Santo Leo Agung, Paus – Santo 10 November
Santo Leo I atau Leo Agung, Paus: Gembala Agung dan Pembela Iman Gereja
Peringatan: 10 November
Santo Leo I, yang lebih dikenal sebagai Santo Leo Agung atau Paus Leo Agung, merupakan salah satu paus dan Bapa Gereja paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Ia dikenang bukan hanya karena kepemimpinannya atas Gereja pada masa yang penuh pergolakan, tetapi juga karena keteguhannya membela ajaran iman mengenai Yesus Kristus, kepeduliannya terhadap kesatuan Gereja, serta keberaniannya menghadapi berbagai ancaman yang melanda masyarakat Roma pada abad kelima.
Gereja Katolik memperingati Santo Leo Agung setiap 10 November, bertepatan dengan tanggal wafatnya pada tahun 461. Leo I adalah Paus ke-45 dan memimpin Gereja sejak tahun 440 hingga 461. Masa pontifikatnya berlangsung ketika Kekaisaran Romawi Barat mengalami kemunduran dan Gereja menghadapi berbagai perdebatan teologis yang sangat menentukan perkembangan ajaran Kristiani.
Julukan “Agung” yang melekat pada namanya menunjukkan besarnya pengaruh pelayanan dan ajarannya. Berabad-abad kemudian, pada tahun 1754, Paus Benediktus XIV menetapkan Santo Leo Agung sebagai Pujangga Gereja atau Doctor of the Church. Gelar tersebut diberikan karena kedalaman ajarannya, terutama mengenai misteri pribadi Yesus Kristus, serta pengaruhnya yang besar terhadap kehidupan dan perkembangan teologi Gereja.
Kisah hidup Santo Leo I memperlihatkan bahwa seorang pemimpin Kristiani tidak cukup hanya memiliki kecerdasan dan kemampuan memimpin. Ia juga membutuhkan keberanian, kasih, kebijaksanaan, keteguhan dalam kebenaran, serta kerendahan hati untuk melayani umat Allah. Semua kualitas tersebut tampak kuat dalam kehidupan dan pelayanan Santo Leo Agung.
Baca juga Santo Santa Bulan November: Daftar Orang Kudus Katolik
Siapakah Santo Leo I atau Leo Agung?
Santo Leo I hidup pada abad kelima, suatu masa ketika Kekaisaran Romawi Barat sedang mengalami kemunduran. Struktur politik menjadi semakin rapuh, berbagai bangsa memasuki wilayah kekaisaran, dan kehidupan masyarakat dipenuhi ketidakpastian. Pada saat yang sama, Gereja juga menghadapi perdebatan teologis serius mengenai pribadi dan kodrat Yesus Kristus.
Menurut kesaksian kuno, Leo berasal dari wilayah Tuscia di Italia. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian sangat erat dengan Roma dan pelayanan Gereja di kota tersebut. Sebelum menjadi paus, Leo telah dikenal sebagai seorang diakon yang mempunyai pengaruh cukup besar dalam kehidupan Gereja Roma.
Sekitar tahun 430, Leo telah menjadi diakon Gereja Roma. Dalam kedudukan tersebut, kecerdasan, kemampuan diplomasi, serta kedalaman pemikiran teologinya semakin dikenal. Ia bukan hanya seorang rohaniwan yang memahami ajaran iman, tetapi juga seseorang yang mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan praktis dan pastoral yang dihadapi Gereja.
Kemampuan, kebijaksanaan, dan kesetiaannya dalam pelayanan inilah yang kemudian membawa Leo kepada tanggung jawab yang jauh lebih besar sebagai Uskup Roma dan pemimpin Gereja.
Dari Diakon Menjadi Paus
Pada tahun 440, ketika Leo sedang menjalankan sebuah misi perdamaian di Galia, Paus Sixtus III wafat. Leo kemudian dipilih untuk menggantikannya sebagai Uskup Roma. Setelah kembali ke Roma, ia ditahbiskan sebagai paus pada 29 September 440 dan kemudian memimpin Gereja selama lebih dari dua puluh satu tahun.
