Matius Murid Yesus: Kisah Rasul dan Penginjil

Matius murid Yesus sebagai Rasul dan Penginjil sedang mengikuti panggilan Kristus

Matius Murid Yesus: Dari Pemungut Cukai Menjadi Rasul Kristus dan Pewarta Injil

Matius murid Yesus merupakan salah satu dari dua belas rasul yang dipanggil secara langsung untuk mengikuti Kristus. Kisah panggilannya termasuk salah satu peristiwa yang sangat menyentuh dalam Injil karena Matius sebelumnya bekerja sebagai pemungut cukai, sebuah profesi yang dipandang buruk oleh banyak orang Yahudi pada zamannya. Namun Yesus tidak melihat Matius berdasarkan masa lalunya. Kristus melihat seorang manusia yang dapat diubah oleh rahmat dan diutus untuk mengambil bagian dalam pewartaan Kerajaan Allah.

Dalam daftar kedua belas rasul, nama Matius selalu muncul sebagai bagian dari kelompok yang secara khusus dipilih Yesus. Tradisi Kristen juga sejak masa awal menghubungkan Rasul Matius dengan Injil menurut Matius, walaupun kajian modern membahas persoalan kepengarangan Injil tersebut dengan pendekatan historis dan tekstual yang lebih kompleks. Bagi kehidupan iman Katolik, sosok Matius tetap mempunyai arti mendalam: ia menjadi gambaran tentang panggilan, pertobatan, belas kasih, keberanian meninggalkan kehidupan lama, dan kesediaan mengikuti Kristus.

Kehidupan Matius mengingatkan umat beriman bahwa panggilan Tuhan tidak hanya ditujukan kepada mereka yang dianggap sempurna. Tuhan dapat memanggil seseorang di tengah pekerjaan, kelemahan, kegagalan, bahkan keadaan hidup yang dipandang buruk oleh masyarakat. Yang menentukan bukan sekadar dari mana seseorang berasal, tetapi bagaimana ia menjawab ketika Kristus berkata, “Ikutlah Aku.”

Baca Juga: Mengenal Kedua Belas Murid Yesus dan Kisah Mereka

Siapakah Matius Murid Yesus?

Matius adalah salah seorang dari dua belas murid atau rasul Yesus Kristus. Namanya disebut dalam daftar para rasul yang terdapat dalam Injil Matius 10:2–4, Markus 3:16–19, Lukas 6:13–16, serta Kisah Para Rasul 1:13. Dalam Injil Matius, ia secara khusus disebut sebagai “Matius pemungut cukai” (Mat. 10:3). Keterangan tersebut membuat identitasnya berbeda dari beberapa rasul lain karena profesinya sebelum mengikuti Yesus dicatat secara jelas.

Injil Matius 9:9 menceritakan bahwa Yesus melihat seorang bernama Matius sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius kemudian berdiri dan mengikuti-Nya. Cerita yang sangat singkat ini sebenarnya menggambarkan perubahan kehidupan yang luar biasa besar. Ia meninggalkan pekerjaan dan kehidupan lamanya untuk menjadi murid Kristus.

Dalam kisah paralel Markus 2:14 dan Lukas 5:27–28, pemungut cukai yang dipanggil Yesus disebut Lewi. Markus menyebutnya Lewi anak Alfeus, sedangkan Lukas menggunakan nama Lewi. Karena kemiripan yang sangat dekat antara peristiwa-peristiwa tersebut, tradisi Kristen umumnya mengidentifikasikan Lewi dengan Matius. Namun teks Injil sendiri menggunakan nama yang berbeda dalam masing-masing narasi, sehingga perbedaan ini patut disampaikan secara jernih ketika membahas sejarah Rasul Matius.

Nama Matius berasal dari bentuk Yunani Matthaios, yang berkaitan dengan nama Ibrani yang bermakna kurang lebih “karunia Tuhan” atau “pemberian Allah.” Makna nama tersebut terasa sangat sesuai dengan perjalanan hidupnya. Orang yang sebelumnya berada di lingkungan pemungutan pajak kemudian menerima karunia panggilan untuk berada dekat dengan Yesus dan menjadi salah seorang rasul-Nya.

