Santo Kallistus, Paus dan Martir – 14 Oktober

Katakombe Santo Kallistus, kompleks pemakaman umat Kristen kuno di Roma

Santo Santa 14 Oktober: Santo Kallistus, Paus dan Martir

Setiap tanggal 14 Oktober, Gereja mengenang Santo Kallistus I, Paus dan martir yang hidup pada masa ketika menjadi pengikut Kristus bukanlah pilihan yang mudah. Perjalanan hidupnya menarik karena ia tidak berasal dari kedudukan sosial yang tinggi. Tradisi mengenai kehidupannya menggambarkan Kallistus sebagai seorang yang pernah menjadi budak, mengalami hukuman dan penderitaan, tetapi kemudian dipercaya melayani Gereja hingga akhirnya terpilih menjadi Paus.

Kisah Santo Kallistus, Paus dan Martir, menunjukkan bahwa masa lalu seseorang tidak harus menentukan seluruh masa depannya. Dalam perjalanan iman, kegagalan dapat menjadi tempat pertobatan, penderitaan dapat menjadi sekolah pengharapan, dan orang yang pernah jatuh dapat dipanggil Tuhan untuk menjalankan tanggung jawab yang besar. Sebagai Paus, Kallistus juga dikenang karena pendekatan pastoralnya yang menekankan belas kasih terhadap orang berdosa yang sungguh bertobat. Sikap tersebut menimbulkan pertentangan pada zamannya, terutama dari kalangan yang menghendaki disiplin Gereja yang jauh lebih keras.

Peringatan Santo Kallistus I pada 14 Oktober karena itu mengajak umat Katolik untuk merenungkan belas kasih Allah, pertobatan, pengampunan, kesetiaan kepada iman, dan keberanian memberikan kesaksian tentang Kristus sampai akhir kehidupan.

Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Santo Kallistus I?

Santo Kallistus I, yang juga dikenal sebagai Santo Callistus I atau Paus Kallistus I, merupakan salah seorang Paus Gereja awal. Ia hidup pada akhir abad kedua hingga awal abad ketiga dan memimpin Gereja Roma sekitar tahun 217–222. Keterangan mengenai kehidupan awalnya sebagian besar berasal dari tulisan Hippolytus, yang merupakan salah seorang lawannya dalam perselisihan Gereja pada masa itu. Karena sumber tersebut memiliki sifat polemis, sejumlah rincian mengenai kehidupan awal Kallistus perlu dibaca dengan hati-hati dan tidak semuanya dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sepenuhnya pasti.

Menurut tradisi yang diwariskan, Kallistus pernah menjadi seorang budak milik Carpophorus, seorang Kristen yang mempercayakan kepadanya urusan keuangan. Kehidupannya kemudian mengalami berbagai kesulitan. Persoalan dalam pengelolaan dana membuatnya menghadapi hukuman, dan pada tahap berikutnya ia dikirim ke pertambangan di Sardinia. Pengalaman pahit tersebut ternyata bukan akhir kehidupannya. Kallistus akhirnya memperoleh kebebasan dan kembali ke lingkungan komunitas Kristen. Perlahan-lahan ia mendapatkan kepercayaan yang semakin besar hingga akhirnya menjalankan pelayanan penting dalam Gereja.

Perjalanan dari seorang budak dan tahanan menuju seorang diakon, kemudian menjadi Paus, menjadikan kehidupan Santo Kallistus sebuah kisah mengenai pertobatan, perubahan, dan kesempatan baru. Kehidupannya memperlihatkan bahwa dalam iman Kristen seseorang tidak harus selamanya ditentukan oleh kegagalan masa lalu. Rahmat Allah dapat bekerja melalui perjalanan yang panjang dan bahkan melalui pengalaman yang menyakitkan.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap

Dari Penderitaan Menuju Pelayanan Gereja

Mengalami Perbudakan dan Pembuangan

Kehidupan Santo Kallistus tidak dimulai dengan kehormatan duniawi. Menurut sumber-sumber kuno, ia justru pernah berada dalam status sosial yang rendah sebagai seorang budak. Setelah mengalami persoalan dalam urusan keuangan yang dipercayakan kepadanya, kehidupannya menjadi semakin sulit. Ia mengalami hukuman dan pada akhirnya dikirim ke pertambangan di Sardinia.