Masa kepemimpinannya bukanlah masa yang mudah. Kekaisaran Romawi Barat sedang melemah, peperangan dan perpindahan berbagai bangsa menciptakan ketidakpastian, sementara otoritas pemerintahan tidak selalu mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan masyarakat. Pada saat yang sama, Gereja menghadapi berbagai kontroversi mengenai ajaran iman.
Dalam situasi seperti inilah Santo Leo Agung tampil bukan hanya sebagai administrator Gereja, tetapi terutama sebagai seorang gembala, pengajar iman, pembela kesatuan, dan pembawa perdamaian. Ia memahami bahwa tugas seorang paus bukan sekadar mengurus struktur Gereja, melainkan menjaga umat Allah agar tetap bersatu dalam iman kepada Kristus.
Baca juga: Kalender Liturgi Katolik November 2026 Lengkap
Santo Leo Agung sebagai Gembala Umat
Salah satu ciri yang menonjol dari kepemimpinan Santo Leo I adalah kemampuannya memadukan ketegasan dengan perhatian pastoral. Ia tidak memahami jabatan paus sebagai kehormatan pribadi. Bagi Leo, pelayanan sebagai penerus Santo Petrus merupakan tanggung jawab besar untuk menjaga umat dalam iman, membimbing mereka menuju kekudusan, serta mempertahankan kesatuan Gereja.
Warisan tulisannya memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai cara ia menjalankan tugas tersebut. Hampir seratus khotbahnya masih dikenal, bersama sekitar 150 surat yang memperlihatkan perhatian Leo terhadap berbagai persoalan Gereja pada zamannya.
Khotbah-khotbah Santo Leo membicarakan misteri Kristus, kehidupan liturgi, puasa, amal kasih, hari-hari raya Gereja, dan kehidupan moral umat beriman. Bagi Santo Leo Agung, teologi tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan intelektual. Kebenaran iman harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika berbicara mengenai misteri Kristus, Leo juga mengajak umat untuk hidup sesuai dengan martabat mereka sebagai orang-orang yang telah ditebus. Iman yang benar kepada Kristus harus menghasilkan kehidupan yang semakin dipenuhi kasih, belas kasih, kerendahan hati, dan perhatian terhadap sesama.
Baca juga: Santo Teodorus Tiro, Martir – 9 November
Kebenaran dan Kasih Tidak Boleh Dipisahkan
Pelayanan Santo Leo memperlihatkan keseimbangan penting dalam kehidupan Kristiani. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi sikap keras yang melukai sesama. Sebaliknya, kasih yang mengabaikan kebenaran dapat kehilangan arah dan tidak lagi membawa manusia kepada kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Leo berusaha mempersatukan keduanya. Ia mempertahankan ajaran Gereja dengan tegas, tetapi tujuan akhirnya bukanlah kemenangan pribadi atau sekadar memenangkan perdebatan. Tujuannya adalah keselamatan umat, kemurnian iman, dan kesatuan Gereja.
Sikap ini tetap relevan bagi umat Katolik masa kini. Dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas, maupun media sosial, orang beriman sering berhadapan dengan perbedaan pendapat. Teladan Santo Leo mengingatkan bahwa iman harus disampaikan dengan keberanian sekaligus kasih, tanpa mengorbankan kebenaran maupun martabat orang lain.
Baca juga: Santo Andreas Avelino, Pengaku Iman – 10 November
Pembela Iman akan Yesus Kristus
Salah satu warisan terbesar Paus Leo Agung terdapat dalam perkembangan ajaran Gereja mengenai pribadi Yesus Kristus. Pada abad kelima muncul perdebatan besar mengenai hubungan antara keilahian dan kemanusiaan Kristus. Gereja harus menjelaskan dengan tepat bagaimana Yesus adalah sungguh Allah sekaligus sungguh manusia.
Persoalan tersebut bukan sekadar perdebatan akademis. Pertanyaan tentang siapa Kristus berkaitan langsung dengan inti iman dan keselamatan manusia. Jika pemahaman tentang pribadi Kristus keliru, pemahaman tentang karya keselamatan-Nya juga dapat menjadi keliru.
