Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir 12 November

Santo Yosafat Kunzewich Uskup dan Martir yang diperingati Gereja Katolik setiap 12 November

Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir: Rasul Persatuan Gereja

Setiap tanggal 12 November, Gereja Katolik memperingati Santo Yosafat Kunzewich, yang juga dikenal dengan berbagai ejaan seperti Josaphat Kuntsevych, Kuncewicz, atau Kunzewicz. Ia adalah seorang biarawan Basilian, uskup, dan martir dari tradisi Katolik Timur yang mengabdikan hidupnya bagi persatuan umat Kristiani. Dalam sejarah Gereja, Santo Yosafat dikenang terutama karena perjuangannya mempertahankan kesatuan dengan Takhta Roma sambil tetap menghargai dan memelihara warisan liturgi Bizantium. Gereja memperingatinya sebagai uskup dan martir, dan pestanya dirayakan pada 12 November.

Kehidupan Santo Yosafat berlangsung pada masa ketika hubungan antara umat Kristen Timur dan Barat dipenuhi ketegangan teologis, politik, sosial, dan budaya. Karena itu, memahami dirinya tidak cukup hanya dengan menyebut bahwa ia meninggal sebagai martir. Perlu dilihat pula konteks sejarah yang membentuk panggilannya. Ia hidup ketika pertanyaan mengenai hubungan Gereja-gereja Timur dengan Roma menjadi persoalan yang sangat sensitif. Di tengah keadaan tersebut, Yosafat memilih jalan pelayanan yang menurut keyakinannya dapat membawa umat menuju kesatuan, meskipun jalan itu akhirnya menuntut pengorbanan nyawanya.

Kisah Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir, dengan demikian merupakan kisah tentang kesetiaan kepada Kristus, keberanian seorang gembala, cinta kepada tradisi Gereja Timur, serta kerinduan agar perpecahan di antara orang-orang Kristen dapat disembuhkan. Warisannya tetap relevan pada zaman sekarang ketika Gereja terus berdoa dan bekerja agar doa Yesus, “supaya mereka semua menjadi satu,” semakin nyata dalam kehidupan umat Kristiani.

Baca juga Santo Santa Bulan November: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Santo Yosafat Kunzewich?

Santo Yosafat diperkirakan lahir sekitar tahun 1580 dengan nama Yohanes atau Ivan Kuntsevych. Vatican News mencatat bahwa ia berasal dari keluarga Kristen Ortodoks di wilayah yang kini termasuk Ukraina. Masa mudanya bertepatan dengan pergolakan besar dalam kehidupan Gereja di Eropa Timur. Pada 1596 berlangsung Persatuan Brest, ketika sebagian hierarki Gereja Ruthenia memulihkan persekutuan dengan Takhta Roma sambil mempertahankan liturgi, spiritualitas, disiplin, dan tradisi Bizantium.

Keadaan tersebut tidak serta-merta menciptakan kedamaian. Sebaliknya, persatuan itu juga menimbulkan pertentangan karena tidak semua umat dan pemimpin Gereja menerimanya. Identitas keagamaan ketika itu berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan politik. Karena itu, persoalan persekutuan gerejawi tidak jarang berkembang menjadi konflik yang jauh lebih luas.

Yohanes muda tumbuh tepat di tengah situasi tersebut. Ia kemudian pergi ke Vilnius untuk mempelajari perdagangan. Namun kehidupan dunia usaha tidak menjadi tujuan akhirnya. Pergumulan rohani mengenai iman dan kesatuan Gereja justru semakin kuat dalam dirinya. Ia akhirnya memilih kehidupan membiara dan pada tahun 1604 memasuki biara Basilian, mengambil nama religius Yosafat.

Keputusan ini mengubah seluruh arah kehidupannya. Orang muda yang sebelumnya dipersiapkan untuk kehidupan perdagangan kini menyerahkan diri kepada doa, pertobatan, studi, dan pelayanan Gereja.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik November 2026 Lengkap

Menjadi Biarawan Basilian

Kehidupan doa dan askese

Sebagai biarawan, Yosafat menjalani kehidupan rohani yang serius. Ia dikenal karena semangat askese dan doanya. Kehidupan monastik baginya bukan sekadar tempat untuk menjauh dari keramaian dunia, melainkan sekolah rohani tempat seseorang belajar menyerahkan kehendaknya kepada Allah.

