Santo Teodorus Tiro, Martir – 9 November

Santo Teodorus dari Amasea, martir Kristen yang diperingati tanggal 9 November.

Santo Teodorus Tiro, Martir: Prajurit Kristus yang Setia hingga Mati

Setiap tanggal 9 November, tradisi Gereja Barat mengenang Santo Teodorus Tiro, seorang martir Kristen awal yang dikenal karena keberaniannya mempertahankan iman kepada Yesus Kristus di tengah tekanan untuk mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa Romawi. Ia juga dikenal dengan nama Santo Teodorus dari Amasea, Theodore the Recruit, atau Theodorus Tyro/Tiro.

Santo Teodorus Tiro diperkirakan mengalami kemartiran pada awal abad keempat, ketika umat Kristen masih menghadapi penganiayaan berat di Kekaisaran Romawi. Tradisi kuno menghubungkan kemartirannya dengan Amasea di Pontus, wilayah Asia Kecil yang kini termasuk Turki. Penghormatan terhadap dirinya kemudian berkembang terutama di Euchaita dan menyebar ke berbagai wilayah dunia Kristen.

Kisah Santo Teodorus Tiro, Martir, mengingatkan umat Kristiani bahwa iman bukan sekadar pengakuan dengan kata-kata. Iman menuntut kesetiaan dalam keputusan konkret, bahkan ketika keputusan tersebut membawa risiko. Sebagai seorang prajurit, Teodorus hidup di tengah tuntutan ketaatan kepada kekuasaan duniawi. Namun ketika tuntutan itu bertentangan dengan kesetiaannya kepada Kristus, ia memilih Allah di atas segala sesuatu.

Baca juga Santo Santa Bulan November: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Santo Teodorus Tiro?

Santo Teodorus Tiro adalah seorang prajurit Kristen yang hidup sekitar akhir abad ketiga hingga awal abad keempat. Dalam sumber-sumber kuno, ia disebut dengan berbagai nama, antara lain Theodorus Tyro, Theodore of Amasea, dan Theodore the Recruit.

Sebutan “Tiro” atau “Tyro” sering dikaitkan dengan istilah Latin tiro, yang dapat menunjuk kepada seorang prajurit muda atau anggota baru dalam dinas militer. Karena kemartirannya berlangsung di Amasea, ia juga dikenal sebagai Santo Teodorus dari Amasea. Ia tidak boleh disamakan dengan sejumlah orang kudus lain yang juga bernama Teodorus, termasuk Santo Teodorus Studites yang hidup berabad-abad kemudian.

Santo Teodorus Tiro adalah martir dari masa penganiayaan Kekaisaran Romawi dan kemudian menjadi salah satu santo prajurit yang sangat dihormati dalam tradisi Kristen Timur maupun Barat.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik November 2026 Lengkap

Latar Belakang Kehidupan Santo Teodorus

Tidak banyak informasi historis yang benar-benar pasti mengenai masa kecil dan keluarga Santo Teodorus. Tradisi menyebut wilayah Timur Kekaisaran Romawi sebagai daerah asalnya, dengan Siria atau Armenia disebut dalam sejumlah kisah. Karena keterbatasan dokumen sejarah, keterangan semacam ini perlu dibedakan dari fakta yang mempunyai kesaksian lebih kuat.

Hal yang lebih jelas dalam tradisi kuno adalah bahwa Teodorus merupakan seorang prajurit Romawi, bahwa ia dikaitkan dengan Amasea di Pontus, dan bahwa ia dihormati sebagai martir Kristen.

Pada masa itu, menjadi seorang prajurit sekaligus seorang Kristen dapat menimbulkan konflik serius. Kehidupan militer Romawi tidak hanya berkaitan dengan tugas mempertahankan kekaisaran. Dalam berbagai kesempatan terdapat pula praktik religius yang berhubungan dengan kultus kekaisaran maupun dewa-dewa tradisional.

