Santo Thomas dari Villanova – Santo 22 September

Santo Thomas dari Villanova, Uskup dan Pengaku Iman, Santo Santa 22 September

Santo Thomas dari Villanova, Uskup dan Pengaku Iman – Santo Santa 22 September

Dalam kalender peringatan para kudus, Santo Santa 22 September mengajak umat Katolik mengenal sosok Santo Thomas dari Villanova, seorang uskup, pengkhotbah, dan pengaku iman yang dikenang terutama karena kerendahan hati serta kasihnya yang luar biasa kepada orang miskin. Ia bahkan mendapat julukan sebagai “Bapa Orang Miskin” karena begitu besar perhatian yang diberikannya kepada mereka yang membutuhkan.

Sebagai seorang uskup, Santo Thomas dari Villanova sebenarnya memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan yang nyaman. Namun ia memilih jalan yang berbeda. Baginya, harta Gereja bukanlah sarana untuk memperkaya diri, melainkan harus digunakan untuk melayani umat, terutama mereka yang miskin, sakit, lapar, dan terlupakan.

Kehidupannya menunjukkan bahwa kekudusan bukan hanya ditemukan dalam doa dan kata-kata rohani. Kekudusan juga tampak dalam tangan yang terulur kepada sesama, hati yang peka terhadap penderitaan, serta keberanian untuk hidup sederhana demi membantu orang lain.

Pada peringatan Santo Thomas dari Villanova, umat Katolik diajak merenungkan kembali hubungan antara iman kepada Kristus dan kasih kepada sesama. Apakah iman yang kita miliki sungguh menghasilkan belas kasih? Apakah berkat yang Tuhan percayakan kepada kita juga menjadi berkat bagi orang lain?

Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman

Siapakah Santo Thomas dari Villanova?

Santo Thomas dari Villanova atau Santo Thomas of Villanova adalah seorang biarawan Agustinian dan Uskup Agung Valencia di Spanyol. Ia dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang berpengaruh, pembaru kehidupan rohani, serta gembala yang sangat memperhatikan kebutuhan kaum miskin.

Nama aslinya adalah Tomás García Martínez. Ia lahir pada akhir abad ke-15 di Spanyol. Walaupun dilahirkan di Fuenllana, keluarganya memiliki hubungan erat dengan Villanueva de los Infantes. Dari tempat inilah kemudian muncul nama “Thomas dari Villanova” atau “Tomás de Villanueva”.

Sejak masa mudanya, Thomas dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi sekaligus hati yang murah hati. Pendidikan tidak membuatnya menjadi sombong. Sebaliknya, semakin banyak pengetahuan yang diperolehnya, semakin besar pula kesadarannya bahwa seluruh kemampuan manusia merupakan pemberian Tuhan yang harus digunakan bagi kebaikan.

Kelak ia meninggalkan jalan kehidupan akademis yang menjanjikan untuk memasuki kehidupan religius bersama Ordo Santo Agustinus.

Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Thomas tidak hanya ingin mengetahui kebenaran tentang Tuhan. Ia ingin menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.

Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik

Masa Kecil Santo Thomas dari Villanova

Thomas lahir sekitar tahun 1486 di Fuenllana, wilayah Castilla-La Mancha, Spanyol. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan memiliki perhatian terhadap kehidupan iman.

Sejak kecil, Thomas belajar bahwa kekayaan memiliki tanggung jawab moral. Harta bukan hanya sesuatu yang dimiliki untuk kepentingan pribadi. Harta dapat menjadi sarana untuk menolong mereka yang berkekurangan.

Tradisi mengenai kehidupannya menggambarkan Thomas muda sebagai anak yang murah hati. Ia disebut memiliki perhatian besar terhadap orang miskin dan tidak segan memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada mereka yang membutuhkan.

Sikap tersebut bukan sekadar kebiasaan masa kecil. Kemurahan hati justru menjadi salah satu ciri utama seluruh kehidupannya.