Tradisi Basilian berakar pada spiritualitas Santo Basilius Agung dan memberikan tempat penting bagi doa liturgis, kehidupan bersama, disiplin rohani, studi Kitab Suci, serta pelayanan kepada Gereja. Dalam lingkungan inilah panggilan Yosafat semakin matang.

Kesungguhannya segera menarik perhatian. Orang-orang mulai datang kepadanya untuk memperoleh nasihat rohani. Kehidupan yang sederhana memberikan kekuatan pada pewartaannya: sebelum berbicara mengenai pembaruan Gereja, ia terlebih dahulu berusaha membiarkan dirinya sendiri diperbarui oleh Kristus.

Inilah salah satu pelajaran penting dari Santo Yosafat Kunzewich. Pembaruan Gereja tidak dimulai terutama dari strategi organisasi, melainkan dari pertobatan pribadi. Kesatuan yang sejati juga tidak mungkin dibangun hanya melalui perdebatan. Kesatuan harus berakar pada hati yang semakin dekat kepada Allah.

Baca juga: Santo Theodoros Studite, Abbas dan Pengaku Iman

Ditahbiskan menjadi imam

Pada 1609, Yosafat ditahbiskan menjadi imam. Setelah menerima tahbisan, pelayanannya berkembang semakin luas. Ia berkhotbah, melayani Sakramen Rekonsiliasi, memberikan bimbingan rohani, dan bekerja bagi pembaruan kehidupan umat.

Kemampuan berkhotbah membuatnya semakin dikenal. Namun tujuan utama pewartaannya bukan popularitas pribadi. Ia ingin umat mengenal Kristus dan menghayati iman dengan lebih sungguh-sungguh.

Yosafat juga memberikan perhatian kepada kehidupan monastik. Ia memahami bahwa biara-biara yang hidup dalam disiplin, doa, dan kekudusan dapat menjadi pusat pembaruan rohani bagi masyarakat sekitarnya.

Baca juga: Santo Nilus dari Sinai, Rahib – 12 November

Santo Yosafat dan Persatuan Gereja

Mempertahankan tradisi Timur dalam persekutuan dengan Roma

Salah satu hal yang penting dalam memahami Santo Yosafat adalah bahwa perjuangannya bagi persatuan dengan Roma tidak berarti ia ingin menghapus tradisi Kristen Timur. Sebaliknya, sumber Vatikan menekankan bahwa ia menghargai dan mempertahankan liturgi serta tradisi Bizantium.

Hal ini mempunyai arti besar. Katolisitas tidak berarti semua Gereja harus memiliki bentuk liturgi yang sama. Gereja Katolik mencakup berbagai tradisi liturgis dan spiritual yang hidup dalam satu persekutuan iman.

Bagi Yosafat, kesatuan Gereja tidak harus berarti keseragaman. Kekayaan tradisi Timur dapat tetap hidup dalam persekutuan dengan Uskup Roma. Gambaran tersebut kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam pemahaman Katolik mengenai Gereja-gereja Katolik Timur.

Karena itulah kehidupan Yosafat dapat dibaca sebagai kesaksian bahwa persatuan dan keberagaman tidak selalu bertentangan. Tradisi, bahasa, musik liturgis, disiplin gerejawi, dan spiritualitas dapat berbeda, sementara iman kepada Kristus tetap menjadi dasar persekutuan.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 12 November 2026 Lukas 17:20-25

Tantangan besar yang dihadapinya

Persoalannya, gagasan seperti itu tidak mudah diterima dalam suasana konflik pada awal abad ke-17. Sebagian orang menganggap persatuan dengan Roma sebagai ancaman terhadap identitas Timur. Sebaliknya, terdapat pula tekanan untuk membawa tradisi Timur semakin dekat kepada bentuk-bentuk Latin.

Yosafat harus bergerak di antara berbagai ketegangan tersebut. Ia berusaha mempertahankan kesatuan dengan Roma sekaligus menjaga warisan Bizantium. Tugas ini semakin sulit karena persoalan agama bercampur dengan kepentingan politik dan sosial.

