Gereja Katolik yang Satu: Arti dan Dasar Imannya
Gereja Katolik yang Satu: Memahami Kesatuan Gereja dalam Iman Katolik
Dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel, umat Katolik mengakui dengan tegas: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Empat sifat Gereja ini bukan sekadar gelar atau kata-kata indah yang diucapkan dalam perayaan Ekaristi. Keempatnya mengungkapkan identitas Gereja sebagaimana dikehendaki Kristus. Salah satu sifat yang sangat mendasar adalah bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang satu.
Kesatuan Gereja berakar bukan pertama-tama pada keseragaman budaya, bahasa, bangsa, atau tradisi, melainkan pada Allah sendiri. Gereja menjadi satu karena sumbernya adalah Allah Tritunggal, pendirinya adalah Yesus Kristus, dan Roh Kudus yang sama hidup serta bekerja di dalam seluruh umat beriman. Karena itu, meskipun Gereja hadir di berbagai bangsa dan memiliki beragam tradisi liturgi serta spiritualitas, Gereja tetap mengakui satu iman, satu baptisan, satu Tuhan, dan satu persekutuan.
Memahami Gereja Katolik yang satu membantu umat melihat bahwa kesatuan bukan sekadar persoalan organisasi. Kesatuan merupakan anugerah Allah sekaligus panggilan yang harus terus dipelihara oleh seluruh anggota Gereja.
Baca Juga: Sejarah Gereja Katolik dari Awal hingga Modern
Apa Arti Gereja Katolik yang Satu?
Ketika Gereja disebut “satu”, hal ini menunjuk pada kesatuan yang berasal dari Allah dan diwujudkan dalam kehidupan umat beriman. Gereja tidak dibangun sebagai kumpulan komunitas yang berdiri sendiri tanpa hubungan satu sama lain. Semua anggota Tubuh Kristus dipanggil untuk hidup dalam satu persekutuan iman.
Santo Paulus menggunakan gambaran tubuh untuk menjelaskan misteri ini. Tubuh memiliki banyak anggota dengan fungsi berbeda, tetapi semuanya merupakan satu kesatuan. Demikian pula Gereja memiliki banyak anggota, pelayanan, karisma, budaya, dan tradisi, namun semuanya dipanggil menjadi satu Tubuh dalam Kristus.
Dalam Efesus 4:4-6, Santo Paulus menegaskan adanya “satu tubuh dan satu Roh”, “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan”, serta “satu Allah dan Bapa dari semua”. Ayat ini menjadi salah satu dasar Kitab Suci yang sangat jelas untuk memahami kesatuan Gereja.
Kesatuan tersebut tidak berarti setiap umat Katolik harus memiliki cara berpikir, budaya, kebiasaan, atau bentuk spiritualitas yang sama persis. Gereja mengenal kesatuan dalam keberagaman. Yang mempersatukan adalah iman apostolik, kehidupan sakramental, dan persekutuan gerejawi.
Baca Juga: Gereja yang Katolik: Arti dan Maknanya
Kesatuan Gereja Berasal dari Allah Tritunggal
Dasar terdalam dari kesatuan Gereja Katolik terletak pada misteri Tritunggal Mahakudus. Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi Ilahi dalam satu Allah. Persekutuan kasih ilahi inilah yang menjadi sumber kehidupan Gereja.
Kehendak Bapa Mengumpulkan Umat-Nya
Sejarah keselamatan memperlihatkan bagaimana Allah terus mengumpulkan manusia menjadi umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, Allah membentuk Israel sebagai umat pilihan. Dalam Perjanjian Baru, rencana keselamatan itu mencapai kepenuhannya melalui Yesus Kristus.
Gereja lahir dalam rencana keselamatan Allah untuk mempersatukan manusia dengan-Nya dan dengan sesamanya. Oleh sebab itu, perpecahan, kebencian, diskriminasi, dan permusuhan bertentangan dengan panggilan terdalam Gereja.
Kristus Mendirikan dan Mempersatukan Gereja
Yesus Kristus merupakan pusat kesatuan Gereja. Gereja bukan terutama milik manusia, kelompok tertentu, imam, uskup, bahkan bukan milik Paus dalam arti kepemilikan pribadi. Gereja adalah milik Kristus.