Pertambangan pada zaman Kekaisaran Romawi terkenal sebagai tempat kerja yang sangat berat. Kondisinya keras dan berbahaya sehingga bagi banyak tahanan, dikirim ke pertambangan dapat berarti menghadapi penderitaan berkepanjangan bahkan kematian. Kallistus berhasil melewati masa tersebut dan kemudian memperoleh kebebasan.

Pengalaman penderitaan ini dapat membantu kita memahami salah satu sisi penting dari kehidupannya. Orang yang pernah mengalami kehinaan, hukuman, keterasingan, dan kebutuhan akan kesempatan kedua dapat memiliki kepekaan khusus terhadap mereka yang juga ingin memperbaiki kehidupannya. Kelak, ketika menjadi pemimpin Gereja, Kallistus dikenal karena pendekatan pastoral yang lebih terbuka terhadap orang-orang berdosa yang sungguh bertobat.

Baca juga: Santa Eustokia OSB, Santo Santa 13 Oktober

Kembali dan Mendapat Kepercayaan Gereja

Setelah dibebaskan, Kallistus kembali ke lingkungan komunitas Kristen. Perubahan besar dalam kehidupannya terjadi ketika Paus Zefirinus memberikan kepercayaan penting kepadanya. Kallistus ditahbiskan menjadi diakon dan dipercaya mengurus sebuah tempat pemakaman umat Kristen di sepanjang Via Appia, Roma.

Tanggung jawab tersebut tidak boleh dianggap sebagai pekerjaan sederhana. Bagi umat Kristen perdana, tempat pemakaman mempunyai arti yang sangat penting. Di sana umat memakamkan dan mengenang saudara-saudari yang meninggal dalam iman, termasuk sejumlah martir yang telah memberikan hidup mereka bagi Kristus. Kallistus tampaknya menunjukkan kemampuan pelayanan dan pengelolaan yang membuatnya memperoleh kepercayaan semakin besar dalam komunitas Gereja Roma.

Baca juga: Santa Teresia dari Avila, Santo Santa 15 Oktober

Santo Kallistus dan Katakombe di Roma

Nama Santo Kallistus sampai sekarang sangat erat dikaitkan dengan Katakombe Santo Kallistus di Via Appia, Roma. Kompleks pemakaman Kristen kuno tersebut kemudian menjadi salah satu katakombe paling terkenal di Roma. Di kawasan itu terdapat makam banyak umat Kristen awal serta bagian yang dikenal sebagai Kripta Para Paus, tempat sejumlah Paus abad ketiga dimakamkan.

Keterlibatan Kallistus dalam pengelolaan pemakaman Gereja membuat kompleks tersebut kemudian dikenal dengan namanya. Katakombe ini memberikan gambaran penting mengenai kehidupan komunitas Kristen awal. Tempat pemakaman bukan sekadar lokasi untuk meletakkan jenazah, melainkan juga menjadi tanda pengharapan umat terhadap kebangkitan.

Bagi orang Kristen, kematian bukanlah akhir dari keberadaan manusia. Kebangkitan Kristus menjadi dasar pengharapan bahwa mereka yang meninggal dalam Tuhan dipanggil menuju kehidupan kekal. Karena itu, pelayanan Kallistus terhadap pemakaman umat dapat pula dipahami sebagai pelayanan kepada komunitas iman yang hidup dalam pengharapan akan kebangkitan.

Menariknya, meskipun namanya sangat erat dengan Katakombe Santo Kallistus, tradisi tidak menyebutkan bahwa ia sendiri dimakamkan di sana. Makamnya dikaitkan dengan kawasan lain di Roma. Fakta ini juga mengingatkan kita bahwa nama Katakombe Santo Kallistus terutama berkaitan dengan peran Kallistus sebagai pengelola pemakaman tersebut sebelum menjadi Paus.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Rabu, 14 Oktober 2026 Lukas 11:42-46

Kallistus Terpilih Menjadi Paus

Setelah wafatnya Paus Zefirinus, Kallistus terpilih menjadi Paus sekitar tahun 217 dan memimpin Gereja hingga sekitar tahun 222. Pemilihannya tidak diterima oleh semua pihak. Salah satu lawannya yang paling terkenal adalah Hippolytus. Perbedaan antara keduanya bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga menyangkut disiplin Gereja, pertobatan, rekonsiliasi, serta sejumlah persoalan teologis yang berkembang pada masa itu.