Oleh sebab itu, sejarah Santo Yosafat sebaiknya tidak disederhanakan menjadi cerita tentang dua kelompok yang sepenuhnya hitam dan putih. Masa tersebut merupakan periode konflik gerejawi yang kompleks. Ketegangan yang terjadi melibatkan keyakinan teologis, identitas masyarakat, kewenangan gerejawi, dan keadaan politik.

Namun dalam konteks itulah Yosafat mengambil keputusan yang jelas: ia akan melayani Gereja sesuai keyakinannya dan bekerja bagi persatuan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik 12 November 2026

Menjadi Uskup dan Gembala Umat

Pada 1617, Yosafat menerima tahbisan episkopal. Setahun kemudian ia menjadi Arkiepark atau Uskup Agung Polotsk, jabatan penting dalam struktur Gereja Katolik Timur.

Sebagai seorang uskup, ia tidak sekadar menjalankan fungsi administratif. Ia melihat jabatan tersebut sebagai panggilan menjadi gembala. Ia berusaha memperbaiki kehidupan rohani umat, membina para imam, memperkuat kehidupan monastik, dan menegakkan disiplin gerejawi.

Tugasnya tentu tidak mudah. Wilayah pelayanannya berada di tengah konflik mengenai persatuan Gereja. Setiap tindakan seorang uskup dapat ditafsirkan secara politik maupun keagamaan.

Meskipun demikian, Yosafat terus bekerja. Ia percaya bahwa seorang gembala tidak boleh meninggalkan umat ketika keadaan menjadi sulit. Justru ketika kawanan berada dalam bahaya, seorang gembala harus semakin dekat dengan mereka.

Kesatuan sebagai panggilan rohani

Bagi Santo Yosafat, kesatuan bukan sekadar persoalan organisasi gerejawi. Kesatuan berakar pada kehendak Kristus sendiri. Karena itu ia rela memberikan tenaga, waktu, reputasi, bahkan akhirnya kehidupannya untuk apa yang diyakininya sebagai pelayanan terhadap persatuan Gereja.

Paus Pius XI kemudian mengenang perjuangan tersebut dalam ensiklik Ecclesiam Dei, yang diterbitkan pada 12 November 1923 dalam rangka tiga abad kemartiran Santo Yosafat. Dokumen itu mengenangnya secara khusus sebagai pembela persatuan Gereja.

Warisan Yosafat karena itu melampaui zamannya. Namanya kemudian menjadi simbol kerinduan akan kesatuan umat Kristiani, meskipun cara memahami dan mengejar kesatuan pada zaman sekarang berkembang melalui dialog ekumenis yang semakin menekankan perjumpaan, penghormatan, pertobatan bersama, dan dialog teologis.

Konflik di Polotsk Semakin Memanas

Situasi menjadi semakin sulit sekitar tahun 1620 ketika hierarki Ortodoks tandingan dibentuk di wilayah Polotsk. Persaingan kewenangan gerejawi kemudian memperuncing ketegangan yang sebelumnya sudah ada.

Berbagai tuduhan beredar terhadap Yosafat. Salah satunya adalah kekhawatiran bahwa ia akan menghapus tradisi Bizantium dan menggantinya dengan tradisi Latin. Sumber Vatikan justru mencatat bahwa Yosafat sendiri menghargai tradisi Bizantium dan berusaha menjaganya.

Namun ketika masyarakat telah terpecah dalam kelompok-kelompok yang saling mencurigai, fakta mudah dikalahkan oleh rumor. Yosafat menyadari bahwa situasi semakin berbahaya.

Ia mengetahui bahwa hidupnya terancam. Meskipun demikian, ia tidak meninggalkan tugasnya.

Di sinilah sosok Yosafat sebagai gembala terlihat dengan sangat kuat. Keberanian seorang martir bukan berarti ia tidak mengetahui adanya bahaya. Keberanian justru berarti mengetahui bahaya itu tetapi tetap memilih setia kepada tugas yang dipercayakan Allah.