Kristus memanggil para murid, membentuk komunitas para rasul, mempercayakan pelayanan khusus kepada mereka, dan mengutus mereka untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus mendamaikan manusia dengan Allah serta membuka jalan menuju persekutuan baru.
Doa Yesus menjelang sengsara-Nya memberikan gambaran kuat tentang kehendak-Nya terhadap para murid. Dalam Yohanes 17:21, Yesus berdoa agar mereka semua menjadi satu. Kesatuan para pengikut Kristus dengan demikian bukan tambahan yang boleh diabaikan, tetapi merupakan bagian dari kehendak Kristus sendiri.
Roh Kudus Menjadi Prinsip Kesatuan
Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan atas para rasul. Orang-orang dari berbagai bangsa mendengar pewartaan tentang karya Allah. Peristiwa ini menjadi tanda bahwa Injil ditujukan kepada seluruh umat manusia.
Roh Kudus tidak menghapus perbedaan, tetapi menyatukannya dalam iman kepada Kristus. Dalam Gereja, terdapat banyak karisma dan pelayanan. Ada yang dipanggil menjadi imam, biarawan-biarawati, misionaris, katekis, orang tua dalam keluarga, pekerja sosial, pendidik, serta berbagai bentuk pelayanan lainnya. Semua karunia itu berasal dari Roh yang sama dan diarahkan kepada pembangunan Tubuh Kristus.
Baca Juga: Gereja yang Kudus: Arti Kekudusan Gereja Katolik
Gereja sebagai Satu Tubuh Kristus
Salah satu gambaran paling penting mengenai Gereja dalam Perjanjian Baru adalah Tubuh Kristus. Santo Paulus mengajarkan bahwa Kristus adalah Kepala dan umat beriman merupakan anggota-anggota tubuh-Nya.
Dalam 1 Korintus 12, Paulus menjelaskan bahwa tubuh terdiri atas banyak anggota. Mata tidak dapat berkata kepada tangan bahwa ia tidak membutuhkan tangan. Demikian pula kepala tidak dapat mengatakan kepada kaki bahwa ia tidak membutuhkan kaki.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman tidak bertentangan dengan kesatuan. Justru keberagaman dapat memperkaya kehidupan Gereja apabila seluruh karunia diarahkan kepada tujuan yang sama.
Tidak semua umat mempunyai tugas yang sama. Tidak semua memiliki spiritualitas yang identik. Ada yang tertarik pada spiritualitas Fransiskan, Dominikan, Benediktin, Karmelit, Ignasian, atau berbagai tradisi rohani lainnya. Semua dapat hidup bersama di dalam satu Gereja karena pusat kehidupan mereka tetap Kristus.
Baca Juga: Gereja yang Apostolik: Arti dan Dasar Iman Katolik
Tanda-Tanda Kesatuan Gereja Katolik
Kesatuan Gereja tidak hanya bersifat rohani dan tidak kelihatan. Kesatuan tersebut juga memiliki bentuk konkret yang dapat dikenali dalam kehidupan Gereja.
Satu Iman
Umat Katolik di seluruh dunia mengakui iman apostolik yang sama. Bahasa yang digunakan dapat berbeda, tetapi inti iman tetap satu.
Umat percaya kepada Allah Tritunggal, kepada Yesus Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia, kepada karya keselamatan melalui wafat dan kebangkitan Kristus, kepada Roh Kudus, Gereja, pengampunan dosa, kebangkitan badan, dan kehidupan kekal.
Syahadat menjadi salah satu ungkapan nyata kesatuan iman tersebut.
Satu Baptisan
Baptisan menjadi pintu masuk kehidupan Kristiani. Melalui baptisan, manusia dipersatukan dengan Kristus dan menjadi anggota Tubuh-Nya.
Karena itu Santo Paulus berbicara tentang “satu baptisan”. Baptisan tidak hanya merupakan pengalaman individual antara seseorang dengan Allah, tetapi juga memasukkan seseorang ke dalam persekutuan umat Allah.