Santo Leo memberikan kontribusi yang sangat penting melalui sebuah surat terkenal yang ditujukan kepada Flavianus, Uskup Konstantinopel. Dokumen tersebut kemudian dikenal sebagai Tomus kepada Flavianus atau Tome of Leo. Dalam tulisan itu, Leo menjelaskan iman akan Kristus dengan sangat jelas: Yesus Kristus adalah satu Pribadi dengan kodrat ilahi dan kodrat manusiawi yang sejati. Ia sungguh Allah dan sungguh manusia.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Selasa, 10 November 2026 Lukas 17:7-10
Santo Leo Agung dan Konsili Kalsedon
Ajaran Santo Leo mendapat tempat penting dalam Konsili Kalsedon tahun 451, salah satu konsili besar dalam sejarah Gereja kuno. Konsili tersebut menegaskan kesatuan pribadi Kristus sekaligus kenyataan dua kodrat-Nya, yaitu kodrat ilahi dan manusiawi.
Tomus Leo kepada Flavianus menjadi salah satu dokumen penting dalam pembahasan konsili tersebut. Ajaran yang dikemukakan Leo membantu menjelaskan bahwa Kristus adalah satu Pribadi dalam dua kodrat, sungguh Allah dan sungguh manusia, tanpa percampuran ataupun pemisahan.
Kontribusi Santo Leo dalam perdebatan tersebut memperlihatkan betapa pentingnya ketelitian dalam menjaga ajaran iman. Bagi Leo, membela kebenaran tentang Kristus bukanlah persoalan mempertahankan teori teologis semata, tetapi menjaga inti iman umat Kristiani.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 10 November 2026 Melayani dengan Rendah Hati
Mengapa Ajaran tentang Kristus Begitu Penting?
Bagi kehidupan rohani, ajaran tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Jika Kristus sungguh Allah, maka dalam diri-Nya Allah sendiri datang menyelamatkan manusia. Jika Kristus sungguh manusia, maka Ia benar-benar masuk ke dalam kondisi kehidupan manusia, mengalami penderitaan dan kematian, serta mengangkat kemanusiaan kita kepada kehidupan baru.
Misteri Inkarnasi karena itu bukan sekadar konsep teologis. Allah tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan. Dalam Yesus Kristus, Sang Sabda sungguh menjadi manusia dan masuk ke dalam sejarah manusia. Ia mengenal penderitaan, kelemahan, penolakan, persahabatan, kasih, bahkan kematian.
Pemahaman inilah yang membuat pengajaran Santo Leo Agung tetap berharga hingga sekarang. Mengenal siapa Kristus membantu umat beriman memahami betapa dekatnya Allah dengan kehidupan manusia dan betapa besar kasih-Nya bagi keselamatan dunia.
Pertemuan Santo Leo Agung dengan Attila
Selain dikenal sebagai teolog dan gembala Gereja, Santo Leo Agung juga terkenal karena pertemuannya dengan Attila, pemimpin bangsa Hun, pada tahun 452. Pasukan Hun telah memasuki Italia dan menimbulkan ancaman besar bagi penduduk. Dalam keadaan genting tersebut, Leo ikut dalam delegasi yang bertemu dengan Attila.
Pertemuan itu kemudian menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam kehidupan Santo Leo. Ia dikenang karena keberaniannya menghadapi seorang pemimpin militer yang sangat ditakuti pada zamannya dan berusaha mencari jalan damai bagi masyarakat yang terancam.
Secara historis, pertemuan Leo dengan Attila memang terjadi, dan setelah perundingan tersebut pasukan Attila akhirnya meninggalkan Italia. Namun, keputusan Attila kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang lebih luas, termasuk keadaan militer, persoalan logistik, penyakit, diplomasi, dan situasi politik pada masa tersebut.
Tradisi Kristiani kemudian mengembangkan berbagai kisah mengenai perlindungan surgawi dalam pertemuan itu. Dalam sejumlah kisah dan karya seni, misalnya, digambarkan bahwa Attila melihat pertolongan surgawi yang menyertai Paus Leo. Kisah-kisah seperti ini memiliki nilai tradisional dan devosional, tetapi harus dibedakan dari fakta sejarah yang dapat dipastikan.