Ketika kemudian menjadi seorang imam dan bahkan uskup agung, semangat yang sama tetap hidup dalam dirinya.

Baca juga: Santo Mateus, Rasul dan Penginjil – 21 September

Pendidikan dan Kecerdasan yang Luar Biasa

Thomas memperoleh pendidikan tinggi di Universitas Alcalá yang pada masa itu menjadi salah satu pusat intelektual penting di Spanyol.

Ia mempelajari berbagai bidang ilmu, khususnya filsafat dan teologi. Kecerdasannya membuat Thomas memiliki masa depan akademis yang sangat menjanjikan.

Ia bahkan kemudian mengajar.

Namun bagi Thomas, pengetahuan bukan tujuan akhir kehidupan. Ilmu harus membawa manusia semakin dekat kepada kebenaran dan akhirnya kepada Tuhan.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi umat Katolik masa kini. Pendidikan, kecerdasan, keterampilan, pekerjaan, dan prestasi bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan iman. Sebaliknya, semuanya dapat menjadi jalan menuju kekudusan apabila digunakan untuk melayani Tuhan dan sesama.

Baca juga: Santo Mauritius dan Kawan-kawan, Martir 22 September

Memilih Kehidupan sebagai Biarawan Agustinian

Walaupun memiliki masa depan akademis yang baik, Thomas merasakan panggilan yang lebih dalam.

Ia memilih meninggalkan kehidupan akademis dan memasuki Ordo Santo Agustinus pada tahun 1516.

Keputusan tersebut merupakan langkah besar.

Thomas meninggalkan berbagai kemungkinan kehormatan duniawi untuk menjalani kehidupan religius yang ditandai oleh doa, komunitas, kemiskinan, ketaatan, dan pelayanan.

Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam.

Sebagai seorang imam Agustinian, kemampuan intelektual dan bakat berkhotbahnya semakin terlihat. Ia dikenal sebagai pengkhotbah yang mampu menyampaikan kebenaran iman secara mendalam sekaligus menyentuh kehidupan nyata umat.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Selasa, 22 September 2026 Lukas 8:19-21

Pengkhotbah yang Membawa Orang kepada Kristus

Santo Thomas dari Villanova memiliki kemampuan berkhotbah yang sangat kuat.

Namun tujuan khotbahnya bukanlah menunjukkan kepandaiannya.

Ia ingin membawa orang kepada pertobatan.

Khotbah-khotbahnya berpusat pada kehidupan Kristiani, kasih Allah, pertobatan, kerendahan hati, doa, serta tanggung jawab umat terhadap sesama.

Thomas memahami bahwa pewartaan Injil tidak cukup hanya terdengar indah. Sabda Tuhan harus mengubah kehidupan manusia.

Seorang pengkhotbah sejati bukan sekadar orang yang pandai berbicara mengenai Tuhan, tetapi orang yang membantu umat semakin dekat kepada Tuhan.

Santo Thomas dari Villanova Menjadi Uskup Agung Valencia

Salah satu babak terbesar dalam kehidupan Santo Thomas terjadi ketika ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Valencia.

Thomas sendiri bukanlah orang yang mengejar jabatan gerejawi.

Kehidupan religius telah mengajarkannya untuk melihat kekuasaan sebagai pelayanan. Karena itu, ketika menerima tanggung jawab sebagai uskup, ia tidak melihat jabatan tersebut sebagai kesempatan memperoleh kehormatan.

Ia melihatnya sebagai salib dan tanggung jawab.

Sebagai uskup, Thomas berusaha memperbarui kehidupan rohani umat dan para imam. Ia memperhatikan pendidikan calon imam, disiplin gerejawi, pewartaan iman, serta pelayanan pastoral.

Namun ada satu hal yang membuat namanya sangat dikenang hingga sekarang: kasihnya kepada orang miskin.

