannya berlangsung dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Para imam dan misionaris harus bergerak secara sembunyi-sembunyi. Umat Katolik juga harus berhati-hati karena pihak berwenang dapat menangkap mereka kapan saja.
Andreas membantu membuka jalur yang memungkinkan para misionaris memasuki Korea dan melayani komunitas Katolik.
Tugas tersebut membutuhkan keberanian besar.
Ia mengetahui bahwa jika tertangkap, hidupnya berada dalam bahaya.
Namun, cintanya kepada Kristus dan Gereja membuatnya terus menjalankan tugas.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Minggu, 20 September 2026 Matius 20:1-16a
Kemartiran Santo Andreas Kim Taegon
Pada tahun 1846, hanya sekitar setahun setelah menerima tahbisan imam, Andreas Kim Taegon ditangkap.
Ia masih sangat muda.
Pihak berwenang berusaha membuatnya meninggalkan iman Kristiani. Namun Andreas tetap teguh.
Baginya, kehidupan dunia bukanlah nilai tertinggi. Kesetiaan kepada Kristus jauh lebih berharga.
Ia akhirnya dihukum mati dan dieksekusi pada 16 September 1846 di dekat Sungai Han, Seoul.
Usianya sekitar 25 tahun.
Hidupnya memang singkat, tetapi kesaksiannya meninggalkan pengaruh yang sangat besar.
Imam muda ini memperlihatkan arti perkataan Kristus:
“Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Santo Andreas Kim Taegon tidak mencari penderitaan ataupun kematian. Ia hanya menolak meninggalkan Kristus ketika dihadapkan pada pilihan antara keselamatan dirinya dan kesetiaan terhadap iman.
Karena itulah Gereja menghormatinya sebagai martir.
Santo Paulus Chong Hasang, Katekis dan Martir Korea
Selain Santo Andreas Kim Taegon, Gereja pada tanggal 20 September juga secara khusus mengenang Santo Paulus Chong Hasang.
Paulus bukan imam.
Ia adalah seorang awam Katolik dan katekis.
Namun, perannya dalam perkembangan Gereja Korea sangat besar.
Kehidupannya menjadi pengingat bahwa kekudusan dan tanggung jawab membangun Gereja bukan hanya milik imam atau kaum religius.
Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil menjadi saksi Kristus.
Bertumbuh dalam Keluarga Martir
Paulus Chong Hasang lahir sekitar tahun 1794 atau 1795.
Ayahnya, Agustinus Chong Yak-jong, adalah seorang Katolik yang kemudian menjadi martir dalam penganiayaan tahun 1801.
Sejak muda, Paulus mengalami kenyataan pahit bahwa mengikuti Kristus dapat membawa konsekuensi besar.
Namun, kemartiran ayahnya tidak membuat Paulus meninggalkan iman.
Sebaliknya, ia semakin berkomitmen membantu perkembangan Gereja.
Memperjuangkan Kehadiran Imam di Korea
Pada masa Paulus Chong Hasang, umat Katolik Korea sangat membutuhkan imam.
Tanpa imam, umat tidak dapat secara teratur menerima sakramen-sakramen, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat.
Paulus menyadari kebutuhan tersebut.
Karena itu, ia melakukan perjalanan dan menjalin hubungan dengan Gereja di luar Korea untuk meminta agar imam dapat dikirim melayani umat Korea.
Usaha tersebut membutuhkan keberanian luar biasa.
Perjalanan pada masa itu sulit dan berbahaya. Terlebih lagi, kegiatan Katolik berada di bawah pengawasan pemerintah.
Namun Paulus tidak menyerah.
Usahanya bersama umat Katolik lainnya ikut membuka jalan bagi masuknya para misionaris dan perkembangan struktur Gereja di Korea.
Seorang Katekis yang Berani
Paulus Chong Hasang juga dikenal sebagai seorang katekis.
Ia memahami iman Katolik dengan baik dan membantu menjelaskan ajaran Gereja kepada orang lain.
Ketika penganiayaan semakin keras, Paulus tetap mempertahankan imannya.
Ia bahkan menyusun pembelaan terhadap iman Katolik untuk menunjukkan bahwa umat Kristiani tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi negara hanya karena keyakinan mereka.
Namun pembelaan tersebut tidak menyelamatkannya dari penganiayaan.
Paulus akhirnya ditangkap.
Ia menolak menyangkal Kristus.