Hal yang jelas dari peristiwa tersebut adalah keberanian Santo Leo untuk hadir ketika masyarakat berada dalam bahaya. Ia tidak bersembunyi di balik kedudukannya sebagai pemimpin Gereja, tetapi menggunakan pengaruh dan kemampuan diplomatiknya demi perdamaian.
Gembala di Tengah Keruntuhan Kekaisaran
Keistimewaan pelayanan Santo Leo Agung semakin terlihat ketika kita memahami kondisi zamannya. Kekaisaran Romawi Barat perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk menjaga stabilitas. Ketika institusi sipil melemah, Uskup Roma semakin sering harus menjalankan peran sosial yang besar bagi masyarakat.
Leo tidak membatasi dirinya pada persoalan internal Gereja. Ia memperhatikan kehidupan masyarakat Roma, perdamaian, kesejahteraan umat, serta perlindungan bagi mereka yang berada dalam bahaya. Hal ini memperlihatkan bahwa iman Katolik tidak boleh terpisah dari kepedulian terhadap kehidupan nyata manusia.
Seorang gembala dipanggil untuk mengajarkan iman sekaligus hadir bersama umat yang menderita. Santo Leo menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristiani bukanlah soal kekuasaan, melainkan kesediaan untuk memikul tanggung jawab ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Ketika Roma Menghadapi Bangsa Vandal
Beberapa tahun setelah pertemuannya dengan Attila, Roma kembali menghadapi ancaman besar. Pada tahun 455, pasukan Vandal di bawah Raja Genseric memasuki Roma. Leo kembali tampil sebagai perantara dan berusaha melindungi masyarakat dari kekerasan yang lebih besar.
Ia tidak dapat mencegah pendudukan dan penjarahan kota sepenuhnya. Namun tradisi sejarah menghubungkan intervensinya dengan usaha untuk membatasi kekerasan terhadap penduduk dan kehancuran kota.
Peristiwa tersebut sekali lagi memperlihatkan corak pelayanan Leo. Ia berusaha hadir di tengah krisis, bukan menjauh darinya. Baginya, seorang gembala harus berada bersama umat terutama ketika mereka mengalami ketakutan, penderitaan, dan ketidakpastian.
Santo Leo Agung dan Pelayanan Petrus
Santo Leo I juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan pemahaman Gereja mengenai pelayanan Uskup Roma. Ia memiliki keyakinan yang kuat bahwa pelayanan Paus berhubungan dengan tugas yang diberikan Kristus kepada Rasul Petrus. Karena itu, ia melihat dirinya bukan sebagai pemilik kekuasaan pribadi, melainkan sebagai penerus dalam pelayanan Petrus bagi kesatuan Gereja.
Dalam surat dan khotbahnya, tema ini muncul berkali-kali. Leo memahami secara mendalam tanggung jawabnya sebagai penerus Petrus dan menjalankannya dalam hubungan dengan Gereja-gereja di Barat maupun Timur.
Bagi Leo, pelayanan Petrus mempunyai tujuan utama untuk menjaga kesatuan iman. Kesatuan Gereja tidak berarti menghilangkan perbedaan budaya, tradisi, atau bahasa. Kesatuan berarti seluruh umat tetap berakar pada iman apostolik yang sama dan berada dalam persekutuan di dalam Kristus.
Mengapa Santo Leo Disebut “Agung”?
Dalam sejarah Gereja, hanya sedikit paus yang secara tradisional memperoleh gelar “Agung”. Gelar itu diberikan kepada Leo bukan semata-mata karena ia memegang jabatan tinggi, melainkan karena pengaruh luar biasa dari pelayanan, ajaran, dan kepemimpinannya.
Ia mampu menjadi teolog sekaligus pastor, pemimpin sekaligus pelayan, pembela doktrin sekaligus pembawa perdamaian. Santo Leo juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkan ajaran teologis yang mendalam menjadi khotbah yang dapat membantu umat menjalani kehidupan Kristiani sehari-hari.
Pada tahun 1754, Paus Benediktus XIV secara resmi menyatakan Santo Leo Agung sebagai Pujangga Gereja. Gelar tersebut mengakui nilai istimewa ajarannya bagi kehidupan Gereja universal. Sampai sekarang, tulisan-tulisannya tetap dipelajari karena kedalaman teologi dan kekayaan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.