Kemartiran Santo Yosafat Kunzewich

Pada musim gugur 1623, konflik mencapai puncaknya. Ketika berada di Vitebsk, terjadi pertentangan yang kemudian memicu berkumpulnya massa di sekitar kediamannya. Kekerasan pecah, dan Yosafat diserang serta dibunuh pada 12 November 1623. Vatican News mencatat bahwa kematiannya terjadi dalam konteks konflik mengenai persatuan Gereja yang selama bertahun-tahun menjadi pusat pelayanannya.

Ia meninggal sebagai seorang uskup yang tidak meninggalkan umatnya meskipun mengetahui ancaman terhadap dirinya. Karena itu Gereja menghormatinya sebagai martir.

Namun penting untuk memahami kemartirannya secara Kristiani. Mengenang seorang martir bukan berarti memelihara kebencian terhadap mereka yang membunuhnya. Darah martir seharusnya menjadi panggilan menuju pertobatan, pengampunan, dan rekonsiliasi.

Kematian Yosafat bahkan membawa perubahan dalam kehidupan sejumlah orang yang sebelumnya menentangnya. Vatican News mencatat bahwa rivalnya dalam hierarki Ortodoks pada akhirnya berdamai dengan Gereja Katolik.

Dengan demikian, kematian yang dimaksudkan untuk membungkam kesaksiannya justru membuat namanya semakin dikenal.

Beatifikasi dan Kanonisasi Santo Yosafat

Penghormatan kepada Yosafat berkembang setelah kematiannya. Ia dibeatifikasi pada 1643, dua puluh tahun setelah kemartirannya. Kemudian pada 1867, Paus Pius IX menetapkannya sebagai santo. Sumber Vatikan menyebutnya sebagai tokoh pertama dari Gereja Timur dalam persekutuan dengan Roma yang dikanonisasi di Roma.

Catatan mengenai tahun kanonisasinya kadang muncul berbeda dalam sumber populer modern; sejumlah laporan Vatikan tahun 2023 menyebut 1877, sementara halaman biografi Vatican News dan materi Vatikan lainnya menyebut 1867. Karena itu, untuk penulisan biografi ini digunakan tahun 1867 sebagaimana tercantum dalam biografi khusus Santo Yosafat dari Vatican News.

Relikui Santo Yosafat pada akhirnya ditempatkan di Basilika Santo Petrus di Vatikan, di bawah altar Santo Basilius Agung. Pada 2023, tepat empat abad sesudah kemartirannya, Gereja Katolik Ukraina kembali memperingati warisannya melalui Liturgi Ilahi di Basilika Santo Petrus.

Mengapa Santo Yosafat Disebut Martir Persatuan?

Gelar tidak resmi “martir persatuan” sangat erat dengan kehidupan Santo Yosafat. Seluruh pelayanan episkopalnya berlangsung dalam usaha mempertahankan persekutuan Gereja yang ia yakini benar.

Tetapi makna persatuan yang dapat dipetik dari kehidupannya tidak boleh dipersempit menjadi kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Dalam perspektif Kristiani masa kini, persatuan harus diarahkan kepada Kristus. Persatuan menuntut kebenaran sekaligus kasih, keteguhan sekaligus kerendahan hati.

Pengalaman sejarah bahkan mengajarkan bahwa usaha mencapai kesatuan dapat gagal ketika manusia membiarkan kepentingan politik, nasionalisme, ketakutan, atau permusuhan menguasai kehidupan Gereja.

Karena itu, mengenang Santo Yosafat pada zaman sekarang seharusnya semakin mendorong umat Katolik untuk berdoa bagi persatuan umat Kristiani dan membangun hubungan yang penuh penghormatan dengan saudara-saudari dari tradisi Kristen lainnya.

Spiritualitas Santo Yosafat Kunzewich

1. Kesetiaan kepada Kristus

Dasar kehidupan Yosafat adalah kesetiaan kepada Kristus. Ia meninggalkan kesempatan menjalani kehidupan duniawi yang nyaman dan memilih kehidupan monastik. Kemudian, ketika tanggung jawabnya semakin besar, ia tidak menarik diri dari pelayanan.

Kesetiaan seperti ini tetap relevan bagi umat beriman sekarang. Tidak semua orang dipanggil menjadi biarawan, imam, uskup, atau martir. Namun setiap orang dipanggil untuk setia kepada Kristus dalam keluarga, pekerjaan, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.