Baca juga: Santo Mateus, Rasul dan Penginjil – 21 September

Matius Sebelum Menjadi Murid Yesus

Matius adalah seorang pemungut cukai

Sebelum mengikuti Kristus, Matius bekerja sebagai pemungut cukai. Untuk memahami pentingnya hal tersebut, kita perlu melihat keadaan masyarakat Palestina pada abad pertama. Pemungutan pajak berada dalam sistem politik dan ekonomi yang berkaitan dengan kekuasaan Romawi dan pemerintahan lokal. Para pemungut pajak sering dipandang dengan penuh kecurigaan oleh masyarakat.

Dalam lingkungan Yahudi, pemungut cukai mempunyai reputasi yang buruk. Mereka dapat dipandang sebagai orang yang bekerja bersama struktur kekuasaan asing dan sering diasosiasikan dengan ketidakadilan atau penyalahgunaan dalam pengumpulan pajak. Karena itu, istilah “pemungut cukai” dalam beberapa bagian Injil muncul bersama kelompok yang dianggap sebagai “orang berdosa”.

Latar belakang inilah yang membuat panggilan Matius oleh Yesus menjadi begitu penting. Yesus memilih seseorang dari kelompok yang secara sosial dan religius sering dijauhi. Pilihan itu memperlihatkan bahwa belas kasih Allah tidak dibatasi oleh penilaian sosial manusia.

Kristus tidak menyangkal kenyataan dosa, tetapi Ia datang untuk memanggil manusia kepada pertobatan dan kehidupan baru.

Baca juga: Bartolomeus Murid Yesus: Kisah dan Teladan Sang Rasul

Duduk di rumah cukai

Matius 9:9 memberikan gambaran sederhana:

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku.’ Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”

Hanya beberapa kalimat digunakan untuk menggambarkan perubahan besar dalam kehidupan Matius. Ia sedang berada di tempat kerjanya ketika Yesus datang. Tidak diceritakan adanya persiapan panjang. Kristus memanggil, dan Matius menjawab.

Ungkapan bahwa ia “berdiri lalu mengikuti Dia” mempunyai makna rohani yang mendalam. Secara harfiah Matius bangkit dari tempat duduknya, tetapi tindakan tersebut juga dapat direnungkan sebagai lambang bangkitnya seseorang dari kehidupan lama menuju kehidupan baru bersama Kristus.

Baca juga: Tomas Murid Yesus: Kisah dan Perjalanan Imannya

Panggilan Matius Menjadi Murid Yesus

“Ikutlah Aku”

Dua kata yang mengubah kehidupan Matius adalah panggilan Kristus: “Ikutlah Aku.”

Yesus tidak terlebih dahulu meminta Matius membuktikan dirinya layak menjadi rasul. Panggilan datang lebih dahulu. Kemudian Matius menjawab panggilan tersebut dengan tindakan nyata.

Pola ini dapat ditemukan dalam banyak kisah panggilan dalam Kitab Suci. Allah mengambil inisiatif, manusia mendengar, kemudian manusia diundang memberikan jawaban secara bebas.

Dalam diri Matius terlihat bahwa panggilan Tuhan bukan penghargaan bagi manusia yang sudah sempurna. Panggilan merupakan rahmat yang sekaligus menuntut perubahan hidup.

Matius tidak hanya mengagumi Yesus dari kejauhan. Ia meninggalkan posisinya dan menjadi pengikut-Nya.

Perjamuan bersama para pemungut cukai

Setelah kisah panggilan Matius, Injil menceritakan Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang yang disebut sebagai orang berdosa. Kaum Farisi mempertanyakan mengapa Yesus makan bersama mereka.

Yesus menjawab:

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”

Kemudian Ia menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Peristiwa ini menjadi salah satu kunci untuk memahami panggilan Matius. Yesus tidak mendekati orang berdosa untuk membenarkan dosa mereka, tetapi untuk membawa keselamatan, pertobatan, dan pemulihan.

Meja perjamuan menjadi tempat di mana belas kasih Allah terlihat secara nyata.