Bapa Orang Miskin

Santo Thomas dari Villanova sering dikenang sebagai Bapa Orang Miskin.

Julukan tersebut bukan sekadar ungkapan penghormatan.

Kemurahan hatinya menjadi bagian nyata dari pelayanan episkopalnya.

Sebagai uskup agung, ia memiliki akses kepada sumber daya yang cukup besar. Namun ia tidak menggunakan kedudukannya untuk membangun kehidupan mewah bagi dirinya sendiri.

Sebaliknya, ia hidup dengan sederhana.

Sebagian besar sumber daya yang dapat digunakannya diarahkan kepada pelayanan umat, khususnya mereka yang hidup dalam kemiskinan.

Orang miskin datang kepadanya untuk memperoleh pertolongan. Thomas berusaha membantu mereka dengan makanan, pakaian, uang, maupun bentuk bantuan lain.

Namun belas kasih Thomas memiliki dimensi yang lebih dalam.

Tidak Hanya Memberi, tetapi Memulihkan Martabat

Santo Thomas memahami bahwa membantu orang miskin tidak cukup hanya dengan memberikan uang.

Kemiskinan sering memiliki akar yang lebih kompleks.

Karena itu, ia berusaha agar bantuan dapat membantu seseorang kembali berdiri dengan martabatnya sendiri. Ia memperhatikan pendidikan, pekerjaan, dan berbagai kebutuhan yang memungkinkan seseorang keluar dari kesulitan hidup.

Di sinilah kebijaksanaan pastoral Santo Thomas menjadi sangat relevan hingga zaman sekarang.

Kasih Kristiani bukan sekadar memberikan sesuatu lalu melupakan orang yang menerima bantuan.

Kasih sejati bertanya:

“Apa yang dapat saya lakukan agar saudara saya dapat hidup dengan lebih bermartabat?”

Prinsip tersebut selaras dengan semangat Injil.

Yesus tidak melihat orang miskin sebagai angka atau masalah sosial. Ia melihat mereka sebagai manusia yang memiliki martabat dan dikasihi Allah.

Santo Thomas berusaha menjalankan semangat Kristus tersebut dalam pelayanannya.

Uskup yang Tetap Hidup Sederhana

Salah satu godaan terbesar yang menyertai kedudukan adalah kemewahan.

Namun Santo Thomas dari Villanova menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki jabatan tinggi tanpa menjadikan jabatan itu sebagai alasan untuk meninggalkan kesederhanaan.

Walaupun telah menjadi uskup agung, gaya hidup Thomas tetap sederhana.

Baginya, seorang gembala harus dekat dengan umat.

Ia tidak ingin ada jarak yang terlalu besar antara dirinya dan mereka yang dilayaninya.

Kesederhanaan tersebut menjadi kesaksian.

Umat dapat melihat bahwa apa yang dikhotbahkannya benar-benar berusaha ia hidupi sendiri.

Kekuasaan sebagai Pelayanan

Dunia sering mengukur keberhasilan berdasarkan seberapa banyak orang yang melayani kita.

Injil justru membalik ukuran tersebut.

Yesus Kristus mengajarkan bahwa siapa yang ingin menjadi besar hendaknya menjadi pelayan.

Santo Thomas dari Villanova menjalankan semangat tersebut dalam tugasnya sebagai uskup.

Semakin besar tanggung jawab yang diterimanya, semakin besar pula tuntutan untuk melayani.

Pesan ini sangat relevan bukan hanya bagi para pemimpin Gereja, tetapi bagi setiap orang.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk melayani keluarga.

Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk melayani orang yang dipimpinnya.

Orang yang memiliki kekayaan memiliki tanggung jawab terhadap mereka yang berkekurangan.

Orang yang memiliki ilmu memiliki kesempatan untuk membantu mereka yang membutuhkan pengetahuan.

Setiap karunia membawa tanggung jawab.

Perhatian terhadap Pendidikan Calon Imam

Pelayanan Santo Thomas dari Villanova tidak hanya berpusat pada bantuan sosial.