2. Mencintai Gereja tanpa membenci orang lain

Kehidupan Yosafat mengingatkan bahwa cinta kepada Gereja tidak seharusnya berubah menjadi kebencian kepada mereka yang berbeda. Sejarah konflik pada zamannya justru memperlihatkan betapa berbahayanya ketika perbedaan iman berubah menjadi permusuhan.

Umat Katolik dapat memiliki keyakinan yang teguh sekaligus memperlakukan orang lain dengan hormat. Keteguhan iman dan kasih bukan dua hal yang bertentangan.

3. Kesatuan tidak sama dengan keseragaman

Santo Yosafat hidup dalam tradisi Bizantium dan tetap berada dalam persekutuan dengan Roma. Fakta ini memberikan pelajaran penting mengenai kekayaan Gereja Katolik.

Gereja bukan komunitas yang harus memiliki satu bentuk ekspresi budaya. Dalam Gereja terdapat tradisi Latin dan berbagai tradisi Katolik Timur. Kekayaan tersebut menunjukkan bahwa kesatuan iman dapat hidup berdampingan dengan keragaman liturgi dan spiritualitas.

4. Menjadi pembawa damai di tengah konflik

Dunia modern masih penuh perpecahan. Konflik dapat muncul di dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan komunitas keagamaan. Media sosial juga membuat perselisihan mudah berubah menjadi penghinaan.

Teladan Santo Yosafat mengajak umat bertanya: apakah kehadiran kita memperbesar konflik atau justru membuka jalan menuju rekonsiliasi?

Menjadi pembawa damai bukan berarti mengabaikan kebenaran. Sebaliknya, orang Kristen dipanggil menyampaikan kebenaran dengan kasih sehingga martabat orang lain tetap dihormati.

Refleksi: “Supaya Mereka Semua Menjadi Satu”

Doa Yesus dalam Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu,” memperoleh gema khusus ketika kita mengenang Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir. Ia hidup pada zaman ketika perpecahan di antara umat Kristiani terasa sangat nyata. Kesatuan bukan gagasan abstrak baginya, tetapi persoalan yang menyentuh seluruh kehidupannya.

Kita mungkin tidak menghadapi konflik gerejawi seperti yang dialaminya, tetapi bentuk-bentuk perpecahan tetap hadir. Ada keluarga yang retak karena kesalahpahaman, komunitas yang terpecah karena persaingan, persahabatan yang berakhir karena perbedaan pendapat, serta hubungan sosial yang rusak karena manusia lebih ingin memenangkan perdebatan daripada mendengarkan.

Kesatuan Kristen dimulai dari hal-hal sederhana. Kita dapat belajar mendengarkan sebelum menjawab, memahami sebelum menghakimi, meminta maaf ketika bersalah, dan mengampuni ketika disakiti. Kita dapat menolak menyebarkan fitnah dan informasi yang belum jelas kebenarannya. Kita juga dapat berdoa bagi orang yang berbeda pandangan dengan kita.

Dengan demikian, mengenang Santo Yosafat bukan sekadar mengenang konflik yang terjadi empat abad lalu. Peringatan liturgisnya menjadi kesempatan memeriksa hati sendiri: apakah kita sungguh menjadi alat persatuan atau justru ikut menciptakan perpecahan?

Teladan Santo Yosafat bagi Kehidupan Sehari-hari

Semangat Santo Yosafat dapat diwujudkan melalui tindakan konkret. Ketika terjadi perselisihan, jangan buru-buru membalas dengan kemarahan. Ketika mendengar rumor tentang seseorang, jangan langsung menyebarkannya. Ketika berhadapan dengan orang berbeda keyakinan atau tradisi, jangan menjadikannya alasan untuk merendahkan mereka. Dan ketika melihat hubungan yang rusak, berusahalah menjadi jembatan perdamaian sejauh memungkinkan.

Kita juga dapat mendoakan persatuan umat Kristiani. Doa semacam ini bukan tambahan yang tidak penting. Yesus sendiri berdoa bagi kesatuan murid-murid-Nya. Maka kerinduan terhadap persatuan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan doa setiap orang Kristen.