Kallistus mengambil pendekatan pastoral yang lebih terbuka terhadap orang berdosa yang bertobat. Sementara itu, kalangan yang lebih ketat menganggap bahwa dosa-dosa berat tertentu seharusnya memiliki konsekuensi yang sangat keras terhadap keanggotaan seseorang dalam persekutuan Gereja. Perselisihan tersebut memperlihatkan sebuah persoalan yang terus menjadi bahan permenungan dalam kehidupan Gereja: bagaimana mempertahankan tuntutan kebenaran moral sekaligus membuka pintu pertobatan bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa?

Kallistus menekankan bahwa belas kasih Allah tetap tersedia bagi mereka yang sungguh-sungguh bertobat. Pendekatan tersebut bukan berarti dosa dianggap tidak penting. Sebaliknya, pertobatan tetap menuntut penyesalan dan perubahan kehidupan. Namun dosa seseorang tidak boleh membuat umat Kristen beranggapan bahwa belas kasih Allah tidak lagi dapat menjangkaunya.

Paus yang Menekankan Belas Kasih dan Pengampunan

Salah satu bagian terpenting dari kisah Santo Kallistus I adalah pandangannya mengenai pengampunan dan rekonsiliasi. Pada masa Gereja awal terdapat perdebatan mengenai bagaimana memperlakukan umat yang melakukan dosa berat setelah menerima baptisan. Sebagian kalangan menghendaki disiplin yang sangat ketat dan beranggapan bahwa dosa tertentu seharusnya membuat seseorang kehilangan tempat dalam persekutuan Gereja secara permanen.

Kallistus mengambil pendekatan yang memberikan ruang lebih besar bagi pertobatan. Seseorang yang sungguh menyesali dosanya tidak boleh kehilangan harapan akan belas kasih Allah. Pandangan seperti ini membuat Kallistus mendapat kritik keras dari lawan-lawannya, tetapi sekaligus memperlihatkan salah satu unsur penting dalam kehidupan Gereja: kebenaran mengenai dosa tidak dapat dipisahkan dari pewartaan mengenai rahmat dan pengampunan Allah.

Gereja sebagai Tempat Pertobatan

Santo Kallistus memahami bahwa Gereja bukanlah sekadar kumpulan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Gereja adalah komunitas orang yang dipanggil menuju kekudusan, dan perjalanan menuju kekudusan sering melewati pertobatan, perjuangan, kegagalan, pengampunan, serta keberanian untuk memulai kembali.

Kehidupan Kallistus sendiri menjadi gambaran yang kuat mengenai kenyataan tersebut. Ia pernah mengalami masa kehidupan yang penuh persoalan, tetapi masa lalunya tidak menghentikan dirinya untuk menerima tanggung jawab baru. Setelah melewati berbagai kesulitan, ia dipercaya menjadi diakon dan kemudian Paus.

Pesan ini tetap relevan bagi umat Katolik masa kini. Kita mungkin pernah mengambil keputusan yang salah, gagal menjalankan tanggung jawab, atau mengecewakan orang lain dan diri sendiri. Namun pertobatan yang tulus membuka kemungkinan untuk memulai kehidupan yang baru bersama Tuhan.

Santo Kallistus dan Perjuangan Menjaga Kesatuan Gereja

Masa kepausan Santo Kallistus juga berlangsung di tengah berbagai perselisihan teologis. Salah satu persoalan pada masa tersebut berkaitan dengan cara memahami hubungan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Pada masa Gereja awal, bahasa teologis mengenai misteri Tritunggal masih terus berkembang dan dipertajam melalui berbagai perdebatan.

Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan perdebatan tersebut adalah Sabellius. Ajarannya kemudian dikenal dalam sejarah teologi sebagai Sabellianisme. Kallistus menghadapi persoalan ini sambil berusaha mempertahankan kesatuan Gereja. Ironisnya, lawan-lawannya sendiri melontarkan berbagai tuduhan teologis terhadap dirinya. Karena sebagian informasi yang kita miliki berasal dari tulisan pihak yang berkonflik dengannya, tuduhan tersebut perlu dibaca dalam konteks polemik pada zamannya.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa konflik dalam kehidupan Gereja bukanlah fenomena baru. Sejak masa awal Kekristenan terdapat perbedaan pandangan, ketegangan, dan bahkan perpecahan. Namun di tengah situasi seperti itu, Gereja tetap dipanggil untuk mencari kebenaran, menjaga kesatuan, dan tidak kehilangan semangat kasih.

Santo Kallistus sebagai Martir

Tradisi Gereja mengenang Santo Kallistus bukan hanya sebagai Paus, tetapi juga sebagai martir. Menurut tradisi yang berkembang kemudian, ia mengalami kematian karena imannya sekitar tahun 222. Salah satu kisah populer menyebutkan bahwa Kallistus dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke sebuah sumur di daerah Trastevere, Roma.

Namun rincian mengenai cara kematiannya tidak memiliki tingkat kepastian historis yang sama dengan fakta keberadaan dan masa kepausannya. Karena itu, kisah mengenai sumur tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari tradisi hagiografis yang berkembang di sekitar penghormatan kepada Santo Kallistus, bukan sebagai rincian sejarah yang seluruhnya dapat diverifikasi.

Yang jelas, tradisi Gereja sejak lama menghormatinya sebagai Santo Kallistus, Paus dan Martir. Kesaksian hidupnya menempatkannya di antara generasi umat Kristen awal yang mempertahankan iman kepada Kristus dalam dunia yang sering kali tidak bersahabat terhadap komunitas Kristen.

Makna Kemartiran Santo Kallistus

Kata martir berasal dari bahasa Yunani martys, yang berarti “saksi”. Karena itu, martir Kristen pertama-tama adalah seseorang yang memberikan kesaksian mengenai Kristus, bahkan ketika kesaksian tersebut menuntut pengorbanan hidup. Kemartiran tidak berpusat pada kematian itu sendiri, tetapi pada kesetiaan kepada Kristus.

Para martir tidak dihormati karena mereka mencari penderitaan atau kematian. Mereka dihormati karena tidak meninggalkan iman ketika dihadapkan pada tekanan, ancaman, dan penderitaan. Dalam diri Santo Kallistus, kita melihat perjalanan panjang seorang manusia yang mengalami kelemahan dan kesulitan, tetapi kemudian menjalankan pelayanan besar bagi Gereja dan dikenang sebagai saksi iman.

Kesaksian tersebut juga mengingatkan umat Katolik bahwa menjadi murid Kristus membutuhkan ketekunan. Tidak semua orang dipanggil menjadi martir dengan menumpahkan darah, tetapi setiap orang Kristen dipanggil menjadi saksi melalui kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Teladan Santo Kallistus bagi Umat Katolik

Masa Lalu Tidak Menentukan Masa Depan

Kehidupan Santo Kallistus memberikan pengharapan bagi siapa pun yang pernah mengalami kegagalan. Masa lalunya jauh dari gambaran kehidupan seorang pemimpin besar, tetapi perjalanan tersebut tidak menghentikan karya rahmat Allah dalam dirinya. Dalam kehidupan rohani, pertanyaan terpenting bukan hanya mengenai apa yang pernah terjadi pada masa lalu, melainkan bagaimana seseorang menanggapi rahmat Tuhan pada hari ini.

Pertobatan berarti berani mengarahkan kembali kehidupan kepada Allah. Kesalahan harus diakui dan diperbaiki sejauh mungkin, tetapi seorang Kristen tidak dipanggil untuk hidup selamanya dalam keputusasaan karena masa lalu. Tuhan dapat memakai pengalaman yang sulit untuk membentuk kerendahan hati, kebijaksanaan, dan kepekaan terhadap sesama.