Sebagai seorang uskup, ia memahami bahwa pembaruan Gereja membutuhkan imam-imam yang memiliki pendidikan dan kehidupan rohani yang baik.

Karena itu, pembinaan calon imam menjadi salah satu perhatiannya.

Thomas hidup pada masa ketika Gereja di Eropa menghadapi berbagai tantangan besar. Pembaruan kehidupan rohani dan disiplin para pelayan Gereja sangat dibutuhkan.

Ia menyadari bahwa kualitas pelayanan pastoral pada masa depan sangat bergantung pada kualitas pembinaan para calon imam.

Karena itu, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pembaruan Gereja.

Seorang imam bukan hanya membutuhkan pengetahuan teologi. Ia juga membutuhkan kehidupan doa, karakter, kerendahan hati, dan semangat pelayanan.

Spiritualitas Santo Thomas dari Villanova

Di balik karya sosial dan pastoral Santo Thomas terdapat kehidupan rohani yang mendalam.

Pelayanannya kepada orang miskin bukan sekadar kegiatan kemanusiaan.

Sumbernya adalah kasih kepada Kristus.

Thomas melihat bahwa iman kepada Allah harus menghasilkan kasih kepada sesama.

Karena itu, doa dan pelayanan bukan dua hal yang bertentangan.

Doa membawa seseorang kepada kasih.

Kasih membawa seseorang kembali kepada Tuhan.

Kristus sebagai Pusat Kehidupan

Bagi Santo Thomas, kehidupan Kristiani harus berpusat pada Yesus Kristus.

Kekayaan, jabatan, pendidikan, dan kemampuan manusia hanya memiliki arti sejati apabila semuanya diarahkan kepada kehendak Allah.

Prinsip tersebut menjelaskan mengapa Thomas dapat meninggalkan kenyamanan dan memilih kehidupan sederhana.

Ia telah menemukan harta yang lebih besar.

Harta itu adalah Kristus.

Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, manusia mulai melihat dunia secara berbeda.

Orang miskin bukan lagi beban.

Mereka adalah saudara.

Harta bukan lagi sekadar milik pribadi.

Harta menjadi titipan Tuhan.

Jabatan bukan lagi kehormatan.

Jabatan menjadi kesempatan untuk melayani.

Wafatnya Santo Thomas dari Villanova

Santo Thomas dari Villanova wafat pada 8 September 1555 di Valencia.

Menjelang akhir kehidupannya, semangat kemurahan hatinya tidak menghilang.

Ia tetap ingin agar apa yang dimilikinya digunakan untuk menolong mereka yang membutuhkan.

Kematian Thomas menutup kehidupan seorang gembala yang telah berusaha menjalankan Injil melalui kesederhanaan dan kasih.

Namun teladannya tidak ikut terkubur.

Kenangan mengenai “Bapa Orang Miskin” terus hidup dan menginspirasi umat Kristiani dari generasi ke generasi.

Thomas kemudian dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada tahun 1618 dan dikanonisasi oleh Paus Aleksander VII pada tahun 1658.

Gereja mengakui kehidupannya sebagai kesaksian kekudusan yang layak diteladani umat.

Mengapa Santo Thomas dari Villanova Disebut Pengaku Iman?

Dalam tradisi Gereja Katolik, gelar Pengaku Iman diberikan kepada orang kudus yang memberikan kesaksian luar biasa tentang iman melalui kehidupannya, tetapi tidak wafat sebagai martir karena dibunuh demi iman.

Santo Thomas dari Villanova tidak menumpahkan darah sebagai martir.

Namun seluruh hidupnya menjadi pengakuan akan Kristus.

Ia mengakui Kristus melalui pewartaannya.

Ia mengakui Kristus melalui kesederhanaannya.

Ia mengakui Kristus melalui pelayanan sebagai uskup.