Ketika seorang Kristen diwajibkan melakukan tindakan yang dipandang sebagai penyembahan kepada dewa lain, muncullah persoalan iman yang sangat mendasar: apakah ia akan mengikuti tuntutan penguasa atau tetap memegang perintah Allah? Bagi Teodorus, jawabannya tegas. Ia memilih tetap setia kepada Kristus.

Baca juga: Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran 9 November

Santo Teodorus Tiro pada Masa Penganiayaan Umat Kristen

Kemartiran Santo Teodorus biasanya ditempatkan pada masa penganiayaan besar terhadap umat Kristen pada awal abad keempat. Sejumlah tradisi memperkirakan kemartirannya terjadi sekitar tahun 306, meskipun rincian kronologi dalam sumber-sumber kuno tidak selalu seragam.

Masa tersebut merupakan salah satu periode yang sangat berat bagi komunitas Kristen. Pada tahun 303, pemerintahan Kaisar Diokletianus memulai rangkaian tindakan keras terhadap Kekristenan. Gereja-gereja dihancurkan, Kitab Suci disita, dan umat Kristen menghadapi berbagai tekanan untuk meninggalkan iman mereka. Kebijakan dan intensitas penganiayaan tidak sama di setiap wilayah, tetapi di beberapa bagian Kekaisaran Romawi umat Kristen menghadapi ancaman penjara, penyiksaan, bahkan kematian.

Dalam konteks seperti inilah tradisi menempatkan kesaksian iman Santo Teodorus Tiro.

Baca juga: Santo Leo Agung, Paus – Santo 10 November

Menolak Mempersembahkan Kurban kepada Dewa

Menurut kisah kemartirannya, ketika pasukan Teodorus berada di wilayah Pontus, muncul perintah yang menuntut orang-orang untuk mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa. Teodorus menolak karena bagi seorang Kristen, mempersembahkan kurban sebagai tindakan penyembahan kepada dewa lain bertentangan langsung dengan iman kepada Allah yang esa.

Ketika dibawa ke hadapan penguasa di Amasea dan diperintahkan untuk mempersembahkan kurban, Teodorus menyatakan imannya kepada Kristus. Tradisi menggambarkan dirinya sebagai seorang pemuda yang tidak menyembunyikan identitas Kristennya meskipun mengetahui konsekuensi berat dari pengakuan tersebut.

Di sinilah kemartirannya memperoleh arti rohani yang mendalam. Martir bukanlah seseorang yang mencari kematian. Dalam iman Kristiani, martir adalah saksi yang tetap setia kepada Kristus ketika dihadapkan pada pilihan antara menyangkal iman atau menerima penderitaan.

Kata “martir” sendiri berasal dari bahasa Yunani martys, yang berarti saksi. Teodorus menjadi saksi Kristus melalui kesetiaan seluruh hidupnya.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Senin, 9 November 2026 Yohanes 2:13-22

Kisah Pembakaran Kuil dalam Tradisi Santo Teodorus

Salah satu bagian paling terkenal dalam kisah tradisional Santo Teodorus Tiro adalah peristiwa pembakaran sebuah kuil pagan. Menurut tradisi hagiografis, setelah pertama kali diperiksa, Teodorus diberi waktu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Dalam periode tersebut, ia dikisahkan membakar kuil Cybele. Akibat tindakan itu ia kembali ditangkap dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Namun, bagian ini perlu dibaca dengan kehati-hatian historis. Catatan tentang kehidupan Santo Teodorus berkembang melalui teks-teks kemartiran dan tradisi hagiografis yang mengalami penambahan dalam perjalanan waktu. Karena itu, rincian dramatis tertentu dalam kisahnya tidak mempunyai tingkat kepastian sejarah yang sama dengan keberadaan penghormatan kuno terhadap Teodorus sebagai martir.

Dengan membedakan sejarah dan tradisi seperti ini, kita tetap dapat menghormati Santo Teodorus tanpa harus memperlakukan setiap unsur legenda sebagai laporan sejarah harfiah. Pesan utama tradisi tersebut tetap jelas: Teodorus dikenang sebagai seorang Kristen yang menolak penyembahan berhala dan memilih kesetiaan kepada Kristus.