Matius Menjadi Salah Satu dari Dua Belas Rasul

Setelah dipanggil, Matius menjadi bagian dari dua belas rasul Yesus. Kelompok Dua Belas mempunyai peranan khusus dalam pelayanan Kristus. Mereka menyertai Yesus, mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan karya-karya-Nya, dan kemudian menerima tugas untuk mewartakan Injil.

Angka dua belas juga mempunyai makna penting dalam sejarah keselamatan karena mengingatkan kepada dua belas suku Israel. Pemilihan Dua Belas menunjukkan pembentukan umat Allah yang diperbarui dalam karya Kristus.

Sebagai salah seorang dari Dua Belas, Matius hidup bersama Yesus dan para murid lainnya. Ia mendengar perumpamaan-perumpamaan Kristus, menyaksikan penyembuhan, menghadapi pertentangan terhadap Yesus, serta mengalami perjalanan menuju Yerusalem.

Walaupun Injil tidak memberikan banyak cerita individual tentang Matius setelah panggilannya, keberadaannya dalam kelompok Dua Belas berarti ia termasuk dalam lingkaran para saksi utama pelayanan Kristus.

Matius dan Injil Menurut Matius

Tradisi Gereja tentang Rasul Matius

Tradisi Kristen sejak masa awal menghubungkan Rasul Matius dengan Injil yang sekarang disebut Injil menurut Matius. Kesaksian kuno yang sering dibicarakan berasal dari Papias dari Hierapolis, seorang penulis Kristen awal yang pernyataannya kemudian dikutip oleh Eusebius dari Kaisarea.

Tradisi Gereja kemudian mengenal Matius sebagai rasul sekaligus penginjil.

Dalam ikonografi Kristen, Santo Matius sering digambarkan sedang menulis kitab Injil dan ditemani figur manusia atau malaikat bersayap. Simbol tersebut berkaitan dengan tradisi mengenai empat makhluk dalam penglihatan Kitab Suci yang kemudian digunakan sebagai lambang empat penginjil.

Bagaimana pandangan penelitian modern?

Dalam pembahasan sejarah, penting membedakan antara tradisi gerejawi mengenai Matius dan kesimpulan penelitian modern mengenai proses penyusunan Injil.

Banyak ahli Kitab Suci modern berpendapat bahwa Injil menurut Matius dalam bentuknya sekarang kemungkinan disusun pada bagian akhir abad pertama dan menggunakan sejumlah sumber, termasuk bahan yang juga terdapat dalam Injil Markus. Karena itu, identitas tepat penulis akhir Injil Matius menjadi persoalan yang terus dibahas dalam penelitian akademis.

Hal tersebut tidak mengurangi kedudukan Injil Matius sebagai Kitab Suci bagi Gereja. Dalam iman Katolik, inspirasi Kitab Suci tidak bergantung pada kemampuan kita mengetahui dengan pasti seluruh proses historis penyusunan setiap kitab.

Karena itu, penjelasan yang seimbang sebaiknya mengatakan bahwa tradisi kuno menghubungkan Injil pertama dengan Rasul Matius, sementara persoalan mengenai bentuk akhir, sumber, bahasa, dan proses penyusunannya menjadi bidang penelitian sejarah Kitab Suci.

Ciri Khas Injil Matius

Injil Matius mempunyai perhatian yang kuat terhadap hubungan antara Yesus dan penggenapan sejarah keselamatan yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci Israel.

Injil ini dibuka dengan silsilah Yesus Kristus dan kemudian mengisahkan kelahiran-Nya. Berkali-kali pembaca menemukan penjelasan bahwa peristiwa tertentu terjadi untuk menggenapi apa yang telah disampaikan melalui para nabi.

Salah satu bagian paling terkenal adalah Khotbah di Bukit dalam Matius bab 5–7. Di sana terdapat Sabda Bahagia, ajaran mengenai garam dan terang dunia, kasih terhadap musuh, doa, puasa, kepercayaan kepada penyelenggaraan Allah, dan banyak pengajaran penting lainnya.

Doa Bapa Kami juga terdapat dalam Khotbah di Bukit.