Wafat Santo Leo Agung
Setelah memimpin Gereja selama lebih dari dua puluh satu tahun, Santo Leo Agung wafat pada 10 November 461. Tanggal inilah yang kemudian menjadi hari peringatannya dalam kalender liturgi Gereja Katolik.
Ia dimakamkan di Roma dan kemudian dihormati secara khusus di Basilika Santo Petrus. Warisan yang ditinggalkannya jauh melampaui bangunan, kedudukan, ataupun pengaruh politik pada zamannya.
Khotbah, surat, ajaran Kristologis, pembelaannya terhadap kesatuan Gereja, serta keberaniannya sebagai gembala terus menjadi bagian penting dari warisan Gereja. Lebih dari lima belas abad setelah kematiannya, umat Katolik masih mengenang Santo Leo Agung sebagai seorang gembala yang menggunakan pengetahuan dan kewibawaannya untuk melayani kebenaran dan keselamatan umat.
Spiritualitas Santo Leo Agung bagi Umat Katolik
Kehidupan Santo Leo Agung mengandung banyak pelajaran rohani yang dapat diterapkan oleh umat Katolik masa kini. Teladannya memperlihatkan bahwa kekudusan dapat diwujudkan melalui kesetiaan kepada iman, keberanian menghadapi kesulitan, pelayanan kepada sesama, serta usaha menjaga persatuan.
1. Mengenal Kristus dengan Benar
Bagi Leo, iman Kristiani berpusat pada Kristus. Karena itu, kehidupan rohani tidak dapat hanya dibangun berdasarkan perasaan. Orang beriman perlu terus mengenal siapa Yesus melalui Kitab Suci, ajaran Gereja, doa, liturgi, serta kehidupan sakramental.
Semakin mengenal Kristus, semakin kita memahami siapa diri kita di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa hidup bukan sekadar perjalanan mencari keberhasilan duniawi, melainkan panggilan untuk bertumbuh dalam kekudusan dan akhirnya bersatu dengan Allah.
2. Berani Membela Kebenaran
Leo hidup pada masa ketika Gereja menghadapi berbagai pertentangan teologis dan sosial. Ia tidak memilih diam ketika kebenaran iman dipertaruhkan. Namun keberaniannya tidak boleh dipahami sebagai sikap keras kepala. Ia menggunakan pengetahuan, argumentasi, diplomasi, dan tanggung jawab pastoral.
Umat Kristiani juga dipanggil memiliki keberanian semacam ini. Kita tidak perlu malu akan iman kepada Kristus, tetapi kesaksian tersebut harus selalu disampaikan dengan penghormatan terhadap sesama.
3. Menjadi Pembawa Damai
Pertemuan Leo dengan Attila menjadi simbol kuat tentang keberanian seorang pembawa damai. Damai tidak selalu lahir karena seseorang menghindari konflik. Kadang-kadang perdamaian membutuhkan keberanian untuk masuk ke tengah situasi sulit, berbicara dengan pihak-pihak yang berbeda, dan membuka ruang dialog.
Di dalam keluarga, tempat kerja, lingkungan, dan komunitas Gereja, kita pun dapat menjadi pembawa damai. Kita dapat memulai dengan mengendalikan perkataan, menghindari gosip, bersedia meminta maaf, memberikan pengampunan, serta tidak memperbesar perselisihan.
4. Menyatukan Iman dan Perbuatan
Khotbah-khotbah Santo Leo menekankan bahwa misteri iman harus menghasilkan perubahan hidup. Iman kepada Kristus harus tampak dalam kasih kepada sesama, doa harus menghasilkan belas kasih, dan perayaan liturgi harus membawa pembaruan kehidupan.
Pengetahuan mengenai ajaran Gereja seharusnya tidak membuat seseorang menjadi sombong. Sebaliknya, semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari panggilannya untuk menjadi rendah hati dan melayani.
5. Menjaga Kesatuan
Salah satu perhatian terbesar Santo Leo adalah kesatuan Gereja. Pelajaran ini sangat penting pada zaman ketika perbedaan pendapat dapat dengan mudah berubah menjadi permusuhan.