Pada tahun 1839, Santo Paulus Chong Hasang dihukum mati sebagai martir.
Santo Andreas Kim Taegon, Santo Paulus Chong Hasang dan Kawan-Kawan Martir
Peringatan 20 September tidak hanya mengenang dua orang.
Nama lengkap perayaan liturgis ini mengarahkan perhatian Gereja kepada Santo Andreas Kim Taegon, Imam; Santo Paulus Chong Hasang dan Kawan-Kawan, Martir.
Para martir Korea berasal dari berbagai lapisan masyarakat.
Ada imam, katekis, kaum awam, laki-laki, perempuan, orang muda, orang tua, bangsawan maupun rakyat biasa.
Mereka dipersatukan oleh satu hal: iman kepada Yesus Kristus.
Gereja menghormati 103 Martir Korea yang dikanonisasi bersama oleh Paus Yohanes Paulus II pada 6 Mei 1984 di Seoul, Korea Selatan.
Peristiwa kanonisasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Gereja Korea.
Di antara mereka terdapat Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang.
Kanonisasi mereka juga memperlihatkan sesuatu yang penting tentang kekudusan: Injil dapat berakar dalam setiap bangsa dan kebudayaan.
Kekudusan bukan milik satu bangsa.
Kristus memanggil semua manusia.
Mengapa Para Martir Korea Dianiaya?
Penganiayaan terhadap umat Katolik Korea memiliki latar belakang sosial, politik, budaya, dan religius yang kompleks.
Pada masa Dinasti Joseon, tata masyarakat sangat dipengaruhi oleh nilai dan struktur Konfusianisme.
Beberapa ajaran dan praktik Katolik dianggap bertentangan dengan tatanan yang berlaku, khususnya persoalan ritual penghormatan leluhur yang memiliki makna sosial dan religius yang sangat penting dalam masyarakat Korea saat itu.
Selain itu, hubungan umat Katolik dengan misionaris asing menimbulkan kecurigaan politik.
Karena berbagai faktor tersebut, komunitas Katolik beberapa kali mengalami gelombang penganiayaan.
Namun para martir menunjukkan bahwa iman mereka bukan pemberontakan politik.
Mereka bersedia menjadi warga masyarakat yang baik, tetapi mereka tidak dapat menyangkal Allah demi menyelamatkan diri.
Di sinilah inti kemartiran mereka.
Makna Martir dalam Gereja Katolik
Kata martir berasal dari bahasa Yunani martys yang berarti saksi.
Karena itu, kemartiran Kristiani pertama-tama adalah sebuah kesaksian.
Seorang martir menjadi saksi bahwa Kristus begitu berharga sehingga iman kepada-Nya tidak dapat ditukar dengan keamanan, kekayaan, jabatan, ataupun kehidupan duniawi.
Martir tidak membenci kehidupan.
Sebaliknya, umat Kristiani percaya bahwa kehidupan adalah anugerah Allah.
Namun ketika seseorang dipaksa memilih antara menyangkal Kristus atau kehilangan hidupnya, martir memilih tetap setia kepada Kristus.
Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang memperlihatkan kesetiaan tersebut secara nyata.
Teladan Santo Andreas Kim Taegon bagi Umat Katolik
1. Berani Mempertahankan Iman
Andreas hidup dalam situasi ketika menjadi Katolik dapat membawa hukuman mati.
Namun ia tidak menyembunyikan imannya demi kenyamanan pribadi.
Umat Katolik masa kini mungkin tidak menghadapi keadaan yang sama. Tetapi godaan untuk menyembunyikan iman masih dapat muncul.
Misalnya ketika kita malu membuat tanda salib, takut mengakui diri sebagai Katolik, atau memilih mengikuti sesuatu yang bertentangan dengan iman hanya karena takut berbeda.
Santo Andreas mengajarkan bahwa iman membutuhkan keberanian.
2. Setia pada Panggilan
Andreas harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai kesulitan untuk menjadi imam.
Ia bisa saja memilih kehidupan yang lebih aman.
Namun ia menyadari panggilan Tuhan dan menjawabnya.
Teladannya mengajak kita bertanya:
Apakah saya sungguh-sungguh berusaha menemukan kehendak Tuhan dalam hidup saya?
Panggilan Tuhan tidak selalu berarti menjadi imam atau religius.