Penangkapan dan Penderitaan Santo Teodorus Tiro

Setelah menolak meninggalkan iman, Teodorus kembali berada dalam kekuasaan para pejabat Romawi. Tradisi kemartirannya menceritakan bahwa ia mengalami penyiksaan berat. Tujuan penyiksaan itu bukan sekadar menghukumnya, tetapi memaksanya untuk menyerah dan menyangkal Kristus.

Namun Teodorus tetap bertahan. Di mata dunia, seorang prajurit muda yang berada dalam penjara dan menghadapi hukuman mati mungkin terlihat tidak berdaya. Dalam terang iman, justru di situlah kekuatan rohaninya menjadi nyata. Kekuatan seorang martir tidak berasal dari senjata, kedudukan, ataupun kekuasaan duniawi. Kekuatannya berasal dari keyakinan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir pada kematian.

Yesus bersabda, “Janganlah takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa” (bdk. Matius 10:28). Semangat Injil tersebut membantu kita memahami kesaksian para martir seperti Santo Teodorus. Mereka percaya bahwa kehilangan kehidupan duniawi demi kesetiaan kepada Kristus bukanlah akhir dari segalanya.

Santo Teodorus Tiro Dibakar Hidup-Hidup

Menurut tradisi kuno, setelah berbagai penderitaan dan penolakan untuk meninggalkan imannya, Santo Teodorus dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar. Ia kemudian dikenang sebagai martir yang menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Sejumlah tradisi kuno menempatkan kemartirannya sekitar awal abad keempat. Dalam tradisi Kristen Timur, peringatannya ditemukan pada tanggal yang berbeda, sedangkan tradisi Barat lama mengenangnya pada 9 November. Perbedaan kalender dan perkembangan tradisi liturgis membuat tanggal peringatan Santo Teodorus tidak selalu sama dalam berbagai tradisi Kristen.

Hal yang lebih penting daripada perbedaan tanggal tersebut adalah kenyataan bahwa penghormatannya telah berakar sangat tua dalam kehidupan Gereja. Kesetiaannya dikenang bukan karena ia seorang prajurit yang memiliki kekuatan duniawi, melainkan karena ia berani menyerahkan hidup demi mempertahankan iman kepada Kristus.

Kesaksian Santo Gregorius dari Nyssa

Salah satu bukti penting mengenai kuatnya penghormatan kuno terhadap Santo Teodorus berasal dari Santo Gregorius dari Nyssa, salah satu Bapa Gereja besar abad keempat. Gregorius menyampaikan sebuah homili atau panegirik untuk menghormati Santo Teodorus. Kesaksian tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa penghormatan terhadap martir ini sudah berkembang pada masa yang relatif dekat dengan periode kemartirannya.

Tradisi mengenai tempat penghormatan kepada Santo Teodorus juga menunjukkan bagaimana kisah para martir diwariskan bukan hanya melalui tulisan, tetapi melalui liturgi, seni Kristen, gereja, dan tempat-tempat ziarah. Dengan demikian, Santo Teodorus bukan sekadar tokoh yang muncul dalam legenda abad pertengahan. Penghormatan kepadanya mempunyai akar yang jauh lebih tua dalam kehidupan Gereja.

Dari Amasea ke Euchaita

Setelah kemartirannya, tradisi menyatakan bahwa jenazah Santo Teodorus dipindahkan ke Euchaita, suatu tempat yang kemudian menjadi pusat utama penghormatan kepadanya. Devosi kepada sang martir berkembang dengan kuat di wilayah tersebut dan kemudian menyebar ke berbagai bagian dunia Kristen.

Gereja-gereja yang didedikasikan kepada Santo Teodorus muncul di Konstantinopel, Yerusalem, Roma, dan wilayah lainnya. Penghormatan terhadap dirinya juga berkembang di Italia. Dalam tradisi kemudian, relikwinya dikaitkan dengan kota Brindisi, tempat Santo Teodorus mendapat penghormatan khusus.