Jangan Menutup Pintu bagi Orang yang Bertobat

Pendekatan pastoral Kallistus mengingatkan bahwa belas kasih merupakan bagian penting dari kehidupan Kristen. Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa dosa tidak memiliki akibat. Pengampunan justru mengakui kenyataan dosa sekaligus percaya bahwa rahmat Allah lebih besar daripada kegagalan manusia.

Karena itu, umat Kristen perlu berhati-hati agar tidak mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan kesalahan masa lalunya. Seseorang dapat berubah, bertobat, dan memperbaiki kehidupannya. Bahkan orang yang pernah jatuh dapat menjadi alat Tuhan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang.

Setia dalam Tanggung Jawab yang Dipercayakan

Sebelum menjadi Paus, Kallistus terlebih dahulu menjalankan pelayanan sebagai diakon dan mengurus pemakaman umat Kristen. Ia tidak langsung berada pada posisi tertinggi dalam Gereja. Kesetiaan dalam tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya menjadi bagian dari perjalanan menuju pelayanan yang lebih besar.

Hal serupa berlaku dalam kehidupan kita. Kesetiaan kepada Tuhan sering dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana: menjalankan tanggung jawab keluarga, bekerja dengan jujur, menolong orang yang membutuhkan, berdoa dengan tekun, menjaga perkataan, mengampuni, dan melaksanakan tugas sehari-hari dengan kasih. Kekudusan tidak selalu dimulai dari tindakan luar biasa, tetapi sering tumbuh melalui kesetiaan terhadap hal-hal biasa.

Berani Mempertahankan Iman

Gelar martir yang melekat pada Santo Kallistus mengingatkan bahwa iman membutuhkan keberanian. Kebanyakan umat Kristen mungkin tidak diminta menyerahkan nyawa secara harfiah, tetapi setiap orang tetap menghadapi kesempatan untuk memberikan kesaksian melalui kehidupan sehari-hari.

Kita dipanggil untuk tetap jujur ketika kebohongan tampak lebih menguntungkan, mengampuni ketika menyimpan dendam terasa lebih mudah, mempertahankan kasih ketika lingkungan mendorong kebencian, dan tetap percaya kepada Tuhan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Kesetiaan seperti inilah yang menjadi bentuk kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari.

Santo Kallistus dan Pesan Belas Kasih

Ada sesuatu yang sangat kuat dalam perjalanan kehidupan Santo Kallistus. Seseorang yang menurut tradisi pernah mengalami kegagalan, hukuman, dan kebutuhan akan kesempatan kedua kemudian dikenal sebagai pemimpin Gereja yang menekankan kemungkinan pertobatan bagi orang lain. Pengalaman pribadi dapat membuat seseorang lebih peka terhadap penderitaan sesama, dan orang yang pernah merasakan belas kasih sering kali memahami betapa berharganya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki kehidupan.

Karena itu, peringatan Santo Kallistus pada 14 Oktober dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa hati. Apakah kita masih menghakimi seseorang hanya karena masa lalunya? Apakah kita sungguh percaya bahwa orang lain dapat berubah? Dan yang tidak kalah penting, apakah kita percaya bahwa Tuhan juga dapat memperbarui kehidupan kita sendiri?

Iman Kristen selalu memberikan ruang bagi pertobatan. Selama manusia membuka hati kepada rahmat Allah, selalu ada jalan untuk kembali kepada-Nya. Kesempatan baru tersebut bukan alasan untuk meremehkan dosa, melainkan undangan untuk meninggalkan dosa dan menjalani kehidupan yang semakin sesuai dengan kehendak Allah.

Renungan Santo Kallistus 14 Oktober

Kehidupan manusia sering kali tidak berjalan dalam garis lurus. Ada saat ketika kita mengambil keputusan yang tepat, tetapi ada pula saat ketika kita gagal. Kita mungkin membawa penyesalan dari masa lalu dan berpikir bahwa kesalahan tertentu telah membuat kita tidak lagi layak melakukan sesuatu yang berarti. Kisah Santo Kallistus memberikan perspektif yang berbeda.