Ada panggilan untuk menjadi suami atau istri yang setia, orang tua yang bertanggung jawab, pekerja yang jujur, anak yang berbakti, dan umat Katolik yang hidup sesuai Injil.
3. Mengutamakan Kristus
Ketika ditangkap, Andreas menghadapi pilihan yang sangat berat.
Namun Kristus tetap menjadi pusat hidupnya.
Teladan ini menantang kita untuk memeriksa kembali prioritas hidup.
Apakah Kristus sungguh berada di tempat pertama?
Ataukah iman hanya mendapat perhatian ketika kita memiliki waktu luang?
Teladan Santo Paulus Chong Hasang bagi Kaum Awam
1. Kaum Awam Memiliki Peran Besar dalam Gereja
Paulus Chong Hasang bukan imam, tetapi kontribusinya bagi Gereja sangat besar.
Ini menjadi pesan penting bagi umat Katolik.
Gereja bukan hanya tanggung jawab pastor, uskup, biarawan, atau biarawati.
Setiap orang yang dibaptis memiliki panggilan untuk mengambil bagian dalam perutusan Gereja.
Kita dapat melakukannya melalui keluarga, pekerjaan, pelayanan paroki, pendidikan iman, karya sosial, dan kesaksian hidup sehari-hari.
2. Pentingnya Mempelajari Iman
Paulus mampu menjadi katekis dan membela iman karena ia mengenal apa yang dipercayainya.
Hal ini sangat relevan pada zaman sekarang.
Kita hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Berbagai pendapat tentang Gereja, Kitab Suci, moralitas, dan iman tersebar melalui media sosial.
Jika umat Katolik tidak memahami imannya sendiri, kita akan mudah bingung.
Karena itu, teladan Paulus mengajak kita untuk membaca Kitab Suci, mempelajari Katekismus Gereja Katolik, mengikuti pembinaan iman, dan terus memperdalam ajaran Gereja.
3. Berjuang bagi Kehidupan Sakramental
Paulus berjuang agar imam dapat hadir di Korea karena umat membutuhkan sakramen.
Hal ini seharusnya membuat kita semakin menghargai kesempatan menerima sakramen.
Di banyak tempat saat ini, umat dapat menghadiri Misa dengan relatif mudah.
Namun apakah kita sungguh menghargai Ekaristi?
Para martir Korea mempertaruhkan hidup demi iman yang terkadang kita jalani dengan biasa-biasa saja.
Refleksi Santo Santa 20 September
Kisah Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang dapat terasa jauh dari kehidupan kita.
Kita mungkin tidak berada di penjara.
Tidak ada orang yang memaksa kita memilih antara menyangkal Kristus atau dihukum mati.
Namun setiap hari sebenarnya terdapat berbagai bentuk ujian kesetiaan.
Ketika ada kesempatan melakukan kecurangan demi keuntungan, kita harus memilih.
Ketika orang lain difitnah, kita harus memilih apakah ikut menyebarkan fitnah atau membela kebenaran.
Ketika pekerjaan dan kesibukan mulai menjauhkan kita dari Tuhan, kita harus menentukan prioritas.
Ketika ajaran Kristus tidak populer, kita harus memilih apakah tetap setia atau mengikuti arus.
Kemartiran sehari-hari sering kali hadir melalui keputusan-keputusan kecil seperti ini.
Tidak semua orang dipanggil menumpahkan darah sebagai martir.
Namun setiap orang Kristiani dipanggil menjadi saksi Kristus.
Kesaksian itu dimulai dari rumah.
Orang tua menjadi saksi Kristus ketika mengajarkan doa kepada anak-anaknya.
Anak muda menjadi saksi Kristus ketika berani menolak pergaulan yang membawa kepada dosa.
Pekerja menjadi saksi Kristus ketika menolak korupsi dan ketidakjujuran.
Pengusaha menjadi saksi Kristus ketika memperlakukan pekerjanya secara adil.
Pengguna media sosial menjadi saksi Kristus ketika tidak menyebarkan kebencian, fitnah, dan informasi palsu.
Dengan cara demikian, semangat para martir Korea tetap hidup.
Apa yang Dapat Kita Lakukan pada Peringatan 20 September?
Peringatan Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui iman.
Pertama, luangkan waktu untuk berdoa dan bersyukur atas kebebasan yang kita miliki untuk menjalankan iman.
Kedua, bacalah kembali kisah para martir dan renungkan harga yang mereka bayar untuk mempertahankan iman.