Kesatuan bukan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama mengenai setiap persoalan. Kesatuan Kristiani berakar pada Kristus dan diwujudkan melalui kasih, kebenaran, pengampunan, kesabaran, serta kesediaan untuk berjalan bersama sebagai satu umat Allah.
Refleksi: Menjadi Teguh tanpa Kehilangan Kasih
Santo Leo Agung mengajarkan bahwa keteguhan iman dan kasih kepada sesama tidak perlu dipertentangkan. Kita hidup dalam dunia yang juga menghadapi berbagai bentuk ketidakpastian. Perubahan sosial berlangsung cepat, informasi beredar tanpa henti, dan perbedaan pandangan dapat dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran.
Dalam keadaan seperti itu, teladan Santo Leo terasa sangat relevan. Ia tidak menyelesaikan persoalan dengan ketakutan. Ia juga tidak meninggalkan kebenaran demi kenyamanan. Ia berusaha berdiri teguh sambil tetap menjadi seorang gembala yang mencari keselamatan dan kesejahteraan umat.
Kita mungkin tidak akan pernah berhadapan dengan Attila atau menghadiri konsili besar seperti Kalsedon. Namun kita mempunyai “medan perjuangan” sendiri. Ada keluarga yang membutuhkan rekonsiliasi, orang yang membutuhkan penghiburan, iman yang perlu kita pertahankan di tengah godaan, kesalahpahaman yang harus dijernihkan, serta sesama yang membutuhkan keberanian kita untuk membela martabatnya.
Di situlah teladan Santo Leo Agung dapat diwujudkan. Kekudusan bukan hanya tentang melakukan sesuatu yang luar biasa. Kekudusan juga berarti setia kepada Kristus dalam tanggung jawab yang diberikan kepada kita setiap hari, bahkan melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih.
Doa melalui Perantaraan Santo Leo Agung
Allah Bapa yang Mahakuasa dan penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas teladan hidup Santo Leo Agung, yang Engkau panggil untuk menggembalakan umat-Mu pada masa yang penuh tantangan.
Engkau menganugerahinya kebijaksanaan untuk memahami kebenaran iman, keberanian untuk membelanya, dan kasih seorang gembala untuk menjaga umat yang dipercayakan kepadanya. Teguhkanlah iman kami kepada Yesus Kristus, Putra-Mu, yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
Ajarlah kami untuk mencintai kebenaran tanpa kehilangan kasih, membela iman tanpa merendahkan sesama, serta menjadi pembawa damai di tengah perpecahan. Melalui teladan dan perantaraan Santo Leo Agung, bantulah kami agar semakin setia kepada Gereja-Mu, tekun dalam doa, murah hati kepada sesama, dan berani memberikan kesaksian tentang Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Santo Leo Agung, doakanlah kami agar tetap teguh dalam iman dan setia mengikuti Kristus sampai akhir hidup kami.
Amin.
Penutup
Santo Leo I atau Leo Agung merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah Gereja Katolik. Sebagai Paus, Pujangga Gereja, teolog, gembala, dan pembawa perdamaian, ia meninggalkan warisan yang tetap hidup setelah lebih dari lima belas abad.
Kontribusinya terhadap ajaran mengenai Kristus, terutama dalam konteks Konsili Kalsedon, menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan doktrin Gereja. Keberaniannya menghadapi berbagai krisis pada zamannya juga menunjukkan bahwa seorang gembala tidak boleh meninggalkan umat ketika keadaan menjadi sulit.
Peringatan Santo Leo Agung setiap 10 November mengajak kita bukan hanya mengenang seorang paus besar dari masa lampau, tetapi juga merenungkan kehidupan iman kita sendiri. Apakah kita berani mempertahankan kebenaran dengan kasih? Apakah kita bersedia menjadi pembawa damai? Apakah iman kepada Kristus sungguh terlihat melalui cara kita memperlakukan sesama?
Semoga melalui teladan dan doa Santo Leo Agung, kita semakin mengenal Kristus, semakin mencintai Gereja, semakin teguh dalam kebenaran, dan semakin berani menjadi pembawa damai bagi keluarga, Gereja, serta masyarakat di sekitar kita.
Demikianlah Santo Leo Agung, Paus – Santo 10 November, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