Injil Matius mempunyai perhatian besar terhadap kehidupan komunitas para murid. Matius 18, misalnya, memuat pengajaran mengenai kerendahan hati, perhatian terhadap mereka yang kecil, pengampunan, serta kehidupan bersama.

Pada bagian akhirnya terdapat perintah Yesus yang sangat penting bagi misi Gereja:

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Amanat Agung dalam Matius 28:19–20 menegaskan sifat universal misi Kristiani. Para murid tidak boleh menyimpan pengalaman mereka bersama Kristus untuk diri sendiri. Mereka diutus membawa Injil kepada segala bangsa.

Matius Menyaksikan Wafat dan Kebangkitan Kristus

Sebagai bagian dari kelompok Dua Belas, perjalanan Matius tidak dapat dipisahkan dari misteri Paskah Kristus. Para murid mengalami krisis besar ketika Yesus ditangkap dan disalibkan.

Namun kematian bukan akhir kisah Kristus.

Kesaksian Perjanjian Baru menempatkan para rasul sebagai saksi kebangkitan Tuhan. Setelah kebangkitan dan kenaikan Kristus, Kisah Para Rasul 1:13 kembali menyebut Matius bersama para rasul yang berkumpul di Yerusalem.

Mereka bertekun dalam doa sambil menantikan penggenapan janji Tuhan.

Kehadiran Matius dalam daftar tersebut penting. Pemungut cukai yang dahulu duduk di tempat pekerjaannya kini berada bersama komunitas para rasul yang akan menjadi saksi Kristus sampai ke berbagai bangsa.

Pelayanan Matius Setelah Kenaikan Yesus

Perjanjian Baru tidak memberikan penjelasan rinci mengenai perjalanan misioner Matius setelah periode awal Gereja di Yerusalem. Informasi tentang pelayanan selanjutnya terutama berasal dari berbagai tradisi Kristen yang berkembang kemudian.

Sejumlah tradisi menghubungkan pewartaan Matius dengan wilayah-wilayah di luar Palestina. Ada tradisi yang mengaitkannya dengan Etiopia, Persia, atau daerah lainnya. Namun tradisi-tradisi tersebut tidak selalu sejalan satu sama lain.

Karena bukti historisnya terbatas, tidak tepat menyajikan seluruh kisah perjalanan tersebut sebagai fakta yang mempunyai tingkat kepastian yang sama dengan informasi dalam Perjanjian Baru.

Yang dapat ditegaskan ialah bahwa tradisi Gereja mengenang Matius sebagai rasul dan pewarta Injil yang meneruskan tugas perutusan Kristus.

Apakah Rasul Matius Mati sebagai Martir?

Tradisi Kristen mengenang Santo Matius sebagai seorang rasul yang memberikan hidupnya bagi Kristus. Dalam sejumlah tradisi ia disebut mengalami kemartiran ketika menjalankan karya pewartaan.

Namun rincian mengenai tempat, waktu, dan cara kematiannya berbeda-beda dalam sumber-sumber tradisional. Karena itu, informasi mengenai kemartiran Matius perlu disampaikan dengan kehati-hatian historis.

Kita dapat membedakan dua hal: Matius dihormati dalam tradisi Kristen sebagai rasul yang setia sampai akhir, sedangkan detail historis mengenai kematiannya tidak dapat dipastikan dengan tingkat kepastian yang sama seperti kisah panggilannya dalam Injil.

Pembedaan antara data Kitab Suci, tradisi kuno, dan legenda kemudian membantu umat memahami sejarah para kudus secara lebih bertanggung jawab tanpa kehilangan nilai rohaninya.

Santo Matius dalam Tradisi Gereja Katolik

Gereja Katolik menghormati Matius sebagai Rasul dan Penginjil. Pesta Santo Matius dirayakan pada 21 September dalam Kalender Romawi.

Penghormatan kepada Matius tidak berarti menempatkan dirinya sejajar dengan Kristus. Pusat iman Kristen tetap Yesus Kristus. Para kudus dihormati karena rahmat Allah bekerja dalam kehidupan mereka dan karena mereka memberikan teladan konkret tentang bagaimana manusia dapat menjawab panggilan Tuhan.

