Nama Tersuci Maria, Ibu Yesus – 12 September

Bunda Maria dalam peringatan Nama Tersuci Maria 12 September

Nama Tersuci Maria, Ibu Yesus – Peringatan 12 September

Setiap tanggal 12 September, Gereja Katolik memperingati Nama Tersuci Maria, Bunda Allah dan Ibu Yesus Kristus. Peringatan ini mengajak umat beriman untuk menghormati nama Maria, seorang perempuan yang dipilih Allah untuk mengambil bagian secara istimewa dalam misteri keselamatan dengan menjadi Bunda Sang Juruselamat.

Nama Maria tidak dapat dipisahkan dari Yesus Kristus. Dalam Injil, Maria tampil sebagai seorang hamba Tuhan yang dengan rendah hati menerima kehendak Allah. Melalui jawaban imannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” Maria menyerahkan dirinya kepada rencana Allah.

Karena itu, Peringatan Nama Tersuci Maria 12 September bukan sekadar penghormatan kepada sebuah nama. Perayaan ini mengarahkan umat kepada misteri Kristus dan mengingatkan kita akan iman, ketaatan, kerendahan hati, serta kasih seorang ibu yang mengikuti Putranya dengan setia.

Bagi umat Katolik, menyebut nama Maria dengan penuh iman juga mengingatkan pada seorang Bunda yang senantiasa membawa umat kepada Kristus. Penghormatan kepada Maria tidak menggantikan penyembahan kepada Allah. Sebaliknya, penghormatan yang benar kepada Bunda Maria selalu berpusat pada Kristus dan mengantar umat semakin dekat kepada-Nya.

Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman

Peringatan Nama Tersuci Maria pada 12 September

Peringatan Nama Tersuci Maria dirayakan Gereja Katolik setiap tanggal 12 September.

Dalam kehidupan manusia, nama mempunyai arti yang penting. Nama bukan hanya alat untuk membedakan seseorang dari orang lain. Nama berhubungan dengan pribadi, identitas, panggilan, dan kenangan tentang seseorang.

Demikian pula ketika Gereja menghormati Nama Tersuci Maria. Gereja tidak memperlakukan nama Maria sebagai suatu mantra atau kekuatan magis. Yang dihormati adalah pribadi Maria sendiri dan karya rahmat Allah yang dinyatakan dalam hidupnya.

Ketika umat beriman menyebut nama Maria dengan hormat, mereka mengenang perempuan Nazaret yang berkata “ya” kepada Allah, mengandung Yesus Kristus, melahirkan-Nya, merawat-Nya, mengikuti perjalanan hidup-Nya, berdiri dekat salib-Nya, dan hadir bersama para murid dalam kehidupan Gereja perdana.

Oleh sebab itu, Nama Tersuci Maria memiliki makna yang sangat mendalam dalam spiritualitas Katolik.

Baca juga: Renungan Harian Katolik 12 September 2026 Membangun Hidup di Atas Batu

Mengapa Nama Maria Disebut Tersuci?

Sebutan “tersuci” tidak berarti Maria adalah sumber kekudusan dari dirinya sendiri. Dalam iman Katolik, Allah adalah sumber segala kekudusan.

Maria disebut kudus karena Allah mengaruniakan rahmat kepadanya dan memilihnya untuk suatu panggilan yang unik dalam sejarah keselamatan. Seluruh keistimewaan Maria berasal dari rahmat Allah dan berhubungan dengan misinya sebagai Bunda Yesus Kristus.

Malaikat Gabriel menyapa Maria:

“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Sapaan ini menunjukkan bahwa kehidupan Maria berada dalam karya rahmat Allah.

Karena itu, ketika Gereja menghormati kekudusan Maria, Gereja pada akhirnya memuliakan Allah yang telah melakukan karya besar dalam dirinya.

Maria sendiri menyatakan hal itu dalam Kidung Magnificat:

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”

Maria tidak mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri. Ia mengarahkan pujian kepada Allah.

Inilah salah satu kunci untuk memahami penghormatan Katolik kepada Bunda Maria.

Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik

Siapakah Maria, Ibu Yesus?

Maria adalah seorang perempuan Yahudi dari Nazaret yang dipilih Allah menjadi Ibu Yesus Kristus.

Perannya menjadi sangat penting ketika malaikat Gabriel datang kepadanya dan menyampaikan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang Putra yang harus diberi nama Yesus.

Maria bertanya bagaimana hal itu akan terjadi. Setelah menerima penjelasan mengenai karya Roh Kudus, ia menjawab dengan iman:

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Jawaban sederhana tersebut menjadi salah satu ungkapan iman paling indah dalam Kitab Suci.

Maria menerima kehendak Allah sekalipun ia belum mengetahui secara lengkap perjalanan yang akan dihadapinya.

Baca juga: Santo Yohanes Gabriel Perboyre, Martir 11 September

Maria Adalah Bunda Allah

Gereja Katolik menyebut Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos), bukan karena Maria lebih dahulu daripada Allah atau menjadi sumber keilahian Yesus.

Gelar tersebut berhubungan dengan identitas Yesus Kristus.

Yesus yang dilahirkan Maria adalah satu Pribadi ilahi, Putra Allah, yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena Maria melahirkan Yesus Kristus sebagai satu Pribadi, Gereja dengan tepat menyebutnya Bunda Allah.

Kebenaran iman ini ditegaskan secara penting dalam Konsili Efesus pada tahun 431.

Dengan demikian, gelar Bunda Allah terutama melindungi kebenaran iman mengenai siapa Yesus Kristus.

Ketika Gereja menghormati Maria sebagai Bunda Allah, Gereja sedang mengakui bahwa Putra yang dikandung dan dilahirkan Maria adalah sungguh Putra Allah yang menjadi manusia.

Baca juga: Santo Yohanes Krisostomus – Santo 13 September

Maria Selalu Membawa Kita kepada Yesus

Salah satu gambaran paling jelas mengenai peran Maria terdapat dalam kisah perkawinan di Kana.

Ketika anggur habis, Maria menyampaikan keadaan itu kepada Yesus. Kemudian Maria berkata kepada para pelayan:

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Kalimat tersebut dapat menjadi ringkasan sederhana spiritualitas Maria.

Maria tidak berkata, “Datanglah kepadaku dan berhentilah padaku.”

Sebaliknya, ia mengarahkan manusia kepada Yesus:

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Devosi Katolik kepada Maria yang sehat selalu memiliki arah yang sama: membawa umat kepada Kristus, mendengarkan sabda-Nya, dan melaksanakan kehendak-Nya.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Sabtu, 12 September 2026 Lukas 6:43-49

Sejarah Peringatan Nama Tersuci Maria

Devosi kepada nama Maria berkembang selama berabad-abad dalam kehidupan Gereja. Peringatan liturgis Nama Tersuci Maria memiliki sejarah yang berkembang secara bertahap dan kemudian memperoleh tempat dalam kalender Gereja universal.

Perayaan liturgis yang menghormati nama Maria dikenal berkembang di Spanyol sebelum kemudian menyebar lebih luas.

Tanggal 12 September kemudian mendapat makna historis khusus dalam tradisi Gereja Barat berkaitan dengan kemenangan pasukan Kristen dalam Pertempuran Wina pada tahun 1683.

Pertempuran Wina Tahun 1683

Pada tahun 1683, Wina menghadapi pengepungan oleh pasukan Kesultanan Utsmaniyah. Situasi tersebut dipandang sangat menentukan bagi Eropa pada masa itu.

Pasukan bantuan yang dipimpin Raja Polandia Jan III Sobieski, bersama kekuatan sekutu lainnya, datang untuk menghadapi pasukan Utsmaniyah. Pertempuran besar berlangsung pada 12 September 1683 dan berakhir dengan kemenangan pasukan pembebas Wina.

Dalam tradisi Katolik, kemenangan tersebut dikaitkan dengan doa dan permohonan pertolongan Allah melalui perantaraan Bunda Maria.

Paus Inosensius XI kemudian memperluas perayaan Nama Tersuci Maria dalam Gereja sebagai ungkapan syukur.