Melalui baptisan, perbedaan latar belakang sosial, suku, atau bangsa tidak menentukan martabat seseorang di hadapan Allah. Semua dipanggil menjadi satu dalam Kristus.
Satu Kehidupan Sakramental
Sakramen-sakramen merupakan bagian penting dalam kesatuan Gereja. Secara khusus, Ekaristi menjadi tanda sekaligus sumber persekutuan gerejawi.
Dalam Ekaristi, umat tidak hanya berkumpul untuk mengenang Yesus. Mereka dipersatukan dalam Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia.
Santo Paulus menulis dalam 1 Korintus 10:17 bahwa karena roti itu satu, maka sekalipun banyak, umat merupakan satu tubuh karena semuanya mendapat bagian dalam roti yang satu.
Dengan demikian, Ekaristi mempunyai hubungan sangat mendalam dengan identitas Gereja Katolik yang satu.
Peranan Para Rasul dalam Kesatuan Gereja
Kristus memilih dua belas rasul sebagai dasar komunitas baru yang dibentuk-Nya. Setelah kebangkitan, mereka menerima tugas untuk mewartakan Injil dan menggembalakan umat.
Gereja Katolik memahami pelayanan para uskup sebagai kelanjutan pelayanan apostolik melalui suksesi apostolik. Para uskup menggembalakan Gereja lokal dan tetap berada dalam persekutuan dengan para uskup lainnya.
Kesatuan Gereja dengan demikian tidak hanya diwujudkan melalui kesamaan ajaran, tetapi juga melalui persekutuan pelayanan apostolik.
Peranan Paus dalam Kesatuan Gereja Katolik
Dalam tradisi Katolik, Uskup Roma mempunyai pelayanan khusus bagi kesatuan Gereja universal. Pelayanan ini dipahami dalam kaitannya dengan peranan Santo Petrus di antara para rasul.
Dalam Matius 16:18, Yesus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Petrus juga menerima tugas untuk menguatkan saudara-saudaranya dan menggembalakan kawanan Kristus.
Gereja Katolik memahami Paus, sebagai Uskup Roma dan penerus Petrus, memiliki pelayanan khusus dalam menjaga kesatuan iman dan persekutuan Gereja. Hal ini tidak berarti Paus menggantikan Kristus sebagai Kepala Gereja. Kristus tetap Kepala Gereja. Pelayanan Paus dijalankan di dalam Gereja dan untuk melayani kesatuan umat Kristus.
Para uskup juga bukan sekadar perwakilan administratif Paus. Masing-masing memiliki tanggung jawab pastoral terhadap Gereja lokal yang dipercayakan kepadanya, sambil tetap berada dalam persekutuan dengan seluruh kolegium para uskup dan Uskup Roma.
Kesatuan Tidak Berarti Keseragaman
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Gereja yang satu harus seragam dalam segala hal. Kenyataannya, Gereja Katolik memiliki keberagaman yang sangat luas.
Gereja hadir di Afrika, Asia, Eropa, Amerika, Oseania, dan berbagai wilayah lain dengan bahasa serta kebudayaan yang berbeda. Cara umat mengekspresikan iman dapat dipengaruhi oleh kebudayaan setempat selama tetap sesuai dengan iman Gereja.
Di dalam Gereja Katolik juga terdapat Gereja-Gereja Timur Katolik dengan tradisi liturgi dan disiplin yang berbeda dari tradisi Latin. Keberadaan mereka menunjukkan dengan jelas bahwa “Katolik” tidak identik dengan satu ekspresi budaya atau satu bentuk liturgi saja.
Kesatuan yang sejati tidak menghapus kekayaan yang sah. Gereja justru dapat menjadi seperti sebuah simfoni: berbagai suara memiliki ciri masing-masing, tetapi semuanya diarahkan kepada keharmonisan.
Luka Perpecahan di Antara Umat Kristiani
Sejarah Kekristenan juga ditandai oleh berbagai perpecahan. Perselisihan teologis, politik, budaya, dan historis menyebabkan komunitas-komunitas Kristiani mengalami pemisahan sepanjang sejarah.