Santo Matius menjadi teladan khusus mengenai pertobatan dan panggilan.

Ia juga secara tradisional dikenal sebagai pelindung beberapa kelompok profesi yang berkaitan dengan keuangan, termasuk akuntan dan petugas pajak, karena latar belakangnya sebagai pemungut cukai sebelum mengikuti Kristus.

Mengapa Yesus Memilih Seorang Pemungut Cukai?

Pemilihan Matius menunjukkan salah satu ciri paling kuat dari pelayanan Yesus: Allah melihat manusia lebih dalam daripada label sosialnya.

Orang-orang di sekitar Matius mungkin mengenalnya sebagai pemungut cukai. Kristus melihat seseorang yang dapat menjadi murid dan rasul.

Peristiwa tersebut bukan berarti masa lalu tidak penting atau tindakan manusia tidak mempunyai konsekuensi. Sebaliknya, Injil menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Kristus memanggil seseorang untuk berubah.

Rahmat bukan izin untuk tetap berada dalam dosa. Rahmat membuka jalan menuju kehidupan baru.

Dalam diri Matius, kita melihat seseorang yang tidak berhenti pada identitas lamanya. Ia berdiri dan mengikuti Kristus.

Nilai Rohani dari Kehidupan Matius Murid Yesus

1. Tuhan dapat memanggil siapa saja

Panggilan Matius menghancurkan anggapan bahwa seseorang harus mempunyai latar belakang sempurna sebelum dapat datang kepada Tuhan.

Kristus memanggil manusia sebagaimana adanya, tetapi kasih-Nya tidak membiarkan manusia tetap sama.

Setiap orang mempunyai masa lalu. Ada keputusan yang disesali, kelemahan yang belum sepenuhnya dikalahkan, dan pengalaman yang mungkin ingin dilupakan. Kisah Matius menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus menjadi kata terakhir dalam kehidupan seseorang.

Rahmat Allah dapat membuka masa depan baru.

2. Mengikuti Yesus membutuhkan keputusan

Matius tidak hanya mendengar panggilan. Ia berdiri dan mengikuti Yesus.

Iman Kristiani bukan hanya persetujuan intelektual terhadap sejumlah ajaran. Iman menuntut jawaban kehidupan.

Mengikuti Kristus dapat berarti meninggalkan kebiasaan yang salah, berdamai dengan seseorang, memperbaiki ketidakadilan, menjadi lebih jujur dalam pekerjaan, menyediakan waktu untuk doa, kembali kepada sakramen, atau mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan Injil.

Panggilan menjadi nyata ketika manusia menjawabnya.

3. Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan masa lalunya

Jika orang hanya mengenang Matius sebagai pemungut cukai, mereka tidak akan pernah membayangkan dirinya sebagai salah satu dari dua belas rasul.

Namun Tuhan melihat kemungkinan yang belum terlihat oleh manusia.

Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kehidupan Gereja. Komunitas Kristiani harus menjadi tempat di mana pertobatan sungguh mungkin. Orang yang kembali kepada Tuhan tidak seharusnya terus-menerus dipenjarakan oleh kesalahan masa lalunya.

Pengampunan membuka kesempatan untuk memulai kembali.

4. Belas kasih harus menghasilkan pertobatan

Kisah Matius juga mengajarkan keseimbangan penting. Yesus menerima dan makan bersama orang-orang yang dianggap berdosa, tetapi belas kasih Kristus selalu mengarah kepada kehidupan baru.

Kasih dan pertobatan tidak bertentangan.

Justru karena Allah mengasihi manusia, Ia memanggil manusia keluar dari dosa menuju kebebasan.

5. Murid dipanggil menjadi pewarta

Matius tidak berhenti sebagai seseorang yang menerima belas kasih. Ia menjadi bagian dari komunitas yang diutus mewartakan Kristus.

Pola tersebut berlaku bagi setiap orang Kristen.

Kita menerima rahmat supaya kehidupan kita menjadi kesaksian. Tidak semua orang harus menjadi pengkhotbah atau misionaris ke negeri jauh. Pewartaan dapat terjadi melalui kehidupan keluarga, pekerjaan yang jujur, perhatian kepada orang miskin, kesediaan mengampuni, pelayanan di paroki, dan keberanian mempertahankan kebenaran dengan kasih.