Dan terutama, ia mengakui Kristus dengan mengasihi orang miskin.

Kehidupannya mengingatkan kita bahwa menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang spektakuler.

Kesetiaan sehari-hari juga merupakan kesaksian iman.

Teladan Santo Thomas dari Villanova bagi Umat Katolik

Kehidupan Santo Thomas dari Villanova memiliki banyak pelajaran yang tetap relevan bagi umat Katolik masa kini.

1. Kekayaan adalah Titipan Tuhan

Apa pun yang kita miliki pada akhirnya merupakan pemberian Tuhan.

Kita boleh menggunakan berkat tersebut untuk kebutuhan hidup dan keluarga. Namun iman juga mengajak kita menyadari kebutuhan sesama.

Kita tidak harus menjadi kaya untuk mulai berbagi.

Sebungkus makanan, pakaian yang masih layak, sedikit bantuan biaya pendidikan, waktu untuk mendengarkan seseorang, atau tenaga untuk membantu tetangga dapat menjadi tindakan kasih yang berarti.

2. Jangan Menutup Mata terhadap Orang Miskin

Kemiskinan mudah berubah menjadi sesuatu yang hanya kita lihat dari kejauhan.

Santo Thomas mengajak kita melihat wajah manusia di balik kemiskinan.

Mereka bukan statistik.

Mereka adalah saudara dan saudari kita.

Iman Kristiani menuntut kepekaan terhadap penderitaan sesama.

3. Jabatan adalah Kesempatan untuk Melayani

Santo Thomas memiliki kedudukan tinggi sebagai uskup agung, tetapi ia tidak menggunakan jabatan tersebut untuk kepentingan dirinya.

Teladannya penting bagi siapa saja yang memiliki tanggung jawab.

Semakin besar kepercayaan yang diberikan kepada kita, semakin besar pula tanggung jawab kita kepada orang lain.

4. Ilmu Harus Membawa kepada Kebijaksanaan

Thomas adalah seorang intelektual.

Namun ia tidak membiarkan pengetahuan membuat dirinya jauh dari kehidupan nyata.

Ilmu yang sejati seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana dan rendah hati.

Kecerdasan yang tidak disertai kasih mudah berubah menjadi kesombongan.

Sebaliknya, pengetahuan yang dipadukan dengan iman dan kasih dapat menjadi sarana pelayanan.

5. Hidup Sederhana Membuat Kita Lebih Bebas

Kesederhanaan bukan berarti menolak semua kenyamanan.

Kesederhanaan berarti tidak membiarkan benda-benda menguasai hati.

Santo Thomas menunjukkan kebebasan tersebut.

Ia dapat memberi karena hatinya tidak terikat pada harta.

Ini menjadi pertanyaan bagi kita:

Apakah kita memiliki harta, atau justru harta yang memiliki kita?

Renungan Santo Santa 22 September

Peringatan Santo Santa 22 September melalui teladan Santo Thomas dari Villanova mengajak kita memeriksa kehidupan dengan satu pertanyaan sederhana:

Apakah iman kita sudah menjadi kasih yang nyata?

Kita dapat rajin berdoa.

Kita dapat membaca Kitab Suci.

Kita dapat mengikuti Misa.

Semua itu merupakan bagian penting dari kehidupan Katolik.

Namun iman juga harus menghasilkan buah.

Salah satu buah yang paling nyata adalah kasih kepada sesama.

Tidak semua orang dipanggil menjadi uskup seperti Santo Thomas.

Tidak semua orang memiliki banyak harta untuk dibagikan.

Namun setiap orang memiliki sesuatu yang dapat diberikan.

Ada orang yang memiliki waktu.

Ada yang memiliki pengetahuan.

Ada yang memiliki tenaga.

Ada yang memiliki kemampuan mendengarkan.

Ada yang memiliki makanan lebih.

Ada yang dapat membantu biaya pendidikan.

Ada yang dapat mengunjungi orang sakit.