Ketiga, periksa kehidupan kita sendiri.
Adakah bagian kehidupan di mana kita masih takut hidup sebagai murid Kristus?
Keempat, doakan umat Kristiani di berbagai tempat yang masih mengalami diskriminasi dan penganiayaan.
Kelima, berusahalah menjadi saksi Kristus melalui tindakan nyata.
Kita mungkin tidak diminta melakukan sesuatu yang luar biasa.
Kesetiaan dalam hal kecil sudah menjadi kesaksian yang sangat berharga di hadapan Tuhan.
Doa Memohon Keteguhan Iman melalui Teladan Para Martir Korea
Ya Allah Bapa yang Mahakuasa dan penuh kasih,
kami bersyukur kepada-Mu atas kesaksian iman Santo Andreas Kim Taegon, Santo Paulus Chong Hasang, dan para martir Korea.
Engkau menguatkan mereka untuk tetap setia kepada Putra-Mu, Yesus Kristus, bahkan ketika mereka menghadapi penganiayaan dan kematian.
Melalui teladan dan perantaraan mereka, teguhkanlah iman kami.
Berilah kami keberanian untuk mengakui Kristus dalam perkataan dan perbuatan.
Jauhkanlah kami dari rasa takut, kemalasan rohani, dan keinginan untuk mengikuti dunia ketika hal itu menjauhkan kami dari kehendak-Mu.
Ajarlah kami mencintai Ekaristi, menghargai sakramen-sakramen, mempelajari iman Katolik dengan tekun, dan menjadi saksi Injil di tengah keluarga serta masyarakat.
Kami juga berdoa bagi saudara-saudari kami yang mengalami penganiayaan karena iman. Kuatkanlah mereka dan berikanlah kepada mereka pengharapan dalam Kristus.
Santo Andreas Kim Taegon,
doakanlah kami.
Santo Paulus Chong Hasang,
doakanlah kami.
Para Martir Korea,
doakanlah kami.
Semoga melalui teladan mereka, kami semakin setia mengikuti Yesus Kristus sampai akhir kehidupan kami.
Amin.
Penutup: Kesetiaan kepada Kristus Sampai Akhir
Peringatan Santo Santa 20 September membawa kita kepada salah satu kisah paling mengagumkan dalam sejarah Gereja Katolik di Asia.
Santo Andreas Kim Taegon menjadi imam Katolik Korea pertama dan menyerahkan hidupnya bagi Kristus ketika masih sangat muda.
Santo Paulus Chong Hasang menunjukkan betapa besarnya peranan kaum awam dalam membangun Gereja. Ia menjadi katekis, memperjuangkan kehadiran imam bagi umat, mempertahankan iman, dan akhirnya memberikan hidupnya sebagai martir.
Bersama para Martir Korea, mereka menunjukkan bahwa Gereja dapat tumbuh bukan terutama karena kekuasaan atau kemudahan, melainkan karena orang-orang yang berani berkata:
“Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu.”
Kita mungkin tidak diminta menghadapi pedang seperti para martir. Namun kita tetap dipanggil menghadapi berbagai ujian iman dalam kehidupan sehari-hari.
Mari bertanya kepada diri sendiri:
Jika iman kepada Kristus menuntut pengorbanan, apakah saya tetap bersedia setia?
Semoga teladan Santo Andreas Kim Taegon, Santo Paulus Chong Hasang, dan para martir Korea menguatkan kita untuk menjadi umat Katolik yang tidak hanya mengaku percaya, tetapi sungguh hidup berdasarkan iman.
Dan semoga kesetiaan mereka mendorong kita untuk membawa kasih Kristus ke dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas, dan dunia digital.
Jika kisah Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang ini menguatkan iman Anda, bagikanlah artikel ini kepada keluarga, sahabat, dan komunitas Katolik. Mungkin melalui satu artikel sederhana yang kita bagikan, seseorang kembali terdorong untuk berdoa, mengenal para kudus, mendekat kepada sakramen, dan semakin berani mengikuti Kristus.
Mari bersama-sama menyebarkan kisah para kudus agar semakin banyak orang mengenal bahwa iman yang kita warisi hari ini telah dijaga dengan pengorbanan begitu besar oleh para saksi Kristus sepanjang zaman.
Santo Andreas Kim Taegon dan Santo Paulus Chong Hasang, doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus sampai akhir.
Demikianlah Santo Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.