Matius dan Makna Pertobatan bagi Orang Katolik

Pertobatan bukan hanya pengalaman satu kali. Dalam kehidupan Katolik, pertobatan merupakan perjalanan yang terus berlangsung.

Seseorang mungkin sudah dibaptis sejak kecil dan tetap membutuhkan pembaruan hati setiap hari.

Kisah Matius dapat menjadi bahan pemeriksaan batin: apakah ada “rumah cukai” yang masih membuat kita sulit berdiri dan mengikuti Kristus?

“Rumah cukai” tersebut dapat berbentuk keterikatan pada uang, ambisi, gengsi, kebencian, kebiasaan buruk, keinginan untuk selalu dipuji, ketidakjujuran, atau berbagai bentuk egoisme.

Kristus tetap berkata, “Ikutlah Aku.”

Jawaban tidak cukup diberikan dengan kata-kata. Seperti Matius, kita dipanggil untuk berdiri.

Matius sebagai Teladan dalam Dunia Kerja

Latar belakang Matius juga membuat kisahnya sangat relevan bagi umat Katolik yang menjalani kehidupan profesional.

Iman tidak hanya berlaku ketika seseorang berada di gereja. Cara mengelola uang, menjalankan bisnis, membuat laporan, membayar kewajiban, memperlakukan pekerja, menggunakan kekuasaan, dan mengambil keputusan profesional juga merupakan bagian dari kehidupan moral.

Karena Matius berasal dari dunia yang berkaitan dengan uang dan pajak, kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa Kristus juga memanggil manusia di tempat kerja.

Tempat kerja dapat menjadi tempat pertobatan sekaligus tempat kesaksian.

Seorang Kristen dipanggil untuk bekerja secara kompeten sekaligus jujur. Keuntungan tidak boleh dicari melalui penipuan. Kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menindas. Jabatan tidak boleh membuat seseorang melupakan martabat orang lain.

Mengikuti Kristus harus terlihat dalam keputusan sehari-hari.

Apa yang Dapat Kita Teladani dari Santo Matius?

Teladan utama Matius bukan terletak pada keberhasilannya sebagai tokoh besar, melainkan pada kesediaannya menjawab panggilan.

Ia mengajarkan bahwa manusia harus berani meninggalkan sesuatu ketika hal tersebut menghalangi hubungannya dengan Tuhan.

Ia juga mengajarkan bahwa perubahan sejati mungkin terjadi.

Dunia sering memberi manusia identitas berdasarkan kesalahan, pekerjaan, status ekonomi, pendidikan, atau masa lalunya. Kristus menawarkan identitas yang lebih dalam: menjadi murid-Nya.

Matius dahulu dikenal sebagai pemungut cukai. Setelah berjumpa dengan Kristus, kehidupannya dikenang sebagai kehidupan seorang rasul.

Refleksi Iman: Apakah Kita Berani Berdiri Seperti Matius?

Bayangkan Matius sedang duduk di rumah cukai ketika Yesus lewat.

Di hadapannya mungkin terdapat pekerjaan, uang, catatan transaksi, dan segala sesuatu yang selama ini menjadi bagian kehidupannya. Kemudian datang sebuah panggilan sederhana: “Ikutlah Aku.”

Matius harus memilih.

Dalam kehidupan kita, panggilan Kristus mungkin tidak terdengar dengan cara yang sama seperti pengalaman Matius. Namun Tuhan berbicara melalui Kitab Suci, doa, sakramen, suara hati yang dibentuk dengan benar, ajaran Gereja, kebutuhan sesama, dan berbagai peristiwa kehidupan.

Pertanyaannya bukan hanya apakah Tuhan memanggil.

Pertanyaannya adalah: apakah kita bersedia berdiri?

Kadang-kadang kita mengetahui apa yang perlu diperbaiki tetapi terus menundanya. Kita tahu harus mengampuni tetapi tetap menyimpan kebencian. Kita tahu harus lebih jujur tetapi takut kehilangan keuntungan. Kita tahu perlu kembali berdoa tetapi selalu merasa tidak mempunyai waktu.