Ada pula yang dapat mendoakan seseorang yang sedang mengalami kesulitan.

Kekudusan dimulai ketika kita berhenti bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” dan mulai bertanya, “Apa yang dapat saya berikan?”

Santo Thomas dari Villanova menunjukkan bahwa kasih kepada orang miskin bukan tambahan kecil dalam kehidupan Kristiani.

Kasih adalah buah perjumpaan dengan Kristus.

Ketika hati dipenuhi kasih Allah, kita tidak dapat tetap acuh terhadap penderitaan sesama.

Doa Memohon Teladan Santo Thomas dari Villanova

Allah Bapa yang Mahakasih,
kami bersyukur kepada-Mu atas teladan kehidupan Santo Thomas dari Villanova.

Engkau memanggilnya untuk menjadi imam, uskup, pengkhotbah, dan gembala yang penuh kasih kepada umat-Mu.

Melalui teladannya, ajarlah kami untuk memiliki hati yang peka terhadap mereka yang miskin, lapar, sakit, kesepian, dan membutuhkan pertolongan.

Bebaskanlah hati kami dari keterikatan berlebihan kepada harta duniawi.

Ajarlah kami menyadari bahwa segala sesuatu yang kami miliki merupakan pemberian-Mu dan hendaknya kami gunakan dengan bijaksana untuk kebaikan.

Semoga melalui teladan dan perantaraan Santo Thomas dari Villanova, kami semakin mampu melihat wajah Kristus dalam diri saudara-saudari yang membutuhkan.

Berilah kami kerendahan hati untuk melayani tanpa mencari pujian, kemurahan hati untuk berbagi tanpa menghitung keuntungan, dan iman yang teguh agar seluruh kehidupan kami menjadi kesaksian tentang kasih-Mu.

Semoga pada akhirnya kami dapat bersatu bersama para kudus dalam sukacita Kerajaan Surga.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.

Amin.

Penutup: Belajar Mengasihi dari Santo Thomas dari Villanova

Kisah Santo Thomas dari Villanova, Uskup dan Pengaku Iman, menunjukkan bahwa kebesaran seorang manusia tidak diukur dari banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan atau tingginya kedudukan yang diperoleh.

Kebesaran sejati terlihat dari seberapa besar seseorang bersedia mengasihi.

Thomas memiliki pendidikan tinggi, kemampuan berkhotbah, dan jabatan sebagai uskup agung. Namun yang membuat namanya dikenang selama berabad-abad justru kesederhanaan serta kemurahan hatinya kepada orang miskin.

Ia menunjukkan bahwa Injil harus turun dari mimbar dan masuk ke dalam kehidupan.

Doa harus menghasilkan kasih.

Iman harus menghasilkan tindakan.

Dan berkat yang kita terima hendaknya menjadi berkat bagi sesama.

Pada peringatan Santo Santa 22 September, semoga teladan Santo Thomas dari Villanova mendorong kita untuk melihat orang-orang di sekitar kita dengan mata Kristus.

Mungkin kita tidak dapat membantu semua orang.

Namun kita dapat membantu seseorang.

Mungkin pemberian kita tidak besar.

Namun ketika diberikan dengan kasih, sesuatu yang sederhana dapat menjadi tanda kehadiran Tuhan bagi orang lain.

Santo Thomas dari Villanova, doakanlah kami agar semakin setia mengikuti Kristus dan semakin murah hati melayani saudara-saudari yang membutuhkan.

Ajakan Berbagi

🙏 Kisah Santo Thomas dari Villanova ini bermanfaat bagi Anda?

Bagikan artikel ini kepada keluarga, sahabat, komunitas, dan orang-orang yang Anda kasihi. Mungkin melalui satu kali berbagi, Anda dapat menjadi jalan Tuhan untuk mengenalkan teladan para kudus dan menguatkan iman seseorang hari ini.



Demikianlah Santo Thomas dari Villanova – Santo 22 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url