Perpecahan tersebut merupakan luka bagi kesatuan umat Kristus. Karena itu Gereja Katolik terlibat dalam gerakan ekumenis, yaitu usaha untuk meningkatkan pengertian, dialog, doa, dan kerja sama di antara umat Kristiani dengan tujuan menuju kesatuan yang dikehendaki Kristus.
Dalam memandang umat Kristiani yang tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, pendekatan Katolik masa kini menekankan bahwa terdapat unsur-unsur nyata kekudusan dan kebenaran di luar batas persekutuan Katolik yang kelihatan. Baptisan yang sah menciptakan ikatan persaudaraan Kristiani yang nyata, meskipun persekutuan penuh belum terwujud.
Karena itu, ekumenisme bukan usaha memenangkan pertengkaran. Tujuannya adalah mencari kesatuan dalam kebenaran dan kasih dengan kesetiaan kepada kehendak Kristus.
Kesatuan Gereja dan Ekaristi
Tidak mungkin membicarakan Gereja Katolik yang satu tanpa membahas Ekaristi. Sakramen Mahakudus mempunyai hubungan mendalam dengan persekutuan Gereja.
Umat yang menerima satu Tubuh Kristus dipanggil untuk menjadi satu tubuh. Dengan demikian, mengikuti Misa tidak dapat dipisahkan dari panggilan membangun persaudaraan.
Kontradiksi terjadi apabila seseorang menerima Ekaristi tetapi dengan sengaja memelihara kebencian, permusuhan, atau keinginan untuk memecah belah komunitas. Ekaristi memanggil umat menuju rekonsiliasi, pengampunan, pelayanan, dan kasih.
Setiap perayaan Ekaristi sekaligus mengingatkan bahwa Gereja tidak hidup dari kekuatannya sendiri. Pusat kehidupan Gereja adalah Kristus yang menyerahkan diri bagi dunia.
Dosa dan Ancaman terhadap Kesatuan Gereja
Meskipun Gereja memiliki anugerah kesatuan dari Kristus, anggota-anggotanya tetap manusia yang dapat jatuh ke dalam dosa. Egoisme, ambisi, iri hati, kesombongan, prasangka, penyalahgunaan kekuasaan, dan konflik dapat melukai kehidupan persekutuan.
Karena itu, kesatuan harus terus dipelihara melalui pertobatan.
Menjaga kesatuan bukan berarti menyembunyikan masalah atau melarang perbedaan pendapat. Kesatuan Kristiani juga tidak berarti membenarkan kesalahan demi menghindari konflik. Kebenaran dan kasih harus berjalan bersama.
Dialog yang jujur, koreksi yang dilakukan dengan kasih, kesediaan mendengarkan, pengampunan, dan kerendahan hati merupakan bagian penting dari pembangunan persekutuan.
Gereja yang Satu di Tengah Dunia yang Terpecah
Masyarakat modern menghadapi berbagai bentuk polarisasi. Perbedaan politik, ekonomi, etnis, sosial, bahkan perbedaan pandangan di media sosial dapat dengan cepat berubah menjadi permusuhan.
Dalam situasi seperti ini, panggilan Gereja untuk menjadi tanda persatuan menjadi semakin penting.
Paroki seharusnya menjadi tempat orang dari berbagai latar belakang dapat berdoa bersama. Orang kaya dan miskin, tua dan muda, pendatang dan penduduk setempat, orang dengan pendidikan tinggi maupun sederhana memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah.
Kesatuan seperti ini mempunyai daya kesaksian. Dunia dapat melihat bahwa Injil mempunyai kekuatan untuk membangun persaudaraan yang melampaui batas-batas manusia.
Bagaimana Umat Katolik Menjaga Kesatuan Gereja?
Kesatuan Gereja bukan hanya tanggung jawab Paus, uskup, atau imam. Setiap orang yang telah dibaptis memiliki tanggung jawab untuk membangun persekutuan.
Hal itu dapat dimulai dari kehidupan yang sangat sederhana. Umat dapat menghindari gosip yang merusak nama baik sesama, tidak mudah menyebarkan tuduhan yang belum terbukti, belajar berdialog ketika terjadi perbedaan, serta berani meminta maaf dan memberikan pengampunan.