Penyebaran devosi tersebut menunjukkan besarnya pengaruh kesaksian para martir dalam kehidupan umat Kristen. Mereka mungkin meninggal dalam keadaan sederhana dan tanpa kekuasaan duniawi, tetapi kesetiaan mereka meninggalkan warisan rohani yang bertahan selama berabad-abad.

Santo Teodorus sebagai Prajurit Kristus

Salah satu aspek menarik dari Santo Teodorus Tiro adalah identitasnya sebagai seorang prajurit. Dalam ikonografi Kristen Timur, para santo prajurit sering digambarkan mengenakan perlengkapan militer. Namun simbol tersebut memperoleh arti yang lebih dalam daripada peperangan duniawi.

Seorang martir seperti Teodorus menunjukkan bentuk perjuangan yang berbeda. Ia berjuang mempertahankan iman. Santo Paulus menggunakan gambaran serupa ketika berbicara mengenai kehidupan rohani: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Efesus 6:11).

Bagi umat Kristen masa kini, perjuangan Santo Teodorus tidak perlu diterjemahkan menjadi konflik fisik. Sebaliknya, teladannya mengajak kita menghadapi peperangan batin: melawan kebohongan, ketidakadilan, keserakahan, kebencian, kompromi moral, serta segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah.

Makna Kemartiran Santo Teodorus Tiro

Kemartiran dalam Gereja Katolik tidak berarti mencari penderitaan atau kematian. Gereja menghormati para martir karena mereka memberikan kesaksian tertinggi tentang kasih dan kesetiaan kepada Kristus.

Santo Teodorus menghadapi sebuah pilihan mendasar. Ia dapat menyelamatkan dirinya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan imannya, atau mempertahankan iman dengan menerima konsekuensi yang sangat berat. Ia memilih kesetiaan.

Keputusan tersebut mengajarkan bahwa iman mempunyai nilai yang melampaui kenyamanan, kedudukan, bahkan kehidupan duniawi.

Kesetiaan dalam Hal-Hal Kecil

Sebagian besar umat Kristiani tidak akan menghadapi situasi seperti Santo Teodorus. Namun setiap orang menghadapi kesempatan untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat tergoda untuk berbohong demi keuntungan, memilih diam ketika seseorang diperlakukan tidak adil, atau mengikuti kebiasaan lingkungan meskipun mengetahui bahwa kebiasaan tersebut bertentangan dengan hati nurani.

Dalam situasi seperti itu, teladan Santo Teodorus menjadi relevan. Kesetiaan besar sering dibangun melalui kesetiaan dalam keputusan-keputusan kecil. Orang yang membiasakan dirinya memilih kebenaran dalam perkara sederhana akan semakin mampu mempertahankan kebenaran ketika menghadapi ujian yang lebih besar.

Keberanian untuk Berbeda

Teodorus juga mengajarkan keberanian untuk berbeda. Ia berada dalam lingkungan militer dengan struktur ketaatan yang kuat. Namun ketika tuntutan yang diberikan bertentangan dengan imannya, ia berani mempertahankan hati nuraninya.

Dalam kehidupan modern, tekanan semacam itu dapat muncul dalam bentuk berbeda. Seseorang mungkin didorong melakukan sesuatu yang tidak jujur karena “semua orang juga melakukannya”. Seorang pekerja mungkin diminta memanipulasi informasi. Seorang pelajar mungkin diajak menyontek. Seseorang mungkin tergoda mengorbankan prinsip demi popularitas atau keuntungan.

Santo Teodorus mengingatkan bahwa kebenaran tidak berubah hanya karena banyak orang memilih jalan yang berbeda. Seorang murid Kristus dipanggil untuk membentuk hati nuraninya berdasarkan kebenaran dan kemudian berani hidup sesuai dengan hati nurani tersebut.