Santo Yosafat menunjukkan bahwa kesatuan mempunyai harga. Terkadang seseorang harus mengalahkan ego, meninggalkan keinginan untuk selalu dianggap benar, atau mengambil langkah pertama menuju rekonsiliasi. Pengorbanan seperti itu mungkin tidak dramatis, tetapi justru di situlah semangat persatuan menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Warisan Santo Yosafat bagi Gereja Masa Kini

Lebih dari empat abad telah berlalu sejak kemartiran Santo Yosafat pada 1623, tetapi persoalan persatuan umat Kristiani belum kehilangan relevansinya. Gereja terus berdoa dan berdialog untuk memperdalam hubungan antara umat Katolik, Ortodoks, dan komunitas Kristen lainnya.

Pada 1995, Santo Yohanes Paulus II menerbitkan surat apostolik memperingati empat abad Persatuan Brest tepat pada 12 November, peringatan Santo Yosafat, sambil menekankan kembali panggilan menuju kesatuan umat Kristiani.

Warisan Santo Yosafat mengingatkan bahwa perjalanan menuju kesatuan membutuhkan kesabaran. Luka sejarah tidak dapat disembuhkan dengan cepat. Diperlukan dialog, doa, pengampunan, penelitian sejarah yang jujur, dan terutama pertobatan hati.

Karena itu, cara terbaik menghormati Santo Yosafat bukanlah menghidupkan kembali pertentangan masa lalu. Sebaliknya, umat beriman dapat menghormatinya dengan meneruskan kerinduan akan persatuan melalui cara-cara yang sesuai dengan semangat Injil: kebenaran, kasih, dialog, dan perdamaian.

Doa melalui Perantaraan Santo Yosafat

Allah Bapa yang Mahakasih, Engkau telah menguatkan Santo Yosafat, uskup dan martir, untuk menyerahkan hidupnya dalam pelayanan kepada Gereja dan dalam kerinduan akan persatuan umat-Mu.

Anugerahkanlah kepada kami hati yang setia kepada Kristus, teguh dalam iman, namun tetap rendah hati dan penuh kasih terhadap sesama. Jauhkanlah kami dari kebencian, prasangka, kesombongan, dan segala sikap yang menimbulkan perpecahan.

Ajarlah kami menjadi pembawa damai di tengah keluarga, Gereja, masyarakat, dan dunia. Semoga melalui teladan dan doa Santo Yosafat, kami semakin mampu mengusahakan persatuan yang berakar dalam kebenaran dan kasih.

Santo Yosafat, doakanlah kami agar tetap setia kepada Kristus dan menjadi alat perdamaian-Nya.

Amin.

Penutup

Santo Yosafat Kunzewich adalah seorang biarawan Basilian, uskup, dan martir yang menyerahkan hidupnya bagi pelayanan Gereja pada masa penuh konflik. Lahir sekitar tahun 1580, memasuki kehidupan monastik pada 1604, ditahbiskan menjadi imam pada 1609, kemudian menjadi uskup dan akhirnya Arkiepark Polotsk, ia mengabdikan pelayanannya bagi pembaruan kehidupan umat serta persatuan Gereja sambil mempertahankan warisan Bizantium. Ia dibunuh di Vitebsk pada 12 November 1623 dan kemudian dihormati Gereja sebagai martir.

Empat abad sesudah kematiannya, kesaksiannya tetap mengajukan pertanyaan kepada setiap orang beriman: apakah kita menjadi pembangun jembatan atau pembangun tembok? Santo Yosafat mengingatkan bahwa iman kepada Kristus seharusnya membawa manusia semakin dekat kepada kebenaran, tetapi juga semakin mampu mengasihi. Kesatuan tidak lahir dari paksaan, melainkan dari hati yang bertobat dan bersedia menempatkan Kristus di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Pada 12 November, ketika Gereja memperingati Santo Yosafat, marilah kita memohon agar Allah memberikan keberanian untuk setia kepada iman sekaligus kerendahan hati untuk menjadi pembawa perdamaian. Semoga teladan Santo Yosafat menolong kita menjadikan doa Kristus sebagai tugas kehidupan sehari-hari: supaya mereka semua menjadi satu.


Demikianlah Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir 12 November, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url