Kesatuan juga dibangun melalui doa. Umat perlu berdoa bagi Paus, para uskup, imam, diakon, kaum hidup bakti, keluarga, serta seluruh umat. Doa bagi kesatuan umat Kristiani juga merupakan bagian penting kehidupan rohani Katolik.
Di tingkat paroki, kesatuan dapat diwujudkan dengan menghindari persaingan tidak sehat antar kelompok dan pelayanan. Komunitas seharusnya tidak menjadi tempat mencari status pribadi, melainkan ruang untuk melayani Kristus dan sesama.
Persatuan dalam Kebenaran dan Kasih
Kesatuan Katolik tidak didasarkan pada prinsip bahwa semua pandangan harus dianggap sama benarnya. Gereja percaya bahwa kebenaran berasal dari Kristus dan harus dijaga dengan setia.
Namun kebenaran tidak boleh dipisahkan dari kasih.
Seseorang dapat mempertahankan keyakinan dengan tegas tanpa merendahkan orang lain. Sebaliknya, kasih Kristiani juga tidak berarti mengabaikan kebenaran demi kenyamanan.
Santo Paulus mengajak umat untuk “berpegang kepada kebenaran di dalam kasih” (Efesus 4:15). Prinsip ini memberikan keseimbangan penting dalam kehidupan Gereja.
Kesatuan tanpa kebenaran dapat berubah menjadi kompromi kosong, sedangkan pembelaan terhadap kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan dan kesombongan. Gereja dipanggil untuk menjalani keduanya bersama-sama.
Kesatuan Dimulai dari Keluarga
Keluarga sering disebut sebagai Gereja rumah tangga. Karena itu, pembangunan kesatuan Gereja sebenarnya dapat dimulai dari rumah.
Suami dan istri dipanggil untuk membangun kesetiaan dan saling mengampuni. Orang tua bertanggung jawab mendidik anak dalam iman. Anak-anak belajar menghormati orang tua dan mengasihi saudara-saudaranya.
Doa bersama, mengikuti Ekaristi, membaca Kitab Suci, serta membiasakan pengampunan dapat menjadikan keluarga sebuah sekolah persekutuan.
Ketika keluarga Katolik belajar hidup dalam kasih, kehidupan paroki juga menjadi semakin kuat.
Maria sebagai Teladan Persekutuan dengan Kristus
Perawan Maria mempunyai tempat istimewa dalam kehidupan Gereja. Kesatuannya dengan Kristus tampak melalui iman dan ketaatannya kepada kehendak Allah.
Maria tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri, melainkan membawa manusia kepada Putranya. Dalam peristiwa Kana, perkataannya, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu,” menggambarkan sikap dasar seorang murid.
Setelah kenaikan Yesus, Maria juga hadir bersama para rasul dalam doa menjelang Pentakosta. Kehadirannya menggambarkan Gereja yang berdoa dan menantikan karya Roh Kudus.
Karena itu, umat Katolik dapat memandang Maria sebagai teladan bagaimana hidup dalam persekutuan dengan Kristus dan Gereja.
Kesatuan Gereja sebagai Tanda bagi Dunia
Gereja tidak dipanggil untuk menjadi satu hanya demi kenyamanan internal. Kesatuan Gereja mempunyai dimensi misioner.
Dalam doa-Nya di Yohanes 17, Yesus menghubungkan kesatuan para murid dengan kesaksian kepada dunia. Ketika umat Kristiani hidup dalam kasih dan persatuan, dunia dapat melihat buah Injil.
Sebaliknya, konflik, kebencian, dan persaingan di antara umat dapat melemahkan kesaksian tersebut.
Karena itu membangun kesatuan sebenarnya merupakan bagian dari evangelisasi. Orang lain tidak hanya mendengar pewartaan tentang kasih Kristus, tetapi diharapkan dapat melihat kasih tersebut diwujudkan dalam kehidupan umat-Nya.
