Renungan Katolik 7 Maret 2026 – Lukas 15

Ilustrasi klasik anak yang hilang dipeluk ayahnya dengan cahaya hangat senja, nuansa earth tone, menggambarkan renungan Katolik hari ini Lukas 15.

Renungan Katolik Hari Ini – Kasih Bapa yang Tak Pernah Lelah

Renungan Katolik hari ini mengajak kita masuk ke salah satu kisah paling menyentuh dalam Injil: perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:1-3.11-32). Ini bukan sekadar kisah tentang seorang anak yang tersesat, tetapi tentang hati seorang Bapa yang tetap terbuka, bahkan ketika anak-Nya pergi jauh.

Inilah renungan harian Katolik yang selalu relevan bagi siapa pun yang pernah merasa jauh dari Tuhan, merasa gagal, atau merasa tidak layak kembali.

Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus ketika para pemungut cukai dan orang berdosa datang mendekat kepada-Nya. Sementara itu, orang-orang Farisi bersungut-sungut karena Ia menerima orang berdosa. Maka Yesus menyampaikan kisah ini.

Dan kisah itu sesungguhnya adalah kisah tentang kita.

Renungan Injil Lukas 15 – Pergi, Jatuh, dan Kembali

Dalam renungan Injil Lukas 15, kita melihat tiga tokoh utama:

  • Anak bungsu
  • Anak sulung
  • Sang Bapa

Baca juga panduan lengkap di Renungan Katolik Harian untuk memahami cara melakukan renungan setiap hari secara mendalam.

Anak Bungsu – Gambaran Hati yang Tersesat

Anak bungsu meminta warisan sebelum waktunya. Dalam budaya Yahudi, tindakan itu sama seperti berkata: “Aku ingin hidup tanpa engkau.”

Betapa sering kita juga melakukan hal yang sama kepada Tuhan.

Kita ingin berkat-Nya, tetapi tanpa kehendak-Nya.

Kita ingin kebebasan, tetapi tanpa tanggung jawab rohani.

Anak itu pergi ke negeri yang jauh. Ia menghamburkan harta. Ia jatuh miskin. Bahkan ia sampai ingin makan makanan babi — simbol kehinaan bagi orang Yahudi.

Namun titik balik terjadi saat ia “menyadari keadaannya.”

Pertobatan selalu dimulai dari kesadaran.

Dalam refleksi Sabda Tuhan hari ini, kita diajak bertanya:

Apakah aku sedang berada “di negeri yang jauh”?

Apakah aku merasa jauh dari doa, dari Ekaristi, dari hidup rohani?

Kabar baiknya: kisah ini tidak berhenti pada kegagalan.

Sang Bapa – Kasih yang Berlari

Bagian paling menggetarkan dari kisah ini bukanlah pertobatan si anak, melainkan reaksi sang Bapa.

Ketika anak itu masih jauh, Bapa melihatnya.

Ia tergerak oleh belas kasihan.

Ia berlari.

Dalam budaya Timur Tengah kuno, seorang bapa terhormat tidak pernah berlari. Namun dalam kisah ini, sang Bapa melakukannya.

  • Ia memeluk.
  • Ia mencium.
  • Ia tidak memberi kuliah panjang.
  • Ia tidak mengungkit masa lalu.

Inilah wajah Allah.

Dalam renungan Katolik hari ini, kita belajar bahwa Allah bukan hakim yang menunggu kita sempurna. Ia adalah Bapa yang menunggu kita kembali.

Pertobatan kita mungkin kecil.

Langkah kita mungkin gemetar.

Namun kasih-Nya selalu lebih besar.

Anak Sulung – Bahaya Hati yang Merasa Benar

Sering kali kita mengira tokoh utama adalah anak bungsu. Padahal Yesus menceritakan kisah ini juga untuk orang Farisi — yang diwakili oleh anak sulung.

  • Anak sulung marah.
  • Ia merasa tidak dihargai.
  • Ia merasa lebih layak.
  • Ia setia, tetapi hatinya pahit.

Dalam renungan harian Katolik ini, kita diingatkan bahwa dosa bukan hanya tentang pergi jauh. Dosa juga bisa berupa hati yang keras, iri, dan merasa lebih suci daripada orang lain.

Berapa kali kita sulit menerima orang yang “kembali”?

Berapa kali kita menghakimi mereka yang gagal?

Kasih Allah bukan kompetisi.

Belas kasih-Nya tidak terbatas.

Refleksi Sabda Tuhan – Apakah Aku Siap Pulang?

Perumpamaan ini tidak memiliki akhir yang jelas untuk anak sulung. Mengapa? Karena Yesus menyerahkan akhir cerita itu kepada kita.

Akankah kita masuk ke pesta?

Atau tetap berdiri di luar dengan hati yang tertutup?

Dalam renungan Injil Lukas hari ini, kita belajar tiga hal besar:

1. Tidak Ada Dosa yang Terlalu Besar untuk Diampuni

Kasih Allah selalu lebih dahulu dari kesalahan kita.

2. Pertobatan Dimulai dari Kesadaran

Ketika kita jujur melihat diri sendiri, rahmat mulai bekerja.

3. Sukacita Surga Nyata

Setiap jiwa yang kembali adalah pesta bagi surga.

Renungan Katolik Hari Ini – Kembali Bukan Tentang Layak, Tapi Tentang Dicintai

Sering kali kita menunda kembali kepada Tuhan karena merasa tidak layak.

Namun kisah ini membongkar logika itu.

Anak bungsu tidak kembali sebagai pahlawan.

Ia kembali sebagai orang yang hancur.

Tetapi ia diterima sebagai anak.

Dalam hidup rohani, kita tidak pernah berhenti menjadi anak Allah. Bahkan ketika kita jatuh, identitas itu tidak dicabut.

Inilah inti renungan harian Katolik hari ini:

Allah tidak lelah mengampuni.

Yang sering lelah adalah kita untuk kembali.

  • Mungkin ada luka.
  • Mungkin ada dosa lama.
  • Mungkin ada rasa malu.

Namun Bapa tetap menunggu.

Dan mungkin, hari ini adalah saatnya pulang.

FAQ Renungan Katolik Hari Ini – 7 Maret 2026 | Lukas 15 

Q1: Apa inti renungan Katolik hari ini 7 Maret 2026?

A: Inti renungan Katolik hari ini dari Lukas 15:1-3.11-32 adalah tentang kasih Allah yang tanpa syarat, digambarkan melalui perumpamaan anak yang hilang dan Bapa yang penuh belas kasih.

Q2: Apa makna perumpamaan anak yang hilang?

A: Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Allah selalu siap mengampuni dan menerima kembali setiap orang yang bertobat.

Q3: Apa makna anak sulung dalam kisah ini?

A: Anak sulung melambangkan hati yang merasa benar dan sulit menerima belas kasih bagi orang lain.

Q4: Bagaimana menerapkan renungan ini dalam kehidupan sehari-hari?

A: Dengan berani bertobat, membuka hati terhadap pengampunan, dan membangun kembali relasi dengan Tuhan melalui doa serta Sakramen.

HowTo  – Cara Kembali kepada Tuhan Berdasarkan Lukas 15

HowTo: Langkah rohani untuk kembali kepada Tuhan berdasarkan renungan Injil Lukas 15

Menyadari kondisi hati.

Mengakui kesalahan.

Datang ke Sakramen Tobat.

Membangun hidup rohani

Demikianlah Renungan Katolik 7 Maret 2026 – Lukas 15, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url