Penting untuk memahami hal ini secara tepat: umat Katolik tidak menganggap Maria sebagai sumber kemenangan yang berdiri terpisah dari Allah. Segala pertolongan dan kemenangan pada akhirnya berasal dari Allah. Maria dihormati sebagai Bunda Kristus yang doanya dimohon oleh umat beriman.

Perkembangan dalam Kalender Liturgi

Dalam perjalanan sejarah, kedudukan perayaan Nama Tersuci Maria dalam kalender liturgi mengalami perubahan.

Setelah reformasi kalender liturgi sesudah Konsili Vatikan II, peringatan ini sempat tidak tercantum dalam Kalender Romawi Umum. Kemudian, pada masa Paus Santo Yohanes Paulus II, Nama Tersuci Maria kembali dimasukkan dalam Kalender Romawi Umum sebagai peringatan fakultatif pada tanggal 12 September.

Dengan demikian, perayaan ini tetap hidup sebagai bagian dari warisan devosi dan liturgi Gereja Katolik.

Makna Nama Maria dalam Tradisi Kristiani

Asal-usul dan arti etimologis nama Maria, yang berhubungan dengan nama Ibrani Miryam, telah menjadi bahan pembahasan para ahli selama berabad-abad. Ada beberapa penafsiran mengenai arti nama tersebut, sehingga sebaiknya tidak menyatakan satu arti populer tertentu sebagai satu-satunya arti historis yang pasti.

Namun bagi tradisi Kristiani, makna rohani nama Maria terutama berasal dari pribadi yang menyandangnya.

Nama itu mengingatkan umat kepada:

  • Bunda Yesus Kristus,
  • hamba Tuhan yang taat,
  • perempuan beriman,
  • Bunda yang berdiri dekat salib,
  • murid Kristus yang setia,
  • dan Bunda yang dihormati dalam persekutuan Gereja.

Karena itulah nama Maria memiliki tempat istimewa dalam doa dan devosi Katolik.

Nama Yesus dan Nama Maria

Penghormatan kepada Nama Tersuci Maria harus selalu ditempatkan dalam hubungan yang benar dengan Yesus Kristus.

Dalam iman Katolik, Nama Yesus memiliki kedudukan yang unik.

Kitab Suci mengajarkan:

“Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia.”

Keselamatan datang melalui Yesus Kristus.

Maria bukan Juruselamat. Maria adalah seorang manusia yang diselamatkan oleh rahmat Allah secara istimewa dan dipilih menjadi Bunda Sang Juruselamat.

Karena itu, devosi kepada Nama Maria tidak pernah boleh menggantikan iman kepada Kristus.

Justru nama Maria menjadi berharga karena hubungannya dengan Yesus.

Kita menghormati Maria karena Allah lebih dahulu memilih dan mengaruniakan rahmat kepadanya.

Kita mencintai Maria karena ia adalah Bunda Kristus.

Kita meneladani Maria karena ia menunjukkan bagaimana seorang manusia menjawab panggilan Allah dengan iman.

Maria sebagai Teladan Ketaatan kepada Allah

Salah satu keutamaan terbesar Maria adalah ketaatannya.

Ketika menerima kabar dari malaikat Gabriel, Maria tidak mengetahui seluruh konsekuensi dari jawaban yang akan diberikannya. Namun ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan.

“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Ketaatan Maria bukanlah sikap pasif. Ketaatan tersebut merupakan tindakan iman yang bebas dan berani.

Ia mempercayakan masa depannya kepada Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menginginkan kepastian sebelum bersedia mengikuti kehendak Tuhan. Kita ingin mengetahui hasilnya. Kita ingin memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita.

Maria menunjukkan jalan berbeda.

Iman berarti berani berkata kepada Tuhan:

“Aku percaya kepada-Mu, sekalipun aku belum memahami semuanya.”

Maria sebagai Teladan Kerendahan Hati

Maria juga memberikan teladan luar biasa mengenai kerendahan hati.