Gereja yang Satu Menuju Kepenuhan Kerajaan Allah
Kesatuan Gereja di dunia belum sempurna. Dosa masih ada, perpecahan Kristiani belum sepenuhnya dipulihkan, dan konflik masih terjadi. Gereja karena itu hidup dalam perjalanan menuju kepenuhan Kerajaan Allah.
Namun pengharapan Kristiani tidak bergantung pada kemampuan manusia semata. Kristus tetap menyertai Gereja-Nya dan Roh Kudus terus berkarya di dalamnya.
Setiap kali umat berdamai, saling mengampuni, melayani orang miskin, merayakan Ekaristi dengan iman, mempertahankan kebenaran dengan kasih, dan berdoa bersama, tanda-tanda kesatuan yang dikehendaki Allah menjadi semakin nyata.
Refleksi Iman: Apakah Saya Membangun atau Melukai Kesatuan?
Pengakuan bahwa kita percaya kepada Gereja yang satu membawa konsekuensi pribadi. Pertanyaannya bukan hanya apakah Gereja secara teologis adalah satu, tetapi apakah kehidupan kita ikut mencerminkan kesatuan tersebut.
Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya mudah menghakimi sesama umat? Apakah saya menyebarkan gosip? Apakah saya menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan? Apakah saya mampu meminta maaf ketika bersalah? Apakah saya bersedia berdialog dengan orang yang mempunyai pandangan berbeda? Apakah pelayanan saya sungguh diarahkan kepada Kristus atau justru menjadi sarana mencari pengakuan?
Kesatuan Gereja dibangun melalui keputusan-keputusan kecil setiap hari. Sapaan kepada orang yang selama ini kita hindari, kesediaan memaafkan, doa bagi orang yang berbeda dengan kita, dan kerelaan bekerja sama dapat menjadi tindakan konkret membangun Tubuh Kristus.
Doa untuk Kesatuan Gereja
Allah Bapa yang Mahakasih, Engkau memanggil kami menjadi satu umat di dalam Putra-Mu, Yesus Kristus. Kami bersyukur atas Gereja yang Engkau himpun dari berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan keadaan hidup.
Curahkanlah Roh Kudus-Mu agar kami mampu menjaga kesatuan dalam iman, pengharapan, dan kasih. Ampunilah kami ketika kesombongan, prasangka, egoisme, atau perkataan kami melukai persekutuan Gereja.
Ajarlah kami untuk mendengarkan dengan rendah hati, berbicara dalam kebenaran dan kasih, mengampuni dengan tulus, serta bekerja bersama demi kemuliaan nama-Mu.
Semoga umat Kristiani semakin bertumbuh menuju kesatuan yang dikehendaki oleh Kristus. Dengan meneladan iman Santa Perawan Maria dan para kudus, bantulah kami menjadi pembawa damai di dalam keluarga, paroki, masyarakat, dan dunia.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Kesimpulan
Gereja Katolik yang satu adalah bagian mendasar dari iman Katolik. Kesatuan Gereja berasal dari Allah Tritunggal, diwujudkan oleh Kristus, dan terus dihidupkan oleh Roh Kudus. Gereja mempunyai satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, kehidupan sakramental yang mempersatukan, serta persekutuan apostolik yang kelihatan.
Namun kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Gereja dapat memiliki beragam budaya, ritus, spiritualitas, karisma, dan bentuk pelayanan sambil tetap menjadi satu Tubuh Kristus. Keberagaman yang sah justru memperlihatkan kekayaan karya Roh Kudus.
Kesatuan tersebut sekaligus merupakan anugerah dan tugas. Setiap umat Katolik dipanggil untuk menjaganya melalui kehidupan sakramental, kesetiaan kepada iman, pertobatan, dialog, pengampunan, pelayanan, dan kasih kepada sesama.
Ketika kita mengucapkan, “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik,” kita bukan hanya mengakui sebuah ajaran. Kita juga menerima panggilan untuk menjadi pembangun persatuan. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, Gereja dipanggil menjadi tanda bahwa dalam Kristus manusia yang berbeda dapat diperdamaikan dan dihimpun menjadi satu keluarga Allah.
Demikianlah Gereja Katolik yang Satu: Arti dan Dasar Imannya, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