Iman yang Tidak Berhenti pada Kata-Kata

Ada perbedaan antara mengetahui iman dan hidup berdasarkan iman. Teodorus tidak hanya mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Kristus. Ketika keyakinannya diuji, ia mempertahankannya. Inilah salah satu pesan utama kehidupan para martir.

Iman Kristiani bukan hanya kumpulan pengetahuan mengenai Allah. Iman merupakan hubungan dengan Allah yang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, memperlakukan sesama, bekerja, menggunakan kekayaan, berbicara, dan menghadapi penderitaan.

Karena itu, peringatan Santo Teodorus Tiro 9 November dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah iman saya hanya tampak ketika berada di gereja? Apakah nilai-nilai Injil juga menentukan keputusan saya ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah saya berani mempertahankan kebenaran ketika hal itu merugikan diri sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa penghormatan kepada para kudus dari sekadar kekaguman menuju pertobatan pribadi. Para kudus tidak diberikan kepada Gereja hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa Injil sungguh dapat dihidupi.

Teladan Santo Teodorus Tiro bagi Umat Katolik

Kehidupan Santo Teodorus memberikan beberapa teladan yang tetap relevan. Pertama adalah kesetiaan kepada Kristus. Teodorus menempatkan hubungannya dengan Allah di atas keselamatan dirinya sendiri. Kedua adalah keberanian hati nurani. Ia tidak membiarkan tekanan dari lingkungan menentukan keyakinannya.

Ketiga adalah keteguhan dalam penderitaan. Ketika kesetiaannya membawa konsekuensi berat, ia tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk meninggalkan iman. Keempat adalah pengharapan akan kehidupan kekal. Para martir dapat menghadapi kematian karena percaya bahwa Kristus telah mengalahkan maut melalui kebangkitan-Nya.

Kelima adalah kesaksian melalui kehidupan. Kesaksian Teodorus tetap dikenang berabad-abad setelah kematiannya karena tindakan nyata sering berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Ia menunjukkan bahwa iman menjadi paling nyata ketika seseorang berani membayar harga untuk mempertahankannya.

Meneladani Santo Teodorus di Zaman Sekarang

Kita mungkin tidak menghadapi penganiayaan seperti umat Kristen pada masa Kekaisaran Romawi, tetapi tantangan terhadap kehidupan iman tetap ada. Kesetiaan dapat dimulai dari keluarga. Orang tua dapat menjadi saksi Kristus melalui kesabaran, kesetiaan dalam perkawinan, pendidikan iman anak-anak, serta kesediaan untuk mengampuni.

Kaum muda dapat menjadi saksi Kristus dengan menjaga kejujuran, menghormati martabat sesama, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta berani menolak tindakan yang bertentangan dengan hati nurani. Di tempat kerja, seorang Katolik dapat meneladani Teodorus melalui integritas. Keuntungan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penipuan, korupsi, manipulasi, atau merugikan sesama.

Di tengah masyarakat, umat Kristiani dipanggil menjadi pembawa damai, membela martabat manusia, menolak kebencian, dan menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan konkret. Kesaksian semacam ini mungkin tidak menghasilkan mahkota kemartiran darah, tetapi tetap merupakan bentuk kesetiaan kepada Kristus.

Refleksi Rohani: Apakah Aku Berani Setia?

Kisah Santo Teodorus Tiro membawa kita kepada pertanyaan yang sangat pribadi: seberapa besar nilai iman bagi hidup kita? Mudah mengatakan bahwa Kristus adalah pusat kehidupan ketika semuanya berjalan baik. Kesetiaan menjadi nyata ketika mengikuti Kristus menuntut pengorbanan.

Teodorus kehilangan keamanan, kedudukan sebagai prajurit, dan pada akhirnya kehidupan duniawinya. Namun menurut iman Gereja, ia tidak kehilangan segalanya. Ia justru memperoleh kehidupan yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun: kehidupan bersama Allah.

Yesus bersabda, “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (bdk. Matius 10:39). Inilah paradoks kehidupan para martir. Secara duniawi mereka tampak kalah, tetapi iman melihat kesetiaan mereka sebagai kemenangan.