Setelah menerima kabar bahwa dirinya akan menjadi ibu Sang Mesias, ia tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia pergi mengunjungi Elisabet dan melayaninya.

Ketika Elisabet memujinya, Maria menjawab dengan Magnificat:

“Jiwaku memuliakan Tuhan.”

Maria mengembalikan segala kemuliaan kepada Allah.

Kerendahan hati Kristiani bukan berarti menganggap diri tidak berharga. Kerendahan hati berarti menyadari bahwa segala sesuatu yang baik merupakan rahmat dan bahwa hidup kita harus diarahkan kepada kemuliaan Allah.

Inilah yang tampak dalam kehidupan Maria.

Maria yang Setia di Bawah Salib

Kesetiaan Maria tidak berhenti pada sukacita Natal.

Ia juga hadir dalam penderitaan Putranya.

Injil Yohanes menggambarkan Maria berdiri dekat salib Yesus. Ia menyaksikan Putranya mengalami penderitaan dan kematian.

Di sana kita melihat dimensi lain dari iman Maria.

Iman bukan hanya memuji Tuhan ketika hidup berjalan baik. Iman juga berarti tetap berdiri bersama Tuhan ketika kita menghadapi penderitaan yang tidak dapat kita pahami.

Maria tidak meninggalkan Yesus ketika jalan menuju Golgota menjadi berat.

Ia tetap setia.

Karena itu, banyak umat Katolik secara spontan memohon doa Bunda Maria ketika menghadapi kesedihan, kehilangan, kecemasan, dan penderitaan.

Mereka melihat dalam dirinya seorang Bunda yang mengenal arti kesetiaan di tengah penderitaan.

Mengapa Umat Katolik Memohon Doa Bunda Maria?

Salah satu hal yang terkadang disalahpahami mengenai devosi Katolik adalah ungkapan seperti:

“Bunda Maria, doakanlah kami.”

Umat Katolik tidak menyembah Maria.

Penyembahan hanya diberikan kepada Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Ketika umat meminta Maria mendoakan mereka, prinsip dasarnya serupa dengan ketika seorang umat meminta sesama orang Kristen:

“Doakan saya.”

Perbedaannya adalah Gereja percaya akan persekutuan para kudus. Mereka yang telah hidup dalam persatuan dengan Kristus tidak terputus dari Tubuh Kristus.

Karena itu, umat dapat memohon doa para kudus, terutama Bunda Maria, sambil tetap memahami bahwa Allah adalah sumber rahmat dan satu-satunya tujuan penyembahan.

Dalam doa Salam Maria, hal ini sangat jelas:

“Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.”

Umat tidak meminta Maria menggantikan Allah.

Umat meminta:

“Doakanlah kami.”

Devosi kepada Nama Tersuci Maria

Peringatan Nama Tersuci Maria 12 September dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui devosi kepada Bunda Tuhan secara sehat dan Kristosentris.

1. Mendaraskan Doa Salam Maria

Doa Salam Maria merupakan salah satu doa yang paling dikenal dalam tradisi Katolik.

Bagian awalnya bersumber dari sapaan malaikat Gabriel dan perkataan Elisabet dalam Injil Lukas. Dalam bagian berikutnya, Gereja memohon kepada Maria agar mendoakan umat.

Mendaraskan Salam Maria dengan perlahan dapat membantu kita merenungkan misteri Inkarnasi: Allah Putra menjadi manusia dalam rahim Maria.

2. Mendoakan Rosario

Rosario merupakan doa yang sangat erat dengan devosi kepada Maria, tetapi pusat permenungannya adalah misteri kehidupan Yesus Kristus.

Melalui peristiwa Gembira, Terang, Sedih, dan Mulia, umat merenungkan kehidupan, karya, sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus bersama Maria.

Karena itu, Rosario pada hakikatnya memiliki orientasi Kristologis.

Pada peringatan Nama Tersuci Maria, keluarga Katolik dapat menyediakan waktu untuk berdoa Rosario bersama.

3. Meneladani Fiat Maria

Devosi tidak cukup berhenti pada doa.

Penghormatan terbaik kepada Maria adalah meneladani imannya.