Menurut tradisi yang diwariskan mengenai kehidupannya, Kallistus mengalami perubahan yang luar biasa. Dari seseorang yang pernah berada dalam perbudakan dan mengalami hukuman, ia akhirnya dipercaya menjadi pelayan Gereja dan kemudian Paus. Perjalanan tersebut mengingatkan bahwa Tuhan melihat manusia bukan hanya berdasarkan masa lalunya. Tuhan melihat kemungkinan pertobatan, kesediaan untuk berubah, dan hati yang mau kembali kepada-Nya.

Inilah alasan seorang Kristen tidak boleh kehilangan pengharapan. Ketika jatuh, kita dipanggil untuk bangkit. Ketika berdosa, kita dipanggil untuk bertobat. Ketika menerima pengampunan, kita dipanggil untuk belajar mengampuni. Ketika Tuhan memberikan kesempatan baru, kita dipanggil menggunakan kesempatan itu untuk melakukan kebaikan.

Santo Kallistus mengajarkan bahwa kehidupan yang telah disentuh oleh belas kasih seharusnya menjadi kehidupan yang juga membagikan belas kasih. Pengalaman menerima pengampunan dari Tuhan hendaknya menjadikan kita semakin rendah hati, bukan semakin mudah menghakimi. Kita dipanggil menjadi saksi bahwa rahmat Allah mampu mengubah kehidupan manusia.

Doa melalui Perantaraan Santo Kallistus

Ya Allah yang Maharahim, Engkau telah memanggil Santo Kallistus untuk melayani umat-Mu dan menjadi gembala bagi Gereja-Mu. Melalui teladannya, ajarlah kami untuk tidak kehilangan pengharapan ketika mengalami kegagalan. Berikanlah kepada kami hati yang sungguh bertobat, keberanian untuk memperbaiki kesalahan, serta kerendahan hati untuk menerima belas kasih-Mu.

Melalui perantaraan Santo Kallistus, bantulah kami agar tidak mudah menghakimi sesama, tetapi mampu membuka hati bagi mereka yang ingin kembali kepada-Mu. Teguhkanlah iman kami agar dalam setiap tantangan kehidupan kami tetap setia mengikuti Kristus. Semoga seperti Santo Kallistus, kami berani menjadi saksi kasih, pengampunan, dan kebenaran-Mu sampai akhir kehidupan kami. Amin.

Penutup

Santo Kallistus I, Paus dan Martir, yang diperingati setiap 14 Oktober, meninggalkan kesaksian kuat mengenai pertobatan, pengampunan, pelayanan, dan kesetiaan kepada Kristus. Perjalanan hidup yang dikaitkan dengannya memperlihatkan bagaimana seseorang yang pernah mengalami penderitaan dan kegagalan dapat menerima kesempatan baru dan kemudian menjalankan tanggung jawab besar dalam Gereja.

Sebagai diakon, Kallistus dipercaya mengelola pemakaman umat Kristen di Roma yang kemudian dikenal sebagai Katakombe Santo Kallistus. Sekitar tahun 217 ia menjadi Paus dan memimpin Gereja hingga sekitar tahun 222. Dalam masa kepemimpinannya, ia menghadapi berbagai perselisihan, termasuk perdebatan mengenai disiplin Gereja dan penerimaan kembali orang berdosa yang bertobat. Pendekatannya menekankan bahwa pertobatan yang sungguh-sungguh tidak boleh dipisahkan dari harapan akan belas kasih Allah.

Tradisi kemudian mengenangnya sebagai martir. Meskipun sejumlah rincian mengenai kehidupan awal dan kematiannya berasal dari sumber polemis atau tradisi hagiografis yang perlu dibaca dengan hati-hati, penghormatan kepada Santo Kallistus telah bertahan dalam kehidupan Gereja selama berabad-abad.

Pada peringatan Santo Santa 14 Oktober, teladan Santo Kallistus mengajak kita untuk semakin percaya kepada belas kasih Tuhan, berani bangkit dari kegagalan, memberikan ruang bagi pertobatan sesama, dan tetap setia memberikan kesaksian tentang Kristus. Masa lalu tidak harus menjadi penjara ketika seseorang bersedia membuka hati kepada rahmat Allah. Dalam Tuhan selalu ada panggilan untuk bertobat, memperbarui kehidupan, dan berjalan menuju kekudusan.


Demikianlah Santo Kallistus, Paus dan Martir – 14 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url