Karena itu, ketika mengenang Santo Teodorus Tiro, kita tidak sekadar mengenang kematian tragis seorang prajurit dari masa lampau. Kita merayakan kemenangan rahmat Allah dalam diri seseorang yang memilih untuk tetap menjadi milik Kristus.

Kesaksian Teodorus juga mengajak kita memeriksa pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan. Mungkin kita tidak pernah diminta memilih antara menyangkal Kristus atau menghadapi hukuman mati. Namun setiap hari kita memilih antara kejujuran dan kebohongan, pengampunan dan dendam, kasih dan kebencian, pelayanan dan egoisme.

Di situlah kemartiran rohani dapat berlangsung: ketika seseorang memilih mati terhadap egoisme agar Kristus semakin hidup di dalam dirinya.

Doa melalui Teladan dan Syafaat Santo Teodorus Tiro

Allah Bapa yang Mahakuasa dan penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas kesaksian iman Santo Teodorus Tiro, martir-Mu yang tetap setia kepada Kristus di tengah ancaman dan penderitaan.

Engkau telah menguatkan hatinya sehingga ia tidak takut mengakui Putra-Mu di hadapan manusia. Anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk hidup menurut Injil dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari.

Ketika kami tergoda untuk mengorbankan kebenaran demi keuntungan, kuatkanlah hati kami. Ketika kami takut mempertahankan iman, ingatkanlah kami akan teladan para martir. Ketika penderitaan membuat kami lemah, teguhkanlah pengharapan kami kepada Kristus yang telah bangkit dan mengalahkan maut.

Melalui teladan dan syafaat Santo Teodorus Tiro, bantulah kami menjadi saksi-saksi Kristus yang setia, rendah hati, penuh kasih, dan berani. Semoga seluruh hidup kami menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu dan membawa kami pada akhirnya kepada sukacita kehidupan kekal.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Penutup

Santo Teodorus Tiro, Martir, adalah salah satu saksi iman dari masa awal Gereja yang menunjukkan betapa berharganya kesetiaan kepada Kristus. Sebagai seorang prajurit, ia mengetahui arti disiplin dan ketaatan. Namun ketika ketaatan kepada kekuasaan manusia bertentangan dengan iman kepada Allah, ia memilih Kristus.

Walaupun sejumlah rincian kisah hidupnya berasal dari tradisi hagiografis yang berkembang kemudian, penghormatan kepada Santo Teodorus mempunyai akar kuno. Kesaksian Santo Gregorius dari Nyssa serta keberadaan tempat penghormatan kuno menunjukkan pentingnya martir ini dalam kehidupan Gereja awal.

Peringatan Santo Teodorus Tiro pada 9 November mengajak kita untuk tidak hanya mengagumi keberanian para martir, tetapi juga bertanya bagaimana kita sendiri dapat menjadi saksi Kristus hari ini. Tidak semua orang dipanggil menjadi martir dengan mencurahkan darah, tetapi setiap murid Kristus dipanggil untuk memberikan kesaksian melalui kehidupan.

Kesaksian itu dapat dimulai dari hal sederhana: berkata jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, mengampuni ketika hati ingin membalas, membela orang yang lemah ketika orang lain memilih diam, dan tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.

Di tengah dunia yang sering mengajak manusia berkompromi dengan kebenaran, Santo Teodorus mengingatkan kita bahwa kesetiaan mempunyai harga. Namun ia juga mengingatkan bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia ketika dipersembahkan kepada Allah.

Semoga melalui peringatan Santo Teodorus Tiro, kita semakin berani menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan. Semoga kita tidak hanya mengaku sebagai pengikut-Nya melalui kata-kata, tetapi juga menunjukkan iman melalui pilihan, tindakan, dan kesetiaan sehari-hari.

Santo Teodorus Tiro, doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus sampai akhir.


Demikianlah Santo Teodorus Tiro, Martir – 9 November, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url