Kita dapat bertanya:

Apakah saya sungguh bersedia melakukan kehendak Tuhan?

Kita mungkin rajin mengucapkan Salam Maria, tetapi jika kita tidak mau mengampuni, tidak mau mengasihi sesama, tidak mau meninggalkan dosa, dan tidak mau menaati firman Tuhan, maka devosi kita belum menghasilkan buah yang semestinya.

Maria mengajarkan bahwa iman harus menjadi kehidupan.

4. Membaca Kitab Suci tentang Maria

Pada tanggal 12 September, kita juga dapat membaca kembali beberapa bagian Kitab Suci yang berhubungan dengan Maria, misalnya:

  • Lukas 1:26–38 – Kabar Sukacita kepada Maria
  • Lukas 1:39–56 – Maria mengunjungi Elisabet dan Magnificat
  • Lukas 2:1–20 – Kelahiran Yesus
  • Lukas 2:22–35 – Yesus dipersembahkan di Bait Allah
  • Yohanes 2:1–11 – Perkawinan di Kana
  • Yohanes 19:25–27 – Maria di dekat salib Yesus
  • Kisah Para Rasul 1:14 – Maria bersama para rasul dalam doa

Dengan membaca Kitab Suci, devosi kepada Maria semakin berakar pada Sabda Allah.

Makna Nama Tersuci Maria bagi Keluarga Katolik

Peringatan ini juga memiliki pesan penting bagi keluarga.

Maria menjalani sebagian besar hidupnya bukan di tempat yang megah, tetapi dalam kehidupan keluarga yang sederhana.

Bersama Santo Yusuf, ia merawat Yesus.

Keluarga Katolik dapat melihat Keluarga Kudus sebagai teladan bahwa kekudusan dapat tumbuh melalui kehidupan sehari-hari: bekerja, mengasihi, mengampuni, mendidik anak, berdoa, menghadapi kesulitan, dan saling melayani.

Nama Maria mengingatkan para ibu akan panggilan untuk mencintai dengan ketulusan.

Nama Maria mengingatkan para ayah dan seluruh anggota keluarga untuk membangun rumah yang berpusat pada Kristus.

Dan bagi anak-anak, Maria menjadi teladan untuk mendengarkan Tuhan dan menghormati orang lain.

Renungan Nama Tersuci Maria: Apakah Nama Kita Membawa Kebaikan?

Peringatan Nama Tersuci Maria juga mengundang kita untuk memikirkan nama kita sendiri.

Ketika orang mendengar nama kita, apakah mereka mengingat kebaikan?

Apakah nama kita dikenal karena kejujuran atau kebohongan?

Karena kemurahan hati atau keegoisan?

Karena membawa damai atau menciptakan pertengkaran?

Maria tidak menjadi mulia karena mengejar ketenaran. Namanya dikenang karena ia membiarkan Allah bekerja melalui hidupnya.

Hal yang sama berlaku bagi kita.

Kita mungkin tidak pernah dikenal oleh banyak orang. Nama kita mungkin tidak pernah tercatat dalam buku sejarah.

Namun kita dapat meninggalkan nama yang baik di hadapan keluarga, sahabat, masyarakat, dan terutama di hadapan Allah.

Caranya bukan dengan mengejar popularitas, melainkan dengan hidup dalam kasih.

Belajar Mengatakan “Ya” kepada Tuhan

Setiap hari kita menghadapi “Nazaret” kita sendiri—tempat di mana Tuhan meminta jawaban.

Mungkin Tuhan meminta kita mengampuni seseorang.

Mungkin kita dipanggil untuk meninggalkan kebiasaan dosa.

Mungkin ada orang yang membutuhkan pertolongan.

Mungkin kita harus berani mempertahankan kejujuran meskipun merugikan diri sendiri.

Mungkin kita harus tetap percaya ketika doa belum memperoleh jawaban yang kita harapkan.

Dalam keadaan seperti itu, kita dapat belajar dari Maria:

“Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Membawa Yesus kepada Sesama

Setelah menerima Yesus dalam rahimnya, Maria segera pergi mengunjungi Elisabet.