Matius menunjukkan bahwa panggilan harus dijawab.

Mengikuti Kristus tidak berarti kita mengetahui seluruh jalan di depan. Ketika Matius berdiri dari rumah cukai, ia belum mengetahui semua yang akan dialaminya bersama Yesus. Ia hanya mengetahui siapa yang memanggilnya.

Di situlah iman dimulai.

Ajakan Praktis Meneladani Santo Matius

Untuk menghidupi semangat pertobatan seperti Santo Matius, umat Katolik dapat memulai dengan tindakan sederhana tetapi konkret. Luangkan waktu beberapa menit untuk memeriksa bagian kehidupan yang masih sulit diserahkan kepada Tuhan. Bacalah kembali Matius 9:9–13 dan renungkan kalimat “Ikutlah Aku”. Bila menyadari adanya dosa berat, persiapkan diri untuk menerima Sakramen Tobat. Periksa pula apakah pekerjaan dan penggunaan uang kita sudah sesuai dengan kejujuran Kristiani.

Kita juga dapat memilih satu tindakan belas kasih yang nyata. Hubungi seseorang yang sedang kesepian, bantu keluarga yang membutuhkan, berdamai dengan orang yang pernah kita sakiti, atau sisihkan sebagian penghasilan untuk membantu mereka yang miskin.

Pertobatan menjadi lebih nyata ketika menghasilkan tindakan.

Doa Meneladani Santo Matius Rasul

Ya Allah Bapa yang penuh belas kasih, Engkau memanggil Matius dari kehidupan lamanya untuk mengikuti Putra-Mu dan menjadi salah seorang rasul-Nya. Kami bersyukur karena kasih-Mu tidak berhenti pada kelemahan dan masa lalu manusia.

Berilah kami hati yang peka ketika Kristus memanggil kami untuk berubah. Kuatkanlah kami agar berani meninggalkan dosa, keterikatan, kesombongan, dan segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu.

Semoga teladan Santo Matius menolong kami memahami bahwa tidak ada kehidupan yang terlalu jauh untuk disentuh oleh rahmat-Mu. Melalui perantaraannya, teguhkanlah kami agar menjadi murid Kristus yang jujur, rendah hati, penuh belas kasih, dan setia mewartakan Injil melalui perkataan serta perbuatan.

Semoga pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan seluruh kehidupan kami menjadi kesaksian akan kasih-Mu.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Kesimpulan

Matius murid Yesus menunjukkan salah satu kisah pertobatan dan panggilan paling kuat dalam Perjanjian Baru. Ia adalah seorang pemungut cukai yang sedang menjalani pekerjaannya ketika Yesus datang dan berkata, “Ikutlah Aku.” Matius berdiri dan mengikuti-Nya.

Keputusan sederhana tersebut mengubah seluruh arah kehidupannya.

Dari seorang pemungut cukai, Matius menjadi salah satu dari dua belas rasul Yesus Kristus. Tradisi Gereja mengenangnya sebagai Rasul dan Penginjil serta menghubungkan namanya dengan Injil menurut Matius. Walaupun beberapa rincian mengenai perjalanan misioner dan kematiannya berasal dari tradisi yang tingkat kepastian historisnya berbeda-beda, pesan utama kehidupannya sangat jelas.

Rahmat Allah mampu mengubah manusia.

Matius mengingatkan kita agar tidak membiarkan masa lalu menjadi penghalang untuk datang kepada Kristus. Tuhan tidak hanya melihat siapa kita kemarin. Ia melihat siapa kita dapat menjadi apabila bersedia menerima rahmat dan mengikuti-Nya.

Panggilan yang dahulu diterima Matius tetap bergema bagi setiap generasi: “Ikutlah Aku.”

Jawaban setiap orang memang berbeda, tetapi jalan seorang murid selalu dimulai dengan keberanian untuk bangkit, meninggalkan apa yang menghalangi, dan berjalan bersama Kristus.


Demikianlah Matius Murid Yesus: Kisah Rasul dan Penginjil, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url