Secara rohani, tindakan ini memberikan pesan yang indah.

Orang yang menerima Kristus dipanggil untuk membawa Kristus kepada orang lain.

Kita membawa Kristus bukan terutama melalui banyak kata, tetapi melalui kasih, kesabaran, kejujuran, pengampunan, perhatian kepada orang miskin, dan kesediaan melayani.

Maria membawa Yesus kepada Elisabet.

Kita pun dipanggil membawa kehadiran Kristus kepada keluarga, lingkungan kerja, komunitas, dan siapa saja yang kita jumpai.

Pesan Rohani Peringatan Nama Tersuci Maria

Peringatan Nama Tersuci Maria, Ibu Yesus, 12 September memberikan beberapa pesan penting bagi kehidupan iman.

Pertama, belajarlah mempercayai Allah seperti Maria.

Kedua, jadilah rendah hati dan arahkan segala keberhasilan kepada kemuliaan Tuhan.

Ketiga, tetaplah setia kepada Kristus, bukan hanya ketika hidup penuh sukacita tetapi juga ketika harus berdiri di bawah “salib”.

Keempat, jadikan doa sebagai bagian dari kehidupan.

Kelima, bawalah Kristus kepada sesama melalui tindakan kasih.

Dan akhirnya, ingatlah bahwa devosi kepada Maria harus selalu membawa kita semakin dekat kepada Yesus.

Maria tidak mengambil tempat Kristus.

Maria berkata kepada kita sebagaimana ia berkata kepada para pelayan di Kana:

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Doa pada Peringatan Nama Tersuci Maria

Ya Allah Bapa yang Mahakasih,
kami bersyukur kepada-Mu atas karya keselamatan-Mu
yang Engkau nyatakan melalui Yesus Kristus, Putra-Mu.

Kami bersyukur karena Engkau memilih Santa Perawan Maria
menjadi Bunda Putra-Mu yang menjadi manusia.

Pada peringatan Nama Tersuci Maria ini,
ajarilah kami meneladani iman,
kerendahan hati, ketaatan, dan kesetiaannya.

Ketika kami sulit memahami kehendak-Mu,
berilah kami keberanian untuk percaya.

Ketika kesombongan menguasai hati kami,
ajarilah kami berkata bersama Maria,
“Jiwaku memuliakan Tuhan.”

Ketika kami menghadapi penderitaan,
teguhkanlah kami agar tetap berdiri bersama Kristus
sebagaimana Maria setia di dekat salib Putranya.

Santa Maria, Bunda Allah,
doakanlah kami kepada Putramu, Yesus Kristus,
agar kami semakin setia mendengarkan sabda-Nya
dan melaksanakan kehendak-Nya.

Semoga seluruh kehidupan kami
menjadi pujian bagi Allah
dan membawa kasih Kristus kepada sesama.

Demi Kristus, Tuhan kami.

Amin.

Penutup

Nama Tersuci Maria yang diperingati setiap 12 September mengajak umat Katolik untuk mengenang dengan penuh kasih perempuan yang dipilih Allah menjadi Ibu Yesus Kristus dan Bunda Allah.

Kehormatan Maria tidak pernah terpisah dari Kristus. Seluruh hidupnya menunjuk kepada Putranya. Dari Nazaret hingga Betlehem, dari Kana hingga Kalvari, Maria menunjukkan iman yang bersedia mendengarkan, menerima, dan melaksanakan kehendak Tuhan.

Karena itu, menghormati Nama Tersuci Maria berarti lebih daripada sekadar menyebut namanya. Kita dipanggil untuk meneladani kehidupannya.

Ketika kita menyebut nama Maria, semoga kita teringat akan imannya.

Ketika kita memohon doanya, semoga kita semakin percaya kepada Allah.

Ketika kita merenungkan kehidupannya, semoga kita semakin mengasihi Yesus.

Dan seperti Maria, semoga kita pun mampu berkata setiap hari:

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”


Demikianlah Nama Tersuci Maria, Ibu Yesus – 12 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url